K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
13. Maroon’s Family


__ADS_3

Malam hari dokter Smith ikut makan malam dengan keluarga Maroon. Pria dengan wajah bercak kecoklatan di wajahnya itu ingin bicara serius dengan madam Joyce.


Machita terlihat sangat senang ketika membuka pintu untuknya. Bahkan gadis lima belas tahun tersebut menyiapkan sup kacang dengan mangkok kesayangannya untuk dokter Smith. Paulo bersiul sambil mendendangkan lagu Bryan Adam yang berjudul “when you love someone”.


Machita berulang kali melotot ke arah Paulo mengisyaratkan adiknya untuk diam. Sedangkan madam Joyce masih berkutat dengan ikan bakarnya.


Kirana tak selera untuk makan meski ia lapar. Dia hanya duduk bersendekap diatas ranjang melihat laut dan bintang-bintang di balik jendela kamar Machita.


Bulan sedang tertutup awan. Redup.


Ombak yang saling berkejaran masih terdengar nyaring. Angin menampar jendela kamar berkayu oak yang terbuka lebar.


Kirana menggigit bibir bawah. Hatinya terasa ngilu. Ia benar-benar putus asa!


“Kamu tidak makan?” tegur Machita mengobrak-abrik segala pikiran kosongnya. Kirana menggeleng.


“Jangan khawatir, dia bisa makan nanti. Aku harus bicara dengan kalian, biarkan dia istirahat,” seru dokter Smith dari arah ruang makan.


“Apa sesuatu yang buruk menimpanya?” tanya madam Joyce dengan lirih.


Dokter Smith menarik napas panjang dan menghembuskannya. Ia sebenarnya tak ingin merusak makan malam hangat di rumah keluarga Maroon.


“Pita suaranya bermasalah jadi ia tidak bisa bicara untuk waktu yang lama. Dia sangat sedih, dan ia kehilangan ingatan. Dia tidak ingat siapa dirinya, darimana asalnya dan segala sesuatu tentangnya. Dia terlihat trauma dan menyedihkan.” dokter Smith menjelaskan.


Semua nampak tegang mendengar penjelasan dokter Smith. Bahkan ketika Machita kembali ke tempat duduknya, ia hanya sanggup bengong setelah mendengarnya.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Paulo setelah terdiam cukup lama.


“Itulah yang ingin aku bicarakan pada kalian. Apa yang harus kita lakukan? sementara dia tidak punya identitas dan kita tidak tahu siapa dia. Jika dia tinggal terlalu lama disini, dia bisa menjadi imigran ilegal. Polisi akan kembali mengincarnya. Tapi, kita tidak bisa membawanya pergi begitu saja, melihat kondisinya dan kita tak punya petunjuk tentang keluarganya maupun tempat tinggalnya,” ungkap dokter Smith. mereka manggut-manggut paham.


“Jangan membesarkan masalah. Dia bisa tinggal disini selama dia mau dan sampai ingatannya kembali dan sembuh. Aku akan merawatnya. Dia bisa jadi bagian dari keluarga ini,” kata madam Joyce. Semua menoleh ke arahnya takjub.


“Dia bisa jadi saudara yang sekamar denganku. Kenapa tidak dia jadi keluarga kita?” celetuk Machita.


Secercah kehidupan baru bersinar mengarah ke kehidupan Kirana. Madam Joyce tersenyum haru dan bangga mendengar Machita sangat baik hati.


“Aku akan menelpon ayah, mengatakan padanya bahwa gadis yang ditemukannya akan menjadi keluarga Maroon,” sahut Paulo penuh semangat.


Dokter Smith tersenyum senang, ia melihat banyak kebaikan dikeluarga Maroon. Mereka mengangguk-angguk setuju. Namun, masalah sebenarnya tidak berhenti disitu. Dokter Smith tidak ingin menghancurkan kebahagiaan dan semangat mengasihi keluarga Maroon terhadap si gadis.

__ADS_1


Ia, paman Thomson, Mr. Bruce dan madam Joyce akan membicarakan kelanjutan masalah kependudukan gadis itu nanti secara terpisah.


Kirana mendengar pembicaran mereka yang menggebu-gebu, ia berjalan menuju dapur menghampiri mereka dengan tertatih-tatih.


Kirana memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Maroon dan pergi ke tempat yang ia sendiri belum tentukan.


“Oh, my dear come here. Kami punya kejutan untukmu.” Madam Joyce menuntun Kirana untuk duduk.


“Sampai kamu mendapatkan ingatanmu kembali, kamu bisa tinggal disini selama kamu mau, dan kamu bisa menjadi keluarga kami. Tinggallah disini, jika kamu tidak tahu kemana kamu akan pergi. Aku akan merawatmu seperti anakku sendiri,” kata madam Joyce dengan mata berbinar-binar memegang tangan Kirana.


Kirana tertegun dan ia melihat wajah tulus madam Joyce, Paulo, Machita dan senyum anggukan dari dokter Smith. Matanya berkaca-kaca. Ia menunduk terisak.


“Kenapa menangis, Nak? Apakah kamu tidak suka tinggal bersama kami?” tanya madam Joyce sambil mengelus rambut Kirana.


Kirana menggeleng. Ia menatap semua orang dan berusaha untuk berbicara.


“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya dokter Smith.


Machita segera masuk kamar, tak lebih dari semenit kembali membawa kertas dan pensil.


“Tulis saja,” kata Machita.


“Aku tidak tahu harus berkata apa, kalian begitu baik. Aku bingung bagaimana membalas kebaikan hati kalian."


