
Hari masih sangat pagi, ketika handphone Bagus berdering. Pria itu terbangun dan segera menerima panggilan begitu saja, tanpa melihat siapa yang menghubungi nya pagi- pagi buta begini.
" Hallo.. " sapanya, dengan suara khas bangun tidur, nyawanya juga masih setengah berada di alam mimpi. Sekilas melihat ke Indah yang masih tampak nyenyak ,lalu mengayunkan kaki dengan sedikit pelan keluar dari ruangan itu.
" Iya! " satu kata yang terucap ketika pria itu mengakhiri komunikasi dan menutup telepon. Bagus kembali masuk dan melihat sekilas Indah yang masih nyenyak ,bahkan sengaja membenarkan selimut yang melorot , menariknya ke atas, menutupi dengan benar tubuh Indah.
Di ambilnya jaket serta kontak mobil, lalu kembali melangkahkan kaki keluar. Setelah tak berselang lama, terdengar suara deru mobil yang di hidupkan kemudian suara mobil yang melaju meninggal kan rumah sakit tersebut.
***
Indah terbangun karena merasa perutnya sudah lapar, memang , Indah tidak pernah melewatkan makan pagi/ sarapan sejak kecil. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya, karena bundanya selalu rajin bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak anak dan suaminya.
Bundanya hanya seorang ibu rumah tangga, tetapi mempunyai pekerjaan sampingan yang hasilnya cukup membantu ekonomi keluarga, bahkan akhirnya menghasilkan sebuah home industri yang masih langgeng sampai sekarang.
Awal mulanya, sang Bunda yang bernama Riyanti, mempunyai bakat dan suka membuat bakpia dan kue kering lainnya. Ketrampilan itu di dapat dari hasil resep turun temurun nenek buyutnya membuat Bakpia. Menciptakan citarasa bakpia hasil olahannya menjadi yang terbaik, dan sampai sekarang masih menduduki nomor satu di jogja.
Home industri itu nanti nya akan di wariskan oleh Indah, maka dari itu sang Bunda menghendaki Indah untuk kuliah di jurusan bisnis, ketimbang di bidang kesehatan seperti kakaknya Ningsih, yang sekarang menjadi perawat di Rumah sakit di daerah nya.
***
Indah celingukan mencari Bagus, karena hanya pria itu yang bisa diandalkan untuk mengurus dirinya di rumah sakit ini. Kemarin sore, Indah terpaksa berbohong memberi kabar kepada sang Bunda, kalo dia sedang beristirahat di rumah teman, dan berjanji akan tiba di rumah hari ini.
Indah tau bagaimana kondisi Bundanya yang sudah tua, dan sering sakit sakitan. Sehingga gadis itu tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kalo dia kecelakaan, supaya orang tua yang sangat sayang kepada nya itu tidak khawatir dan berpikiran yang macam macam. Itupun karena saran dari Bagus.
Entah mengapa sejak pertemuan pertamanya dengan pria itu, seolah hubungan ini seperti berlanjut terus menerus. Padahal kesan pertama melihat Bagus ,sudah membuat Indah langsung tidak suka , sebab penampilan dan sikap cowok itu terkesan misterius.
Tapi sekarang, dirinya sangat membutuhkan kehadiran pria itu, untuk mengurus dan membantu keperluannya. Indah tidak tau bagaimana cara mencari cowok itu, yang bisa dilakukan hanya bersabar sampai cowok itu datang.
Sampai perutnya benar benar lapar, tetapi Bagus belum juga terlihat batang hidungnya sama sekali.
" Kemana dia,.. jahat banget ninggalin aku sendiri.. " gadis itu mendengus, marah sekaligus sedih.
Hingga pukul tujuh pagi, jatah makan dari rumah sakit di antarkan ke ruangan. Dua orang suster datang membawa kereta dorong yang diatasnya ada 3 buah mangkuk berisi bubur ayam, buah pisang hijau dan juga 3 gelas teh hangat sebagai menu sarapan.
Ada 3 pasien yang di rawat di bangsal itu, dan Indah salah satunya.
__ADS_1
Saat salah satu Suster sedang memeriksanya, Indah sengaja dan terpaksa bertanya pada suster tersebut. Barangkali Suster itu melihat Bagus atau bertemu dengan pria itu di kantin ataupun tempat lain di rumah sakit ini.
" Suster, ee..lihat teman saya gak? ' tanya Indah yang sedikit ragu pada Suster.
" Maaf, temennya mbak cewek atau cowok? " balas Suster sembari memompa alat tensi.
" Cowok Sus, rambutnya sebahu sedikit ikal , kulitnya agak gelap , dan badannya tinggi" sahut Indah memberi keterangan fisik ciri - ciri dari Bagus.
" Yang rambutnya panjang sebahu itu ya mbk? " Sahut suster satunya lagi, yang ada di samping suster yang sedang memeriksa Indah.
