
13 Oktober 2012. Pesawat Kencana air RQ30144 30 menit mendekat ke bandara Sydney.
Gumpalan awan putih terpola indah membentang seantero langit. Burung-burungpun hanya mampu terbang di ketinggian beberapa kaki.
Diatas angkasa masih ada angkasa. Makhluk berparuh dan bersayap itu tak kuasa menjangkau alam raya lebih jauh, apalagi meninggi. Mimpinya hanya kembali terbang dalam keadaan kenyang, bahkan membawa makanan bagi anak-anak mereka yang menanti di sarang-sarang rapuh, diatas pepohonan.
Ribuan kaki tepat di atasnya, gumpalan awan yang masih tersebar, sedang mengudara tenang nan gagah. Burung besi yang tengah menghantarkan urusan berbagai insan. Langit begitu cerah dipandang dari balik jendela pesawat. Langit tak memberi beda dan jeda antara atas atau bawah.
Berada diantara keduanya, membuat semua terfatamorgana.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian secara elegan. Semakin mendekat ke arah gravitasi. Yang mulanya hanya nampak sebagai sesama langit dengan corak biru berpola awan putih, kini tumpahan tinta biru yang tak kalah cantiknya menghiasi daratan. Tak terlihat gelombang ombak atau betapa sibuknya makhluk laut sedang berjuang hidup dari mata rantai makanan.
Masih tenang.
Hamparan kebiruan yang ada di darat, seolah sebuah potret keanggunan dibalik banyaknya misteri yang tersimpan di dalamnya. Tujuh puluh persen bumi terlapisi laut dan sisanya adalah daratan. Itu berarti sebenarnya jumlah makhluk darat, termasuk manusia lebih sedikit ketimbang makhluk laut. Betapa luas, banyak dan besarnya ruang bagi makhluk laut, hingga apa yang ada di dalamnya belum tuntas untuk dimengerti.
Berbeda lagi dengan kehidupan di udara. Saat ini, sepertinya udara sudah tidak di dominasi oleh makhluk bersayap saja. Namun, manusia juga turut ambil bagian, bertransformasi menjadi makhluk terbang.
Bukan Superman, Batman atau manusia dengan jenis spesies tertentu maupun perubahan genetika pada uji coba para ilmuwan gila, akan tetapi, sebuah transportasi besar, berat dan panjang memberikan kontribusi sibuknya arus lalu lintas udara.
Sebuah layar besar di ujung tengah, menunjukkan posisi pesawat yang sedang melintas diatas Samudera Hindia pada ketinggian beberapa puluh ribu meter.
Pesawat tujuan Jakarta-Sydney menggunakan penerbangan termurah untuk tiba di Sydney Kingsford Smith Airport.
Perjalanan lintas benua dan samudera ini memakan cukup waktu, melelahkan.
Namun, tak menyurutkan sedikitpun luapan kegembiraan bercampur tegang bagi rombongan kecil dalam penerbangan kali itu.
Seorang gadis berusia dua puluh dua tahun melipat majalah yang usai dibaca. Dia membangunkan gadis sembilan belas tahun yang tengah duduk di sebelah jendela. Terlelap dalam posisi kepala menempel di kaca jendela. Tidur pulasnya masih memetakan raut gembira dan penuh penantian.
“Hei..jangan tidur doank. Pemandangan laut Australia sedang menyambut kita. Ini penerbangan internasional pertamamu, Kan?” ujar gadis dengan bentuk wajah berlian. Parasnya indo-eropa, berdagu lancip. Hidungnya tirus-tegak keatas. Rambutnya sepanjang bahu berwarna kecoklatan, bukan karena disemir. Mata hijaunya jernih bersinar dan bibirnya tipis mengulum senyum. Wajahnya mungkin terlihat lebih tua dari usianya. Dan memang, ia tumbuh lebih cerdas dan matang mendewasa daripada kebanyakan gadis dua puluh dua tahun lainnya.
Si gadis sembilan belas tahun menguap lebar sambil sedikit menggeliat. Mengusap pola yang sedikit menghiasi bawah bibirnya hingga membuat gadis di sebelahnya tersenyum geli. Dia mengerjapkan mata dua kali. Matanya berbinar menatap takjub pemandangan awan di kanan-kiri dan air laut yang memantulkan cahaya kelap kelip di siang hari efek pembiasan.
Gadis sembilan belas tahun itu mulai keringat dingin. Deg-degan.
Ini adalah kali pertama baginya. Ini juga penerbangan luar negeri pertama. Semua serba pertama kali.
