K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
42. Sacrifice


__ADS_3

Bu manager berjalan di sebelah Kirana menuju mobil yang telah terparkir. Bu Sita dan Citra berada di depan mereka sambil menenteng tas pakaian Kirana dan perlengkapan pribadinya.


Haikal terjebak macet di perempatan yang tinggal tujuh puluh meter dari hotel tempat Kirana menginap. Ia menepikan mobil memutuskan berhenti disana lalu berlari menuju hoteI.


Haikal berhenti di seberang jalan dimana hotel itu berada. Napasnya terengah-engah. Ia melihat Kirana memeluk bu manager sebelum masuk ke dalam mobil.


Jalanan begitu ramai lalu lalang kendaraan bermotor. "Kirana!!" teriak Haikal dari seberang jalan. Sayangnya Kirana telah masuk ke dalam mobil dan bu managerpun juga tak mendengarnya.


Tak sabar, Haikal segera menerobos lalu lalang kendaraan sambil berteriak memanggil Kirana. Seketika bu manager menoleh mendengar suara tersebut yang sedetik kemudikan disusul suara tabrakan.


Bu manager menjerit histeris karena ia tahu siapa orang yang tertabrak itu,


"Haikal!!"


Baik Kirana, bu Sita maupun Citra langsung menoleh.


“Ki...rana... Haikal...kecelakaan. Lihatlah...” bu manager terisak. Ia langsung berlari menuju kerumunan orang yang berusaha menyelamatkan Haikal.


Deg. Hatinya mencelos.


Lutut Kirana gemetar.


Kirana keluar mobil perlahan. Ia berjalan dengan langkah gontai sambil berharap cemas. Ia berharap korban kecelakaan itu bukanlah Haikal yang dikenalnya.


Tidak. Tidak boleh. Haikal yang dikenalnya tidak boleh terluka. Ia sudah melukai hati Haikal, maka pria itu tidak boleh terluka fisiknya.


Kirana meremas angin. Berusaha menguatkan diri. Dibelakangnya, Citra dan bu Sita menyusulnya.


Haikal tergeletak penuh lumuran darah.


Kirana menjerit tapi yang keluar adalah sebuah erangan suara aneh. Ia memeluk Haikal dan tak memperdulikan tubuh serta tangannya yang berlumuran darah.


Ia sudah begitu banyak kehilangan, ia tak mau lagi kehilangan tuk kesekian kalinya.


***


Sarah datang tergesa-gesa dengan linangan airmata dan amarah yang menyala dari matanya. PLAK.


Ia menampar keras Kirana.


"Sarah!” tegur Adit dengan nada tinggi. Sedangkan bu Anna dan Neny memekik keras kaget.


“Miss Cordelia..,” pekik Citra. Ia tak menyangka bertemu dengan senior sekaligus idolanya disini. Namun, ia lebih terkejut lagi karena model papan atas itu dengan lancang menampar kakaknya.


“Are you satisfied? Kamu senang sekarang melihat Haikal sekarat? Setelah kamu membunuh tunangannya dan sekarang kamu ingin membunuh dia?” Sarah berteriak marah.


Kirana memegangi pipinya. Airmatanya mengalir pelan. Bukan karena rasa sakit akibat tamparan keras itu, terlebih pada ia membenarkan perkataan Sarah. Bu Sita memegang pundak Kirana. Ia begitu marah melihat wanita muda di depannya yang bicara kasar dan kurang ajar.


“Sudahlah Sarah. Kamu jangan keterlaluan.” Adit memegang pundaknya dan Sarah menangkis kasar.


“Keterlaluan? Siapa yang keterlaluan disini? Bukankah orang tidak tahu diri ini telah merebut posisi tunangannya dan sekarang membuat Haikal berada disana?” Sarah menunjuk ruang operasi.


“Hentikan Sarah!” bu Anna berdiri. Sarah merasa tak terima.


“Cukup tante bilang! Jangan membuat keributan disini sedangkan Haikal sedang dalam kondisi krisis. Itu tak akan menyelesaikan masalah dan jangan menuduh atau menilai orang sembarangan kalau kamu tidak tahu apa-apa.”


“Apa tante?” Sarah tak mengerti sikap tantenya.

__ADS_1


“Tante tegaskan untuk kamu bersikap sopan dan baik kepada Kirana. Secara usia dia lebih tua dari kamu. Selain itu, apa yang kamu tuduhkan tidak ada yang benar. Tidak ada kasus pembunuhan disini termasuk kematian Kezia.” Bu Anna berbicara tegas sehingga membungkam mulut Sarah hingga ia tak sanggup membantah.


Sarah mendengus kesal. Ia berbalik dan pergi meninggalkan keluarganya.


***


Sudah lebih dari tiga hari Haikal koma setelah operasi. Ia telah dipindahkan ke kamar biasa dengan peralatan lengkap yang menempel di tubuhnya.


Kirana tak pernah pergi meninggalkan rumah sakit. Citra dan bu Sita memutuskan menetap sementara di Jakarta sampai semua urusan Kirana selesai. Bu Anna memaksa mereka untuk kembali menempati apartemen Haikal.


