
Haikal harus mencari-cari alasan agar bisa keluar rumah demi menemui Kirana. Ia sudah terlambat beberapa jam untuk ke restoran. Sebenarnya bu Anna tidak setuju Haikal pergi sementara Sarah baru saja tiba, seharusnya ia menemani Sarah. Tapi Haikal terlanjur berjanji dengan Kirana.
Segera setelah memarkir mobil, Haikal menuju belakang restoran. Ia mencari Kirana di kamarnya, gudang dan dapur.
“Maaf bu...” Haikal membuka pintu ruangan bu manager tanpa mengetuk pintu.
Terlihat Kirana berada disana. Mereka berdua menoleh. Ada secangkir coklat panas yang sedang dipegang Kirana.
“Ah, silahkan masuk Haikal,” ujar bu manager agak kaget dengan kehadirannya.
“Kamu baik-baik saja ?” Haikal langsung berjongkok memegang tangan Kirana yang duduk di kursi.
Kirana meletakkan cangkir coklat panasnya. Ia menghela napas panjang, menggenggam balik tangan Haikal. Ia menganggukkan kepala. Membuat Haikal merasa tenang. Haikal menyentuh kening Kirana, memastikan demamnya telah turun.
“Mungkin kalian butuh waktu dan tempat berdua?” tanya bu manager merasa dirinya hanya akan mengganggu. Ia sudah berdiri dan akan meninggalkan ruangannya.
“Oh, tidak perlu bu. Maaf saya lancang asal masuk saja. Boleh saya ajak keluar sebentar Kirana?” Haikal meminta ijin dengan sopan.
“Silahkan. Kirana bukan pelayan restoran lagi. Dia disini sebagai pianis dan sekedar membantu urusan saya.” Bu manager tersenyum.
Haikal menggandeng tangan Kirana menuju keluar. Ia dan Kirana berada di taman kota tak jauh dari restoran.
“Apa yang terjadi? kenapa kamu tiba-tiba gemetar ketakutan sewaktu kita di bandara?” Haikal bertanya lekat-lekat ke dalam mata Kirana.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kurang enak badan. Semuanya tidak perlu dikhawatirkan.”
Haikal mengerutkan kening curiga. Ia tak yakin dengan jawaban Kirana. Ia bisa melihat ekspresi ketakutan atau trauma luar biasa, dan bukan karena menahan sakit.
“Kamu yakin?” Haikal memastikan. Kirana mengangguk.
Haikal tak mau terus memaksa Kirana untuk menjelaskan, mungkin ia butuh sesuatu yang lebih privasi. Haikal menghargai itu.
“Oh ya, besok ada makan siang dengan Sarah. Mama yang mengadakan, cuma pesta kecil penyambutan saja. Sebenarnya tadi juga kita udah makan-makan, tapi yah tahu sendiri mama. Kamu bisa datang kan?”
“Aku usahakan.”
***
Kirana membantu Neny menata piring di meja. Setelah mengantar Kirana di rumahnya, Haikal harus menjemput Niko dari sekolah. Sedangkan Sarah dalam perjalanan menuju rumah bu Anna dengan Adit.
“Gimana sudah siap semuanya?” tanya bu Anna. Ia menyapa senang dengan kehadiran Kirana meski ia tak terlalu suka hubungan Haikal dan Kirana.
“Tinggal pudingnya aja, Ma.”
__ADS_1
“Ya udah mama ganti baju dulu ya.” Bu Anna pergi menuju kamarnya.
Neny menggelengkan kepala heran, padahal ini bukan pesta besar hanya sekedar makan siang, tapi sang mama terlalu berlebihan. Terdengar suara klakson mobil Haikal. Lalu teriakan Niko dari luar memanggil Neny.
“Wah enaknya. Niko boleh makan satu, Ma?” Niko sudah duduk di kursi.
“Ganti baju dan cuci tangan dulu. Kita tunggu tante Sarah datang baru bisa makan.”
Segera Niko menggandeng Kirana ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“Kamu juga cuci tangan dulu. Apa tidak mau ganti baju? gerah pakai kemeja.”
“Iya,” jawab Haikal singkat. Belum sempat Haikal ke kamarnya, pintu ruang tamu langsung terbuka.
“Bonjour, Halo semuanya.” Sarah merentangkan tangan dan langsung memeluk Haikal dan mengecup pipinya.
Haikal tak sempat mengelak karena Sarah begitu tiba-tiba. Dibelakangnya Adit berjalan mengikuti.
