K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
39. Takdir Yang Aneh


__ADS_3

“Tante....” Sarah menyapa bu Anna yang sedang merangkai bunga.


“Hai darling. Apa kabar? Kapan kembali ke New York?”


“Baik. Emm, beberapa bulan lagi maybe. Kok sepi?”


“Iya. Kamu tidak ada acara?”


“Tidak. Tante, berapa lama Haikal kenal dengan Kirana?” tanya Sarah.


“Baru beberapa bulan. Malah tante yang kenal dia lebih dulu,”


“Oh ya?” Sarah tertarik.


“Iya.. dulu entah dia datang darimana, tiba-tiba melamar kerja di restauran. Sebelumnya pernah di tolak oleh manager Siska, kebetulan tante melihatnya dan merasa kasihan. Jadi, dia bekerja di restauran membantu chef di dapur. Tapi kemudian dia punya bakat lain, yaitu bermain piano. Dan akhirnya dia menjadi pianis disana. Lalu Kirana menjadi guru les piano Niko dan kemudian mereka saling kenal. Ah, tante lupa.” Bu Anna tersenyum.


“Bagaimana... mereka bisa pacaran?”


“Awalnya Haikal bersikap dingin, pada semua wanita tentunya. Karena mereka sering bertemu, mungkin hati Haikal kembali membuka. Tante sudah lama tidak melihat senyum bahagia Haikal setelah sekian lama. Dan itu semua berkat Kirana.”


Sarah merasa iri dan dongkol. “Dan tante menyetujui hubungan mereka begitu saja padahal kalian tidak tahu asal-usul Kirana?”


Bu Anna menoleh dan berhenti merangkai bunga. Ia meletakkan gunting, mendekati Sarah.


“Awalnya tante kurang setuju. Entahlah, mungkin seorang ibu menginginkan anak lelakinya dengan gadis normal atau yang sederajat. Tapi, lama-lama tante sadar bahwa tante sudah sangat bahagia melihat ada sinar hidup dari mata Haikal yang selama ini redup. Meskipun itu dari gadis yang miskin sekalipun. Lagipula tante percaya, Kirana adalah anak baik-baik. Ia sederhana, pintar, cantik, baik hati. Dan satu lagi, intuisi seorang ibu pada kekasih putranya tak akan salah. Jadi, tante rasa, Kirana bisa menjadi pendamping yang baik untuk Haikal.”


“Tapi... dia bisu tante.”


“Hahah....” bu Anna tertawa kecil. “Tante peduli dengan orang-orang seperti itu. Dan apa salahnya kalau dia bisu tapi bisa membahagiakan anak tante? Dengar sayang, dibalik kekurangan seseorang mereka memiliki kelebihan. Jangan hanya melihat dari kecacatan fisiknya saja, yang terpenting lihatlah kedalaman hatinya.”


Sarah mendengus kesal. Ia tak menyangka tantenya begitu baik hati atau lebih terlalu naif, pikir Sarah. Dan ia semakin membenci Kirana karena mendapat dukungan dari keluarga Haikal.


***


Pesta menyambut kedatangan suami Neny digelar dengan ramai dan meriah. Pesta itu lebih tepat disebut sebagai syukuran atas kenaikan jabatan suami Neny, yang awalnya asisten manager menjadi Direktur Personalia.


Bu manager datang bersama dengan Kirana. Ia telah mengajak Kirana ke salon selama berjam-jam lamanya. Kirana memakai gaun organdi biru pastel dengan aplikasi payet pada bagian bahu dan pinggang serta rok dalam sequined. Ia mengenakan pointy pump shoes berwarna putih setinggi tujuh senti, senada dengan dompet kecil yang dipegang. Rambutnya di blow dan dengan penuh percaya diri ia mengenakan kalung perak nada kunci G sebagai bandulnya. Ia sempurna dengan riasan natural namun tetap elegan dan memesona.