Bu Anna dan Neny secara bergiliran menjaga Haikal, meskipun telah ada Kirana yang menjaganya.


Kirana tak hentinya berdoa dan berharap agar Haikal segera sadar. Setiap pagi ia mengelap tangan dan wajah Haikal dengan air hangat agar terlihat segar. Kemudian, menyisir rambut pria yang dicintainya. Ia juga sering memijit kaki Haikal. Mengganti bunga di vas lalu meletakkan di dekat tempat tidur. Ia bak seorang istri yang penuh setia dan cinta merawar suaminya.


Untuk kesekian kali kebenciannya karena menjadi bisu ialah tidak bisa bercerita dan mengajak interaksi komunikasi dengan Haikal. Meskipun Haikal tak bisa melihat, berbicara ataupun bergerak, dokter mengatakan bahwa pasien koma, indera pendengarnya masih berfungsi baik.


Andaikan ia bisa berbicara, tiap hari akan menyemangati Haikal untuk segera bangun dan sembuh. Mengatakan isi hati bahwa ia betapa seluruh jiwanya hanya untuk Haikal, jika pria itu tidak bangun maka jiwanya serasa kosong dan rapuh bak sebatang ranting. Cinta yang begitu kuat merasuk ke dalam sumsum dan menyentuh kalbu.


Tengah malam Kirana telah tertidur pulas disamping Haikal. Tangannya memegang tangan Haikal. Tiba-tiba jari telunjuk Haikal bergerak diikuti dengan jari-jari yang lain dan juga kedutan mata. Neny sedang masuk ke dalam ketika ia menyadari melihat tanda-tanda Haikal tersadar. Segera ia membangunkan Kirana dan memanggil dokter.


Beberapa menit berselang, dokter memeriksa Haikal. Dengan senyuman heran dokter berkata, “Keadaannya semakin membaik. Sungguh luar biasa, dia sadar lebih cepat dari yang saya bayangkan. Mungkin inilah kekuatan cinta. Kalian boleh menjenguknya, tapi jangan terlalu banyak mengajaknya bicara. Dia butuh istirahat.”


Bu Anna dan Neny segera masuk menghambur kepada Haikal, disusul Kirana yang masuk dengan ragu-ragu ke dalam.


Haikal melihatnya datang dengan mata sembab.


Ia tersenyum lemah dan mengulurkan tangan. Bu Anna dan Neny menyingkir memberi ruang untuk Kirana yang berjalan mendekat.


Kirana membalas uluran tangan Haikal, yang terjadi adalah Haikal menarik kedalam pelukannya dalam waktu sekian detik.


Meskipun terkejut, seketika Kirana terisak. Ia membenamkan wajahnya pada bahu pria tersebut.


Bu Anna dan Neny saling menatap bahagia. Haikal mengelus rambut hitam legam Kirana dan mencium bau wanginya. Kirana tak ingin kehilangan orang yang dikasihinya lagi, begitupula Haikal. Mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama, hingga Haikal merasa sakit pada bagian punggung. Haikal memegang wajah Kirana.


“Kamu kurusan dan pucat. Udah makan?” tanya Haikal lirih. Kirana mengusap ujung-ujung matanya.


“Benar kata dokter. Inilah kekuatan cinta,” kata Neny. Mereka tertawa kecil mendengarnya.


“Asal kamu tahu Haikal, Kirana tak pernah jauh-jauh dari rumah sakit dan selalu merawat kamu tiap waktu. Usahanya tidak sia-sia, dan sekarang syukurlah kamu telah sadar dari koma,” lanjut Neny.


***


Sarah dan Adit berjalan menuju kamar VVIP 210, dimana Haikal dirawat. Dengan riang dan penuh semangat, Sarah membawa buah serta kue untuk belahan jiwanya. Ia juga telah berdandan cantik.


Kirana sedang menyuapi Haikal dengan bubur ketika Sarah akan membuka pintu. Wajah Kirana sama berserinya dengan Sarah. Ia merawat Haikal dengan tulus dan penuh kasih sayang. Haikal menolak dua suapan terakhir. Ia merasa kenyang. Tapi Kirana terus memaksa dan membujuk.


Haikal menghentikan tangan Kirana yang memegang sendok. Ia menatap wajah Kirana lekat-lekat. Tanpa ragu, Haikal sedikit menundukkan kepalanya hingga bibirnya bersentuhan lekat dengan bibir Kirana.


Sarah mengintip di balik pintu dengan tangan mengepal. Dadanya bergejolak penuh amarah dan kecemburuan. Adit langsung menarik pergi menjauh dari kamar. Sarah tak terima, ia meronta. Ia ingin mendobrak masuk dan mengakhiri kemesraan mereka berdua, tapi Adit terus saja menggengam erat pergelangan tangannya.


Adit telah sampai di taman rumah sakit. Ia pun melepaskan tangan Sarah. Sarah ingin kembali masuk ke dalam gedung, namun Adit langsung mendekapnya. Sarah menepuk dada Adit kesal dan marah. Tak berapa lama kemudian buliran bening meluncur deras di kedua pipi model Internasional itu.


