Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 17 ( Salah paham)


__ADS_3

Bagus menatap dengan khawatir, bagaimana indah bangun lalu berjalan keluar dari warung, hendak menaiki motornya. Pria itu segera bergegas menyusul, lalu dengan cepat menarik tangan gadis itu dari stang motor, membuat Indah tersentak, seketika menoleh dengan wajah marah sekaligus bingung.


Tatapan mata pria itu mendominasi, tangannya menggenggam erat tangan Indah,


" kak bagus, kenapa? " tanya Indah sedikit geram dan bingung.


"kamu mau kuliah? " balas Bagus dengan geram pula.


"iya, masih ada waktu untuk ngikutin jam kuliah ku kedua" jawabnya polos.


"Dengan kondisi seperti ini?" sahut Bagus tegas, tapi sebetulnya perasaanmya khawatir dengan gadis itu.


Indah menunduk pasrah, seperti adegan seorang anak kecil yang sedang di omeli bundanya.


"Lihat wajah kamu di kaca!",perintah cowok itu dengan nada tegas.


Gadis itupun patuh menuruti perintahnya, bercermin ke kaca spion motornya.


" Masih tetap mau pergi kuliah? " lanjut Bagus kini dengan nada mencibir.


wajahnya terlihat pucat dan lemas, masih juga merasakan pusing yang tidak mau hilang dari kepalanya. Tetapi walau bagaimanapun, dia harus pergi kuliah, walaupun hati kecilnya berkata, sebenarnya dirinya ingin sekali tiduran di kamar dengan berbalut selimut, karena badannya masih sedikit menggigil.


Egonya memilih menolak, mengabaikan penyakitnya saat ini. Gadis itu lebih memilih mengejar nilai Tugas mata kuliah, yang tadi malam di kerjakan, sampai dirinya rela melembur mengerjakannya ,demi mendapatkan nilai yang bagus untuk tugas tersebut.


Dengan menghela nafas berat , gadis itu menyakinkan diri kalo kondisi badannya akan baik baik saja.


" Gak apa apa kok, aku sudah baikan" jawab Indah ngeyel, kekeh dengan keinginan nya untuk pergi kuliah.


Bagus menghela nafas kasar, hatinya dongkol dengan sikap Indah yang keras kelapa, lalu memutar kedua bola matanya, kesal.


"Obat itu hanya bertahan beberapa jam saja, itupun kalo daya tahan tubuhmu bagus." sahut pria itu dengan nada datar, tapi perasaannya khawatir berlebihan terhadap Indah.


Gadis itu menunduk, membenarkan apa yang Bagus ucapkan.


" Aku hanya ingin mengumpulkan tugas saja, yang aku lembur semalaman. " ucap Indah lirih, bergumam seperti lebah , dan masih dapat terdengar oleh Bagus.


Cowok itu sedikit tersentak, dan melepas tangan indah, kini beralih menatap gadis itu dengan serius.


Indah yang di tatap seperti itu, nyalinya tiba tiba menciut, seolah badannya pun menyusut di hadapan pria itu. Wajah Bagus bagaikan seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat, dan dirinyalah penjahat tersebut.


Indah memandang dengan rasa takut, tapi.. juga merasa aneh. Apakah pria ini khawatir akan dirinya?, perlahan wajahnya memerah, tersentuh dan senang karena perhatian Bagus kepada nya.

__ADS_1


" Kak Bagus ...khawatir padaku? " celetuk gadis itu seketika.


Bagus terkejut, lalu segera menyadari sikapnya yang sudah berlebihan mengkhawatirkan kondisi Indah. Seolah pencuri yang tertangkap basah, wajahnya pun memerah, malu dan juga berusaha mengelak.


" ehm... " pria itu terlihat kebingungan, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membuka paksa otaknya menuntut untuk cepat menemukan alasan yang pas,


" Iya, .. " jawab Pria itu , di iringi dengan warna merah yang semakin menjalar sampai ke telinganya.


" Teman, .. " kata itu teriring di belakang, bibirnya segera mengucap,karena itu yang terbesit dalam otaknya, dan tepat untuk dijadikan sebuah alasan, menutupi perasaan yang sesungguhnya.


"Apa gak boleh mengkhawatirkan temannya sendiri? " lanjut pria itu lagi, dengan cepat. Selalu menolak dan membohongi perasaan kasih sayang yang mulai berkembang sedikit demi sedikit.


Deg..


Sekilas debaran itu begitu hebat meremukkan hatinya, sangat sakit, bahkan lebih sakit dari kejadian beberapa minggu yang lalu. Tapi itu yang terbaik menurutnya.


