Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 9 ( sampai rumah)


__ADS_3

Mobil pick up itu segera meluncur membelah sepanjang jalanan kota Jogja, menuju kediaman Indah di kawasan malioboro. Ramainya pedagang dan pengunjung, mengakibatkan Arman terpaksa melintasi jalur alternatif untuk sampai di rumah Indah.


Arman memarkirkan mobil pick up yang tadi di bawa Bagus, di belakang pabrik Bakpia milik keluarga Indah. Bau harum dan enak dari Bakpia yang masih di proses segera mengumbar indra penciuman dan memancing air liur keluar dari mulut Arman.


Arman keluar dan menutup pintu mobil, kemudian membukakan pintu untuk Indah keluar dari mobil. Pelan pelan Arman membantu gadis dengan rambut cepak itu turun, sembari sedikit memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya.


" Makasih banyak Kak, maaf sudah banyak merepot kan" ucap Indah saat dirinya berhasil di dudukan ke sofa di ruang tamu.


Arman mengangguk lalu kembali berjalan keluar lagi, dan kembali masuk dengan membawa tas berwarna biru juga helm bergambar " Super Sonic", meletakkan nya di atas meja tamu.


" Ya udah, aku pulang dulu ya" ucap Arman berpamitan, tetapi sepertinya terlambat, ibu Riyanti keluar dari dalam dengan membawa nampan berisi piring yang penuh dengan Bakpia juga teh.


" Eh.. mau kemana Nak Arman, sini duduk dulu sebentar. " cegah ibu Riyanti. Lalu meletakkan hidangan itu ke atas meja.


Arman nyengir, dan akhirnya kembali duduk di sofa.


Arman berdiri sejenak untuk bersalaman dan menyapa ibu Riyanti, sebelum kembali duduk dan berbincang bincang.


" Lama gak ketemu ya Nak Arman, sekarang sudah jadi "cah Bagus" ( perjaka)" . Ucap Ibu Riyanti, dengan logat campur bahasa Jawa.


Arman terkekeh dan tersipu.


" Kok bisa ketemu sama putri saya, gak nyongko lho, piye ceritane? " lanjut Riyanti, ibu Indah.


Arman kembali terkekeh, kemudian menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Indah.


Di sela perbincangan Arman dengan sang Bunda, Indah menyela, menanyakan tentang kondisi sepeda motor nya.


" Motor kamu di bawa Bagus ke kost kostan, rusaknya lumayan parah, rem nya gak bisa di pake lagi, dan lampu depannya pecah. " jelas Arman menguraikan kerusakan motor Indah.


Indah hanya tersenyum getir, tidak bisa berkomentar apa apa mengenai motornya yang rusak akibat kecelakaan. Ini hasil dari kecerobohannya lagi, lantas bagaimana dia akan pergi ke kampus?. Semuanya sudah terlambat untuk di sesali, yah... mungkin sambil menunggu kondisi nya pulih, baru bisa di perbaiki di bawa ke bengkel


" Trus piye nek arep sekolah nduk? " tanya sang Bunda secara tiba tiba.


" Biar Arman yang mengantar dan menjemput Indah Bu" sahut suara dari dalam membuat ketiganya menatap asal suara tersebut.


Fahri berjalan mendekati mereka, sambil menggedong anaknya yang baru lahir, di susul Ningsih di belakangnya, dengan baju daster untuk " busui" , dan kain jarik yang di ikat rapi oleh angkin, membuat badan Ningsih tampak singset. Di dahinya menempel racikan jamu dari dedaunan tertentu yang di haluskan.

__ADS_1


Indah tertawa senang melihat keponakannya.


" Mari mari sini, bulek mau lihat cah ngganteng kecil" celoteh nya, berhasil membuat semua nya ikut tertawa senang.


Fahri mendekat dan duduk di samping Indah. Rasa canggungnya berusaha di abaikan oleh gadis itu, saat kakak iparnya duduk dekat sekali dengan nya. Dag dig dug jantung berpacu, wajahnya memerah seketika. Indah berusaha keras mengabaikan pikiran dan perasaan yang masih ada, menghibur diri ,memandang dan bermain dengan ponakannya yang masih bayi.


Tak terasa perlahan perasaan canggung itu sudah mulai hilang, di kala Fahri mengobrol dan bercanda dengan nya. Ruangan tamu menjadi rame dan hangat.