__ADS_1
Gadis bermata hijau disebelahnya seperti bisa mendengar kegelisahan gadis tersebut. Ia menggenggam punggung tangan gadis itu. Menoleh ke arahnya dan tersenyum memberi arti.
Menguatkan.
Menghibur.
Menenangkan.
Bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua akan berjalan sesuai dengan harapan dan rencana.
Usia mereka memang tak terpaut terlalu jauh, akan tetapi, si gadis bermata hijau tak hanya bersikap sebagai sahabat bagi rombongan kecilnya, ia adalah kakak selain itu tutor mereka di Blume Musical School penuh tanggung jawab.
Gadis sembilan belas tahun itu menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. Ia membalas senyum gadis itu.
Mengangguk.
Berterima kasih atas segala dukungan dan bimbingan yang selama ini diberikan penuh dedikasi untuknya, untuk timnya.
Gadis sembilan belas tahun itu tak sabar menanti orkestra besar yang akan diadakan di Sydney Opera House, Australia. Siapa yang tak akan bangga, dia terpilih sebagai solo seriosa yang diiringi oleh musik klasik terkenal dari Indonesia dalam acara pentas musim semi.
Kirana Badar, gadis sembilan belas tahun ini salah satu murid terbaik dari Blume musical School di Indonesia. Suaranya mampu membuat hati yang mendengar bergetar takjub. Seriosa seperti lagu anak-anak baginya.
“Setelah konser orkestra ini berakhir, aku akan belajar biola dan cello. Yah agar jadi penerus kakak di Blume nanti,” gumam Kirana.
“Iya, bentar lagi aku juga pengen pensiun dini.”
“Lho? emang kenapa ?” tanya Kirana terkejut sekaligus penasaran. Aneh rasanya mendengar kata pensiun. Kezia satu-satunya tutor termuda di lembaga bergengsi tersebut. selain jenius dan berbakat, sangat disayangkan jika Kezia “gantung dawai”.
“Emm..aku mau pensiun selama satu tahun.” Kezia tersipu malu.
“Maksudnya?” Kirana tak paham.
“Tiga bulan lagi aku mau married, kami akan bulan madu ke beberapa tempat dan aku ingin istirahat sejenak menikmati hari sebagai istri saja,” jawab Kezia membenahi posisi duduknya.
“Whatt?? Really ??” Kirana menjerit begitu takjub.
Diluar dugaan dan sangat tiba-tiba. Kata ‘menikah’ dalam lingkungannya masih juga terasa asing, bahkan tabu.
Diusianya dan teman-teman lingkungannya masih sibuk belajar atau mengejar mimpi. Apalagi mendengar Kezia tiba-tiba akan menikah,tentu jadi gosip terhangat seantero Blume. Tidak hanya sesama tutor, bahkan musisi kenamaan negeri dan juga para murid di Blume begitu tergila-gila dengan Kezia. Kecantikannya, kebaikan hatinya, kecerdasan dan multitalennya di bidang seni musik akan meluluhkan setiap pemuda yang memandang, memotivasi setiap gadis yang bertemu dengannya.
Tentu saja, berita ini akan mematahkan hati puluhan pemuda yang bermimpi menyandingnya. Sangat disayangkan, wanita muda penuh kharisma ini akan menikah muda.
__ADS_1
“Ssst....”Kezia mengarahkan telunjuk kanannya mendekati bibir. Belum banyak tersiar kabar, Kezia ingin semua itu jadi surprise. Orang Blume yang tahu kabar tersebut hanya direktur Blume dan kali ini Kirana. Bagi Kezia, Kirana adalah adiknya.
Ah, lebih tepatnya replika atau refleksi dirinya. Ia melihat Kirana seperti melihat dirinya sendiri. Meski secara bakat dan fisik berbeda jaub, namun semangat gadis itu dalam bermain musik dan menekuni bidangnya mengingatkan dirinya ketika berada di Juilliard dulu. Karena semasa sekolah Kezia dua kali berada di kelas akselerasi, jadi wajar ia bisa lulus lebih muda.
Kezia memperlihatkan foto prewedd-nya melalui ponsel diiringi suara cekikikan mereka berdua. Kezia mengenakan baju khas Belanda, dengan topi lebar dan dress bertumpuk renda berwarna nude kombinasi warna pastel oranye. Sedangkan calon suaminya mengenakan tuxedo. Mereka berfoto di salah satu kincir angin yang ada di Belanda sambil menaiki sepeda ontel tua. Kesan klasik dan romantis.