Untuk beberapa detik, Haikal kembali terpana melihat Kirana. Pipi Kirana merona merah jambu dan lesung di pipinya nampak jelas saat ia tersenyum. Akan tetapi, Haikal sedikit heran karena ia merasa tak asing dengan kalung yang dikenakan Kirana.


Ia mengerutkan kening mencoba mengingat.


“Cantik, Kan?” tanya bu manager secara bangga pada Haikal.


Haikal tersentak kaget dan kemudian mengangguk menyauti bu manager. Bu manager berpuas diri, ia senang membuat Kirana secantik bidadari. Acara belum di mulai. Dan Niko tengah bersiap untuk menunjukkan kepiawaiannya bermain piano. Sarah datang bersama Adit, tetap saja ia menjadi pusat perhatian semua orang.


Ia memakai dress panjang yang menyapu lantai bermaterial mengkilap dengan aksesori sepatu dan clutch detail swarovski yang nampak mewah dan berkelas. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dan kepopuleran Sarah, mungkin hanya satu orang, yaitu Kirana yang lebih mencuri perhatian Haikal.


“Bagaimana kabarmu?” sapa Sarah pada Kirana. Kirana mengangguk.


Sarah tersenyum geli, gadis bisu dihadapannya bahkan tak sebanding dengannya. Percuma saja mengobrol dengan orang yang tidak bisa bicara. Seorang pelayan membawa nampan berisi minuman sedang lewat, dan Sarah mengambil dua gelas. Salah satunya ia sodorkan pada Kirana. Pikiran picik mulai terlintas dalam benak Sarah. Ia tersenyum licik dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minuman pada gaun Kirana.


Kirana terpekik.


“I’m sorry. Tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?” Sarah membantu membersihkan tumpahan minuman.


“Ada apa ini?” tanya Neny.


“Oh, ini semua salahku, Kak. Aku tadi tidak sengaja. Lihat baju cantik Kirana jadi basah.”


Neny menatap curiga dari perkataan Sarah. Ia menghembuskan napas pendek.


“Ya sudah, aku ambilkan baju ganti dulu buat kamu Kirana.” Neny pergi dan tak lama kemudian memberikan gaun miliknya.


“Mama.... ayoo!” teriak Niko.


“Maaf ya, aku gak bisa nemani kamu ganti baju.”

__ADS_1


“Ah, biar aku saja yang antar,” sahut Sarah. Neny meninggalkan mereka berdua, dan sedangkan Sarah menggiring Kirana ke depan pintu yang berdekatan dengan kamar Haikal.


“Kamu bisa ganti di dalam. Aku akan jaga diluar,” kata Sarah menyuruh Kirana masuk ke ruangan yang tak begitu luas.


Kirana menyalakan lampu karena gelap. Ruangan tersebut nampak jarang digunakan, terlihat debu tebal dimana-mana. Ada lemari besar yang berisi buku-buku, meja dan kursi, lalu sebuah patung tak berkepala dengan gaun kebaya-eropa berwarna hijau toska dan coklat.


Kirana terpana melihat gaun yang begitu memesona. Sangat indah dan luar biasa mengagumkan, hingga yang melihat pasti ingin memakainya. Gelimangan permata yang dipayet berpendar menyilaukan mata.


Kirana tak fokus untuk berganti pakaian. Ia tertarik dengan gaun tersebut dengan penuh takjub kekaguman. Jemarinya menyusuri detail gaun, sekedar memuaskan rasa ingin tahu dan kenikmatan menyentuh barang terindah yang belum pernah dilihatnya.


Perhatiannya teralihkan pada sebuah meja kerja. Ada sebuah sketsa rumah berlantai dua dengan perpaduan gaya Belanda-Jogja. Di sisi atas terdapat tanggal 12 Juli 2010, rumah impian kami. H&K.


Kirana mengerutkan kening, menebak-nebak inisial tersebut.


Lalu ia membuka bingkai foto berukuraan mini yang dalam keadaan terbalik. Tangan Kirana gemetar dengan mata terbelalak. Ia menggelengkan kepala tidak percaya. Itu adalah foto Kezia, guru musiknya, dengan Haikal.


