K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
2. Duka Seluruh Negeri


__ADS_3

"Sebuah pesawat Kencana Air dengan nomor penerbangan RQ30144 dari Jakarta-Indonesia menuju Sydney-Australia telah meledak setelah kehilangan kontak selama dua puluh menit pada tiga sore waktu setempat. Sebanyak dua ratus penumpang di dalamnya masih belum diketahui kondisi mereka. Tim SAR gabungan Indonesia dan Australia sedang berusaha mencari para korban dan mengumpulkan puing-puing pesawat,” Pria pembaca berita berkacamata nampak tegang dan prihatin.


Tampilan layar televisi berubah dari studio di mana pembaca berita berada ke suasana Sydney Kingsford Smith airport, dimana para keluarga dan kerabat menunggu informasi mengenai korban. Disusul kemudian laporan langsung dari reporter di Sydney Kingsford Smith airport.


Pak Bagas sedang membaca koran di ruang keluarga. Dimana televisi flat besar yang menempel pada dinding sedang menyala. Mendengar berita di televisi, perhatiannya terusik. Ia segera memperbesar volume televisi setelah tangan kirinya meletakkan koran serta tangan kanan memperbaiki posisi kacamata tebalnya.


Tangannya gemetar, masih memegang remote control.


Pesawat yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat yang ditumpangi putrinya!


“Mama!!” teriaknya pada sang istri yang tengah sibuk berdandan usai mandi.


Sang istri yang mendengar teriakan suaminya, segera mempercepat kesibukan diri mematut di depan cermin, pergi menuju ke arah pak Bagas, memenuhi panggilan sang suami.


Namun, tak lama kemudian, telepon rumah berdering. Sang istri mengalihkan langkah kakinya menuju ruang seberang untuk mengangkat telepon terlebih dahulu, sebelum menghampiri suaminya.


“Halo.”


“Halo, apa ini keluarga Kirana Badar penumpang pesawat Kencana Air nomor penerbangan RQ30144 dari Jakarta-Indonesia menuju Sydney-Australia?"


“Iya benar.”


“Mohon maaf kami dari managemen Kencana Air menginformasikan jika pesawat Kencana Air RQ30144 sedang mengalami kecelakaan. Kami mengharap agar ibu atau keluarga korban bisa ke bandara Soekarno-Hatta sekarang untuk melakukan verifikasi data dan...” belum selesai kalimat dari seberang, seketika telepon jatuh dari genggaman wanita berwajah oval tersebut.


Hatinya mencelos. Pilu. Seolah ada lubang menganga dalam jiwanya.


Ia tak tahu mengapa buliran kristal bening menggantung dikedua bola matanya. Akan tetapi, semuanya tiba-tiba menjadi gelap, sunyi, asing hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh pingsan.


“ Halo..halo bu. Halo...” suara yang diseberang nampak khawatir.


***


Wanita berwajah oval itu membuka mata. Langit-langit kamar tak asing dilihatnya. Hanya saja ia merasa suasana rumahnya sedikit berbeda. Seolah mendung gelap bersemayam di langit-langit kamar dan menyergap ke seluruh sudut rumah.


Dihadapannya semua keluarga nampak terisak.


Suaminya, diam di sudut kamar sambil menunduk, terlihat sangat terpukul. Anak keduanya menangis keras tepat disebelahnya. Seorang pembantu dengan rambut beruban, memijit kakinya sambil terus sesenggukan.


Sang ibu mertua melafalkan do’a dan tak berhenti membuang ingus sehingga menghasilkan gunungan tissu. Adik dan iparnya tertunduk sedih, berdiri di depan pintu. Merekapun terdiam. Menerawang ke arah yang entah kemana dengan pikiran kacau tak tau arah.


Kening wanita tersebut mengkerut. Ia lupa berapa lama terlelap tiba-tiba “Kirana.. dimana Kirana sekarang?” tanyanya kebingungan.


Sosok yang baru saja disebut sangat ingin dijumpainya sekarang. Entah karena di dalam kamarnya merasa anggota keluarganya tidak lengkap, atau karena ia teringat lagi dengan telepon aneh yang menurutnya seperti mimpi buruk? Ia hanya ingin bertemu Kirana, itu saja!


Ia mulai bangkit dari ranjang.


“Mama...pesawat kakak.. pesawatnya meledak. Mereka bilang..mereka bilang kemungkinan semuanya gak ada yang selamat.” Sang anak kedua memeluk mamanya, tak kuasa menyampaikan berita pahit yang sama anehnya dengan mimpinya barusan.


“Enggak..itu gak mungkin. Kirana pasti udah sampai di Australia, dia mungkin sedang menuju hotel. Mama harus terus telpon dia.” Sang wanita melepaskan pelukan anaknya dan melempar selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Dia berlari keluar mencari ponsel miliknya.


“Dimana handphone mama? Siapa yang bawa?” wanita itu berteriak setengah marah. Semua orang enggan memberi jawaban.

