Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 16 ( Teman baru)


__ADS_3

Langit mendung, di iringi dengan udara yang dingin, serta bunyi gemuruh yang menggelegar. Sesekali petir dan kilat menyertainya. Indah masih berdiri di depan mesin ATM, melakukan transaksi pengambilan uang.


Sebuah mobil pick up hitam berhenti ,dan pengemudinya turun lalu mengantri. Menunggu untuk melakukan transaksi, setelah Indah selesai bertransaksi. Tak berselang lama, Indah keluar dan berbarengan dengan turunnya air dari langit. Terpaksa gadis itu harus menunggu hujan reda ,untuk berjalan menuju ke bengkel ,mengambil sepeda motornya.


Hujan masih turun deras, ketika orang itu keluar dari konter mesin ATM. Dan seketika iba melihat keadaan Indah yang berdiri ,sembari memeluk badannya sendiri dengan erat.


Lelaki itu bermaksud baik, ingin memberinya tumpangan pada Indah, tetapi dirinya bingung, bagaimana mengawali percakapan. Mereka bukan teman ataupun saudara, dan juga tidak kenal satu sama lain, mereka orang lain dan secara kebetulan bertemu saat ini.


Indah hanya memperhatikan gerak gerik dari lelaki itu melalui ekor matanya. Seolah lelaki itu ingin berbicara padanya tapi nampak ragu, dan kemudian mengurungkannya.


Masabodo dengan lelaki itu, Indah juga bukan tipe orang yang mudah untuk di dekati, dan tidak mudah bergaul dengan sembarangan orang. Gadis itu hanya diam, sembari merasakan kedinginan yang semakin lama semakin menyelimuti tubuhnya.


Semakin lama rasa dingin membuat badannya sedikit menggigil, Gadis itu berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menghembuskan nafas, serta menggosok gosokkan kedua telapak tangan dengan cara membenturkannya.


" Maaf...,kalo berkenan , bolehkah aku antar kamu pulang? "


Sebuah suara membuat Indah mendongakkan kepala, dan menjumpai pria itu berbicara padanya. Sejak kapan lelaki itu berjalan mendekat, Indah sedikit kaget. Sebuah senyum ramah dari lelaki yang kira kira berumur lebih dewasa darinya itu, tertuju untuknya.


" Oh iya, Terima kasih banyak "ucap Indah tanpa ragu. Sambil mengelus dada, merasa bersyukur.


Kini keduanya mengayunkan kaki, setengah berlari menuju dan memasuki mobil pick up berwarna hitam itu. Setelah sekitar 10 menit, Indah memintanya berhenti, lalu turun dari mobil.


" Terima kasih banyak atas tumpangannya " ucap Indah ketika dirinya turun ,karena sudah sampai ke bengkel dimana motornya diperbaiki.


" Sama sama" ucap pria itu, kemudian kembali melajukan mobil nya.

__ADS_1


Indah membayar lunas biaya reparasi motornya, dan segera tancap gas pulang ke kost kostan sembari berlomba dengan air hujan.


***


Di dalam kamar, gadis itu membungkus badannya dengan jaket, dan bersembunyi di balik selimut tebal bergambar " Elsa" ,badannya terasa menggigil. Di atas meja nakas ,ada segelas besar teh hangat, di sebelah gelas itu ,ada setoples kecil kue kering. Semua memang sengaja dipersiapkan olehnya, karena malam ini dia akan melembur tugas kuliah. Dan tadi setengah jam sebelum nya, gadis itu juga sudah menyantap mie instan panas, untuk mengusir rasa lapar dan juga menghangatkan badannya dari rasa kedinginan yang masih bersemayam di dalam tubuh gadis itu.


Gadis itu tengah duduk, dengan memangku laptop, selimut masih membungkus punggung hingga menutupi atas kepala, menyisakan wajah dan bagian depan badannya. Jari - jari tangannya bergerak lincah diatas tuts tuts laptop tersebut, menekan huruf huruf yang di kehendaki.


Tugas harus selesai malam ini, karena besok tugas itu harus di kumpul kan. Terpaksa gadis itu begadang hingga hampir pagi, menyelesaikan tugas dosen, memaksakan badannya yang terasa sakit dan mulai demam.


