
Kata kata itu terngiang lagi di telinganya, membayangkan bagaimana waktu itu Bagus menghinanya, seolah kejadian yang mereka lakukan di penginapan adalah hal sepele, padahal itu sudah secara tidak langsung mempermalukan harga dirinya, menyakiti hatinya, dia gadis jawa yang penuh etika dan tata krama, bukan gadis luar negeri, dimana pergaulan mereka bebas. Dan berbuat demikian adalah hal yang wajar.
Mengingat hal itu , seketika Indah merasa marah, harga dirinya tercoreng dan juga terhina dengan ucapan Bagus waktu itu.
Sakit..ya..benar benar sakit,.. lebih menyakitkan dari luka yang dia dapatkan dari Arman waktu dulu. Perasaan sedih bercampur, membuatnya emosi sekaligus marah. Air matanya tiba tiba menetes, hatinya dongkol, segera gadis itu berbalik menuju motornya yang di parkir tak jauh dari dirinya berdiri sekarang. Sambil berjalan ,sambil sibuk mengusap air mata dengan punggung tangannya . air mata itu entah mengapa tidak mau berhenti mengalir, apakah dia butuh berhenti sejenak untuk sekedar menumpahkan semuanya. Tapi..tidak.. dia tidak mau berlama lama di sini, dia ingin segera meninggalkan tempat ini .
"Tunggu Indah... " seseorang mencekal salah satu tangannya juga berkata ,menahannya. Indah tau siapa pemilik suara ini. Air mata semakin ingin meluncur deras, hatinya sakit juga di penuhi emosi yang membuncah. Tidak.. dia tidak boleh menangis di hadapan pria ini, dia harus tahan..bahkan perlu juga berpura pura , seolah sudah melupakan kejadian itu,... dia harus bersikap tegar, dia tidak boleh jatuh, tidak boleh terlihat lemah ataupun rapuh, dia harus menampakkan diri, seolah hal itu juga sepele baginya. Dia harus mempertahankan harga dirinya. bahkan kalo bisa membalikkan semua omongannya waktu itu.
Indah mencoba menarik nafas sedalam mungkin, memasok udara kemudian menghelanya panjang, supaya bisa menstabilkan perasaannya, agar mampu berkata untuk bersandiwara, menutupi perasaannya. Diirasa cukup mampu, kemudian dia berbalik, lalu berhadapan dengan wajah pria busuk ini..., iya.. baginya pria ini memang busuk. dan kenapa sekarang dia sangat muak melihat tampangnya?. Indah menggeram diam, menahan emosinya yang terpancing, kini perkataannya menjadi tegas dan lancar.
" Iya,Ada apa... " ucapnya, dengan nada yang di yang di buat normal seperti biasanya, padahal suaranya masih bercampur sedikit isakan. Wajah dan hidungnya juga masih memerah, tidak dapat dipungkiri kalo wajahnya kini adalah wajah orang yang baru saja menangis.
Mata bagus terlihat berkaca kaca menatapnya, ada rasa menyesal yang terkandung di pancaran kedua mata itu.
" Aku.. Aku minta maaf" ucap pria itu sedikit tergagap.
Indah menarik nafas lebih dalam lagi, lalu menghembuskannya kasar.
" Minta maaf untuk apa... " balas gadis itu, seolah tidak paham maksud perkataan Bagus yang meminta maaf.
Bagus terkejut juga bingung , apakah gadis ini sudah berubah . Kenapa sekarang perkataannya kasar, Haruskah dia menjelaskan , "meminta maaf" untuk waktu itu , tetapi itu sangat canggung.
" Hhhh... " Menghela nafas dalam dalam.Itu yang saat ini Bagus lakukan.
Bagus menatap kedalam mata gadis itu, mata itu tidak bisa di bohongi, dia kemudian yakin bahwa Indah tahu maksudnya, tetapi gadis ini sengaja berpura-pura , seolah mengelaknya, kenapa hatinya tiba tiba kecewa, tapi...apakah benar demikian?, Bagus tercenung ragu . Entahlah, lama mereka tidak pernah bertemu, mungkin dia berubah. Ya memang, dirinya belum begitu paham dan mengenali karakter Indah. Selama ini mereka jadi jarang bertemu dan dirinya juga sering menghindari pertemuan mereka. Tapi.. lagi - lagi "entahlah"... kenapa perasaan cinta ini muncul untuknya, sejauh mana usahanya memungkiri, tetap saja belum bisa hilang dari hatinya, ehm..mungkin butuh waktu cukup lama. Tapi yang terjadi..seolah takdir punya alasan untuk mereka terlibat dengan perasaan.
jika saja ada cukup keberanian, mungkin tanpa ragu pria itu akan langsung menghamburkan pelukan untuk gadis di depannya ini. Tapi sayangnya... dia bernyali cemen.😌.
***
__ADS_1
Keduanya terdiam beberapa menit, seolah hatinya pun mengalami keheningan. Sayangnya, keadaan sekitar dimana mereka berdiam diri dan saling menatap ini, sama sekali tidak mendukungnya. Malahan suasananya hiruk pikuk, ramai, dan keramaian itu bagaikan musik pengantar yang mengantarkan terseretnya hati kedua insan itu, jauh ke dalam suasana gurun yang gersang, panas.
Ya... Bagus tidak bisa berkata apapun untuk melanjutkan perkataannya sebagai jawaban. Seolah mulutnya sudah di beri lem, hingga tidak mampu menggerakkan bibir untuk menghasilkan kata. Dan itu membuat Indah merasa kesal, karena di diamkan cukup lama, tidak sepatah katapun Bagus membalasnya, padahal dia menantikan balasan itu. Akhirnya dengan mendengus, Indah berbalik badan lalu meninggalkannya.