Mata gadis itu berkaca kaca, seolah sudah tidak tahan membendung air yang dengan tiba tiba terkumpul di dalamnya. Hatinya terluka lagi, Teman, iya, .. Bagus menganggapnya hanya sebagai teman, dan rasa khawatir yang ditunjukkan oleh pria ini tadi, hanyalah sebatas mengkhawatirkannya sebagai teman.


KRAK...


Retakan retakan mulai tercipta jika perasaannya itu di ibaratkan seolah sebuah kaca, ternyata dirinya hanya salah paham. Padahal ada seberkas cahaya harapan yang tadi mulai melebar, menambal rasa sakit hati di masa lalu, berharap perasaan cowok ini bukan hanya sekedar teman, melainkan lebih dari sekedar teman.


Bodohnya dirinya, hatinya terlalu naif, sehingga terlalu menganggap segalanya berlebihan.


"Terima kasih, kakak telah mengkhawatirkan ku" balas gadis itu, walaupun hatinya meraung penuh kekecewaan.


" Tapi.. aku tetap mau pergi kuliah, aku gak mau tenaga dan pikiran ku tadi malam hanyalah sia sia belaka, aku menginginkan kepuasan dengan hasilnya". balas gadis itu tegar.


Bagus tertegun, melihat sikap tegar gadis di hadapan nya ini.


' its oke' ucapnya sembari mengedikkan bahu.


"Kalo gitu biar aku yang bawa motornya! " lanjutnya, sembari memberi kode pada Indah, supaya berpindah posisi .


"Lalu motor kakak gimana, apa gak apa apa di tinggal di warung" sahut indah merasa canggung.


" Gak apa apa, aman kok" balas Bagus.


Segera gadis itu turun, menurut perintah Bagus, terlihat dari kaca spion, wajah pucat itu tak dapat di sembunyikan lagi, kalo suhu panas mulai menjalar dari dahi. Indah mengerutkan dahi, mengernyit, menahan rasa pening , tapi tekadnya tidak gentar sedikitpun untuk mengurungkan niatnya pergi ke kampus.


" Kamu tak apa apa kan? " lanjutnya , memastikan lagi kondisi Indah.

__ADS_1


Indah menggelengkan kepala sebagai balasan,


"yakin masih mau kuliah? " cerocosnya, berharap Indah berubah pikiran.


"Iya" jawab Indah singkat.


" Baiklah.. " balas Bagus dengan pasrah, sembari menghela nafas panjang,dan motor pun mulai melaju menuju kampus.


***


Keduanya turun setelah motor selesai di parkir dengan tepat, dengan langkah sejajar keduanya berjalan hendak menuju ruangan masing-masing


"Ada apa kak? " tanya Indah yang merasa canggung karena Bagus ketahuan mencuri pandang kepadanya sejak dari tempat parkiran tersebut.


Tapi hatinya sudah retak, kini tak terpengaruh sedikit pun.


" Aku masih khawatir sama kondisi kamu Indah "


" Terima kasih kak, tapi aku sudah tak apa apa, paling sebentar lagi juga sembuh. " jawab Indah, berusaha menyakinkan Bagus.


Bagus hanya diam, sengaja menghentikan langkahnya, kini menatap lekat padanya.


" Ada apa kak? " gadis itu terkejut dan merasa malu, jantungnya berdebar, warna merah mulai menyebar ke pipi.


Tangan Bagus terulur menyentuh dahinya. Indah mencoba menghindar kebelakang, sembari tersenyum kaku.


"eee.. he.. he.. " senyumnya benar benar kaku,


" Betulkan, suhu kamu mulai panas lagi" celetuk Bagus, sembari menarik tangannya lalu memasukkan ke dalam saku jaketnya.


" Saran aku, lebih baik kamu cukup kumpulkan tugas lalu ijin. "


" Tidak kok, aku masih kuat untuk ngikutin kuliah" Indah menolak saran Bagus dengan percaya diri.


Bagus menyerah, gadis ini terlalu keras kepala.


***


" Terima kasih kak, dan kakak tidak usah khawatir kan aku lagi, aku bisa jaga diri aku sendiri. Aku gak mau terus terusan hutang budi sama kakak. "


Kata - kata itu terngiang di kepalanya, semenjak tiga hari yang lalu. Pria itu melamun ketika mengerjakan aquarium nya. Dia tahu perasaannya sendiri, tetapi dia juga tau apa yang dia inginkan. Seolah rasa rindu menggerogoti hatinya, pria itu ingin sekali bertemu dengan Indah.

__ADS_1


Apakah kini dia menyesal?


( bersambung)


__ADS_2