Mereka bergandengan tangan mesra.


Kirana jatuh tersungkur dan gaun pinjaman Neny lepas dari tangannya. Tubuhnya menggigil. Ingatannya kembali berputar cepat, disaat detik-detik sebelum jatuhnya pesawat. Kezia sempat menunjukkan foto prewed dengan seorang pria, yang kini adalah kekasihnya.


Inisial pada sketsa rumah impian itu adalah Haikal&Kezia, dan itu sebenarnya rumah yang akan mereka tempati setelah menikah. Airmata kembali meleleh hangat menuju pipinya.


Sarah tak mempedulikan Kirana di dalam dan berpuas diri mendengar isak tangis gadis bisu tersebut. Ia segera mendatangi Haikal yang celingukan. Ia tahu bahwa ruang kerja Haikal tidak boleh dimasuki oleh siapapun semenjak kematian Kezia.


“Kamu tahu dimana Kirana?” tanya Haikal. Sarah mengangkat bahu.


“Sepertinya aku lihat dia masuk ruang kerja kamu,” jawabnya setengah ragu.


Haikal segera masuk ke dalam dan membuka ruang kerjanya. Ia memang tidak suka siapapun masuk ruang kerjanya, tapi saat itu Haikal lebih heran dengan Kirana yang berada disana.


“Kirana?” tegur Haikal kaget melihatnya bersendekap sambil memegang benda berbentuk persegi.


Haikal mendekat.


“Ada apa?” tanyanya. Ia berjongkok dan cemas melihat kondisi Kirana yang terisak. Tubuh Kirana dibanjiri keringat dingin, bibirnya memucat, dan napasnya terengah-engah.


Kirana menatap wajah Haikal. Ia bisa merasakan cinta, kasih sayang dan rasa aman. Akan tetapi hatinya terusik dengan rasa bersalah luar biasa. Ia menunjukkan bingkai foto tersebut. Haikal semakin tak mengerti. Kirana menunjuk Kezia.


“Dia... adalah guru musikku di Blume Musical School, Kezia.” Haikal mengeja gerakan tangan Kirana.


“Saat itu, aku satu pesawat dengannya. Dan dia menemaniku pergi ke Sydney, padahal itu bukan tugasnya. Aku satu-satunya korban selamat kecelakaan pesawat Kencana Air dari ratusan penumpang. Dan Kezia meninggal sedangkan aku masih hidup. Maaf.”


Haikal menelan ludah. Serasa petir yang menyambar di musim kemarau, ia tak menyangka bahwa dunia begitu sempit. Haikal berdiri mematung.


“Jadi.... murid yang selalu dibanggakan Kezy, murid yang dianggap adiknya, dan dia rela menunda pernikahan menjadi beberapa bulan kemudian demi menemani penyanyi solo itu.... adalah kamu?” Haikal bertanya dengan nada bergetar. Kirana mengangguk.


***


Untuk beberapa menit lamanya, hening terasa. Otak Haikal sudah tak sanggup berpikir.


Haikal melirik bandul kalung yang tergantung di leher Kirana.


“Bahkan di Belanda, dia sempat membeli kalung kembar. Dan salah satunya kamu pakai saat ini,” lirih Haikal terasa lemas tak berdaya.


Kirana berdiri, tapi tak sanggup menatap Haikal. Ia mengulurkan tangan dan meminta maaf. Haikal mengacuhkan.


“Pergilah!” kata Haikal dingin. Kirana sesenggukan dengan ragu-ragu mendongak ke arah Haikal.


“PERGI AKU BILANG!” bentak Haikal hingga membuat Kirana tersentak kaget.


Suara Haikal sampai terdengar di luar ruangan. Beberapa tamu, termasuk keluarga bu Anna sampai menoleh ke arah sumber suara. Bu Anna berjalan curiga menuju ruang kerja Haikal. Kirana melangkah gontai. Ia merasa sangat bersalah.


