Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 18 (Gundah)


__ADS_3

Remah- remah makanan tercecer di lantai, piring kotor dan juga gelas bertumpuk di atas lantai kamar berukuran 4 x 5 m. Seorang gadis terbujur di tempat tidur dengan berbalut selimut, nafasnya teratur, dahinya , rambut bahkan seluruh badannya basah, efek samping dari obat yang di minumnya.


Ibu Indah( pemilik warung) mengetuk pintu,


"Masuk aja bu, " balasan suara dari dalam kamar tersebut.


Ibu itu melangkah masuk , lalu meletakkan semangkok bubur juga teh hangat di atas meja belajar.


" Gimana sekarang Neng, masih merasa menggigil?" tanya ibu itu sembari duduk di dekat gadis yang terbaring itu.


Tangannya terulur menyentuh dahinya.


" Udah mendingan bu, ini obatnya sedang bereaksi" jawab Indah lemah.


" alhamdulillah , ini Neng berkeringat banyak, mau ganti baju? "


''Tidak usah bu" balas Indah.


(lagian tidak ada baju lagi buat ganti) gumamnya dalam hati.


"Ya sudah, ibu tinggal dulu ya, piring dan gelas kotornya biar sekalian ibu bawa"


Indah tersenyum kaku,


" Makasih banyak ya bu, maaf jadi ngerepotin ibu"


"sama sama Neng, semoga lekas sembuh ya" balas ibu berusia 40 tahun itu, kemudian keluar dengan membawa nampan yang kini di tumpuki dengan piring dan gelas yang kotor.


Sudah tiga hari, Gadis itu jatuh sakit, hanya bisa berbaring dalam kamar kost nya.


Indah menatap keranjang pakaian kotor, setumpuk pakaian yang belum bisa dia cuci, lalu beralih menatap lantai yang juga kotor.


" jorok sekali sih, aku harus segera sembuh biar bisa beresin kamar " gumamnya.


***


Di belahan kota yang berbeda, Seorang pemuda menatap ke kedua anak kecil yang sedang bermain lego di depannya, sesekali dia tertawa, lalu membantu kedua anak itu membenarkan lego lego yang tidak pas.


Beberapa kali lelaki itu menarik nafas dalam, seolah beban pikiran yang mengganjal di hati nya terlalu berat. Yah... itulah yang sedang dialaminya sekarang, merasakan beratnya menahan rindu pada seseorang yang selama ini hampir selalu bersama.


"Gus, di minum dulu tehnya, nanti keburu dingin? " ucap Ratih sang kakak ipar, sembari meletakkan segelas teh hangat dan sepiring kue kering buatannya sendiri.


" Oh iya, makasih kak" lalu bagus pun mengangkat gelas dan meneguk tehnya pelan pelan.


" Bli kemana kak? " tanya bagus lagi setelah menaruh gelas teh hangat yang tinggal separuh itu ke meja.


" Mas Ida belum pulang, kayaknya sebentar lagi pulang. " sambung Ratih menjawab.


" Ngomong - ngomong ada apa ke yogya, apa ada pameran lagi? " lanjut perempuan berumur 27 tahun itu.


" Tidak, memang sengaja kesini _ kangen sama Bli"


Wanita berhijab itupun tersenyum,

__ADS_1


" Tapi beginilah keadaan kami, rumahnya selalu berantakan"


Bagus hanya tersenyum sekilas, karena memaklumi bagaimana kehidupan kakaknya itu. Ini ke tiga kalinya Bagus menjenguk kakak kandung nya yang tinggal di jogja.


" Ayah pernah mampir kesini kak? " tanya pemuda itu lagi sedikit berteriak, karena Ratih sedang berada jauh di ruang depan , kios souvenir milik mereka, menata dagangannya.


Seperti nya wanita itu tidak mendengar pertanyaan Bagus, hari sudah pukul empat sore, Kios mulai di buka, dan wanita itu sedang menyusun dagangan juga membersihkan debu debu yang sedikit mengotori souvenir sovenir mereka.


