K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
8. Dreams or Nightmares


__ADS_3

Dokter Smith memeriksa kondisi vital Kirana. Luka di kaki kanan gadis tersebut semakin memburuk. Ia melepaskan perban dan menggantinya dengan yang baru. Esok ia akan membawa Kirana ke rumah sakit tempatnya bekerja untuk di gips.


Baju Kirana nyaris basah kuyup akibat air laut. Ia khawatir Kirana terserang pneumonia, dokter Smith segera mengambil handuk dan selimut tebal. Ia mengeringkan tubuh Kirana dengan handuk kemudian menyelimutinya. Dokter Smith tengah menyuntikkan cairan berisi obat ketika Kirana mulai tersadar.


Kepala Kirana terasa berputar-putar saat ia membuka mata. Lampu yang terlalu terang menyorot retina begitu menyilaukan hingga ia harus menyipitkan mata. Nyeri akibat jarum suntik sangat terasa ketika menembus kulit.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya dokter Smith saat selesai dengan jarum suntiknya.


Kirana mengerjapkan mata. Ia berusaha duduk. Dokter Smith memberikan segelas air putih hangat. Kirana mendapati tubuhnya yang tengah diselimuti. Ia melihat sekeliling. Sebuah ruang periksa berukuran mini dengan perlengkapan medis yang sangat terbatas serta sederhana. Ruangan itu sebesar 2x2,5 meter persegi. Ada jendela kecil. Dindingnya bercat putih. Sebuah tempat tidur berkaki tinggi, lemari kaca yang berisi obat-obatan dan dokumen serta meja kecil dengan kursi tanpa lengan.


Dokter Smith tidak pernah menarik tagihan atas pelayanan kesehatan yang diberikan. Karena ia sendiri memang dilarang membuka praktik secara terbuka, maka ia membiarkan gudang kecilnya sebagai ruang praktik untuk menolong orang-orang pantai yang mengalami cedera ringan akibat bermain di pantai dan sakit ringan.


“Drink it, you’ll feel better, ” Dokter Smith menawarkan segelas air hangat itu sekali lagi.


Kirana masih ragu pada pria asing yang berprofesi sebagai dokter itu. Ia sebenarnya tidak bisa mempercayai siapa saja untuk saat ini. Namun, ia hanya berdua saja dengan pria yang menawarkan kebaikan.


Dengan keraguan yang masih melekat pada orang asing tersebut, ia menerima gelas berisi air hangat itu. Ia meminumnya perlahan.


Benar. Air putih hangat itu menenangkannya. Tubuhnya yang kedinginan kini menjadi lebih hangat. Perasaannya lebih nyaman. Dokter Smith menarik kursi dan duduk dihadapan Kirana.


“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, kamu hampir mati! Bisakah kamu bayangkan jika ceroboh seperti itu?” dokter Smith menarik napas panjang sedikit kesal.


Kirana menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Tak berapa lama kemudian ia kembali terisak. Dokter Smith menelan ludah. Ia salah tingkah dan mengerutuki kebodohannya yang berbicara terlalu banyak dengan emosi pada gadis yang masih dalam masa pemulihan.


“Hei, tenanglah. Jangan menangis. Baiklah aku tidak akan bersikap keras kepadamu,” dokter Smith memegang kedua pundak Kirana dan menatapnya lekat-lekat.


Kirana berhenti terisak dengan kedua tangannya mencengkram keras gelas berisi air hangat. Sedikit saja lebih kuat, bisa dipastikan gelas itu akan pecah.


“Bisakah kamu percaya padaku? aku bukan orang asing jahat seperti yang kamu pikirkan.” Dokter Smith menurunkan kedua tangannya dari bahu Kirana ke kedua lengan gadis itu.


Kirana mengangguk.


“Kaki kananmu patah. Besok aku akan membawamu ke rumah sakit untuk menerima perawatan yang lebih baik.”