Pagi tiba , gadis itu terbangun seperti biasa karena sudah menjadi kebiasaan. Rasa dingin dalam tubuh, membuat Indah mengurung kan niat untuk mandi. Hanya mencuci mukanya serta menggosok gigi lalu menyemprotkan parfum ke sekujur badan, setelah itu keluar untuk sarapan.


Kepalanya berdenyut- denyut, ketika langkahnya terayun menuju warung depan kost kostan. Gadis itu berkali kali memukul pelipisnya pelan, mencoba menghilangkan rasa pening yang semakin lama semakin parah, bahkan badannya pun sudah mulai mengigil lagi. Tetapi tekad gadis itu untuk pergi kuliah tidak goyah sedikitpun, tetap saja memaksakan diri mengayunkan langkahnya.


" Bubur ayam ya bu, sama teh hangat. " ucap Indah memesan menu sarapan. Kemudian sengaja gadis itu meletakkan kepalanya ke atas meja, karena rasa pening yang tengah dirasakan, membuat kepalanya berat dan mata ingin sekali terpejam.


Kejadian kemarin mengingatkan bagus, kalo gadis itu mungkin saja marah dan sengaja mengabaikannya dengan bertingkah seperti sekarang.


Sedikit timbul rasa menyesal di hati pria itu, tetapi tak mau ambil pusing, itu bukan masalah untuk nya. malah akan lebih bagus kalo mereka berlagak seperti orang asing, bathin Bagus, walaupun kata katanya itu sebetulnya menutupi perasaan bagus yang sebenarnya kecewa.


" Bubur ayamnya satu bu, sama teh"ucap pria itu, kemudian memesan.


" Iya sebentar ya mas" balas ibu warung, sembari meletakkan pesanan indah.


" Neng, ini buburnya.. " ucap Bu Indah, penjual sekaligus pemilik warung itu.

__ADS_1


Gadis itu tidak beranjak bergerak bangun atau mengucapkan sepatah katapun sebagai respon, nafasnya terdengar keras dan cepat, matanya masih terpejam.


" Neng.. " panggil ibu Indah lagi, mulai khawatir, dan membuat mata Bagus beralih terkunci menatap gadis itu.


Bu Indah mencoba membangunkan dengan menguncang sedikit bahu Indah,


" Neng,..bangun Neng,..Neng..." panggil wanita itu berulangkali.


Hal itu tak luput dari pengamatan Bagus. Kini timbul dalam dirinya, rasa penasaran dan juga khawatir dengan kondisi Indah.


Akhirnya pemuda itu berjalan mendekat , lalu menepuk pelan punggung Indah, supaya bangun. Tak terlihat sedikit pun gadis itu bergerak meresponnya.Tak berubah dari posisi semula dan kini malah mengigau.


Bagus kemudian menarik badan Indah ke belakang dengan pelan, dan badan itu terkulai sangat lemas oleh tangannya,seolah hanya sebuah boneka yang mudah di perlakukan semaunya, wajahnya pucat. Bagus kemudian menyandarkannya ke badannya. Tangannya terulur menyentuh kening gadis itu. Dan seketika terbelalak, terkejut juga khawatir, suhu badan Indah sangat panas.


Kini pemuda itu memposisikan badan Indah tidur terlentang,mengikhlaskan pahanya sebagai bantal untuk gadis itu. Lalu menepuk salah satu pipinya pelan, sambil memanggil namanya.


" Indah.. indah... , bangun.. kamu gak apa apa kan.. indah.. " panggil Bagus dengan wajah panik. Gadis itu masih tidak merespon, di rabanya kening dan leher Indah bergantian, suhunya sangat panas.


" Ada obat penurunan panas bu? " tanya Bagus kepada Bu Indah.


" Tidak punya Mas" jawab Ibu itu.


Bagus segera meletakkan kepala Indah di atas bangku tanpa alas,


" Tolong jagain Indah dulu ya Bu, saya mau ambil obat " ucap Bagus berpesan, sebelum dirinya keluar dan mengendarai motor menuju kost kostan untuk mengambil persediaan obat obatan miliknya di kotak obat.

__ADS_1


***


Tak berselang lama, Bagus sudah sampai di warung itu lagi, kini mulai merawat Indah, meminumkan obat penurun panas. Sementara hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Sekitar 20 menit, Gadis itu berkeringat di dahinya, suhu panasnya pun mulai turun. Gadis itu kemudian terjaga, membuka mata lalu berusaha bangun dan kemudian berhasil duduk.


__ADS_2