Bagus melupakan nya, dan mengalihkan pandangan ke kedua bocah laki laki keponakannya itu. Bagus kembali bermain dengan mereka.


" Assalamu'alaikum "


Sebuah salam dari seseorang yang masuk ke rumah terdengar oleh Bagus.


"Waalaikumsalam" jawab Ratih, terdengar langkah kakak ipar nya itu menghampiri dan menyambut hangat seseorang itu.


Bagus sengaja menyempatkan mengamati tingkah kedua suami istri itu, mereka tampak hangat satu sama lain, dan senyum kebahagiaan terukir di wajah mereka.


Hatinya ikut senang dan berhasil membuat bibirnya senyum. Pernikahan mereka berdasarkan karena cinta, bahkan waktu itu Ayahnya enggan memberi restu, tetapi keduanya kekeh dan memilih nekat, hingga cinta mereka berhasil memaksa ayahnya menyerah dan memberikan restu.


Ditatapnya lagi kedua bocah laki- laki kembar berusia 3 tahun itu, berkat mereka kakaknya hidup bahagia bersama wanita pilihannya sendiri.


Kalo di ingat lagi, kisah cinta kakaknya itu memang sedikit keterlaluan. Masih teringat jelas dalam memorinya, bagaimana kakaknya terlihat panik, ketika bercerita padanya ,bahwa pacarnya hamil, padahal mereka belum menikah.


Pada waktu itu dirinya sempat terkejut, tetapi kemudian dirinya ingin tertawa senang, merasa bangga pada kakak kandungnya, karena telah berhasil menjadi seorang laki-laki yang tidak mandul. Betapa konyol pikirannya waktu itu, sama sekali tidak memikirkan hal yang lebih rumit yang akan kakaknya hadapi, terutama saat menghadapi ayahnya, yang sudah menjodohkan kakaknya itu dengan anak rekan bisnisnya.


" Gus..? " panggilan itu membuyarkan lamunan Bagus.


" Iya,.. kamu sendiri, tumben sempat mampir, apa gak takut kemalaman?" lanjut Ida, kakak Bagus.


" Bukan, memang sengaja Gus ke sini, apa gak boleh?"


jawab Bagus, seolah ngambek dengan kakaknya.


" Ha.. ha.. ha... " Ida tertawa senang, sembari menepuk pundak kanan Bagus kemudian melangkah menuju ke dalam.


" Gus kangen sama ponakan yang gagah gagah ini, Bli.. " kelakarnya. Kemudian meraih dan memeluk kedua anak kecil di depannya, mengganggu mereka bermain. Kedua bocah kembar itu meronta, berusaha lepas dari pelukan Bagus.


Bagus kemudian melepas pelukannya, membiarkan kedua bocah itu bermain dengan leluasa.


Tak lama, Ida keluar dari kamar sudah berganti dengan kaos oblong dan celana santai, lalu duduk bersanding dengan Bagus.


Bagus meletakkan gelas kosong , karena baru saja menghabiskan isinya. lalu berbicara membuka percakapan dengan Ida.


" Ayah pernah mampir , Bli? "


Bli Ida menggeleng pelan, kemudian berdiri melangkah mengambil sesuatu. Di letakkannya sebungkus rokok yang masih utuh di meja, pria itu kemudian membuka bungkusnya dan mengambil satu batang lalu mulai menghisapnya.


Bagus mengamati kakaknya, tatapan mata kakaknya itu sedih dan juga kecewa. Tak berselang lama, Ida bercerita,


" Ayah pernah melihat ke kios kami, lalu berhenti dan menyuruh Ujang membeli beberapa souvenir kami. Waktu itu Ratih yang melayaninya, tetapi Ayah sama sekali tidak tertarik untuk berkunjung walaupun hanya sekedar mampir"


Hati Bagus marah dan prihatin dengan sikap Ayahnya, seketika tangannya mengepal ,tatapannya menjadi tajam.

