
Dua pasang muda mudi, duduk berhadapan di sebuah kedai, di tempat wisata yang tak jauh dari kota.
Pemuda itu sudah membuka kotak cantik berlapis bludru, berwarna merah, yang di dalamnya tertanam sebuah cincin emas berlapis berlian.Di tengah cincin itu terdapat batu pertama berwarna putih.
"Maaf, saya sudah punya seseorang yang saya tunggu" ucapan menohok dari bibir sexy itu terlontar begitu saja ,menolak pemberian cincin berlian tersebut.
Pemudi di hadapannya menunduk, pemuda si pemberi cincin berekspresi muram, guratan kekecewaan terukir di wajah sang pemuda yang notabene adalah anak dari pemilik sebuah apotek besar dan ternama di kota.
Si pemudi kemudian berdiri dan mengambil tasnya,
" saya pamit dulu, Terima kasih atas makan siangnya" kemudian melenggang ,meninggal si pemuda yang ternganga ,dengan rasa sakit di hati ,karena pernyataan cintanya baru saja di tolak.
***
Keesokan harinya, di pagi hari, si pemudi yang bernama Wanda itu, datang seperti biasa ke apotek, untuk bekerja sebagai pegawai magang.
Sebuah panggilan datang melalui handphone yang berada dalam tas kecil hitam pemudi itu. Dengan santai ,pemudi itu merogoh ke dalam tas dan menjawab panggilan.
" Halo.. Dita, ada apa? "
***
Bukan mata-mata, walaupun sebetulnya bisa di katakan hampir sama kegiatannya_ seperti memata- matai _hubungan Bagus dan Indah.
Dita memang sengaja memperhatikan gerak gerik Indah dalam beberapa hari terakhir ini, was was dengan hubungan kedua insan itu. Setelah sadar ,ternyata pemuda yang selalu ada bersama Indah adalah Bagus, teman kakaknya dulu di sekolah. Dita ingin tau, sejauh mana hubungan mereka, apakah benar yang di ucapkan Indah tadi malam,bahwa mereka hanyalah teman?.
Terlihat dari jaraknya mengawasi mereka, menyembunyikan badannya di balik tembok pagar kost kost_an. Bagus berjalan agak tergesa-gesa mengejar Indah, sedangkan Indah sudah duduk, berada di atas sepeda motornya, kemudian Indah menoleh ke arah pemuda itu, dan ketika bibir pemuda itu bergerak berbicara, wajah Indah terlihat memerah dan menegang. Apa yang Bagus ucapkan?, sehingga temannya itu berekspresi seperti itu. Bathin nya penasaran.
Segera dirinya mengeluarkan ponsel dari saku rok panjang berwarna hitam polos yang sedang dia pakai, lalu menekan nomor , dan langsung menghubungkan dirinya dengan Wanda, kakaknya.
" Kak, gimana kabarmu, ngomong - ngomong, aku ketemu Bagus di sini, dia kuliah dan nge_ kost juga, jarak kost kost _ an nya lumayan deket dengan kost kost an ku".
***
(flashback)
4 tahun yang lalu,
__ADS_1
Wanda menuliskan ungkapan perasaannya, di sebuah kertas berwarna pink, yang sudah di belinya di toko Aksesoris di pinggir jalan, kemarin, selepas pulang sekolah.
Jantungnya berdebar, dikala me_nari kan jemarinya itu. Mengukir huruf demi huruf , yang dengan lancar di eja kan oleh hati. Bibir sexynya sesekali tersenyum , membayangkan peristiwa yang di alami mereka, begitu manis ,dan berhasil mengubah warna pipinya, merona merah.
Dirinya semakin yakin, bahwa apa yang di rasakan oleh hatinya, juga di rasakan oleh pria itu di hatinya juga.
Tetapi , tak memungkiri juga, perasaan tegang dia rasakan, takut dengan hal yang terjadi, akan sebaliknya. Entahlah, apapun balasannya itu nanti , dirinya sudah siap dan pasrah. Karena dengan surat yang dia tulis ini, menurutnya itu bisa meringankan penyakit cinta, yang telah bersarang di hatinya semenjak mereka berkenalan dan bertemu beberapa bulan yang lalu.
Kertas itu di lipat dengan lipatan yang rapi, lalu di masukkan ke dalam amplop yang juga berwarna pink.
Sambil berjalan mengendap- endap, dan di tangannya sudah memegang segepok kunci cadangan kamar kost , Wanda membuka pintu, lalu memasuki kamar kost kost an Bagus.
Kunci itu dia curi dari laci di kamar bunda , karena gadis itu malu_jika meminta langsung pada sang bunda.
Itu sengaja dia lakukan, dan kebetulan, tadi ketika pulang sekolah, dia melihat Bagus masih berada di tempat game " Ps", bersama dengan teman yang lain.
Di letakkannya amplop berwarna pink itu di atas meja belajar Bagus, sembari menindihkan buku pelajaran yang dia pinjam, tadi di sekolah. Wanda kemudian keluar, juga dengan mengendap- endap menutup pintu dan menguncinya kembali, jantung nya berdebar, takut terlihat oleh siapapun.
