Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 20 (Semakin di kejar, semakin jauh)


__ADS_3

Sinar matahari tepat berada di atas kepala, peluh - peluh mengalir dari pelipis ke bawah melewati rahang dan jatuh perlahan ke tanah. Seorang gadis berjongkok, mengamati mesin sepeda motornya. Sok pintar, padahal sebenarnya gadis itu buta dengan pengetahuan mesin.


Beberapa kali tangannya menggaruk- garuk kepalanya yang menjadi gatal, karena kulit kepala yang basah bercampur dengan debu - debu di jalanan, beterbangan bebas tertiup angin, dan menjadikannya ketombe.


" Ini caranya gimana? " gumamnya mengeluh, merasa pusing mencari tau, bagaimana cara membuka cover body sepeda motornya. Karena asap tadi keluar dari balik cover tersebut, seperti nya berasal dari mesin motor, yang mengakibatkan motornya mogok.


Suara bising kendaraan yang melaju ,memekakkan telinganya, seketika gadis itu menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya sembari meringis merasa terganggu.


" haduuuh...kalo udah gini, rasanya jadi mau nangis, serasa seperti terlantar... bunda.. " keluhnya sembari merengek memanggil bunda nya yang jauh di kota seberang.


Indah terpaksa mengorbankan celana putihnya, duduk di atas bebatuan pinggir jalan raya. Mengambil handphone, dan dengan berat hati menekan nomor saudaranya dari kakak iparnya, yang mungkin sedang sibuk dengan praktek di ruang biologi kedokteran.


***


" Ada apa Indah? " tanya Arman yang terpaksa ijin sebentar kepada Dosen, lalu keluar dari ruangan,untuk menerima telepon.


" Kak Arman, maaf , Indah mengganggu , motor Indah mogok di tengah jalan" sahut Indah dalam telephon.


" Mogok.? " sahut Arman.


" Di jalan mana?, apa gak ada bengkel terdekat? "


lanjut pria itu.


" Di Jalan yxx...., kak, tepat di sebelah kiri minimarket. " Balas Indah, menjelaskan secara detail alamat dimana dia berada sekarang.


" emm... maaf Indah, aku belum bisa datang untuk bantu kamu, kami sedang berada di ruang praktek biologi, sebentar lagi juga giliranku untuk presentasi. " dengan sangat menyesal Arman memberikan jawaban itu pada Indah.


"Oh.. ya .. gak apa apa kak,.." sahutan dari suara dalam telepon itu, terdengar lemah dan kecewa.


***


Pemuda itu kemudian menutup handphone nya, lalu kembali masuk ruangan dengan wajah menyesal.


" Ada apa? " Tanya Nella yang tiba - tiba, sebetulnya dari tadi gadis ini memperhatikannya, dan juga penasaran. kemudian sengaja mengamati , ketika Arman keluar lalu menjawab telepon hingga menutup telepon.


" Itu.. temen, dia motornya mogok di tengah jalan" jawab Arman menjelaskan secara singkat.


Arman kemudian duduk dan kembali menyimak presentasi dari mahasiswa yang berada di depan. Tidak terlalu menghiraukan ekpresi Nella.


Gadis itu setengah tak percaya. Seingatnya teman dekat Arman hanyalah dia dan Bagus.


" Temen..?" balas Nella , seolah tak puas dengan jawaban singkatnya itu.


Tiba- tiba nafas hangat bertiup di telinganya, Arman sekilas terlonjak. Rupanya Nella yang berbisik ,karena masih penasaran.


" Siapa?, apa aku juga kenal? "

__ADS_1


Cowok itu menoleh ke samping, melihat wajah Nella yang penasaran.


" Apa adik dari kakak ipar kamu itu, yang juga kuliah di sini ? " sahut Nella menyerocos , mendahuluinya memberikan jawaban.


Seolah gadis yang dia cintai ini, tak sabar mengorek informasi lebih dalam, orang yang tadi menelpon dirinya.


Arman menatap Nella dengan perasaan campur aduk, kesal tetapi juga senang.


"Apakah dia cemburu? " bathinnya bertanya tanya, sembari mengamati kedalam mata gadis di sampingnya ini.


" Iya, namanya Indah" mulutnya menjawab.


" Oh.. gitu" balas Nella, dengan wajah yang memerah, gadis itu malu atas sikapnya sendiri, kemudian kembali tatapannya menghadap ke depan.


Hati Nella seolah tak rela. Ada rasa sedikit cemburu dengan kedekatan Arman ke adik kakak iparnya itu.


Nella mempunyai sifat posesif dan juga mudah cemburu, di balik sikapnya yang lembut dan juga dewasa. Setiap manusia pasti akan memiliki kelebihan dan juga kelemahan dalam dirinya, hal itu adalah wajar.


Arman tersenyum, kemudian mengikuti gadis itu menatap kembali ke dapan.


" Mungkin sudah saatnya aku menyatakan perasaan cintaku padanya, aku yakin, Nella juga suka padaku" gumam Arman dalam hati dengan semakin percaya diri.


