Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 14 (Nella dan Arman)


__ADS_3

Baru saja Indah turun dari motor Arman. Terdengar derap langkah kaki bersepatu ,tergesa-gesa dari arah samping. Gadis itu menoleh. Nampak olehnya ,seorang Mahasiswi berparas cantik juga terkesan smart, berjalan tergesa - gesa , hingga akhirnya berlari kecil ke arahnya .


Alis Indah berkerut , seluruh perhatiannya tertuju pada perempuan itu. Kemudian terkejut, karena begitu Perempuan itu sampai, seketika menarik tangan Arman, sehingga membuat pemuda itu yang tadinya sedang melepas ikatan helm di lehernya, seketika menoleh karena tersentak , dan mengurungkan tangannya melanjutkan melepas helmnya.


Pandangan Arman dan Mahasiswi itu bertemu. Sekilas Arman terlihat terkejut, lalu menjadi penasaran. Alisnya yang tebal bertaut, nampak nafas perempuan itu sedikit tidak teratur,dan wajahnya menampakkan kekhawatiran serta mata yang berkaca kaca.


Hal itu berhasil menyita perhatian Indah yang berdiri di samping motor Arman ,merasa penasaran , kepo terhadap urusan mereka.


Alis tebal Arman semakin dalam bertaut,


"Ada apa, La?" tanya pemuda itu sangat penasaran, sembari memandang serius perempuan yang di panggil "La" itu. Sementara anak perempuan itu masih enggan melepaskan tangan Arman. Air matanya berhasil lolos, yang tadi nya baru menggenang.


Indah sekilas melongo melihat mereka, menyaksikan adegan keduanya seperti di film romantis, kedua bola mata bergerak, berganti memandangi makhluk dua itu, satu persatu. Sadar dan merasa konyol atas tingkahnya sendiri. Jarinya berlari mengaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.Tersenyum tolol, menertawai diri.


Gadis itu berniat hangkang, malu karena sudah kepo. Suara dengan nada serius bercampur kepanikan, berhasil menahan langkah kakinya beranjak. Kembali kakinya diam berdiri, tapi telinga fokus menguping, sangat penasaran.


***


" Antar aku pulang Ar, ibu aku jatuh di kamar mandi " pinta Nella kepada Arman. wajahnya bergurat sedih dan air mata sudah mulai menggenang lagi, perempuan itu terlihat sangat khawatir.


" Apa?" Pria itu juga terlihat syok sekilas, seolah urusan perempuan itu sudah menjadi bagian penting dalam hidup Arman. Pemuda itu kini mengencangkan ikatan helmnya, dan menyuruh Nella membonceng. Dengan rasa cemas, keduanya melenggang meninggalkan kampus, sengaja membolos kuliah.


" Ibu kamu sakit apa? " tanya Arman ketika mereka sedang melaju dengan motor akan keluar dari area kampus.


" Ibu aku stroke" jawab Nella, kesedihan terdengar dari nada bicaranya.


Indah menatap mereka yang berboncengan, hingga mereka meninggalkan kampus. Bathinya bertanya penasaran atas hubungan mereka.


"Apakah itu pacar kak Arman?".tanya bathinnya.


lalu menghela nafas, karena dadanya sedikit terasa sesak.


" Alangkah Indah nya dunia ini , jika punya pacar dan sayang seperti kak Arman, .. " lanjutnya masih bergumam, seolah hatinya kecewa.


" Kapan aku bisa merasakan hal semenyenangkan itu, kayaknya..jodoh aku ada di tempat yang jauh dech...jadi....huh..... " lanjut bergumam, dan tidak sanggup mengucapkan kata terakhir,


Tiba tiba saja otaknya teringat Sherly, temannya itu pernah mengaku tertarik pada Arman,

__ADS_1


"jika saja Sherly tau,,..kalo kak Arman sudah punya pacar... pasti dia akan sangat kecewa,... " kini bergumam mengasihani Sherly, temannya.


" Kasihan kamu Sher...,tapi aku gak akan kasih tau kamu, kalo kak Arman sudah punya pacar, aku gak mau kamu sedih" bathinnya berjanji, memprihatinkan temannya, karena tidak tega membuat temannya sedih.


Punggungnya terasa berat, hingga dia berjalan dengan bahu terkulai. Apakah jomblo masalah berat bagi anak anak seusianya?.


***


Pukul 11siang, ketika matahari sudah mulai meninggi, gadis itu telah selesai kuliah. Ada sesuatu yang akan dia kerjakan siang ini. Pergi ke bengkel mengambil sepeda motor nya, lalu akan mengerjakan tugas wawancara pada salah satu pelaksana industri kecil di dekat kost kostan dan mendiskripsikan tugas hasil wawancara tersebut.


Indah menatap ke layar phonselnya , sambil duduk di bangku pinggir pelataran kampus. Hari ini dosen mata kuliah jam kedua tidak datang, hanya menitipkan setumpuk pekerjaan rumah yang diharus di selesai kan dan di kumpulkan besok.


"Dosen crazy, seenaknya saja memberikan tugas , banyak lagi,..hah...ini nih contoh dari salah satu bentuk penjajahan pada anak anak di jaman sekarang, penjajahan otak",ocehnya mengeluh, keberatan dengan tugas yang di berikan Dosen yang tadi tidak hadir.


