Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 36 ( kawan lama)


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah suasana hati Indah hari ini. Gadis itu sedang berada di taman, di depan rumahnya, sudah lama dirinya tidak menyapa tanaman tanaman bunga nya itu, apalagi merawatnya.


Indah memakai celana training panjang dengan kaos berwarna biru muda bergambar kartun favoritnya, dan berjongkok diatas tanah basah, dengan kaki telanjang.Gadis itu sibuk mencabuti rumput liar yang hampir menutupi tanaman tanamannya, lalu mengambil " cetok " menggali pinggiran tanah di sekitar tanaman yang dia tanam dulu, dan terakhir menyirami tanamannya.


Rambut pendek yang hampir mencapai pangkal leher itu seolah menganggu, menutupi wajahnya yang mungil, di kala gadis itu menunduk, tekun dengan beberapa tanaman baru yang sedang dia tanam.


"Nduk, kalo itu sudah selesai, tolong bantu Bunda di toko ya" ucap Riyanti, ketika wanita itu akan pergi ke pabrik " Bakpia" nya, di rumah bagian belakang.


Indah menoleh ke posisi Bunda nya berada sekarang, sebelum wanita bersanggul Jawa itu melenggang meninggalkan nya.


" Njeh Bunda" jawab Indah patuh.


Hampir satu jam, gadis itu bermain main di taman, dan kini merasa gerah, panas matahari pagi sudah menembus badannya, memunculkan keringat sehat yang sangat di butuhkan oleh tubuh.


Gadis itu berdiri dan melakukan gerakan gerakan ringan, mengembalikan Otot pinggang ,dan tulang punggung yang tadi sempat tegang karena hampir satu jam berjongkok diatas tanah.


Gadis itu kemudian mandi, lalu pergi ke toko "oleh oleh khas jogja" Nya, membantu melayani pengunjung/pembeli yang kebanyakan dari luar kota. Mereka mampir untuk membeli bakpia khas made ini Bunda nya sebagai oleh oleh.


Waktu hampir sore, ketika Jatmiko pulang dari kunjungan dinas, sengaja memarkir mobilnya di halaman toko ,berjajar dengan mobil mobil bus yang lain , milik pengunjung.


Hari ini toko itu lumayan ramai di datangi pengunjung, ada 3 bus pariwisata yang mampir di sana. Dengan pakaian yang sama dengan baju karyawan toko, Indah dengan cekatan dan profesional melayani pembeli. Duduk di depan meja kasir, sejak beberapa jam yang lalu, dan hingga saat ini sama sekali belum istirahat.


Sedangkan Riyanti, sang bunda,sibuk berada di belakang, memantau dan mengawasi karyawan yang bertugas di bagian dapur produksi. Riyanti tetap mengutamakan kualitas dan kehigienis _an produk nya, jadi wanita itu terjun langsung dalam proses pembuatan.


"Sampun kundur pak? " ucap Indah, dikala Jatmiko masuk dan memposisikan diri di samping nya. Indah segera mengulurkan tangan, meraih dan mencium punggung tangan Bapaknya. Jatmiko tersenyum bangga, atas sikap putrinya yang masih ingat dengan tata krama dan juga berbakti kepada orang tua.


"Tidak ke rumah dulu,pak? " sambung Riyanti, datang dari dalam, untuk menyambut suaminya yang baru pulang kerja.


"Sengaja Bu, pengen lihat putri bapak yang sedang berbakti"


Riyanti tersenyum ringan, menoleh sebentar ikut memperhatikan anak gadisnya yang kini sedang tekun menghitung jumlah belanjaa pembeli. lalu kembali sibuk menata kardus kardus yang sudah berisi bakpia yang baru saja selesai di buat.


****


Masih dalam kota yang sama, sebuah keluarga tengah berkumpul di ruang tamu, ruangan itu kecil , dan juga penuh dengan plastik besar yang menampung barang barang souvenir untuk di jual.


Atmosfer di ruangan itu terasa panas, bukan hanya kurangnya fentilasi udara di ruangan tersebut, tetapi juga berasal dari hawa panas orang orang di ruangan itu. Tiga sosok laki laki itu saling bungkam, terdiam dari satu jam yang lalu, ketika ketiganya bertemu.


Dalam pemikiran mereka ,masing-masing berbeda, tidak akur sejak tiga tahun yang lalu bukan tanpa sebab, tetapi juga kurangnya komunikasi antar keluarga.

__ADS_1


Yeni merasakan suasananya mencekam, dirinya bingung harus bagaimana. Yah.. dia adalah orang lain yang baru saja masuk sebagai keluarga mereka sejak satu setengah tahun yang lalu. Sama sekali tidak mengerti apa penyebab ketidakakuran mereka.