__ADS_1


Kesal hanya melihat keluarganya meratap dan menangis, ia meraih tas adiknya dan mengambil sebuah ponsel layar sentuh. Ia mencari nama Kirana di kontak ponsel adiknya. Ia hanya mendapat respon mailbox.


“Ah...kenapa jaringannya jelek sekali?”


“Mbak...sebaiknya kita ke bandara sekarang. Kita cari tahu dan nunggu info,” ujar sang adik.


“Buat apa ke bandara? Kirana baik-baik saja. Dia sedang istirahat di hotel sekarang,” bentak wanita itu dan masih berusaha menghubungi putrinya.


Televisi yang sedari tadi menyala di dalam kamarnya, kini menampilkan headline news tentang kecelakaan pesawat.


“.............diperkirakan tidak ada korban selamat karena pesawat meledak di udara. Penyebab meledaknya pesawat masih belum pasti. Karena tim SAR juga sedang melakukan pencarian blackbox. Bandara Soekarno-Hatta kini mula dipenuhi oleh keluarga korban untuk mengkonfirmasi korban,” Terdengar suara pembaca berita dengan sangat jelas memenuhi seisi ruangan.


Tangan sang wanita gemetar. Ponsel adiknya jatuh hingga baterai dan casing terlepas lalu berserakan.


“Itu tidak mungkin. Kirana pasti selamat. Kirana kita baik-baik saja. Mungkin itu pesawat yang lain.” Bibir sang wanita bergetar. Ia menggeleng-gelengkan kepala berulangkali. Tidak mau menerima kenyataan yang memilukan.


Ibu mertua berusaha mendekat, ingin memeluknya, Akan tetapi ketika ibu mertua baru memegang pundaknya, wanita itu langsung menepis kasar. Sang ibu mertua terkejut, namun ia kemudian memaklumi kondisi menantunya. Iapun terdiam dihadapan menantu yang napasnya naik-turun.


“Sudahlah, Ma. Itu memang pesawat Kirana. Lebih baik kita ke bandara sekarang,” tegur sang suami yang tengah berdiri di ambang pintu.


Sang wanita menatap wajah sayu suaminya. Ia tak percaya jika suaminya tak mendukungnya kali ini. Kedua matanya berkaca-kaca, sedetik kemudian ia berlari menangis histeris dalam pelukan suaminya.


***


Bandara penuh sesak dengan keluarga korban di salah satu sudut. Posko infomasi kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144 hampir tidak terlihat karena telah dipadati orang-orang yang diliputi kesedihan, kecemasan, rasa penasaran dan amarah terhadap maskapai tersebut.


Bu Sita melihat ngeri jerit tangis keluarga korban yang kemudian jatuh pingsan. Hari itu pukul 03.00 wib. Kecelakaan tiga puluh enam jam lalu, telah membuahkan hasil yang menyakitkan. Gabungan tim SAR Indonesia-Australia begitu tanggap dan cekatan.


Terlebih peralatan canggih yang dipakai tim SAR Australia sangat membantu penemuan potongan jasad korban dan beberapa barang milik korban yang belum teridentifikasi pemiliknya. Puing-puing pesawat benar-benar hancur total karena meledak dahsyat di udara. Beberapa barang dan jasad korban yang ditemukan masih tersisa karena terlempar jauh dari lubang hasil retakan badan pesawat yang membuat mereka berhamburan keluar sebelum menghantam laut.


Bu Sita duduk dipapah oleh adiknya. Sang mertua dan anak keduanya nampak letih. Suami dan iparnya sudah menuju bagian informasi. Tak berapa lama mereka kembali dengan wajah suram.


“Gimana, Pa? Kirana baik-baik saja kan? Dia selamat, Kan?” bu Sita memberondong pertanyaan penuh harap.


“Sudah enam korban ditemukan jasadnya, tapi belum diketahui identitasnya. Sebagian besar masih dalam pencarian. Semua akan dikonfirmasi ke kita jika DNAnya cocok dengan Kirana.” Pak Bagas menceritakan dengan tenang meski kurang detail. Ia harus menggunakan kata ‘jasad’ dibalik dua kata ‘potongan tubuh’.


Sungguh mengerikan jika ia menceritakan enam bagian tubuh tak utuh itu kepada istrinya. Enam bagian itupun masih belum diketahui apakah milik satu orang ataukah milik dua, tiga, empat atau enam orang sekaligus?


Bu Sita menghembuskan napas lega. Dia tak sanggup mendengar jika nama putrinya ada dalam daftar korban meninggal. Itu artinya ia juga berharap DNA pada jasad korban yang ditemukan tidak pernah cocok dengan DNA keluarganya.


Meski selamanya.


“Kita berdo’a saja. Mungkin Kirana selamat dan entah ada dimana dia sekarang,” pak Bagas menghibur, meski ia sendiri pesimis setengah mati. Semua mengangguk setuju. Setidaknya mereka tak mendapat kabar memilukan tentang kematian Kirana, saat ini.


Keluarga Kirana akan beranjak dari Bandara tepat ketika seorang pria bertubuh jangkung menyerobot bagian informasi ikut berdesakan dengan yang lain.