Kirana melihat kaki kanannya. Ia mengangguk paham. Dokter Smith tersenyum lega.


“So, what’s your name?” tanya dokter Smith.


Kirana terdiam.


“Darimana kamu berasal dan bagaimana kamu bisa terluka parah dan terapung di tengah lautan?” lanjut dokter Smith.


Kirana kembali ketakutan dan tubuhnya menggigil.


“Nona? Kamu bisa mendengarku?” dokter Smith heran.


Wajah Kirana memucat. Kedua bola matanya bergerak cepat ke kanan dan ke kiri. Bibirnya gemetar.


“Baiklah. Aku tidak akan menanyakan identitasmu saat ini.”


“Dokter Smith...!!” Machita mendobrak pintu ruang periksa dokter Smith.


Seketika Kirana melonjak kaget sambil melemparkan gelas ke arah dokter Smith dan untung saja dokter Smith dengan tangkas menangkisnya, hingga gelas tersebut jatuh lalu pecah. Machita terpekik melihat gelas yang sempat melayang tersebut. Matanya terbelalak ketika melihat Kirana berada disana.


“Kami mencarimu ke seluruh pantai. Tak bisakah kamu mengerti, bagaimana khawatirnya mummy?” Machita mengomel kesal tanpa menghiraukan keadaan Kirana yang berdiri ketakutan di balik badan dokter Smith.

__ADS_1


“Aku bisa jelaskan Machita. Dia habis pingsan di tepi pantai, kondisinya tidak baik. Berbicara dan bersikaplah dengan tenang agar dia tidak ketakutan. Bawalah pulang dan rawat dia dengan baik. ”


Machita menghembuskan napas panjang.


“Sorry to bother you, ” katanya. Dokter Smith mengangguk.


Machita mengulurkan tangan dan berkata, “Let’s go home. Mummy akan cemas jika kita tidak segera kembali.”


Kirana mendongak menatap dokter Smith meminta pendapat yang kemudian dijawab pria itu dengan anggukan. Kirana menerima uluran tangan Machita. Gadis lima belas tahun tersebut memapah dan membantu Kirana berjalan menuju pondok kecil mereka.


***


Sesampainya di rumah, madam Joyce nyaris menjerit senang melihat Kirana kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja. Ia sangat cemas jika terjadi sesuatu dengan Kirana. Ia langsung memeluk dan mencium kedua pipi Kirana saat mereka tiba di depan pintu.


“Lihatlah bajumu, kamu pasti kedinginan. Kemarilah sayang, kamu harus ganti baju dan minum coklat panas.” Madam Joyce segera membuatkan coklat panas dan menyuruh Machita meminjamkan pakaiannya.


Kirana memakai pakaian rajut berlengan panjang dengan rok lebar berwarna jingga milik Machita. Pakaian Machita kebesaran untuknya. Karena cuaca sedang musim semi pada bulan Oktober, dan suhunya berkisar 18-22 derajat celcius, cukup dingin.


Ia meminum coklat panas dengan penuh nikmat. Perasaannya lebih rileks dan nyaman ketika meminum coklat tersebut.


Madam Joyce duduk menatap Kirana. Ia membawa sisir.


“Bolehkah aku menyisir rambutmu, my dear?” madam Joyce meminta ijin dengan sopan.


Kirana mengangguk pelan. Madam Joyce tersenyum, dengan lembut tangannya yang berbuku-buku menyisir rambut hitam legam Kirana yang setengah kering.


“Kamu punya rambut yang sangat cantik,” puji madam Joyce.


Ia mengikat jadi satu rambut lurus Kirana. Meski Kirana tak memakai alas bedak sekalipun dan luka-luka bekas kecelakaan masih kentara, setidaknya kini ia terlihat rapi, bersih dan cantik.


“Dia terlihat seperti orang Asia. Bagaimana kalau kami memanggilmu nona Asia?” goda Paulo. Madam Joyce memukul ringan lengan Paulo.