“Kami tunangan seminggu yang lalu. Dia kerja di sebuah perusahaan konstruksi. Seorang arsitek,” cerita Kezia dengan kedua pipi merona merah dan senyum simpulnya. Tatapan mata Kezia penuh cinta ketika menceritakan calon suaminya,terlebih ia akan bersanding di pelaminan dengan penuh bahagia.
“Wah beruntung banget ya. Hidup kakak sempurna rasanya,” puji Kirana, matanya berbinar mendengar kabar bahagia tutor favoritnya.
Kezia, lulusan terbaik Juilliard School New York, sekolah musik paling bergengsi di dunia, kemudian menjadi pengajar di Blume Musical School. Setelah lulus, banyak tawaran pekerjaan dan manggung, tapi Kezia menolak. Dia memilih menjadi guru untuk calon musisi Indonesia. Dia tak pernah bosan memberi semangat juniornya untuk melanjutkan impian ke Juilliard dan go Internasional membawa nama harum Indonesia.
Dia musisi serba bisa.
Penyanyi seriosa yang handal, pemain cello dan biola, seorang pianis, dan komposer termuda. Wajar jika Kirana sangat mengidolakan mentor perfectnya itu.
“Ah, ada–ada aja kamu.” Kezia tersipu sambil memasukkan kembali ponsel yang dalam keadaan mode pesawat.
Beberapa guncangan membuat membuyarkan obrolan seru kedua perempuan tersebut. lampu kabin menyala merah pada simbol safety belt. Sebentar lagi akan landing, meski belum ada pemberitahuan akan landing, gumpalan-gumpalan awan sepertinya tak memuluskan perjalanan mereka hingga menimbulkan sedikit guncangan.
Para pramugari segera menempati pos mereka, duduk memasang sabuk pengaman. Pramugari yang duduk dekat telepon, mengangkat panggilan telepon sang pilot. Ia mengangguk-angguk dan terlihat menahan sesuatu dalam pikirannya.
Tangannya mencengkram sabuk pengaman, satunya lagi sedikit gemetar meletakkan telepon.
Guncangan-guncangan itu tidak kunjung berhenti hingga membuat beberapa penumpang merasa mabuk. Mungkin hal yang biasa, akan tetapi lampu tiba-tiba padam. Penumpang berteriak histeris.
“Everything will be ok,” seru seorang pramugari.
Meski itu tak menghilangkan sedikit kepanikan penumpang. Tekanan dalam pesawat tiba-tiba lebih besar dan secara otomatis membuat masker oksigen yang ada diatas tempat duduk penumpang meluncur di depan mata. Tanpa komando, penumpang tahu apa yang sedang terjadi, sehingga mereka segera saja memasang masker oksigen tersebut.
Kirana begitu ketakutan dan ia meremas tangan Kezia begitu kuat. Kezia sendiri merasa takut tapi ia lebih bisa menguasai diri dan mencoba menenangkan gadis di sebelahnya. Kezia berisiniatif mengambil baju pelampung yang berada di bawah kursi lalu memakaikan pada Kirana.
Keadaan pesawat tidak seperti yang diharapkan, sayap sebelah kanan menyemburkan percikan api. Tepat di sebelah Kezia dan Kirana duduk. Kezia menjerit kaget dan hal itu membuat penumpang lain semakin ketakutan. Kezia berusaha menenangkan rombongannya. Namun semua itu sia-sia.
Pesawat menukik tajam ke arah Samudera Hindia, kebakaran pada bagian sayap membuatnya terlepas dari badan pesawat dan itu memperburuk keadaan.
Beberapa penumpang melepaskan safety belt dan menuju jalur evakuasi, belum sempat menjangkau pintu darurat, pesawat kehilangan keseimbangan sehingga sebelum jatuh ke laut dalam waktu sepuluh detik, ia sempat berotasi lima kali hingga orang-orang di dalamnya saling bertubrukan dengan barang dan tubuh yang lain.
Kirana yang telah pingsan ketika pesawat beratraksi di udara adalah orang pertama yang terseret tarikan gravitasi udara di luar pesawat akibat keretakan badan pesawat yang membuat lubang besar di sisi sayap. Beberapa penumpang lainnya yang dekat dengan lubang berhamburan tertarik keluar oleh gravitasi. Sisi kiri badan pesawat memuntahkan isinya secara tak beraturan ketika pesawat menukik tajam menuju laut.
Tak berapa lama kemudian, pesawat meledak di udara, berjarak puluhan meter dimana Kirana terlempar menjauhi pesawat, jatuh ke dalam laut menimbulkan sebuah riak besar. Tubuhnya yang terpelanting ke dalam laut, untung saja mengapung kembali karena pelampung yang dikenakannya.
__ADS_1