“A..da apa?” bu Anna terkejut melihat kondisi Kirana yang tak karuan. “Kamu kenapa sayang? Haikal apa yang sebenarnya terjadi?”


Kirana melanjutkan berjalan keluar ruang kerja tanpa menjawab pertanyaan bu Anna. Dan para tamu berdiri mematung melihatnya keluar.


Tiba-tiba rombongan wartawan dari berbagai media massa masuk beramai-ramai ke dalam rumah bu Anna. Mereka tak menghiraukan adanya pesta dan para tamu undangan. Para wartawan itu seolah sedang mencari mangsa karena kelaparan yang teramat sangat. Saat Kirana menuju ruang utama pesta, para wartawan segera mengambil fotonya dan mengerubunginya sambil mencecar berbagai pertanyaan.

__ADS_1


“Benarkah anda salah satu korban selamat pesawat Kencana Air RQ30144 yang menuju ke Sydney?” tanya salah satu wartawan perempuan menyodorkan alat rekam berukuran telapak tangan orang dewasa.


“Bagaimana anda bisa selamat?” sahut yang lain.


“Apakah benar anda mengelabui pihak asuransi dan maskapai Kencana Air demi mendapatkan asuransi?”


Kirana seketika syok dengan semua orang yang ada dihadapannya. Ia diam saja,sedangkan airmata kesedihan akibat pertengkaran dengan Haikal masih belum kering. Ia tentu kebingungan dan tidak bisa menjawab sepatah katapun.


“Kenapa anda diam?”


Keluarga bu Anna hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa berkomentar. Di sudut lain, Sarah sedang melipat lengan dengan punggung tersandar di dinding. Ia tersenyum tipis, puas dan penuh kemenangan.


Untung saja bu manager yang mulai menyadari situasi, segera menghampiri dan menghadang para wartawan dari Kirana. Ia merangkul bahu Kirana dan memapah gadis itu berjalan keluar dari rumah bu Anna.


Satpam rumah juga berhasil membantu Kirana dan bu manager meloloskan diri dari wartawan yang haus informasi. Bu manager segera melajukan mobilnya dengan kencang.


Di dalam mobil Kirana kembali melanjutkan isak tangisnya dan bu manager duduk membisu sambil fokus menyetir.


Setelah sampai di depan apartemen Haikal, ternyata terdapat tiga mobil berita dari stasiun televisi yang berbeda dan beberapa orang yang seperti menunggu di depan apartemen.


“Mereka benar-benar pekerja keras.” Bu manager menggelengkan kepala sambil mendengus.


Iapun memutar balik mobilnya dan membawa Kirana ke tempat lain.


Kirana masih mematung. Tatapan matanya menerawang jauh.


“Baiklah. Saya bawa kamu ke hotel saja ya,” usul bu manager. Kirana menoleh. “Tenang saja, hotel itu milik suamiku. Saya bisa memastikan keselamatan dan privasimu dengan baik. Yah, hotelnya tidak terlalu mewah cuma bintang dua, tapi setidaknya saya tidak akan membiarkan mereka mengintimidasi atau mengganggumu, Nak,” ujar bu manager tersenyum.


***


“Apa yang sebenarnya terjadi, Kirana?” bu manager mengulang pertanyaannya.


Ia memegang tangan Kirana secara keibuan meski usianya hanya terpaut sepuluh tahun lebih tua. Mereka sedang minum teh panas yang disajikan pelayan. “Anggap saja ibumu. Kita sudah sangat dekat. Kamu bisa cerita apa saja dan saya akan menjadi pendengar yang baik.”


Kirana berdiri. Ia mengambil sebuah pena dan notes yang disediakan hotel. Bu manager memperbaiki posisi duduknya. Ia nampak semangat dan antusias. Awalnya, Kirana hanya menatap kosong lembaran pertama notes tersebut. Butuh waktu yang cukup lama bagi bu manager menunggunya.


Kiranapun mulai menulis, bercerita segalanya pada notes tersebut seolah itu adalah sebuah diary.