“Jangan menghina, dia pasti punya nama yang lebih cantik. Jangan memanggil dengan sebutan yang aneh,” cela madam Joyce. Paulo terkikik.


“Mum, ranjangnya sudah siap,” kata Machita.


“Okey, thank you, Darl. Kami tidak punya banyak ruangan, Machita akan berbagi kamar denganmu. Pergilah tidur,” ujar madam Joyce menyentuh pipi Kirana.


Machita membantu memapah Kirana menuju kamarnya. “Maaf. Tidak ada ruangan lebih disini. Ini kamar yang tidak bagus. Tapi aku nyaman berada disini.” Machita menepuk-nepuk bantal untuk Kirana. Kirana mengulum senyum tanda terima kasih. Baginya mendapat tempat tinggal saja sudah cukup bersyukur.


***


Angin laut memecah ombak yang bergulung-gulung menuju bibir pantai. Langit cukup cerah dan jutaan bintang tersebar bak permata yang jatuh berceceran di lantai dansa. Suhu udara pada pergantian waktu semakin meningkat.


Gelombang suara semakin terdengar jelas. Jarum jam yang berdetak mendominasi ruangan yang semakin senyap. Kirana dan Machita sama-sama terlelap dalam satu selimut tebal.


Bedanya, Machita sedang tidak bermimpi apapun, itu artinya ia dalam kondisi delta, yakni alam bawah sadar yang paling baik. Kualitas tidur yang berkualitas. Sebaliknya, Kirana diliputi bunga-bunga tidur yang menghiasi setiap jeda tarikan napasnya.


***


“Kirana, bisa kita bicara sebentar?” panggil Kezia di ruang kelas ketika Kirana sedang merapikan biola kecilnya.


Saat itu sedang jam istirahat makan siang, ketika kelas biola telah berakhir. Kirana akan menuju kantin menyusul kedua temannya, Erika dan Gisel.


Kirana mengikuti guru muda tersebut menuju kantor. Kezia duduk di tempatnya dan memberikan selembar kertas. Sebuah undangan dari kelompok musisi di Opera Sydney House.

__ADS_1


“Apa ini, Kak?” tanya Kirana terkejut setengah berbisik. Kezia tersenyum.


“Kamu masuk grup orkestra perwakilan Indonesia untuk tampil disana. Pentas musim semi. Kamu akan soloist disana,” jawab Kezia.


“A..apa? a..ku? masuk apa? jadi apa?” Kirana tergagap gugup masih tidak percaya.


“Iya Kirana. Mulai sekarang berlatihlah lebih baik lagi, karena kamu akan bernyanyi solo untuk kami disana.” Kezia menegaskan.


“Tapi, kenapa harus aku ? bukannya... Damar atau Sonya?” tanya Kirana, merasa dirinya masih belum mampu, tak sebanding dengan seniornya Damar dan Sonya yang telah tur keliling Eropa.


Ia masih syok bukan main. Kezia tersenyum mengerti.


“Sayangnya, mereka tidak bisa. Mereka mendapat undangan di New York.”


“Tapi..kakak yakin milih aku?”


“Disini, siapa lagi yang bernyanyi seriosa lebih baik selain mereka kecuali kamu?” tanya Kezia meyakinkan.


Kirana keluar dari kantor guru dengan wajah yang seolah dirinya berada dalam mimpi terindah yang pernah ada. Sejak hari itu, tidurnya sedikit tak tenang saking bahagianya menghitung hari hingga tiba hari pemberangkatan ke Sydney. Hari itu adalah kenyataan terindah dalam hidupnya yang kini hanya menjadi potongan mimpi di setiap malam dingin nan sepinya.


***


Kirana begitu ketakutan dan ia meremas tangan Kezia begitu kuat. Kezia sendiri merasa takut tapi ia lebih bisa menguasai diri dan mencoba menenangkan anak didiknya. Kezia berisiniatif mengambil baju pelampung yang berada di bawah kursi lalu memakaikan pada pada Kirana.


