Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 19 ( Dita dan Wanda)


__ADS_3

( kejadian masa lalu) /flasback.


Di bawah sinar rembulan yang terang, dan bintang bertaburan, Wanda berjalan beriringan bersama cowok yang selama ini dia sukai, dialah sosok cowok idamannya. Tinggi, ganteng dan juga baik hati, selain itu dia cerdas dan juga ringan tangan( suka membantu) pada siapapun.


Hati dan bibirnya tersenyum, seolah kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang paling bahagia, diantara kebahagiaan kebahagiaan dalam hidupnya selama 17 tahun. Mereka akan pulang setelah selesai melakukan kegiatan amal bhakti di sebuah Panti Sosial.


Pertemuan yang begitu singkat, tetapi langsung bisa membuat hati Wanda terpikat oleh pesona yang di pancarkan dari cowok idamannya ini. Cowok itu baru saja pindah sekolah dari Bali ke Jakarta, 3 bulan yang lalu, dan dia kost di rumah nya.


Namanya Bagus, sebagus rupa dan juga tingkah lakunya. Menurutnya, Bagus adalah cowok misterius ,yang selalu menutupi jati dirinya. Tidak pernah menyebutkan siapa orang tuanya, alamat rumah nya ,berapa jumlah saudaranya , dan banyak hal lain, yang sengaja tidak dia umum kan di depan umum. Bahkan membocorkan sedikit informasi itu, dengannya pun dia tidak mau. Padahal mereka cukup akrab dan selalu bersama setiap hari.


Its okey, itu tak jadi soal bagi Wanda, walau bagaimana pun, gadis itu sudah sangat mensyukuri bisa bertemu dan dekat dengan Bagus. Mungkin ini adalah takdir terindah bagi Wanda, yang sengaja di buat oleh Tuhan , di pertemukan dengan cowok ini.


Oh My God, dirinya sungguh sangat senang dengan moment ini, jarang sekali mereka hanya berjalan berdua, tidak seperti biasanya. Tidak menyangka sama sekali ,ternyata Bagus memilih kegiatan ekstrakurikuler PMR yang sama dengannya.


Walaupun sepanjang jalan mereka hanya diam, itu sudah cukup baginya untuk menikmati moment ini, selayaknya adegan romantis yang sering di lihatnya di film anime kesukaannya.


Tidak terasa, akhirnya mereka sampai di rumah, dan Wanda menyanyangkan hal itu. Jarak 3 km yang mereka tempuh tadi ,tak terasa cepat terlampui, dan bahkan rasanya masih ingin menambah lagi jarak, supaya waktu kebersamaan ini tidak cepat berakhir.


" Oke, sampai jumpa" ucap Bagus, ketika mereka telah memasuki rumah nya. Bagus berbelok ke kanan dan dirinya berbelok ke kiri. Dua arah yang memisahkan mereka kini.


***


Wanda langsung menatap ke dalam cermin, ketika tepat kakinya masuk ke dalam kamar. Memastikan seperti apa wajahnya kini, yah... apa yang anime anime gambarkan itu ternyata benar, pipinya merona, karena perasaan jatuh cinta dan senang seperti ini. Tuhan memang Maha sempurna, menciptakan makhluknya, tidak hanya memberi nyawa tetapi juga memberi ekspresi bahkan memberi warna setiap ekspresi ekspresi yang berbeda , misalnya seperti saat ini.


" Kakak.. " suara itu membuat dia tersentak, dan ingin langsung memarahi pemilik suara yang tidak ada sopan santunnya sama sekali, memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.


Wajahnya merah padam, ketika menatap ke sumber suara yang mengagetkannya saat ini.


" Dita! " ucapnya dengan geram, giginya beradu hingga menimbulkan bunyi " kreet.. kreet".


"Kakak kenapa?" balas gadis yang lebih muda umurnya darinya, dengan nada takut hingga bahkan terlalu ketakutan sampai membuat matanya berkaca - kaca. Tidak biasanya Kakaknya ini memarahinya sampai seperti saat ini.


" Kalo mau masuk, ketuk pintu dulu dong" balas Wanda ,sembari berusaha memadamkan amarahnya. Berjalan menjauhi cermin menuju meja belajar, dan duduk sembari memejamkan matanya.


"Ada apa ke sini? " lanjut Wanda ketus, sembari melepas sepatu lalu menaruhnya di rak sepatu di samping meja belajar nya.


" Ibu menyuruh kita makan" jawab Dita, adiknya, sembari berjalan mendekat kepadanya.


Hhhhhh..


Wanda menarik nafas panjang dan dalam, emosi itu perlahan padam,


" Iya, kamu pergilah dulu, bilang sama ibu, kakak mau ganti baju dulu, nanti nyusul" balasnya.

__ADS_1


***


Wanda mempercepat mengayunkan langkah kakinya, dan meninggalkan Dita di belakang, menyusul Bagus yang sedang berjalan di depan, bersama dengan ke tiga teman lelaki se kost an nya.


Dita yang tertinggal di belakang, memberenggut kesal. Akhir - akhir ini sikap kakaknya berubah 180 derajat, semenjak kenal dan dekat dengan Bagus. Kini seolah Wanda sering mengabaikan dirinya, padahal dulu tidak pernah sekalipun mereka berpisah, baik di rumah maupun di manapun termasuk di sekolah, dirinya kecewa dengan perubahan sikap kakaknya itu.


