Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 35 ( Keluarga)


__ADS_3

Malam ini angin bertiup cukup kencang, seolah akan turun hujan di sertai dengan badai yang hebat. Hawa dingin merambah, masuk melalui kaca kaca jendela, AC travel tidak sepenuhnya mencakupi seisi ruangan mobilnya. Setiap penumpang hampir semuanya tertidur dalam mobil tersebut. Di saat bersamaan, Indah pun mulai mengantuk, karena perjalanannya masih lama untuk sampai ke Jogja. Gadis itu menutupi kepalanya dengan tudung Hodie yang dia pakai, lalu menyandarkan badan sekaligus kepalanya ke belakang.


Mobil tiba tiba terlonjak, semua penumpang tersentak karena kaget. Mereka terjaga, permukaan jalan raya yang tidak rata, itu membuat laju mobil tidak nyaman. Mobil travel masih tetap melaju, ketika tiba tiba angin besar menerjang di sertai rintik - rintik air jatuh dengan cepat ke bumi. Sang sopir terpaksa memberhentikan mobilnya, menepi, kemudian berhenti.


" Ada apa ya kok tiba tiba berhenti? " ucap salah satu penumpang. Spontan semua penumpang serius menatap ke dapan dari balik kaca, ada sebuah pohon tumbang di tengah jalan.


" Wah anginnya kencang sekali" gumam mereka. Indah melihat sebentar, bathinnya setuju dengan pendapat para penumpang itu, dirinya lantas menoleh ke samping, menatap keluar dari balik kaca. Hujan turun tetapi tidak begitu lebat, hanya angin yang berhembus cukup kencang, membuat suasana malam itu nampak mengkhawatirkan, seolah akan terjadi bencana alam.


Sang sopir kembali naik ke mobil setelah hampir setengah jam berlalu,


" Anginnya kencang sekali, pohonnya sampai tumbang, maaf mengganggu perjalanan travel" ucap sang sopir, meminta maaf karena perjalanan penumpang nya terganggu.


" Tidak apa apa pak sopir" sahut salah satu penumpang. Tak lama kemudian mobil travel kembali melaju.


Setelah melaju selama 3 jam, mobil travel kembali berhenti, menurunkan penumpang , dan sekaligus berhenti untuk beristirahat sejenak di sebuah rest area, memberi kesempatan bagi yang ingin ke kamar kecil.


Indah tidak turun dari mobil, begitu pun penumpang yang lain, mereka lebih memilih tidur di mobil, untuk mengistirahatkan fisik mereka karena aktifitas pagi hingga siang hari ini.


***


Entah sudah berapa jam Indah tertidur di mobil travel tersebut, begitu dirinya bangun, hanya ada tiga orang penumpang yang ada di dalamnya. Indah menilik jam tangannya, sudah pukul 1 pagi, berarti sebentar lagi akan tiba di jogja. Mobil travel kembali berhenti, di kawasan Malioboro, tetapi rumah Indah masih sedikit jauh dari tempat tersebut.


" Makasih pak " ucap penumpang yang baru saja turun, Indah sempat memperhatikan kegiatan itu, ketika sopir membuka bagasi mobilnya dan mengambilkan tas untuk penumpang tersebut.


Pintu travel kembali di tutup, ketika sopir masuk, Hanya tinggal dua orang kini di travelnya, termasuk Indah. Gadis itu kembali melihat keluar melalui kaca jendela, ketika mobil mulai melaju lagi. tetapi baru beberapa menit, kembali travel berhenti, penumpang terakhir sebelum dirinya itu turun di sebelah rumah praktek dokter ternama, bahkan Indah pernah periksa di tempat itu juga.


Pandangannya menyipit, ketika sebuah mobil sedan mewah berhenti, lalu org dalam mobil itu turun, seorang wanita yang sedang hamil ,di susul kemudian seorang laki laki muda, turun dari pintu bagian kemudi. Gadis itu menggosokkan tangan ke kedua matanya, seolah meragukan penglihatannya sekarang ,bahkan sampai memukul kepalanya sendiri dengan tangannya, mengira dia bermimpi.


" ini bukan mimpi kan, kenapa aku melihat orang itu adalah kak Bagus" gumamnya lirih,


" Kalo betul itu kak Bagus, lalu siapa wanita hamil itu, dan kenapa kak Bagus sampai ke Jogja " beberapa pertanyaan tercetus dalam pikiran nya, penasaran tetapi juga ragu.


***


" Assalamu'alaikum " ucap seseorang dengan mengetuk pintunya.


Tokonya baru saja dia tutup, dan sudah siap untuk naik ke tempat tidur. Terpaksa harus mengurungkan niatnya, dan berjalan menghampiri pintu.


" Siapa? " tanya Ida, kakaknya Bagus.

__ADS_1


" Ini Bagus, bli" jawab suara dari luar.


Ida membukakan pintunya, memang yang sedang berdiri saat ini tepat di depan pintu adalah adiknya, bersama ibu tiri nya.


Ida sempat terkejut, dengan kedatangan ibu tiri nya tersebut, tetapi pria itu sudah dewasa dengan cara pikirnya, jadi itu bukan masalah lagi baginya. Walaupun sebenarnya dia tidak begitu suka dengan ibu tiri mereka.