Indah menoleh ke suster yang menyahutinya, kemudian mengangguk.
" Tadi pas saya masuk gerbang, melihat nya mbak, dia keluar dengan mobil pick up " sambung Suster yang kebetulan tadi berpapasan dengan bagus itu, memberi tahu pada Indah.
Indah menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
" Tega sekali kak Bagus tinggalin aku,.. mbok pamit atau gimana,.. dasar pria kucel" bathin Indah menggerutu, sekaligus memaki cowok Gondrong yang membuat hatinya dongkol.
***
Berselang sekitar 15 menit kemudian, Seorang pria muda dengan wajah bersih, berkulit putih dan cukup tampan, terlihat celingukan sambil mengedarkan pandangannya ke dalam, nampak sedang mencari seseorang , dan berdiri di depan pintu bangsal yang Indah tempati.
***
" Kak Arman" Seru Indah sedikit berteriak memanggil Arman. Lelaki itu sontak menoleh ke arah sumber suara, dan melihat Indah yang memanggilnya dengan wajah memprihatinkan, karena kepalanya di perban, lehernya di pasang gibs, serta selang infus masih menempel pada pergelangan tangannya.
Arman segera menghampiri dan terlihat lega, mungkin memang sebetulnya pria itu sedang mencari nya. Bathin Indah berpraduga.
"Indah, kamu baik baik saja? " tanya pria adik dari kakak iparnya itu.
" Ya beginilah kak, alhamdulillah masih di beri umur dan hidup " jawab Indah serasa prihatin di telinga Arman.
" Bersabar ya, mungkin ini ujian buat kamu" Sahut Arman , mengingat kan Indah bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan, untuk selalu bersabar dan ikhlas saat Tuhan menguji kita.
Indah tersenyum getir, yah memang benar apa yang Arman ucapkan. Bahwa semua yang memiliki nyawa pasti akan di uji oleh Sang Pencipta nya.
__ADS_1
"Eh..kak Arman kok tau Indah kecelakaan dan dirawat disini?, apakah kak Bagus yang memberitahu? " tanya Indah yang penasaran, tetapi juga bersyukur, tidak jadi terlantar, setidaknya ada yang menjaga dan mengurusnya di rumah sakit ini menggantikan Bagus, selain dokter dan perawat.
" Iya, tadi pagi aku telepon Bagus, ada orang yang mencarinya ke kost kost san." jawab Arman sembari mengambil kursi dan kemudian mendudukinya.
Indah mengerutkan dahi, rasa penasaran muncul di kepalanya. Apakah sepenting itu, sehingga tidak bisa menunggu untuk di selesai kan nanti, setidaknya menunggu dia bangun, atau gimana, tidak malah ngilang begitu saja, bathin Indah yang merasa jengkel, terhadap sikap cowok gondrong itu.
" Ndah,... Indah... indah" panggil Arman sampai 3 kali,baru berhasil membuyarkan lamunan Indah di hadapannya.
Indah tersentak, dan seketika menatap Arman dengan tatapan bingung.
" Kenapa melamun?," lanjut Arman, sambil menatap Indah yang terlihat bingung.
"Jangan khawatir , aku udah kasih tau kak Fahri, supaya memberi tahu bunda kamu, untuk mengatakan kamu baik baik saja, dan tidak perlu khawatir." lanjut Arman .
" Terima kasih kak Arman" ucap Gadis itu dengan lesu, sekilas ekspresi kecewa terlihat di wajahnya.
" Sama - sama" cowok itu menjawab, sembari berdiri dan menggeser kursi.
" Kalo begitu aku urus kepulangan kamu dulu ya, .. tapi ...kamu beneran mau pulang sekarang, kondisi kamu masih perlu di rawat lho. " ujar Arman memberi saran, sebab tak tega lihat kondisi Indah yang seperti itu.
Indah tersenyum getir, sebetulnya memang masih terasa sakit semua badannya, tapi dia ingin secepatnya sampai rumah dan bertemu Bunda, dan melihat keponakannya yang baru lahir 3 hari yang lalu.
Arman menarik nafas berat dan menghembuskannya secara pelan. lalu kemudian mengayunkan kaki hendak keluar menuju resepsionis rumah sakit, mengurus administrasi kepulangan Indah.
" Eh.. tunggu kak" Teriak Indah menghentikan langkah Arman yang baru saja akan menginjakkan
kaki melewati pintu.
Arman menoleh,
" Ini ATM saya" Indah mengulurkan tangan , memperlihatkan kartu ATM nya.
Arman kembali berjalan menghampiri Indah, dan mengambil ATM dari tangan gadis itu.
" Oke, kalo begitu aku urus dulu administrasi. " pria muda itu kemudian kembali berjalan menuju meja resepsionis rumah sakit.
__ADS_1
(bersambung)
***