
“Om, ayok jalan-jalan,” ajak Niko saat Haikal pulang dari kerja dan baru saja meletakkan tas kerjanya.
“Kemana? om masih capek Niko.” Haikal melonggarkan dasi.
“Ke mana aja deh.”
“Iya nanti sore yah. Om mau istirahat dulu,” kata Haikal.
Nikopun beranjak keluar dari kamar omnya. Neny memberikan jempol pada putra semata wayangnya.
Sore hari tepat pukul tiga, Niko menagih janjinya pada Haikal. Ia duduk di punggung Haikal yang masih terlelap tidur.
“Om... bangun. Katanya mau jalan-jalan.” Niko berteriak keras di telinga Haikal.
“Aduh Niko.... om masih ngantuk nih. Bentar lagi ya.” Haikal menutup kedua telinganya dengan bantal.
“Ah..... om kan udah janji. Ayo donk om, Niko udah mandi nih. Nanti keburu malam.” Niko mengoyak tubuh Haikal dengan menggelitiknya. Haikal menggeliat geli.
“Iya..iya. ha..ha..ha” Haikal tertawa geli dengan masih menutup mata.
***
Mobil Haikal membelok menuju ke arah restoran.
“Lho kok kesini om?”
“Kan kita biasanya jemput kak Kirana,” jawab Haikal.
Niko mencoba berpikir, seingatnya tadi siang ia mengajak Haikal saja dan tidak bermaksud mengajak Kirana. “Niko gak bilang mau ajak kakak cantik kok,” kata Niko heran.
Haikal sudah terlanjur melepas sabuk pengamannya. Ia menurunkan bahu sedikit kecewa. Memang Niko tidak mengajak Kirana, tapi setiap kali mereka pergi akan mengajak Kirana dan rupanya sudah menjadi kebiasaan Niko hingga Haikal tanpa sadar selalu menjemput Kirana terlebih dahulu.
Otak Haikal sebagai supir di keluarganya sendiri seolah telah terkonsep bahwa tiap jalan-jalan akan menyusul Kirana.
“Ya udah deh gak pa-pa. Niko tunggu di mobil ya, Om,” ujar Niko.
Bahu Haikal kembali terangkat, dan dengan semangat ia keluar mobil menuju restoran. Niko menunggu dalam mobil sambil mengutak-atik mp4 mobil. Ia membuka-buka laci mobil dan mengambil isinya.
Mata Niko terbelalak ketika menemukan sebuah foto. Itu foto Haikal dengan Kirana. Ketika Haikal berjalan bersama Kirana menuju mobil buru-buru Niko segera memasukkan foto tersebut dalam saku. Ia melipat tangannya cemberut.
“Niko pindah ke belakang ya,” perintah Haikal.
“Enggak. Niko mau disini.”
“Masa’ kak Kirana duduk dibelakang?”
“Kalau Niko duduk dibelakang, kak Kirana juga harus di belakang.”
“Kamu ini kenapa sih kok jadi rewel gini?” Haikal sedikit kesal.
“Pokoknya om sama kakak cantik gak boleh duduk berdua.” Iipatan tangan Niko semakin erat. Kirana dan Haikal saling pandang dan mengangkat alis heran dengan sikap Niko.
“Apa-apaan sih. Kamu ini...” Haikal hendak marah, tapi Kirana mencegahnya.
“Gak pa-pa. Biar aku dibelakang.” Kirana menggunakan isyaratnya.
Iapun duduk dibelakang seorang diri. Haikal melirik keponakannya sedikit kesal.
Sepanjang berada di taman bermain, muka cemberut Niko tak berubah. Ia bad mood dengan omnya.
“Niko gak suka main disini?” tanya Kirana dalam notesnya. Niko menggeleng.
“Kenapa Niko murung terus?” Kirana membelai rambut Niko. Airmata Niko mulai berkaca-kaca pada Niko. Ia terisak. “Kenapa nangis sayang?” Kirana khawatir.
“Habisnya om jahat. Masa’ foto Niko jadi hilang. Kenapa hanya ada foto kakak sama om aja?” Tangis Niko mulai pecah. Kirana semakin tak mengerti dengan yang dimaksud Niko. Foto seperti apa ia pun tak tahu. Kenapa ada fotonya dan Haikal saja?
“Foto yang mana itu Niko?”
Niko mengeluarkan foto tersebut dalam sakunya.
Kirana setengah terkejut dengan foto tersebut dan ia mengingat memang tak pernah foto berdua dengan Haikal sewatu di kebun binatang. Ia juga menyadari bahwa harusnya di tengah ada Niko.
Kirana tersenyum, ia tahu bahwa foto tersebut hanya diedit. Tapi ia sendiri heran kenapa Haikal mengedit foto tersebut. Haikal datang membawakan tiga ice cream.
__ADS_1
“Lho kenapa kamu nangis?” Haikal bertanya pada keponakannya.
Kirana memberikan foto tersebut. “Ia sedih karena kamu membuatnya menghilang di foto tersebut.” Haikal mengerutkan kening, wajahnya setengah memerah malu foto itu dilihat Kirana, tapi iapun tergelak keras.
“Niko.. itu bukan om yang lakukan. tapi mama kamu yang ambil gambar wajah Niko,” kata Haikal menggunakan bahasa yang mudah dimengerti anak kecil.
“Kenapa wajah Niko diambil?” isak Niko kini berhenti.
“Err... ya semua pose foto kamu diambil buat dijadikan album trus dikirim ke redaksi majalah Master junior,” jawab Haikal asal.
