
Bulu kuduk Bagus meremang, seolah udara yang berjumlah sedikit dan sekilas itu berhasil mengirimkan gelombang hingga menyebabkan gelenjar listrik ke seluruh organ dalam tubuhnya. Bagi Bagus ini seolah seperti siksaan , dan dirinya berjuang untuk menetralisir siksaan itu.
Bagus memejamkan mata, merasakan bagaimana dahsyat nya gelenjar itu membuat organ vitalnya berdiri.
Indah bingung, kenapa Bagus tidak segera melajukan motornya, padahal tadi sudah menyuruh untuk bergegas naik, hingga dirinya dengan kasar dan cepat naik ke motor, tapi sekarang, kenapa pria gondrong itu malah diam saja.
Indah jengah, dan memutar kedua bola matanya, sembari menarik nafas kasar dan panjang.
" Cukup!" seloroh Bagus tegas mengucapkannya, dan terdengar dominan.
" Jangan kau hela nafas lagi" lanjut perkataan cowok itu, dengan suara lirih. Seolah menyerah di medan perang.
Indah menautkan alisnya ke depan, apa maksud perkataan Bagus.
Indah ingin bertanya karena dia tidak tau apa yang Bagus inginkan dari dirinya. Tapi rasa gengsi mengurungkan niatnya. Indah masih sakit hati dengan Bagus,dan sakit hati itu belum bisa dia sembuhkan. Gadis itu merajuk sampai saat ini, tetapi entah sampai kapan, dirinya pun tak tahu.
Mereka terjebak dalam diam dengan suasana hati masing masing. Kemudian perlahan Bagus mulai melajukan motor nya. Sembari mengumpati diri dalam hati.
***
Motor melaju sangat lambat, udara yang mengiringi mereka, akan berhasil membuat Indah mengantuk.
Dan memang benar, tak lama kemudian, gadis itu sudah bersandar di punggung Bagus ,sekilas tertidur tapi kemudian terjaga kembali dan menegakkan kepalanya.
Bagus merasa tak sanggup lagi, jika berlama lama bersama dengan indah dengan jarak sangat dekat seperti ini. Apalagi gadis ini terus saja mengusik hormon kejantanannya. Bisa bisa dia khilaf dan melakukan hal yang bisa menjatuhkan keperjakaan nya.
Bagus menepi dan memberhentikan motornya sebentar, lalu bertanya pada indah.
" Bengkelnya dimana? "
" Aku gak tau.., kak Arman yang membawanya ke bengkel waktu itu. " jawab Indah dengan nada sedikit manja.
Bagus menepuk dahi pelan, sembari menghela nafas, merasa konyol, kemudian menghembuskan nafas panjang.
Bagus turun, dengan sebelumnya menempatkan standar di tanah. Mengambil ponsel nya lalu menghubungi Arman, menanyakan alamat bengkel, dimana motor Indah di perbaiki. Sementara Indah masih duduk di atas motor, sama sekali tidak berniat turun.
__ADS_1
Bagus menutup telepon setelah tahu dimana alamat bengkel tersebut, kemudian naik kembali ke motor nya, dan segera melaju dengan kecepatan lebih.
Indah tersentak, saat Bagus awal melaju, seketika tangannya berpegangan melingkari perut bagian belakang pria itu.
Bagus mengumpat lagi dalam hati, kenapa sih cewek ini terus saja bertingkah mengusik hormonnya. Bagus hanya berusaha bersikap masabodoh, tidak mau lagi terlalu mengurus hormon kurang ajar itu di dalam tubuhnya. Tetap melaju karena ingin segera sampai ke bengkel tersebut.
***
Setelah setengah jam perjalanan kemudian, mereka tiba di bengkel ,sesuai alamat dari Arman. Bagus merasa lega dan segera menyuruh Indah untuk turun.
" Sudah sampai, turun! " perintahnya. Gadis yang membocengnya tadi, segera turun dengan mendengus.
" jahat banget sih, ngusir.. " gerutunya.
" Eh.. ngomong aja langsung, kenapa pake ngedumel segala... " Sahut Bagus cepat, sembari menatap dengan dingin ke sembarang arah.
" Kakak itu yang gak sopan, kalo tadi gak ikhlas, kenapa mau anterin, aku bisa kok naik angkot atau pesen ojol" balas Indah dengan marah.
Bagus tersinggung, kemudian menoleh menatap wajah Indah dengan dingin.
Bibir Indah cemberut, dadanya naik turun karena emosi yang masih belum tersalurkan, sembari memandang kepergian Bagus dengan tatapan marah.