" Oh... masuklah" Ida mempersilahkan mereka masuk.


Tanpa ragu, Bagus masuk kemudian langsung duduk di kursi yang ada di ruko itu.


" Maaf ya, menganggu malam malam begini " ucap Yeni sang ibu tiri, sedikit tak enak hati. Wanita berumur 30 tahun itu terlihat canggung, ini pertemuan pertama dengan anak sulung suaminya.


"Ehm... " jawab Ida sedikit cuek.


Yeni duduk di kursi sebelah yang di duduki Bagus, terlihat agak kesulitan karena perut nya yang sudah hamil besar.


" Ngomong ngomong, tumben sampe ke jogja malam malam begini? " tanya Ida langsung terus terang.


" Kebetulan aja tadi kami baru menemui klien, dan Bagus mengajakku ke sini. " Jawab Yeni dengan santai.


Wanita berpenampilan glamour itu sekilas memandang Bagus dengan sedikit tidak senang,kemudian menyandarkan punggung nya yang terasa panas di kursi sofa.


****


Handphone Yeni berbunyi, wanita itu segera menjawab panggilannya.


" Sayang" kata sapaan yang di gunakan Yeni, menjawab teleponnya.


Bagus mendengar dan paham, itu pasti dari Ayahnya.


"Sudah sampai mana? " , terdengar sedikit lirih dari jarak dimana Bagus duduk.


Yeni menoleh sekilas pada Bagus, seolah wajahnya berkata, " lihat, Ayahmu menelpon "


Bagus hanya diam, memang sengaja membiarkan semaunya Yeni untuk menjawab nya. Pria itu mengedikkan bahu. " terserah "


"Ee.... aku... aku ada di rumah anak kamu, Ida,.. kami kemalaman dan Bagus membawaku untuk beristirahat di sini. "


" kenapa gak nginep di hotel aja. " terdengar sedikit lirih ayahnya menjawab dengan sedikit kasar dalam telepon. Bagus tersenyum miring.

__ADS_1


Yeni diam, sedikit takut dengan pertikaian suaminya dengan kedua anaknya yang semuanya laki laki.


" oke, besok pagi aku jemput kamu" Balas Lelaki itu kemudian, dan mengakhiri telepon.


Ratih datang ketika Yeni menutup teleponnya, di susul Ida di belakang Ratih. Wanita itu mengulurkan tangan, mencium punggung tangan Yeni dengan tak segan. Yeni tersentak kaget atas tindakan Ratih, tetapi wanita itu kemudian paham,bahwa dirinya kini ibu mereka.


" Beristirahat lah di kamar sebelah,ibu" ucao Ratih, mempersilahkan Yeni menempati kamar di sebelahnya untuk beristirahat.


***


Di sebuah kediaman yang sangat besar, di dalam kamarnya Indah meringkuk dengan selimut menutupi seluruh badannya.


" Nduk,... bangun... sudah pagi, sarapan dulu!, anak gadis kok bangunnya siang ,jodohmu nanti di patuk ayam. " wanita itu cerewet ,mengomeli anak gadisnya yang belum beranjak dari tempat tidur.


Dengan enggan indah bangun, menyeret langkahnya ke pintu dan membukanya. Gadis itu menguap menutupi nya dengan telapak tangan.


"hoamm...Indah masih ngantuk Bunda"


" Iya,... bunda tau, makanya cepat cuci muka, biar gak ngantuk. " balas Bundanya tak mau kalah.


Indah kembali ke tempat tidur, meringkuk kan badannya kembali. Sang bunda kesal dan berdecak, sembari menggelengkan kepala.


Wanita itu kemudian sengaja, menjewer telinga Putrinya, menggiringnya masuk ke kamar mandi .


Indah tersentak dan memprotes tindakan kejam Sang bunda. tetapi Indah tau, Sang bunda hanya ingin dirinya bangun, menurut untuk bangun dan sarapan.


" Auw... auw... sakit bunda.... iya.. iya... indah cuci muka... lepas dong bunda.. " rengek Indah.


" Makanya nurut sama Bunda, bergegas ya Nduk, ndak pake lama, Bapak sudah nungguin kita sarapan bersama" ucap Riyanti, bundanya, kemudian menutup pintu kamar mandi itu dari luar.


Hampir setengah jam, Indah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, gadis itu lantas keluar untuk menemui kedua orang tuanya di meja makan.


" Cah ayu, Bapak kangen karo kowe nduk" ucap Jatmiko Ayah indah, ketika melihat putri nya sudah besar. Jatmiko adalah seorang kepala dinas pendidikan,di pemerintahan daerah Jogja. Jarang waktu nya untuk di rumah.


" Sugeng enjing pak" ucap Indah sembari mencium punggung tangan Bapaknya, Sang Bapak mengelus puncak kepalanya dengan kasih sayang. Kemudian mereka mulai menikmati hidangan sarapan yang Riyanti siapkan di meja makan.


" Berarti hari ini kamu gak kuliah toh Nduk? " tanya Riyanti setelah mereka selesai sarapan dan membereskan mejanya.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2