Wajah Dita muram, dia berhenti dan segera berbalik arah, pulang ke rumah nya, meminta sang Ibu untuk mengantarkannya ke sekolah dengan sepeda motor.


Sikap Wanda semakin hari semakin berubah, kakaknya itu kini lebih sering menyendiri dan mengurung diri dalam kamar, kalo tidak seperti itu, dia terlihat bersemangat ketika keluar dan berjalan bersama dengan Bagus. Intinya kini Wanda lebih suka bersama Bagus ketimbang adiknya sendiri.


Akhirnya Dita lebih sering di rumah bersama ibunya, membantu membuat kue kering selain pergi les bahasa Inggris.


***


Sebulan telah berlalu, terlihat waktu itu Wanda pulang dari camping " PMR " dengan wajah muram. Hal itu membuat Dita , adiknya , khawatir dan penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak perempuannya itu.


Awalnya dia tidak berani mengganggunya, tidak berani menyusulnya langsung ke kamar kakaknya, takut Wanda akan marah seperti kejadian waktu itu. Tetapi lama kelamaan, perasaannya tidak enak, seolah terus di buru dengan rasa penasaran.


Tak berselang lama, akhirnya Dita memberanikan diri, menyusul ke kamar Wanda.


" Kak.. kak Wanda.. " panggilnya ,sembari mengetuk pintu kamar. Pintu kamar tak kunjung dibuka oleh Wanda, Dita semakin penasaran, karena dari balik pintu, terdengar lirih suara isak tangis.


Dita mengetuk pintu lagi, kali ini lebih keras dan setengah memaksa.


" Kakak menangis kan, aku bilang sama ibu ya.. " ucapnya setengah menggertak.


Pintu akhirnya di buka dari dalam, Wanda berdiri membukakan pintu dengan wajah yang sembab karena menangis., Dita terbengong melihat saudara kandungnya,


" Kakak menangis? "


Wanda hanya diam, tidak menjawab , malahan berbalik dan berjalan kembali ke tempat tidur, lalu menyembunyikan tangisnya di balik bantal.


" Apa yang sudah terjadi sama kakak?"


" Bagus.. hiks.. hiks.. " balas Wanda di sela isak tangis nya.


" Bagus kenapa, apa yang dia perbuat ke kakak? " Dita semakin penasaran dengan jawaban Wanda yang hanya meninggalkan sebuah tanda tanya besar.


Sampai sekarang Dita belum tau, apa yang di lakukan Bagus sehingga membuat kakaknya menangis.


flashback selesai


***

__ADS_1


Dita tak berhenti menatap sesosok pria yang sedang duduk di warung depan Kost seperti sedang mengintai seseorang, di pagi hari pada hari minggu, ketika dirinya sedang menyapu halaman rumah kost kost annya.


PLAK


" Sialan kamu Indah, kaget tau! " ucapnya memaki karena kesal. Temannya itu menepuk keras punggungnya.


" Hehehhe... maaf " balas Indah meminta maaf sambil terkekeh.


" Makanya, kalo nyapu ya nyapu aja, gak usah matanya kemana mana" lanjut Indah dengan santainya, tidak merasa jengkel sedikitpun.


" Sebetulnya lihatin apa sih, Dit? " kini Indah malah penasaran dan bertanya, sembari menatap ke arah di mana tadi Dita menatap dengan serius.


" Oh.. gak.. gak lihat apa apa" jawab Dita, memilih menyimpan daripada memberitahu apa yang baru saja dia lihat,lalu kembali menggerakkan sapu, mengumpulkan daun daun kering yang jatuh memenuhi halaman rumah kost mereka.


" Oh... ya sudah kalo gak mau bilang " balas Indah sekilas kecewa, tapi kemudian melupakannya.


" Eh.. yuk sarapan! " ucapnya kemudian, mengajak Dita untuk sarapan bersamanya.


" Ah... nanti aja, aku tadi udah makan sandwich. " Jawab Dita ringan.


" Ehm... gitu, okey.. aku ke warung dulu ya" lanjut Indah kemudian, lalu berjalan menuju warung langganannya.


***


Jantung Bagus berdebar, ketika Indah berjalan menuju ke warung. Apakah dia akan menyapa, atau diam saja mengabaikannya. Hatinya mendadak gelisah mengambil sikap. Sungguh menyebalkan perasaan ini. Bathin cowok itu mengeluh.


" Bu... nasi rawon seperti biasa ya" pesan Indah ketika memesan. Kemudian melihat sekilas ke arah pemuda yang kini sedang menikmati susu hangat nya. Hatinya bergejolak, ingin menyapa tapi rasa kecewa dan benci menumbuhkan rasa gengsi.


" Sudah sembuh? " ucap Bagus seketika membuat Indah kaget, lalu menoleh ke pemuda itu.


" Iya" balasnya singkat, lalu kembali dengan sikap semula, sampai pesanannya di hidangkan . Mereka kembali diam yang membuat suasana semakin kaku, sampai Indah selesai menghabiskan sarapannya, dan mereka kembali berpisah.


***


Bagus terus menatap kepergian Indah meninggalkan warung dan dirinya, kenapa malah menjadi seperti ini, sikap perempuan itu kepadanya semakin hari semakin acuh, membuat mereka kini perlahan jauh.


Apa yang akan dia lakukan sekarang?


Akankah mereka di dekatkan lagi oleh takdir?


***


catatan author: menggantung sekali bab ini ya😄, akan di lanjut di bab selajutnya. Terima kasih yang sudah membaca.

__ADS_1


( bersambung)


__ADS_2