Ia terisak.


Tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga untuk kabur dari Adit atau mengobrak-abrik kamar VVIP 210.


Sarah lelah.

__ADS_1


Kedua tangannya justru membalas pelukan erat Adit dan ia menumpahkan sisa hari itu kepada rekan kerjanya.


***


Sarah menerawang jauh melihat foto masa kecil dirinya dengan Haikal sewaktu di menara Eiffel. Ia menelusuri jejak kenangan masa indah di kota cinta itu.


Sarah tersenyum kelu.


Ia merasa bodoh dan begitu lugu. Ia tersadar, sampai kapanpun tak akan bisa mendapatkan hati dan cinta Haikal. Cinta sepihak selama belasan tahun itu kini telah berada diujung tanduk.


Sarah menghembuskan napas panjang tanda bendera putih. Ya, ia menyerah. Dan cinta tak harus saling membalas bukan? Cinta tak harus saling memiliki. Hubungan sederhana antara Haikal dan Kirana hanya dalam beberapa bulan telah melahirkan sebuah cinta luar biasa.


Sarah segera mengemasi barang-barangnya menuju bandara. Hari ini dia akan menemani Citra menuju Bangkok untuk ikut kompetisi COSEAM selanjutnya.


***


Bandara Soekarno-Hatta terlihat ramai. Sarah memakai kacamata hitam untuk menyamarkan dirinya. Haikal sedang mengantar Sarah di bandara dan mereka nampak sedang menunggu seseorang. Dari kejauhan, Kirana berjalan bersama Citra dan mamanya menuju ke arah Sarah. Haikal melambaikan tangan menyapa mereka di kejauan.


“Pantas... aku seperti melihat Kirana dalam diri Citra. Aku merasa mereka sangat mirip. Ternyata...” gumam Sarah dengan senyum samar-samar ketika melihat rombongan kecil itu mendekat.


Haikal mencium punggung tangan bu Sita lalu menyalami Citra setelah memeluk dan mengecup hangat kening Kirana.


“Ah, sepertinya kita sudah harus check-in,” ujar Sarah sambil melihat arloji yang disepuh emas melingkar indah di pergelangan tangannya.


Citra memeluk mama dan kakaknya. Lima tahun lalu, ia dan keluarganya mengantar Kirana pergi untuk meraih mimpi, kini gilirannya yang akan menjelajah dunia dan menorehkan prestasi.


Ia berharap tidak ada kejadian buruk menimpanya dalam penerbangan ini. Citra menghapus ujung-ujung kedua matanya. Begitu juga Kirana dan mamanya yang sama-sama terisak. Mereka baru beberapa dua minggu bersatu, namun kini harus berpisah lagi.


Haikal memeluk Sarah secara singkat, dan Kirana memeluk erat Sarah sambil mencium pipi kanan dan kiri. Hubungan mereka bertiga menjadi lebih hangat beberapa hari terakhir.


“Terima kasih karena selalu disisi Haikal. Jaga sepupuku ini ya,” pesan Sarah ditujukan pada Kirana.


Haikal mengucek rambut model cantik itu dengan gemas. Sarah menjerit ringan dan mengelak rambutnya yang dibuat berantakan oleh Haikal. Mereka semua tertawa geli.


“Sarah...” panggil Adit dari jarak lima langkah dari Sarah.


Adit membawa koper besar dan tas ransel. Sarah mengerutkan kening. Adit melangkah maju.


“Aku akan ikut kamu ke Bangkok,” kata Adit. Sarah membelalakkan mata tak percaya.


“Really? Kenapa begitu mendadak?” tanya Sarah heran. Ia yakin bahwa asistennya di Bangkok nanti ialah orang Thailand dan bukan Adit.


“Because.... I love you,” jawab Adit. Haikal dan Kirana saling menatap syok namun diiringi senyum takjub.


Sarah menelan ludah. Ia grogi dan salah tingkah.


“A..pa yang akan kamu lakukan di Bangkok? Bukan..kah kontrak kerja kamu Cuma sampai akhir final Coseam Indonesia?” Sarah mengalihkan pembicaraan dengan tergagap.


Adit tersenyum.


“Sepertinya aku lupa bilang kalau mamaku salah satu pendiri Coseam International. Aku disini dalam misi rahasia memantau jalannya Coseam di Indonesia. Aku juga merupakan promotor dari Diamond Firm. Apa salahnya jika aku berada dalam acara Coseam di Bangkok?” ujar Adit membuat Sarah, Kirana, Citra dan Haikal terkejut.


“Jadi..selama ini Sarah telah memperlakukan seorang anak pendiri Coseam dan bos Diamond Firm sebagai asisten pribadi?” celetuk Haikal.


Sarah menyikut rusuk sepupunya. Wajah Sarah merona merah.


“Sorry...” ucap Sarah setengah berbisik.

__ADS_1


Sarah sangat malu dan tak sanggup menatap wajah Adit yang ternyata CEO perusahaan perhiasan berkelas. Adit malah langsung memeluk dan mencubit pipi model itu yang membuat Sarah secara reflek memukul manja lengan Adit.


__ADS_2