" Auw... " pekik Indah ketika dirinya lupa menggerakkan lehernya sembarangan. Air matanya keluar, dia pun merengek persis anak kecil yang masih balita.


" hiks.. hiks... sakit Bunda... "


Tawa seketika menggelegar, melihat Pola Indah yang masih kekanak -kanakan. Wajah Indah memerah, malu tapi juga dia tidak tahan dengan rasa sakit yang di alami.


" Ya udah,.. ayo Bunda bantu ke kamar, Anak gadis kok masih merengek, apa gak malu sama Nak Arman, nduk... nduk.. ck.. ck.. " Riyanti menggeleng gelengkan kepalanya, lalu membantu Indah berjalan ke dalam.


***


Arman dan Fahri masih terkekeh, melihat tingkah Indah bak balita.


" Indah anak yang manja , dan juga takut sama jarum suntik" celoteh Fahri, mengupas karakter Indah dan ketakutan gadis itu.


Arman pun semakin tertarik dengan karakter dan kepribadian Indah, yang dia baru kenal sebagai gadis tomboy ,dengan segala tingkah konyolnya yang dia tahu dari cerita Bagus.


" Mas... " suara Ningsih terdengar memanggil suaminya.


Fahri segera berdiri dan mengayunkan kaki masuk ke dalam.


" Ada apa sayang? " suara Fahri yang terdengar samar menyahuti istrinya, terdengar oleh Arman.


Kini hanya Arman sendiri yang berada di ruang tamu, ingin rasanya segera dia pulang tapi tidak akan sopan kalo tanpa berpamitan pada Tuan rumah dan juga pada kakak kandung nya sendiri.


Arman hanya menunggu, berharap Fahri segera keluar dan dia akan segera berpamitan.


lima menit menunggu serasa satu jam bagi Arman, lelaki itu mulai gabut, bingung ingin melakukan apa. Hingga akhirnya dia memutuskan melihat handphone nya, tetapi tak ada yang membuat nya tertarik, padahal segala Apk yang dia donlod sudah semuanya di buka, baik IG, Fb, Twitter maupun apk streming.


Arman berdiri dan melihat lihat gambar dinding di ruangan tamu itu. Entah mengapa matanya tertarik untuk mengamati sebuah foto keluarga dari keluarga besar Indah. Nampak Fahri belum ada di foto dinding tersebut.

__ADS_1


Tangan pria itu terulur, meraba gambar anak perempuan yang berusia remaja dengan rambut panjang dan dress berwarna salem. Cantik dan Anggun,


" Apakah ini Indah? " bathin Arman berguman.


Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar tersebut.


" Bagus pasti akan tertawa melihat Indah yang seanggun ini" bathin Arman .


***


" Arman" panggil Fahri yang melangkah keluar dari dalam sebuah kamar.


" Maaf ya, kamu jadi di anggurin. " ucap Fahri, kemudian duduk.


Arman sudah duduk di sofa kembali, ketika kakaknya datang.


" Gak apa apa kak, .. ehm.. kalo gitu aku pamit pulang dulu ya"


" Oke,... hati hati di jalan ... "Pesan Fahri mengantarkan Arman keluar sampai mobilnya melaju pulang.


***


Di tempat yang berbeda, di sebuah hotel yang berada di bandung. Bagus duduk sembari memandang nyalang ,menatap kolam ikan sekaligus taman dalam hotel tersebut.


Masing terngiang jelas suara sang Ayah saat berbicara sepuluh menit yang lalu.


" Ayah tidak mau membantu atau pun mengurusi kuliah kamu, kalo kamu gak nurut omongan Ayah! "


" Jangan sampai kejadian yang di alami kakakmu itu terjadi padamu juga! "


" Kamu lihat sendiri kan hidup kakak kamu di jogja"


" Itu akibatnya menentang keputusan Ayah dan memilih menikah dengan orang yang dia pilih sendiri"


" Setelah kamu selesai kuliah kedokteran, kamu harus mengurus bisnis Ayah, jika kamu ingin meniti karier sebagai dokter, jangan sampai bisnis Ayah di terlantar kan, kamu mengerti kan apa yang Ayah inginkan! "


Wayan Adi Putra, Ayah dari Bagus dan juga seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan , serta memiliki dua swalayan terbesar, yaitu di jakarta dan di Bali.

__ADS_1


( bersambung)


__ADS_2