“Thanks Adit. Kamu bisa pulang sekarang. Aku aman sekarang. Di rumah keluargaku sendiri. Tak akan ada paparazi.”
“Kenapa dia tidak makan siang dengan kita?” tanya Haikal.
“ Kamu bisa makan dengan kami. Masih ada tempat, lagi pula ini sudah jam makan siang, pastinya kamu capek dan lapar harus menjadi setengah bodyguard dan asisten untuk Sarah,” lanjut Haikal ditujukan pada Adit.
“Oh tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya memang menjalankan tugas saja,” tolak Adit dengan sopan.
“Jangan panggil, Pak. Haikal saja. Kita ini sebaya. Sudahlah, anggap ini undangan makan siang dari teman sebaya. Ayo.” Haikal menepuk bahu Adit dan mengajaknya ke ruang makan meninggalkan Sarah yang terbengong.
“Selamat siang,” sapa Adit pada bu Anna, Kirana dan Neny yang sedang berdiri disamping kursi mereka. Niko sudah duduk duluan dan ia sedikit mencicipi remah-remah kulit ayam kremes.
“Ini Adit penanggung jawab atas Sarah, yang kita temui kemarin di bandara. Haikal ajak makan siang sekalian, dia sudah terlanjur disini.”
“Oh iya silahkan duduk, Nak.” Bu Anna mempersilahkan.
Adit duduk disebelah Niko yang berada di tengah. Dan disebelah Kiri Niko duduk Neny. Bu Anna duduk paling ujung seorang diri. Haikal menarik kursi untuk Kirana, tapi tiba-tiba Sarah langsung mendudukinya.
“Merci beaucoup, sayang,” kata Sarah.
Haikal melirik kesal dengan sikap kekanakan Sarah, ia menarikkan kursi lain untuk Kirana. Dan setelah semua duduk bu Anna mulai berbicara.
“Siang ini kita mengadakan makan siang keluarga untuk menyambut keluarga jauh dari Prancis yaitu Sarah. Sebelumnya mungkin Sarah dan Adit belum tahu siapa gadis ini.” Bu Anna menunjuk Kirana. Sarah dan Adit menoleh melihat Kirana.
“Dia guru piano Niko, pianis di restoran tante dan juga...” bu Anna tak mau mengakui.
__ADS_1
“Pacarnya om Haikal!” teriak Niko girang.
“What? You mean..his girlfriend?” mata Sarah melotot tajam ke arah Niko, tak percaya dengan yang didengarnya.
“Yah bisa dibilang seperti itu. Nah sekarang ayo kita makan, sepertinya cucu eyang udah gak sabar.” Bu Anna melirik Niko yang tangannya mulai menggerayang mengambil nugget.
Sarah memberengut kesal, ia melirik gadis disebelah Haikal. Melihatnya dari ujung rambut hingga lekuk badannya yang sedang duduk.
Gadis itu tak terlalu cantik dibandingkan dengan dirinya maupun Kezia, namun mungkin ada kekhasan tersendiri dari wajahnya yang semi indo-arab.
***
“Haikal, bisakah kamu temani aku ke apartemen?” Sarah menggandeng manja pada.
“Kenapa harus aku? Aku mengantar Kirana.” Haikal melirik mesra Kirana dan melepaskan gandengan Sarah.
“Aku akan mengantar anda miss,” tawar Adit tersenyum ramah.
Sarah memutar mata kesal, dengan langkah menjejak sebal ia melempar tasnya pada Adit.
“Aku pulang dulu,” teriaknya terbata-bata dengan bahasa Indonesia yang masih belepotan.
Sarah duduk dibelakang. Adit menyetir sambil sesekali melirik tamunya.
“Keluargamu sangat baik dan menyenangkan. Aku tidak tahu kalau anda punya keluarga di Jakarta,” kata Adit memecah kebisuan.
Sarah tak menggubris.
Ia berkutat dengan pikirannya yang masih kesal dengan kehadiran Kirana makan siang tadi. Ia menggigit jari, tanda gelisah.
“You need something missus?” tanya Adit.
“No. Just keep going,” jawab Sarah. Adit manggut-manggut.
“Oh, ya. Kapan kompetisi di Bandung?” tanya Sarah tiba-tiba.
“Tiga hari lagi. Kenapa?”
“Kamu bisa membantuku?”
“Katakan,” jawab Adit.
Sarah memintanya mencari cafe untuk berbicara sebentar. Tak jauh setelah Adit belok diperempatan jalan ia berhenti di Starbucks.
__ADS_1
***