Keadaan pesawat tidak seperti yang diharapkan, sayap sebelah kanan menyemburkan percikan api. Tepat di sebelah Kezia dan Kirana duduk. Kezia menjerit kaget dan hal itu membuat penumpang lain semakin ketakutan. Kezia berusaha menenangkan rombongannya.


Namun semua itu sia-sia. Pesawat menukik tajam ke arah Samudera Hindia, kebakaran pada bagian sayap membuatnya terlepas dari badan pesawat dan itu memperburuk keadaan. Seorang pramugari senior menginstruksikan agar penumpang segera menuju jalur pintu evakuasi setelah ia mendapat perintah dari pilot, jika pesawat akan meledak.


Belum sempat para penumpang menuju jalur evakuasi, pesawat kehilangan keseimbangan sehingga sebelum jatuh ke laut dalam waktu sepuluh detik, ia sempat berotasi lima kali hingga orang-orang di dalamnya saling bertumpukan dengan barang dan tubuh-tubuh yang lain. Seketika Kirana tak sadarkan diri dan ia tak ingat lagi apa yang sedang terjadi sedangkan dirinya tersadar berada diatas samudra luas.


“Hhhh.....” Kirana terbangun dari mimpi buruk. Napasnya ngos-ngosan. Tubuhnya mengucur keringat dingin. Matanya sembab.


Machita menggeliat disebelahnya. Kirana melihat jam dinding. Pukul 3 pagi waktu setempat. Ia mengusap peluh di keningnya. Kirana kembali bersendekap. Ia kembali larut dalam ketakutan dan tubuh mengigil.


***


Pukul enam pagi Machita terbangun, ia merasakan ranjangnya terasa luas. Machita meraba-raba. Dia segera terbangun. Dilihatnya Kirana duduk bersendekap dipojok kamar. Machita mengerutkan kening.


“Heii... what are you doing here?” tanya Machita berjongkok. Kirana terisak ketakutan. Machita mendengus kesal. Ia keluar untuk mencuci muka.


“Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Dia selalu terlihat takut setiap waktu. Bagaimana jika kita bawa dia ke rumah sakit jiwa?” ujar Machita pada madam Joyce yang sedang membuat tortilla.


“Kau pikir dia gadis gila?” tanya madam Joyce terkejut. Ia berkacak pinggang padahal tangannya penuh tepung.


“Mungkin.”


“Ya Tuhan. Bagaimana bisa kau berpikiran seburuk itu? dengarkan aku, dia hanya trauma dengan sesuatu yang menimpanya. Mungkin saja ia korban kecelakaan atau turis yang hanyut saat berenang? kita tidak tahu. Tapi kita harus tetap merawatnya,” madam Joyce kembali pada adonan tortilla yang hampir selesai. Machita mendengus pasrah.


“Baiklah. Aku akan menemui dokter Smith. Dia kan dokternya,”ujar Machita sambil melirik ke arah kamar, dimana Kirana bersendekap di pojokan.


Seusai mandi, Machita bersiap pergi ke rumah dokter Smith. Madam Joyce telah selesai membuat beberapa lembar tortilla dan saus mole. Ia tengah menyiapkan Enchilada dengan isian nasi spanyol, daging serta keju.


“Hmm...yummy.” Machita mengendus nasi spanyol yang menyengat. “Aku pergi dulu, Mum. Mungkin dokter Smith juga mau sarapan dengan kita.” Machita meraih syalnya dan keluar dari pintu.


“Sebenarnya bukan dokter Smith yang ingin makan dengan kita, tapi dia yang ingin makan dengannya,” bisik Paulo sambil tersenyum pada madam Joyce. Madam Joyce hanya mengerutkan kening tak mengerti.

__ADS_1


***


__ADS_2