Jodoh Yang Di Takdirkan

Jodoh Yang Di Takdirkan
Bab 28 ( Tidak jujur)


__ADS_3

Wanda menyadari kehadiran Indah, karena mereka sama - sama berada, dan berdiri di depan tempat kasir.


" Indah? " sapa Wanda ramah, bibirnya tersenyum senang.


Dengan terpaksa, akhirnya Indah mengayunkan kaki, melangkah mendekat di tempat Wanda berdiri, walaupun sebetulnya dirinya enggan bertemu kedua orang itu.


Sapaan Wanda ,membuat Haris juga kini memandang gadis itu. Mereka terlibat dalam sebuah obrolan satu sama lain. Sedangkan Bagus , pria itu bertingkah cuek, hatinya perlahan di hampiri rasa cemburu. Pria itu kembali menatap ke depan, lalu menyerahkan dua lembar uang ratusan, membayar kepada kasir.


" Kak Wanda? "balas Indah seolah terkejut , gadis itu mencoba menarik bibirnya untuk senyum , tetapi terasa kaku.


"Kamu di sini? " sahut Wanda lagi.


" Iya kak.. he he.. " indah masih berusaha tersenyum sewajar mungkin, nyatanya itu berat baginya saat ini, hatinya menolak mendukung untuk terciptanya sebuah senyum manis.


Sedangkan Bagus, pria itu tak berniat ikut gabung dalam percakapan mereka. Hatinya tiba tiba panas ,melihat cowok yang berdiri di samping Indah.


" Sama pacar? " ucap Wanda sambil berbisik di telinganya.


Indah bingung, bagaimana akan menjawabnya. Mulut ingin berkata " bukan" , tetapi seolah hatinya yang di landa api cemburu, menghasut untuk berkata sebaliknya. Indah sekilas melihat ke arah Bagus, gadis itu dilema mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan Wanda.


Tiba - tiba, tangan Haris terulur, dengan percaya diri, pria itu memperkenalkan dirinya ke Wanda.


" Haris"


Indah menghela nafas, seolah sangat lega, hal itu telah menyelamatkannya dari jurang ke dilemaan.


" Wanda" balas Wanda, juga dengan percaya diri .


" Senang berkenalan, dan bertemu kamu" balas Haris ramah, Wanda pun tersenyum ramah membalasnya.


" Dan juga temannya, salam kenal ya. " lanjut Haris, memandang Bagus yang berdiri di samping Wanda.


Haris tipikal orang yang sopan, dan ramah. Pembawaannya hangat kepada siapapun orang yang dia kenal. Seketika Wanda melihat sekilas ke samping, memberi kode kepada Bagus.


"Oh,... namanya Bagus. "ucap Wanda


Dengan berat hati Bagus mengulurkan tangannya, berjabat tangan dengan Haris , tetapi wajahnya berekspresi datar, hanya dalam hitungan detik, dan segera menarik tangannya kembali.


" Bagus_kenalkan juga_ini Indah, dia temen adikku, kami tadi pagi baru aja bertemu. "

__ADS_1


Tidak di sangka, ternyata Wanda juga memperkenalkan Indah ke Bagus. Hal itu membuat keduanya,(Bagus dan Indah) terbengong. Kakak kandung Dita itu tidak tahu, kalo mereka( Bagus dan Indah) sudah saling kenal dan berteman, sebelum dirinya( Wanda) datang dan berkenalan dengan Indah tadi pagi.


Wajar saja, karena Wanda belum tau hubungan mereka. Dita belum cerita banyak tentang Indah, Dita hanya memberi tahu Wanda, kalo Bagus sedang dekat dengan temannya, tetapi tidak menyebutkan nama temannya itu.


Bagus kemudian tersenyum samar, entah senyum apa yang sekilas tampak di wajah pria itu, sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Indah.


Gadis itu terlonjak kaget dengan sikap Bagus," apa maksudnya? ",


" Kenapa kak Bagus tidak bilang ,kalo kita sudah lama saling kenal. "bathin gadis itu bingung dengan sikap Bagus padanya. Tetapi dirinya seolah berhasil terhipnotis, begitu saja salah satu tangannya bergerak, menyambut uluran tangan Bagus, walaupun sambil terbengong , pikirannya masih melamun.


" Bagus" pria itu menyebutkan namanya, seolah ini adalah pertemuan pertama mereka. Kemudian pria itu sengaja mempererat genggaman tangannya, membuat Indah meringis, merasakan sedikit sakit.


" Senang berkenalan dengan kamu" lanjut pria itu , sekilas tampak tersenyum miring.


Indah hanya terdiam, mencoba menebak apa maksud Bagus.


Suara kasir yang memanggil, membuat ke empat orang itu terjaga, dan Bagus segera menarik tangannya kembali. Selanjutnya pria itu melangkah meninggalkan mereka bertiga tanpa berpamitan.