Bagus hanya bisa menatap dari kejauhan, tentunya dengan penuh rasa bersalah dan menyesal, karena telah menyakiti gadis itu, juga membohongi perasaannya sendiri. Haruskah dia relakan pergi semua perasaan cintanya untuk gadis itu.😒
****
Sepanjang perjalanan air matanya tidak berhenti mengalir, Gadis itu mengendari motor dengan sangat lambat menuju kost kost an. tadinya tujuan awal ingin menghibur diri, tetapi malah semakin terjerumus ke dalam kesedihan.
Dengan berderai air mata di wajahnya, Gadis itu memarkirkan sepeda motor lalu berjalan cepat, bahkan hampir berlari menuju kamarnya. Indah tidak mau sampai teman teman kostnya tau, apalagi Sherly.
Gadis itu memutuskan untuk mandi air hangat sembari meredakan kesedihan nya, dengan di iringi musik dangdut yang sebetulnya bukan menjadi minat gadis itu, tapi tak apalah, kata teman temannya, musik dangdut, musik yang bisa membuat perasaan jadi gembira, karena dalam syair lagunya, mengandung musik yang meracuni orang untuk berdendang sambil bergoyang.
Dering teleponnya berbunyi, dan gadis itu tidak mendengarnya, masih terhanyut oleh perasaan. Hingga akhirnya, seseorang mengetuk pintu kamar begitu keras, sambil berteriak memanggil namanya.
" Indah... woy... Indah.. buka pintunya...dodol... woy... Indah "
" Eh.. telingaku masih berfungsi dengan baik Sheeeerrrr...dasar. dodoooollll...., gak sopan ! " geram indah kesal, dengan ulah temannya ini.
" he.. he... habisnya kamu gak cepat buka pintu... jadi jangan salahin aku dong " jawab Sherly tak mau kalah dan tak mau di salahkan.
Indah membuka pintu lebih lebar untuk Sherly, lalu Sherly segera menghambur ke dalam dan menyelonong ke kasur, menelantangkan badannya.
" Ada apa ? " Tanya Indah sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dalam cermin wajahnya tidak kentara lagi kalo habis menangis.
" Ini... ibu kamu telepon...! "
Indah tercenung sebentar, mendengar Sherly berkata, kemudian kembali menyelesaikan gerakannya untuk mengeringkan rambut pendek sebahunya.
__ADS_1
" Kelihatannya udah cukup panjang " bathin Indah bergumam, melihat rambut yang sudah sebahu. Hal itu sungguh merepotkan untuk mengurusnya. Ya.. gadis itu lebih memilih simple dalam tatanan rambut pendek.
" Potong gak ya? " pikirnya ragu.
" Eh... tadi ibumu bilang acaranya di majukan, emang acara apa sih, indah?, kamu mau dilamar orang? " celotehan Sherly membuat Indah tersedak saat mengambil nafas. Segera Indah berbalik dan menyerobot handphone Sherly yang sedang di genggamnya sambil tiduran diatas kasur. Tentu saja tindakan Indah itu membuat Sherly terkejut sekali. Gadis itu membalikkan badannya, kini menjadi tengkurep sembari melihat Indah yang kini sibuk mengotak atik handphone miliknya.
" Kamu kenapa sih Ndah?, Dosa tau menyerobot barang orang! " protes Sherly kesal dengan tindakan Indah barusan.
" Pinjem ! " sahut Indah dengan cepat, sembari pandangannya melihat ke layar hape ,membuka aplikasi pesan. Tulisan pesan bundanya ternyata tidak ada dalam setiap apk pesan.
" Pinjem ya pinjem, tapi bilang dulu kek, minta ijin dulu kek baik baik, gak langsung nyerobot gitu dong! " Sherly bangun dari rebahan dan sekarang duduk di atas tempat tidur milik Indah itu dengan wajah yang nampak kesal.
Puas memeriksa setiap apk pesan, akhirnya Indah memberikan lagi handphone itu kepada pemiliknya.
" Iya,.. maaf, nanti aku traktir bakso deh " jawab Indah merayu temannya itu agar tidak ngambek. Indah tau bahwa sikapnya tadi buruk, tapi.. itu karena dirinya terlalu khawatir kalo perjodohan itu di ketahui oleh Sherly dan teman-temannya.
" Eh..Bunda bilang apa aja sama kamu tadi ,Sher? " sambung gadis itu, sembari duduk di samping Sherly.
" Kamu di suruh pulang, karena acaranya di majukan jadi minggu ini! " jawab Sherly dengan wajah kesal.
" Oh.. gitu, cuma itu aja? " balas Indah.
" Iya,.. makanya aku kemari"
" ihh... gemes deh.. kamu emang teman terbaik ku Sher,... makasih ya" balas Indah , sembari mencubit kedua pipi Sherly pelan dan tidak sakit, dengan itu akhirnya Sherly tidak lagi marah, dan mereka segera keluar untuk membeli bakso di warung bakso terdekat di sana.
****
5 hari berlalu begitu cepat, bagi Indah, rasa malas juga takut terus mengganggu pikirannya. waktu semakin dekat, dan gadis itu sama sekali belum melakukan tindakan yang bisa menggagalkan acara perjodohan ini. Haruskah dia terima di jodoh kan dengan pria yang sama sekali belum ia kenal dan juga belum pernah bertemu.
__ADS_1
( bersambung)