Tanpa Wanda sadari, ternyata Dita sudah membuntuti kakaknya itu, semenjak Wanda keluar kamar , lalu berjalan dan memasuki kamar Bagus. Dita mengerutkan dahi karena penasaran dengan tingkah kakaknya.
" Sedang apa kak di kamar Bagus?" tanya nya seketika. Dita tidak suka dengan sikap kakaknya yang terlalu berani, apalagi sampai mengambil resiko merendahkan harga diri cewek, menurut nya. apakah kakaknya ini tidak takut di katakan cewek agresif?.
Wanda sangat terkejut, jantungnya hampir saja mencelos dengan sapaan Dita, yang terdengar dominan. Sifat Dita cenderung tomboy, cenderung blak- blak an, bahkan suaranya pun hampir seperti laki laki, besar dan dominan. Berkebalikan dengan dirinya yang lebih suka tampil feminin dan sexy, termasuk gaya bicaranya yang elegan.
" Mengembalikan buku paket" jawab Wanda berusaha terlihat percaya diri,
" Kenapa harus menyelinap, kenapa tidak tunggu orangnya pulang? " balas Dita sinis, gemas dengan kebohongan kakaknya.
Wanda terkejut, sekilas membelalakkan mata, apakah Dita sudah melihat perbuatannya?.
Otaknya berpikir keras mencari alasan yang tepat, karena dirinya bingung harus berkata apa membalas pertanyaan menohok ini, seolah dirinya sedang di interogasi.
Dengan kasar, Wanda menarik nafas , tak ada jawaban yang pas, kecuali mengakui kebenaran, tetapi dia malu mengakui kebenaran itu. Maka dia sengaja mengambil tindakan , membalikkan keadaan.
" Kenapa kamu ikut campur dengan masalah kakak, Dita? " tegas Wanda, membalikkan pertanyaan, untuk menutupi rasa malunya.
kini , giliran Dita yang terkejut, dirinya tak menyangka kalau kakaknya tidak mau berkata jujur, mengakui perbuatan nya, dan sekarang memarahinya. Hati Dita menjadi dongkol, dengan kesal bercampur emosi, Dita mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Aku tau apa yang kakak lakukan, aku sengaja mengikuti kakak tadi, kakak menulis surat cinta buat Bagus kan?, kenapa sampai seperti itu, apa kakak tidak malu jika di kira cewek agresif, dimana harga diri kakak, aku tidak mau kakak di remehkan oleh cowok itu"
" Bukan urusan kamu, Dita! " tegas Wanda terlihat dominan.
" kamu belum pernah mengalami apa yang sedang kakak alami, rasanya sakit jika terus terusan kakak pendam, kakak ingin Bagus tau, kalo kakak suka padanya. " balas Wanda melanjutkan dengan blak - blak kan. kemudian gadis itu berlari sembari menitikkan air mata, lalu menutup pintu kamar dengan keras.
BRAAkk!!
Dita memandang nanar kepergian kakaknya sampai masuk ke dalam kamar. Dirinya tidak paham apa yang kakaknya rasakan, apakah sesakit itu mememdam perasaan cinta. Entahlah, Dita belum pernah mengalami hal demikian.
(flashback selesai)
***
Dita menutup telepon, sembari melihat kedua insan itu pergi dengan mengendarai motor masing masing.
" Semoga saja Indah percaya, kalo Bagus adalah gay,.. " gumamnya.
Demi kebahagiaan kakaknya, Dita rela melakukan apapun, karena Dita tau, kalo Wanda mempunyai penyakit depresi. Dan akan terobsesi pada suatu hal yang dia sukai, dan Dita juga tau, Wanda sangat suka pada Bagus, dan dia yakin, Wanda akan berjuang keras untuk memiliki apa yang dia inginkan.
***
di dalam kamar di kota lain, di jakarta.
Wanda melamun menatap layar ponsel nya, melihat gambar yang di unggah oleh pemilik akun tersebut. Ada sebuah foto lama yang di unggah, foto dirinya bersama pemilik akun ini, saat mereka sedang berwisata di sebuah museum, sedang berdiri di dapan kerangka Dinosaurus di museum tersebut.
Satu foto lagi yang membuat gadis itu enggan menutup akun tersebut, sebuah foto pemilik akun, dimana sosok pemilik akun itu kini terlihat gagah dan juga tampan. Jantungnya berdebar, Wanda sangat merindukan pemilik akun ini.
Teringat kata kata Dita, adiknya tadi pagi,
"Bagus sekarang dekat dengan teman se kost ku, walaupun katanya mereka hanya berteman, tapi.. mungkin bisa saja berubah jadi pacar..atau mungkin lebih dari itu....., kak, lupakan Bagus, aku tidak mau kakak kecewa! "
" Tidak... aku tidak mau kehilangan Bagus, aku ingin dia menjadi milikku, selamanya jadi milikku... " gumam Wanda penuh obsesi.
( bersambung)
**
__ADS_1