" kalo gitu, sampai jumpa nanti indah, bye" ucap Wanda berpamitan. Gadis itu segera melenggang menyusul Bagus yang sudah dulu jalan keluar.


***


Wanda sangat senang, wajahnya berbinar, ini adalah kebahagiaan yang sangat dia idamkan dari dulu, berdua dua an dengan orang yang sangat dia cintai, bahkan senyumnya tetap merekah ketika Wanda tiba ke kost kost an adiknya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Indah duduk termangu serta melamun di hadapan layar laptop yang sedang menyala, memperlihatkan pemandangan alam langit yang penuh bertaburan bintang , di bawah langit itu nampak pemandangan kota yang di potret dari atas.


Handphonenya berdering sedari tadi, gadis itu sedang melamun, jadi telinganya menghiraukan dering phonselnya.


Indah sangat menikmati suasana hatinya yang mendung, hatinya sedang tersiksa saat ini. Tersiksa oleh rasa cemburu, marah dan juga benci. perlahan, dan semakin lama semakin meradang.


Buliran air mata mulai keluar dari sudut matanya, menangis, ya.. dia hanya bisa menangis melampiaskan kekesalan dan kesedihan yang sedang dia alami.


Bunyi notifikasi di handphone yang tertutup bantal, rupanya sudah mulai terdengar oleh telinganya. Gadis itu segera menghapus air mata, lalu meraih handphone tersebut. Layar ponsel menampilkan gambar profil dari akun pengirim pesan. Indah segera membuka dan membaca tulisan pesan tersebut.


Aku ingin bicara sama kamu


Indah mengabaikan pesan tersebut, pesan WA dari Bagus.

__ADS_1


Tak berselang lama, handphone nya berbunyi, Gadis itu malas menjawab panggilannya, hatinya masih sakit mengingat bagaimana sikap Bagus tadi di warung makan. Panggilan itu pun di abaikan begitu saja, bahkan sengaja menyumpal telinga dengan headset, menyetel keras keras lagu di dalam album musik di laptop.


***


Pagi menjelang, seperti biasa gadis itu kelaparan jika sudah saatnya sarapan. Bagus sengaja menunggunya di warung tersebut. Begitu gadis itu menginjakkan kaki, masuk ke warung, Bagus segera menghampiri nya. Pria itu terlihat kucel dengan mata memerah, jelas sekali menunjukkan bahwa dirinya tidak bisa tidur nyenyak tadi malam.


Indah sengaja bersikap seolah cuek, tidak memperdulikan Bagus yang berdiri menghalangi dirinya. Tangannya mengibaskan badan pria itu, menyuruh pria itu menyingkir.


Ibu Indah( pemilik warung) terbengong dengan sikap kedua anak muda langganan nya itu. Seolah dengan sabar menanti apa yang akan mereka berdua lakukan di warungnya.


Bagus patuh, menyingkir , memberi jalan untuk gadis itu masuk dan duduk, lalu memesan makanan untuk sarapannya pagi ini.


Bagus segera duduk di sebelahnya, menyisahkan jarak yang begitu dekat.


Ibu Indah diam diam mengamati tingkah kedua anak muda itu, sembari menyiapkan pesanan.


"Kenapa kamu tidak menjawab telephonku tadi malam? " tanya Bagus dengan wajah masam.


" Kak Bagus mau bicara apa, sorry tadi malam aku ketiduran. " balas Indah juga dengan wajah masam.


" Aku.....aku.." jawab Bagus menggantung karena ragu, dengan sengaja tidak menyelesaikan kalimat yang sudah terangkai dalam pikirannya saat ini, matanya menangkap orang lain yang tak lain adalah pemilik warung, sedang mengamatinya. Bagus merasa canggung dan tak enak hati.


Rupanya Ibu Indah tau, tetapi ibu itu tidak merasa risih, kedapatan kepo, malah dengan gamblang dia berkomentar,


" Sebaiknya segera di selesaikan masalah kalian, ibu juga pernah mengalaminya dulu, dalam pacaran memang sudah wajar kalo ada pertengkaran"


Indah tersedak minuman tehnya yang sedang dia minum. Begitupun Bagus, pria itu terkejut dan seketika melihat ke arah Ibu Indah yang masih sibuk menuang kuah opor ayam ke dalam mangkok yang sudah berisi bubur.


" Kami gak pacaran kok bu" sambar Indah sebagai respon.


wajah Bagus terlihat suram, mendengar perkataan indah, kepalan terbentuk di tangannya. Apakah ini adalah waktu yang tepat, mengatakan perasaan nya pada Indah?


( bersambung)


***


note author


Terima kasih yang sudah membaca, semoga gak bosan ya,.. ☺

__ADS_1


__ADS_2