__ADS_1


" Tak sepatutnya Ayah bersikap begitu Bli, .. dasar tua bangka, akupun muak dengan sikapnya akhir akhir ini, kalo bukan karena ibu, aku tidak akan patuh padanya" Sahut Bagus.


" Yah... semenjak ibu tiada dan dia menikah lagi, sikap Ayah berubah, beliau menjadi tamak dan penuh perhitungan. Aku jadi curiga, apa yang membuatnya berubah, apa karena istri mudanya , yang rekan bisnisnya itu? " sahut Ida, membenarkan ucapan Bagus.


" Entahlah Bli, aku tidak tertarik untuk mengurusi kedua manusia itu, aku.. hanya patuh padanya karena aku butuh untuk membiayai kuliah ku,.. " Balas Bagus sembari menunduk, dirinya merasa malu, karena bertindak seperti seorang pecundang,, melakukan sesuatu dengan mengharap sesuatu.


Ida mengamati Adiknya yang tertunduk, tangannya terulur menepuk keras paha adiknya itu, membuat Bagus berjingkat kaget.


" Ha.. ha.. ha.. " Ida tertawa, seolah kesedihan yang terlihat di matanya tadi, sirna dengan cepat.


" Tidak ada salahnya Gus kamu bersikap demikian, sudah sewajarnya seorang anak patuh pada orang tua, dan menuruti perintah orang tua. Aku yakin, Ayah berbuat demikian karena punya tujuan yang baik bagi keluarga kita. "


" Tapi tidak harus juga ,Tua bangka itu melalaikan Bli, apakah dia lupa kalo Bli juga pewarisnya "sahut Bagus merasa kecewa atas sikap Ayahnya terhadap kakak nya.


" Sudah lah Gus, mungkin itu masalah waktu, Ayah belum bisa memaafkan Bli yang telah membuatnya kecewa. " sahut Ida dengan tegar.


Obrolan mereka sekilas berhenti, lalu datang Ratih mengajak anak anaknya untuk mandi.


"Oh iya Gus, gimana kabar Arman, dia masih satu kost sama kamu kan? " celetuk Ratih, di sela sela keheningan mereka.


" Kabar dia baik, kami masih satu kost an" balas Bagus singkat.


" Aku kemarin bertemu dengan kakaknya, dia waktu itu membeli souvenir dan sebuah lukisan di sini, ternyata istrinya juga orang jogja." lanjut Ratih.


Bagus mendengarkan cerita kakak iparnya dengan patuh.


" Iya, kakaknya Arman punya istri orang jogja, dan kebetulan adik istrinya itu teman kami" sahut Bagus, yang kemudian mulai bercerita.


Ida mengamati bagaimana wajah dari adiknya ketika berbicara. Tak lama Ratih ijin untuk memandikan kedua putra kembarnya.


" kamu mau nginep sini Gus, hari sudah mulai malam, apalagi cuaca mendung " Ucap Ida kemudian.


" Tidak Bli, Gus mau pulang, besok kuliah. " balas Bagus, kemudian mulai mengemasi tas dan memakai jaketnya ,bersiap untuk pulang ke Bandung.


" Bli, pamit dulu ya" pamit bagus sembari berdiri.


" Hati hati ya " balas Ida, keduanya kemudian melangkah keluar.


Bagus akan membuka pintu mobil pick up nya, ketika Ida sedikit berteriak kepada nya.


" Gus, kamu suka kan sama perempuan itu? "


Bagus hanya diam,perpura pura acuh, seolah tidak mendengar perkataan kakaknya.


" Jangan sia sia kan kesempatan Gus, sebelum kamu menyesal"


Bagus tersentak, seolah termotivasi lalu menoleh ke arah kakaknya, memandang dengan rasa penasaran, darimana kakaknya tau, kalo dirinya sedang gundah dengan hatinya.


" Terima kasih kak" ucap Bagus, kemudian mulai melajukan mobilnya.


"apakah aku harus mengutarakan perasaan ini?" gumamnya dalam hati, sembari melakukan mobilnya.


( bersambung)

__ADS_1


__ADS_2