Sudah seperempat jam lamanya, Indah duduk di bangku pelataran kampus , dengan maksud bersantai menunggu Arman datang , karena tadi pria itu berjanji akan mengantarnya ke bengkel mengambil sepeda motor yang rusak akibat kecelakaan tunggal itu.


Dahi mulai di basahi dengan keringat, WA dari Arman tak kunjung tiba, apalagi kehadiran pemuda itu. Dengan terpaksa Indah membenahi buku juga handphonenya ke dalam tas, lalu berdiri dan beranjak dari bangku tersebut.


" Gimana aku ke bengkelnya nih,.. uh... " gumamnya mengeluh lagi karena bingung, dan juga kecewa.


" Jalan kaki aja lah ke kost kostan, sepeda motornya...ambil besok ajalah.... " nada bicara pasrah , sikapnya santai.


Indah tipe orang yang tidak mau memaksakan apapun pada dirinya. Jika memang tidak sanggup mengerjakan, maka dia tidak akan berjuang, Indah tipe orang yang tidak mudah menyerah, tetapi tidak suka terlalu memforsirkan diri terhadap sesuatu.


Gadis itu masih berdiri dengan ragu, sebenarnya hatinya berharap ada seseorang yang datang memberikan tumpangan. Jujur, Indah merasa berat jika harus pulang ke kost kostan dengan berjalan kaki.


Sekilas angin menerpa rambut panjang yang baru sebatas bawah telinga. Gadis itu segera menoleh, pandangan sinis setengah kecewa tertuju pada pemuda dengan rambut terkucir kebelakang, dan Almameter tersampir di salah satu pundak, mengendarai sepeda motor dengan begitu kencang, melewatinya.


" Gak peka deh, jadi nyesel kenal dia" bathinnya marah dan menyesal, juga kecewa.


***


Bagus mengendarai sepeda motor dengan sedikit ngebut baginya, padahal kecepatan yang di ambil hampir sama seperti ngebut. Keluar dari kampus karena dia tergesa-gesa, tetapi baru sampai setengah perjalanan menuju suatu tempat, handphone nya berbunyi.


Bagus mengambil handphone di saku celana, dan memperlambat laju motornya. Melihat layar, mendapati Arman menelphon. Kemudian Bagus sengaja menepi,


"Halo.. " ucapnya menyapa, mengawali percakapan.

__ADS_1


" Gus, aku minta tolong, antar Indah ke bengkel ya,.. tadi dia minta aku antarkan , tapi aku masih berada di rumah sakit, nemenin Nella"


Tak ada balasan dari Bagus, temannya itu hanya diam, tetapi pikirannya sebetulnya dilema. Hingga suara Arman terdengar lagi.


" Gus, kamu bisa kan antar Indah, please..Gus, gue gak mau di tegur sama kakak, kamu tau sendiri kan, gadis itu manja dan mungkin bisa saja ngadu.. please.. tolong ya.. " Nada bicara Arman memohon dengan sangat, karena rasa takut jika kakaknya menegurnya.


Bagus memutar bola matanya malas, " apa hubungannya dengan ku,.. " bathinnya cuek, tapi.. akhirnya mau memutar balik arah motornya, kembali menuju kampus.


Tadi dia lihat cewek itu berdiri di depan kampus, tapi sengaja tak dia sapa, entah kenapa rasanya ingin marah terhadap cewek itu, seperti ada sesuatu yang terasa aneh dalam hatinya.


Dengan sedikit malas, bagus menghampiri Indah lalu berhenti tepat di depannya.


" Naik! " perintahnya dengan tanpa melihat wajah Indah.


Angin sekilas terasa meniup salah satu daun telinganya, sehingga sedikit merinding karena nafas itu terasa hangat.


Bagus menoleh ke samping, Indah sedang berdiri tepat di sampingnya, sedikit sangat dekat, bibirnya cemberut, ya... kayaknya tadi dia menghela nafas kasar, dan nafas itu menerpa daun telinga. Bathin Bagus menebak nebak.


Mendadak salah satu anggota tubuhnya sekilas tegang,


" brengsek,... gue terangsang,.. " bathinnya merutuki dirinya sendiri. Hanya karena melihat bibirnya yang mengerucut manja. Pandangan cepat cepat ke arah depan, sengaja menghindar, sembari menormalkan hormon kejantanannya.


Keadaan ini tidak dia harapkan, Bagus semakin jengkel.


" Mau gue anter gak, kalo gak gue cabut sekarang! "nada bicara Bagus menekan dan sangat dingin.


Indah membelalak kaget, kenapa Lelaki ini sekarang berubah kasar terhadap nya.


" Gue hitung sampe tiga, kalo kamu gak naik, gue tinggal " lanjut cowok itu, tanpa mengubah arah pandangnya.


Motornya bergoyang, Gadis itu naik ke motor dengan cepat dan kasar. Tiupan sekilas nafas di samping lehernya kini kembali mengusik hormon kejantanan nya lagi.


Jantung nya kini berdentum keras, pemuda itu berjuang mati matian, mengendalikan kondisi tubuhnya ke semula. Hormon ketertarikan sudah mulai menguasai dirinya.


Akankah Bagus semakin gencar menolak rasa cintanya terhadap Indah, atau malah akan sebaliknya, berganti mendekatinya, dan mengungkapkan rasa cintanya..


bersambung ya.. 😁

__ADS_1


__ADS_2