Mata bu manager berkaca-kaca membaca belasan lembar notes yang telah ditulis Kirana. Ia menelan ludah dan meletakkan kembali notes diatas meja.


“Menurut saya, kamu.... tidak bersalah. Dan tidak ada alasan untuk menyalahkan diri,” komentar pertama yang keluar dari mulut bu manager. Kirana mendongak penuh tanda tanya.


“Siapapun di dunia ini tidak ada yang ingin celaka, bahkan sampai meninggal dalam kecelakaan. Siapa yang bisa menentang takdir Tuhan? Kamu bukan orang yang harus merasa bertanggung jawab apalagi bersalah atas kematian tunangan Haikal. Dia sendiri yang memutuskan pergi menemani kamu ke Sydney. Bukan berarti saya menyalahkan tunangan Haikal, tapi tidak ada yang patut dipersalahkan dalam kecelakaan itu. Kecelakaan tetaplah kecelakaan dan itu adalah musibah. Tidak ada pembunuhan.” Ujarnya menggebu-gebu.


Ia mengehela napas sebentar lalu melanjutkan, “Jangan hidup di masa lalu. Kamu dan Haikal hidup di masa kini yaitu dimana kalian saling mencintai serta menyayangi. Kalian punya masa depan yang harus dijalani. Saat ini, mungkin Haikal hanya merasa shock dan bingung saja. Nanti dia juga akan kembali sama kamu. kamu harus bersabar ya, dan jangan menyerah.” Bu manager mengelus pundak Kirana.


Ia melihat jam tangan, ternyata sudah larut malam. Bu manager berpamitan untuk pulang ke rumah. Dia berjanji besok pagi akan mengunjungi Kirana.


Kirana tak bisa tidur malam itu. Ia berjalan menuju balkon. Lampu-lampu jalan serta lampu gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti bintang di pesisir lembah. Malam hari di kota Jakarta adalah malam penuh warna. Kirana menelisik tiap-tiap lampu sambil menebak ragu bahwa salah satu cahaya itu adalah rumah Haikal.


***


“Tidak disangka, ternyata Kirana adalah murid Kezia. Dan bisa saja kita anggap, Kirana adalah penyebab kematian Kezia, bukan begitu?” cerocos Sarah berpuas diri rencananya berhasil dengan mudah.


Ia duduk di ruang keluarga bersama dengan Haikal, Neny, bu Anna serta Adit yang sedang terdiam mendengar penjelasan Haikal. Acara pesta diakhiri lebih cepat karena suasana yang tidak begitu nyaman.


Niko sedang ditidurkan oleh sang papa. Adit melirik tajam ke arah Sarah, mengisyaratkan untuk tidak bicara macam-macam. Sarah menelan ludah, ia memutar mata bersikap sok polos. Dengan sembunyi-sembunyi Sarah tersenyum penuh kemenangan.


“Bukan berarti kamu harus bersikap keras terhadap Kirana,” kata bu Anna membuka suara. Semua mata tertuju pada bu Anna.


“Hh... sudahlah. Ini sudah larut malam sebaiknya kalian istirahat.” Bu Anna beranjak dari duduknya yang kemudian disusul oleh Neny.


“Aku antar kamu pulang, Sarah.” kata Adit. Sarah hendak menolak, Adit memaksa.


Sejak kejadian di rumah sakit, kini Adit terlihat lebih dekat dengan Sarah dan seolah punya hak atas dirinya. Anehnya, Sarah menjadi penurut kepada Adit. Ia bukan lagi model yang angkuh, sombong dan arogan di hadapan Adit.


Haikal merenung. Kepalanya serasa mau pecah. Sesempit inikah dunia? Saat tunangan yang dicintainya rela pergi hanya demi menemani muridnya tampil dalam sebuah orkestra musik pentas musim semi, lalu kemudian kembali tak bernyawa, sekarang malah dia menjalin kasih dengan murid tunangannya. Haikal merasa bersalah dan berdosa kepada almarhumah Kezia.

__ADS_1


***


__ADS_2