“Apa ada korban yang hidup?”


“Kami belum tahu pasti. Yang ada untuk sementara hanya enam bagian tubuh korban telah ditemukan dalam keadaan tidak utuh dan belum teridentifikasi. Kami akan mengkonfirmasi jika anda bisa memberikan keterangan ciri-ciri korban saat sebelum berangkat serta rambut atau kuku dari keluarga korban untuk dicocokkan DNA-nya,” ujar petugas sambil memberikan sebuah formulir untuk keluarga korban kecelakaan.


Si pria meraih formulir tersebut dan segera mengisinya. Namun, ia tidak bisa menyerahkan rambut atau kukunya karena DNA-nya tidak akan cocok. Ia tidak sedarah dengan gadis yang sedang dicarinya. Ia harus menghubungi orangtua sang gadis agar mengirimkan rambut atau kuku mereka supaya bisa dicocokkan DNA dengan gadis tersebut. Sama halnya dengan keluarga Kirana, pria itu juga berharap tak pernah dikonfirmasi atas kecocokan DNA itu, hingga itu artinya tunangannya masih hidup dan enth berada dimana dalam keadaan baik-baik saja.


***

__ADS_1


Kirana masih terapung-apung di samudra luas sejak tiga jam lalu pesawat yang ditumpanginya beratraksi di udara bebas. Pelampung dan beberapa puing pesawat menyelamatkannya, sehingga dia bisa bertahan hidup bersama dengan cipratan air asin.


Kulitnya mulai mengkeriput.


Kakinya bahkan mulai mati rasa. Sudut-sudut matanya berkedut.


Sunyi.


Kecipak air yang kini setidaknya menghiburnya dari kesunyian dan ketidakberdayaan membuka mata. Sekelebat memori mampir di benaknya ditengah kondisinya yang sekarat.


“Pa, Kirana mau ke Australia.” Kirana merangkul lengan sang papa saat menemani jogging disekitar perumahan.


“Ada apa?”


“Kirana mau solo disana. Kak Kezia, merekomendasikan Kirana ikut dalam acara pentas musim semi bersama grup sebagai tamu.”


“Wah, Hebat sekali. Selamat ya sayang. Papa bangga. Kapan mau berangkat?” papa memeluk dan mencium keningnya.


“Minggu depan,”


“Ah, sayangnya papa harus terapi. Apa perlu mama atau Citra nemenin kamu ke Australia?”


“Kirana bukan anak kecil yang harus ditemani bepergian, Pa. Mama kan kerja. Citra juga pasti sekolah. Gak pa-pa. Kirana bisa sendiri kok. Kan berangkatnya bareng-bareng grup. Lagi pula hanya sebagai tamu. Kecuali kalau entar Kirana secara eksklusif konser diiringi musik orkestra acara musim semi di Juilliard nanti, kalian harus hadir juga.”


“Hahaha...tapi ini juga membanggakan,” Gelak tawa papa menggelegar.


***


“Kak, jangan lupa oleh-olehnya ya!” pinta Citra setelah memeluk kakaknya. Kirana mengangguk.


“Iya. Kanguru hidup aku kantongin entar,” ujar Kirana diikuti gelak tawa adiknya.


“Hati-hati ya sayang. Kalau sudah sampai bandara segera hubungi mama.” Bu Sita mengecup kening Kirana.


“Papa akan segera bikin pesta kepulangan kamu nanti. Jadi, kamu harus tampil terbaik.” Papa menepuk bahu Kirana.


Kirana tersenyum lebar. Dia berjalan menyeret koper diiringi lambaian tangan keluarga. Senyum mama, papa dan adik tersayang masih melekat dalam benaknya.


Kirana merasakan pusing hebat dan mual. Kedua kakinya benar-benar mati rasa sekarang. Kulitnya mengkerut pucat. Dia membuka mata perlahan.


Gelap.


Tak ada penerang sama sekali. Bulan sedang tertutup awan. Bintang-bintang tak begitu nampak. Kirana sadar dirinya terombang-ambing ditengah lautan.


“Mama...papa...” lirihnya memanggil.


Tapi, tak akan ada seorangpun yang mendengarnya. Dia hanya bisa berharap pada pelampung dan puing pesawat yang menyelamatkannya, agar membawa ke tepian. Kirana berusaha untuk bergerak namun ia terlalu lemah.


Tubuhnya mulai menggigil kedinginan.


Hipotermia.


Perutnya berbunyi. Ia lupa kapan terakhir kali makan dan itu membuatnya merasa kelaparan. Kirana mengurangi rasa lapar dengan meminum air laut, akan tetapi itu justru membuat tenggorokannya semakin kering dan teramat haus. Ia tak sanggup bergerak, hanya bernafas. Jika boleh memilih,ia memilih mati saja daripada sekarat tanpa siapapun di sisinya. Apa daya, Ia tak mau mati sekarang, tidak saat ini di tengah laut sepi. Ia terapung-apung lebih dari sepuluh jam!

__ADS_1


***


__ADS_2