
Indah mengulurkan tangan, berjabat tangan sembari menyebutkan namanya.
" Indah"
Uluran tangan itu di sambut ramah oleh Wanda.
" Wanda"
Dita menatap keduanya dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Kemudian mereka saling melepaskan tangan, dan berbincang setelahnya.
" Jadi Dita punya kakak?, aku kira kamu anak tunggal " kelekar Indah dengan wajah cerianya.
" Iya, kami sering menghabiskan waktu berdua kalo di rumah" balas Wanda, sementara Dita hanya diam, menikmati kelakar kakak dan temannya itu. Mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju halaman kost, dan akhirnya harus menyudahinya setelah Dita mengajak Wanda untuk segera naik ke motornya.
Indah menatap kepergian mereka, dua saudara yang tampak akur, tapi kepribadian yang mungkin sedikit bertolak belakang diantara adik kakak tersebut. Dita dengan karakter tomboy, dan Wanda dengan karakter feminim juga lemah lembut.
Hari ini Indah malas untuk sarapan, perutnya merada masih kenyang, walaupun demikian, gadis itu tetap sempatkan untuk mampir ke warung Bu Indah.
Bagus hari ini tidak datang untuk sarapan, mungkin sama, tidak merasa lapar seperti dirinya, karena tadi malam mereka sama sama makan semangkok mie instan belum terlalu lama.
***
Matahari mulai terasa terik, ketika Indah keluar dari ruangan, selesai kuliah session pertamanya. Dan terpaksa dia mendatangi kantin, karena rasa lapar mulai mengusiknya.
Indah memesan soto ayam juga Teh hangat di kantin tersebut. Gadis itu melahap hidangan dengan cepat, dan segera membayar ketika telah selesai.
Datang sekelompok anak muda dengan almameter warna berbeda dengan almamaternya. Gadis itu mengernyitkan dahi, melihat salah satu dari mereka nampak tak asing baginya.
" Siapa ya" bathinnya penasaran.
Seorang mahasiswa yang wajahnya sedikit tak asing, dan mungkin mereka pernah bertemu, tapi dimana. Otak gadis itu mulai mengingat ingat kejadian yang pernah di lakukan di masa lalu.
Indah terus mengamati, karena belum terpuaskan dengan rasa penasarannya. Sekelompok orang datang , dan memarkirkan mobil mereka. Ada tiga laki laki turun dari mobil tersebut. Salah satu dari mereka lebih dewasa usianya, dan sudah mapan, kalo sekilas melihat dari bagaimana pria itu berpakaian, sepertinya pembisnis muda. Dan dua orang lagi mungkin kalo benar, bawahan dari laki laki dewasa tersebut.
Sekelompok mahasiswa itu langsung menyambut kedatangan tiga orang itu dengan antusias. Salah satu dari mereka berjabat tangan dengan pembisnis muda tersebut, lalu saling memeluk, seolah mereka tidak pernah bertemu, dan melepas rindu.
" Haris... oh iya... kak Haris.. " gadis itu sedikit berseru, berhasil mengingat pria itu. Dan mungkin yang memeluknya adalah adiknya. Pantas saja wajah mereka hampir mirip. Wajah saudara memang akan tampak sama , seperti kakak iparnya dan Arman. Akhirnya gadis itu sudah terpuaskan, kini mulai mengayunkan kaki, meninggal kan kantin.
Seseorang melihat gadis itu, wajahnya langsung sumringah. Ingin memanggil tapi tampak ragu, hingga akhirnya seseorang itu tersenyum sendiri terlihat senang.
***
Wanda turun dari ojek online, di depan kampus " Bina Bangsa ", dimana Bagus kuliah. Hatinya berdebar, tidak sabar ingin melihat kembali wajah seseorang yang sangat dia rindukan selama ini.
__ADS_1
Wajah Wanda berseri, di kala di lihat nya beberapa anak muda dengan almameter putih, mulai keluar dari pintu gerbang kampus. Tak lama kemudian Bagus juga muncul dari dalam kampus. Wanda sudah melihat nya, pria yang sangat dia rindu kan itu menaiki motor butut.
" Bagus" teriak Wanda sengaja memanggilnya. Bagus celingukan mencari siapa yang memanggil dirinya.
" Bagus" teriak Wanda lagi, tetapi pria itu seolah menyerah dan kini cuek. Bergegas Wanda menghampiri dan kini sudah ada di hadapan Bagus.
pria itu terlihat terkejut dengan kemunculannya.
" Wanda? " bathinnya sembari melongo. Di kerjap kannya kedua mata itu, gadis di depannya kini tersenyum, lalu mendekat lagi. Dan mengulurkan tangannya.