Wanita tengah hamil tua itu berdiri, bermaksud ke dalam, menyusul Ratih.


" Mau kemana? " tanya Darma, suaminya, seketika menghentikan niatnya, untuk masuk ke dalam.


"mau ke dalam, mau main sama anak anak" balas Yeni


" Tidak usah, ayo pulang sekarang! " cegah suaminya.


Darma berdiri dan melangkah keluar. Ida hanya melihatnya, tanpa berucap apapun. perasaannya sedikit dongkol dengan sikap Ayahnya. Bagus menyimak dan mengamati bagaimana ekspresi keduanya, baik ayah maupun Ida, kakaknya.


Yeni terlihat tak enak hati dengan sikap Darma, dengan canggung akhirnya berpamitan pada Ida.


" Ida, kami pulang dulu, sampai kan salamku buat Ratih dan anak anak. "


Dari dalam Ratih muncul, wanita itu mendengar saat Yeni berpamitan.


" kenapa buru buru, ibu? " tanyanya. Kedua anak kembarnya berdiri di depan wanita itu, mereka terlihat menggemaskan.


Yeni berbalik, dan bertemu pandang dengan mereka, dirinya tak tahan ingin mencium kedua anak laki laki kembar itu. wanita itu menghampiri, dan mengusap kepala kedua bocah berumur 3 tahun itu bergantian, lalu membuka tas nya, dan memberikan uang sebesar 100 ribuan, untuk mereka berdua.


Bagus menyeringai geli, mendengar perempuan yang masih muda itu tetapi sudah menyebut dirinya sendiri seorang "nenek", jika saja ayahnya mendengar, pasti wanita ini akan langsung di marahi.


" Bagus, kamu gak pulang? " ucap Yeni, sedikit mengagetkan lamunan Bagus.


" Ouh..... nanti"


" Ya sudah... " Balas Yeni, kemudian keluar menyusul suaminya yang sudah berada di dalam mobil.


***


Pintu mobil ' Pajero" putih di tutup, Yeni duduk di samping Darma.


" Lama sekali, apa yang kamu lakukan dengan mereka? " tanya Darma seketika.


" Tadi aku berpamitan dulu sama Ratih"


" Buat apa berpamitan pada mereka"

__ADS_1


"Walau bagaimanapun mereka adalah anak cucumu, lagi pula Ratih baik padaku, dan si kembar juga menggemaskan" aku Yeni.


Nampak wajah Darma masam, tetapi laki laki itu hanya diam saja, mendengar pengakuan istri mudanya yang menyanyangi cucu cucunya.


' Sayang, nanti mampir beli oleh oleh ya, mumpung kita di Jogja, aku mau " Bakpia pathok".


****


Akhirnya pada pukul 5 sore, pengunjung mulai sepi, Indah mengusap keringat di dahinya sembari menarik nafas panjang.


" uuhhhhh.... akhirnya... " keluh gadis itu, lalu berdiri meninggalkan stan kasir


" Bunda,... indah ke rumah dulu ya, gerah... sekalian mandi" gadis itu berpamitan, lalu melangkah pergi.


Setelah kepergian Indah, Jatmiko menggantikan posisi itu, berada di stan kasir.


" Ayah gak capek, pulang dulu sanalah, udah sore lho" ucap Riyanti, lalu memberi Jatmiko segelas teh hangat.


Perlahan Jatmiko menyesap tehnya, dan meletakkan kembali di samping meja kasir.


"Masih tanggung bu, sebentar lagi, sekalian nunggu Indah selesai mandi. " balas nya.


Darma menyuruh sopirnya untuk berhenti di sebuah toko pusat oleh oleh . pria itu memperhatikan dan menuruti permintaan istri mudanya yang sedang hamil besar.


Yeni dan Darma turun dan masuk ke toko tersebut, lalu memilih beberapa kue kue kering dan juga bakpia pathok kesukaan Yeni.


Setelah hampir setengah jam, keduanya melangkah ke meja kasir, untuk membayar belanjaan mereka.


Darma sedikit terperanga, ketika bersitatap dengan lelaki seumuran dengannya di tempat kasir.


" Jatmika? "


" Darmawan"


mereka tidak menyangka bertemu kawan lama disini.


" Apa kabar? " topik yang memulai obrolan mereka, menyanyakan kabar dan kemudian saling bercengkrama hangat dan ramah.


Jatmiko memperkenalkan Riyanti kepada Darma, dan sebaliknya. mereka saling akrab satu sama lain diawal perjumpaan yang setelah sekian lama tidak bertemu. keduanya sahabat sejak duduk di bangku SMA, hingga ke Universitas, mereka satu sekolah dan juga satu universitas dulu.

__ADS_1


( bersambung)


__ADS_2