“Tidak ada yang perlu dibalas. Kami senang kamu ada disini.” Ujar madam Joyce.


“Jadi, kamu akan tinggal disini, kan? Kau telah menjadi keluarga Maroon,” sahut Paulo bersemangat.


Kirana menghapus ujung-ujung matanya. Ia pun mengangguk. Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar dari Machita dan Paulo. Madam Joyce memeluk erat serta mencium kening Kirana lalu menyalaminya.


Tak ketinggalan Paulo dan Machita juga melakukan hal yang sama. Dokter Smith menatap haru mereka, ia turut bahagia. Kirana menatap dokter Smith berterima kasih atas bantuannya selama ini. Dokter Smith mendekati Kirana. Ia mengulurkan tangan mengucapkan selamat. Kirana membalas uluran tangan tersebut.


“Wait a minute. Kau belum punya nama. Bagaimana kami akan memanggilmu?” tanya Machita.


“Aku bilang panggil saja miss Asian,” kata Paulo. Madam Joyce mendelik pada Paulo.


“Miss Asian? Itu nama yang aku daftarkan di rumah sakit,” ujar dokter Smith menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Lihat! Dokter Smith saja merasa cocok dengan nama itu,” Paulo memaksa.

__ADS_1


“Tapi...itu tidak terlihat nama yang bagus. Lebih cenderung sebuah benua.” Madam Joyce ragu-ragu.


“Ini jelas berbeda. Dia lebih cocok dengan nama itu, karena wajahnya orang Asia. Kita tidak bisa memberi sembarangan nama, terutama dia tidak punya identitas. Ini nama umum,” papar Paulo ngeyel.


“Lagipula pada pihak polisi aku sudah memberikan nama Asian Pongthananikorn. Kenalan Thom, pegawai asuransi kapal pesiar itu, juga memberikan nama A. Pongthananikorn. Aku tidak tahu inisial A dan P tersebut. Aku hanya asal menyebutkan,” dokter Smith terkekeh.


“Kau bahkan memikirkan nama yang sangat cocok untuknya. Tapi.. tunggu sebentar, sepertinya Preechaya Pongtha.. apalah itu. Aku seperti pernah mendengarnya.” Paulo nampak berpikir.


Dokter Smith tertawa, namun ia tak ingin membahas lebih jauh tentang artis idolanya itu.


“Kenapa kita tidak bertanya dengannya? dia berhak memilih sebuah nama,” sela Machita.


Kirana tersenyum geli dengan keluarga barunya yang ribut dengan sebuah nama.


Kirana menulis sesuatu.


“ASIAN, Kalian bisa memangilku miss Asia saja daripada susah mengeja dua nama belakang yang terlalu rumit itu,” Machita mengeja dan semua orang tersenyum mendengarnya.


“Yeah, miss Asian. I like that,” gumamnya.


Miss Asia Pongthananikorn atau disapa nona Asia, yang dianggap kewarganegaraan Thailand telah terlahir dan memulai kehidupan baru.


Sebaliknya nama Kirana Badar berkewarganegaraan Indonesia telah menghilang dan lenyap bersama dengan tenggelamnya pesawat Kencana Air RQ30144.


“Apa kau punya instagram?” tanya Machita penuh semangat.


“Dia kan hilang ingatan, tentu saja lupa. Nanti kita buatkan,” sahut Paulo. Miss Asia hanya tersenyum menanggapi polah semangat saudara barunya.


***


Enam bulan berselang sejak ditemukannya miss Asia oleh Mr. Bruce Maroon dan menjadi bagian keluarga Maroon. Selama itu pula dua polisi yang pernah menginterogasi mereka selalu mengawasi gerak-gerik keluarga Maroon, khususnya miss Asian.


Tidak ada yang lebih membuat tertarik kedua polisi tersebut selain mengusut kasus keberadaan gadis Asia itu. Mereka heran dengan laporan asuransi kapal pesiar yang mengalami kecelakaan itu. Nama gadis itu memang ada, tapi tidak diawali dengan Asian. Sungguh aneh.


Pihak kepolisian tidak bisa meminta data lebih jauh kepada pihak asuransi jika tanpa surat resmi dari pengadilan. Balasan melalui email dan fax dari pihak asuransi di Swiss cenderung lamban. Sedangkan kedua polisi itu tidak mungkin bolak-balik ke perusahaan asuransi di Swiss untuk sekedar melakukan investigasi.


Dokter Smith dan keluarga Maroon, segera mengurus dokumen palsu untuk miss Asia sebulan setelahnya. Paspor baru yang dikeluarkan oleh pihak pemerintah Thailand.


Kenalan paman Thomson dari berbagai kalangan. Ia memiliki koneksi sindikat pembuat dokumen palsu. Paspor aspal atau asli tapi palsu itu seharga 500 dolar Australia dan dokter Smith yang mengeluarkan untuk semua itu.

__ADS_1


Lalu, tiga bulan kemudian mengajukan visa sebagai turis setelah memiliki visa, para polisi itu hanya berani memantau dari jauh. Pernah suatu kali mereka berkunjung ke bar milik paman Thomson dan sedikit menginterogasi pria tua tersebut.


Paman Thomson yang banyak belajar dari mafia-mafia dan sindikat jaringan perdagangan barang ilegal serta dokumen palsu kenalannya, ia bisa mengelabui kedua polisi polos dan jujur itu. Tentu saja, paman Thomson pastinya berpihak dan membela miss Asian.


__ADS_2