" Iya, saya Wanda teman kamu dulu"
Bagus terlihat lega, otaknya masih berfungsi dengan baik menyimpan memori.
Bagus menerima uluran tangan, menyambutnya dengan senyum simpul.
" Lama tidak berjumpa, gimana kabarmu Wan? " tanya pria itu, sembari menarik tangannya kembali.
" Aku baik, dan kamu sendiri? " sahut Wanda.
" Aku juga baik"
" kamu kuliah kedokteran? "
"aku di apoteker"
" wah hebat dong"
" kamu yang hebat"
mereka berbincang banyak ,menceritakan kehidupan perkuliahan mereka. Siapapun yang melihat mereka kini, pasti mengira mereka sangat dekat. Keduanya nampak gembira dan saling tertawa senang, benar benar membuat sepasang mata iri .
***
Indah melajukan motor meniggalkan kampus dengan pikiran melamun, entah mengapa ada rasa tidak suka melihat Bagus dan Wanda bercengkrama begitu akrab. Sebetulnya Gadis itu masih menyimpan rasa cintanya kepada Bagus, dan perlahan menggeser posisi fahri di hatinya. Tetapi sayang sekali, cinta nya masih saja bertepuk sebelah tangan.
Tak terasa, begitu cepat serasa perjalanan dari kampus ke kost kost an, indah memarkir sepeda motor dan berjalan ke kamar kostnya. Bunyi dering phonsel, membuat gadis itu berhenti mengungkit ungkit hatinya yang terus saja patah.
" Haloo" dengan lemas suaranya terdengar ke telinga si penelpon nomor miliknya.
" kok suaranya lemas, sedang patah hati ya.. " balasan dari telephonnya, membuat gadis itu terlonjak kaget. Kemudian menyempatkan menilik ke layar.
" Kamu siapa, dan dari mana kamu tau nomor saya? " sahut Indah dengan ketus, hatinya masih dalam mode uring uringan.
__ADS_1
"Oh.. jadi kamu udah sama aku, oke.. gak apa apa, aku gak keberatan memperkenalkan diri lagi padamu. " sahut suara cowok dari telephon, dan seketika gadis itu mencebikkan bibirnya, merasakan jijik dengan pria sok kenal ini.
" Perkenalkan, aku haris.. "
"what! " Indah tersentak kaget, dan langsung tersipu malu, gadis itu pun terkekeh dan minta maaf pada pria penelponnya.
" aku ada di luar kost kost an kamu, bisa temui aku gak? "
" eh.., iiiya... i.. iya.. bisa.. bisa kok kak, baik aku akan segera keluar"
Indah meletakkan handphonenya, dan bergegas keluar menemui Haris.
" Maaf ya kak, tadi aku gak tau"
" its oke gak apa apa, ngomong ngomong kamu ada waktu gak? " tanya Haris seketika.
" eh.. emang ada apa kak? "
" Aku mau ajak kamu makan, kamu belum makan siang kan? "
" hehehe... iya belum.. "
" ya udah yuk"
" Bentar kak, aku ambil dompet sama handphone ku di kamar. "
" gak usah, gak lama kok, "
" oh.. gitu,.. oke deh.. "
Haris melajukan mobilnya, membawa Indah ke sebuah warung makan yang agak dekat dengan kost kost an, tetapi bukan warung di depan kost yang menjadi langganan gadis itu.
***
Di sebuah warung makan, Bagus duduk berhadapan dengan Wanda, mereka menikmati makanan ikan bakar, kedua nya masih saling mengobrol, seolah tidak ada habisnya mereka ingin bercengkrama.
Wanda adalah teman yang baik bagi Bagus, teman yang nyambung bila mereka berkomunikasi. Bagus tidak tahu, kalo Wanda menyukai dirinya sampai sekarang, Bagus hanya menganggapnya teman, tidak lebih.
Penampilan Wanda masih seperti dulu, cantik dan anggun, Bagus memang kagum dan sempat menyukai, tetapi itu dulu ,dan sekarang dia tahu perasaannya sudah terjatuh pada Indah.
Mobil Haris berhenti di sebuah warung makan, mereka kemudian turun dan masuk ke warung tersebut. Awalnya Indah tidak tahu kalo Bagus juga ada di sana bersama Wanda, hingga acara makan mereka selesai, dan Bagus hendak membayar, Gadis itu melihat nya, Wanda berdiri dekat pria itu ketika mereka sedang berada di meja kasir.
Wajahnya terlihat masam, dan segera memalingkan muka, berharap Bagus tidak melihatnya. Tetapi terlambat, Bagus segera menyadari keberadaan gadis itu bersama pria lain.
__ADS_1
( bersambung)