Gadis itu kemudian mengayunkan kaki ke depan, menuju bengkel. Semua tatapan mata orang orang yang bekerja di bengkel tersebut, seolah mengintimidasinya. Indah cuek dengan tatapan mereka, perlahan orang orang itu mulai melanjutkan kesibukannya kembali.
" Assalamualaikum Mas, mau tanya, motor saya apa udah selesai diperbaiki ya? " tanya Indah ke salah satu orang, yang sedang berdiri di belakang etalase di bengkel tersebut. Ada berbagai merk oli ataupun onderdil ,tersusun rapi di dalam etalase itu.
" Waalaikumsalam, kalo boleh tau, motor mbak yang mana dan berapa nomor platnya? " jawab orang itu.
" Motor scoopy matic berwarna merah, nomor platnya... xxxxxxx" Indah menyebutkan indentitas motor nya.
" Oh... yang itu,.. " karyawan itu langsung paham, dan segera menunjuk sebuah motor yang berada di dalam bengkel.
" iya betul.. itu motor saya,.. "
" Sudah jadi dari kemarin mbak, dan juga sudah saya buatkan nota" balas Karyawan bengkel sembari menyobek nota.
__ADS_1
" ini.. " nota di sodorkan ke tangan Indah, dan Indah segera melihat angka nominal yang tercantum dalam nota tersebut.
Gadis itu kemudian membuka tas dan mengambil dompetnya. Mengambil dan menghitung uang cash yang dia simpan di dompet tersebut.
"Aduh... kurang 300 ribu, ... gimana nih.. " gumam Indah, mengeluhkan uangnya yang kurang untuk membayar biaya bengkel. Gadis itu bingung, dan gugup. Tangannya bergerak ragu untuk menyentuh kepalanya.
" E... ini... masih kurang 300 ribu mas, ehm... saya gak bawa uang cash, tapi ada di ATM, ehm.. gimana ya.. apa sisanya saya antar besok? " tanya Indah dengan tak enak hati.
" Kalo begitu motornya ambil besok aja mbak, maaf saya hanya karyawan baru disini, dan kebetulan bos saya sedang keluar, saya gak berani mengambil keputusan. " balas karyawan itu, terlihat juga tak enak hati.
Indah menghela nafas pasrah, merasa sedikit lemas dan kecewa.Yah.. beginilah dunia bisnis, tidak peduli dengan toleransi, walaupun itu orang terdekat bahkan saudaranya sendiri.
" Terus gimana saya pulangnya mas,.. masak gak ada toleransi sih, saya gak akan nipu mas, kalo saja di dekat sini ada ATM, saya mau kok ngambil uang buat bayar lunas. " ucap Indah sedikit emosi.
Karyawan itu hanya celingukan, kelihatan kalo dia juga bingung.
" Ehm... begini aja mbk, gimana kalo mbak ke ATM terdekat dulu, di sana ada, tapi emang agak jauh sih, kalo jalan kaki memakan waktu setengah jam, saya tunggu kok mbak, supaya motornya bisa di ambil. " ucap Karyawan itu, memberi saran pada Indah.
Indah mendengus lagi, ingin rasanya dia memarahi karyawan di hadapan nya ini, tapi dia urungkan karena hati nuraninya tidak mengijinkan berbuat demikian.
" Ya udah, kalo gitu saya ke ATM dulu. " balas Indah dengan nada kesal.
Gadis itu lantas berjalan kaki, menuju mesin ATM terdekat.
***
Sesampainya di mesin ATM, ada 3 orang yang sudah mengantri. Indah jengah dan juga kesal. Hari ini adalah hari yang buruk baginya. Mungkin saja malam hari baru sampai kost kost an nya , padahal langit sudah mulai mengumpulkan awan gelap, itu tanda nya mungkin sebentar lagi akan hujan.
Gadis itu hanya bisa berharap dapat segera melewati hari yang menyebalkan ini. Peristiwa dari tadi pagi hingga sekarang seakan kembali di putar dalam ingatannya.
Tapi yang paling membuatnya kesal dan marah, adalah wajah dari Bagus, Pria kucel dan menyebalkan , baginya. Rasa bencinya dengan pria itu semakin bertambah, akankah mereka masih akan berteman, atau malah akan menjadi musuh, mengingat bagaimana tadi sikap Bagus terhadap nya. Seakan kebaikan dari pria itu di masalalu ,terhadapnya terkikis, sedikit demi sedikit.
bersambung.
😅😅😅 makasih telah membaca.
__ADS_1