***


Bagus yang sedari tadi berada di depan, melihat gelegat mereka berdua, sayup sayup dia mendengar nama Indah di sebut, sekilas mengganggu konsentrasinya, tapi itu tidak mengganggu sepenuhnya presentasi yang sedang dia kemukakan di depan seluruh mahasiswa kedokteran juga Dosen di ruangan ini.


Seluruh isi ruangan memberikan aplouse, ketika Bagus selesai dengan presentasi, pemuda itu tersenyum lega, kemudian kembali ke tempat duduknya di samping Arman.


" Ada apa, apa yang terjadi dengan Indah? " tanya Bagus seketika, membuat Arman terkejut dan tak percaya.


" Kamu memperhatikan kami? " jawab Arman dengan mata yang besar.


Bagus merasa malu, warna merah menghiasi wajahnya sekilas, sebelum pria itu menarik nafas dan berbicara dengan sedikit grogi.


" Eeee... tadiii..... aku gak sengaja mendengar nya.. "


Arman curiga_ dengan sikap yang tiba tiba aneh_ teman dekatnya ini, sembari mengamati wajah pria yang sebetulnya tampan, yang ada di depannya.


" Iya, motornya mogok " balas Arman singkat.


" Dimana" sambar bagus dengan cepat.


" Di jalan yxx... di sebelah minimarket. "


Bagus diam, nampak berpikir, Arman kembali menghadap ke depan. Hingga namanya di panggil oleh Dosen, untuk maju presentasi.


Bagus resah dan termenung, tetapi kemudian berdiri lalu menuju ke tempat Dosen, setengah berbisik saat berbicara dengan Dosen tersebut.

__ADS_1


" Maaf prof, saya mau minta ijin untuk pulang terlebih dahulu, karena ada keperluan mendadak"


Dosen itu mengangguk, memberi ijin kepada Bagus.


***


Bagus mengambil tas , lalu keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa pasang mata dari mahasiswa, sekilas memperhatikannya, begitupun dengan Mahasiswi yang duduk tak jauh darinya.


Nella hanya diam sembari bengong menatap Bagus yang nampak serius dan panik, lalu pemuda itu keluar dengan langkah yang sedikit nampak tergesa-gesa.


***


Di lain tempat, Indah sudah memarkirkan sepeda motornya di tempat yang teduh, memanfaatkan pohon yang berdaun lebat di pinggir jalan raya tersebut. Akhirnya gadis itu berhasil membuka cover body motornya, dengan menggunakan alat yang seadanya yang ada di bagasi motornya.


Bekas oli menempel pada pipi kanan dan kiri, juga dahi gadis itu.Wajahnya terlihat letih, dengan keringat yang masih membasahi wajah mungil itu. Telapak tangannya juga hitam karena menyentuh onderdil yang terpasang di motornya, dari tanki penyimpanan bahan bakar, kabulator, hingga mesin.


Seorang pria berumur 26 tahun dengan pakaian rapi, sedari tadi penasaran, sembari mengerjakan kertas kertas yang bertumpuk di meja kantor pria itu. Tugasnya telah selesai, Pria itu segera menyimpan lalu mematikan komputer yang ada di depannya.


Berdiri dan melihat dengan seksama dari balik kaca di ruangan itu. Langkah nya kemudian terayun, keluar dari ruangan kerjanya, lalu keluar membuka pintu minimarket, dan segera menghampiri gadis yang sedang sibuk menjadi montir sepeda motor dadakan itu.


" Selamat siang " sapanya dengan ramah, membuat gadis montir itu menoleh kepadanya.


"Eh.. kamu? " jawab mereka tersentak secara bersamaan.


Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu kemudian tertawa, merasa konyol dengan sikap mereka sendiri.


" Ngomong ngomong motor kamu mogok? " ucap pria itu, memulai percakapan.


" Iya" jawab gadis itu.


Pria itu kemudian mengulurkan tangan sambil menyebut namanya.


" Haris"


Gadis itu menyambut uluran tangannya walaupun sempat ragu sejenak.


"Indah".


***


Bagus celingukan mencari keberadaan Indah di kawasan alamat yang Arman sebutkan. Sebuah mobil pick up hitam melaju lambat di depannya, membuat perhatian Bagus terganggu dan seketika memperhatikan mobil tersebut.


" Indah" gumamnya, sempat terdengar lirih di telinga gadis yang duduk di samping kursi pengemudinya. Gadis itu hanya diam, tercenung sembari menoleh ke arahnya, tanpa menyuruh sang pengemudinya untuk berhenti sedikit pun. Mobil terus melaju pelan kemudian mulai cepat ketika mulai melintas di jalan raya.


Indah menatap ke dalam kaca spion, membeku dengan suasana hatinya.


" apakah kak Bagus ingin menjemput ku?" bathin indah bertanya tanya, tetapi hatinya masih kecewa dengan pria itu, walaupun sebenarnya masih ada cinta di hati gadis itu untuk Bagus.

__ADS_1


( bersambung)


__ADS_2