Master Junior adalah majalah anak-anak tentang fasion dan seperti majalah orang dewasa yang berisi produk-produk kosmetik untuk anak-anak. Raut muka Niko berubah cerah. Itu artinya sang mama sedang membuatnya menjadi model seperti artis cilik di televisi.
“Bener om?” tanya Niko berharap.
Haikal mengangguk untuk menyenangkan hati keponakannya. Kirana tahu kalau Haikal sedang berbohong, tapi ia diam saja. Ia masih penasaran terhadap foto tersebut. Walaupun sebenarnya ia merasa senang.
Pada akhirnya Niko duduk diatas pangkuan Kirana yang berada di depan supaya lebih adil. Tanpa sadar Niko sudah terlelap dalam lengan Kirana. Haikal tersenyum geli melihat Niko.
“Maaf ya soal foto itu,” kata Haikal. “Emang si kak Neny iseng nge-crop gambar anaknya sendiri. Kamu gak marah kan dengan foto itu, foto kita ber..dua?” Haikal sedikit melirik Kirana sambil menyetir.
Kirana tersenyum menggeleng. Tak masalah baginya tentang foto sepele itu. Bahkan sebenarnya ada gelora bahagia ketika mengetahui foto itu, meskipun telah direkayasa.
Setiap kali Haikal melihat senyum serta lesung pipi pada Kirana, ia begitu nyaman dan damai memandangnya. Haikal lega jika Kirana tidak marah, ia takut jika gadis itu salah paham tentangnya.
“Dasar si anak kecil udah banyak nyusahin orang sekarang enak-enakan tidur.” Lirik Haikal, ia mengusap sayang rambut keponakannya. “Lucu juga anak sekecil dia udah bisa cemburu,” lanjutnya. “Oh ya kita pulangkan Niko dulu ya, baru aku antar kamu pulang.” Kirana mengangguk setuju.
***
Haikal menggendong Niko, sedangkan Kirana yang memencet bel rumah.
“Ah, kalian udah pulang.” Neny menggantikan menggendong Niko. Ia tersenyum menyapa Kirana.
“Maaf ya merepotkan,” kata Neny ditujukan pada Kirana.
“Udah ya kak aku antarkan Kirana dulu,” pamit Haikal. Neny mengangguk.
Perjalanan ke restoran dari rumah Haikal lebih lama karena mereka tadi harus berputar balik. Sekitar seratus meter dari restoran, mobil Haikal tiba-tiba berhenti mendadak.
“Ah, sial tinggal dikit lagi.” Haikal terus menyalakan mesinnya.
“Sebentar ya aku cek dulu.” Haikal keluar mobil dan membuka kap depan.
Ia memeriksa dan ternyata ada yang korslet. Kirana ikut keluar mobil.
“Ada yang gak beres dengan nih mobil. Padahal tempat kamu tinggal sedikit lagi.”
“Gak pa-pa aku jalan kaki aja. Kan udah dekat,” ujar Kirana menyerahkan selembar notes.
“Eh jangan. Ini udah malam mana mungkin kamu pulang jalan kaki sendirian. Bentar aku hubungi dealer dulu ya.” Haikal menelpon dealer langganannya meminta bantuan mobil derek.
“Apa? masih satu jam lagi baru bisa sampai ?ah ya sudah. Saya tunggu.” Haikal menutup telponnya.
“Mobil dereknya baru nyampe satu jam lagi. Apa aku panggilkan taksi buat kamu?” tawar Haikal.
“Udah aku jalan kaki saja. Tinggal sedikit lagi, kok. Sepuluh menit juga sudah tiba," Kirana bersikeras. Akhirnya Haikal mengunci pintu mobilnya.
“Ayo aku temani jalan,” katanya.
Merekapun berjalan berdua di kegelapan malam dengan lampu penerang di pinggir jalan sebagai pemandu. Haikal memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket. Malam itu udara dingin sehabis hujan. Sisa-sisa tanah becek menggenang dimana-mana.
Untungnya Kirana memakai sweater, setidaknya ia tak begitu kedinginan meski tangannya terasa beku. Tanpa sadar Haikal menggenggam tangan kanan Kirana sama eratnya saat mereka berjalan menuju Balmain Point.
Jantung Kirana hampir melonjak akibat pegangan tangan Haikal.
Selebihnya, ia merasa hangat dan nyaman.
Ia tak berusaha melepas maupun menggenggam balik tangan Haikal.
Kirana terdiam, kedua pipinya merona kemerahan, bahkan tak berani menoleh melihat wajahnya.
Sepanjang berjalan sambil bergandengan tangan mereka membisu. Yang terdengar hanya suara beberapa kendaraan bermotor, serta bunyi kumbang yang bersahutan.
Tak lebih dari lima belas menit sampailah mereka di depan restoran yang baru saja tutup. Kirana mengajak Haikal ke dapur lewat pintu belakang. Haikal melihat-lihat bagian dalam restoran milik mamanya.
__ADS_1
Kirana membuatkan minuman untuk melepas lelah. Sementara, Haikal sedang berada di pusat restoran dimana piano berada. Haikal menyalakan lampu kecil. Ia mengelus tuts-tuts piano. Kirana masuk membawa dua cangkir coklat. Haikal berterima kasih. Ia meniup coklat panas itu dan menyruputnya.
“Sejak kapan kamu belajar piano?” tanya Haikal duduk di kursi piano.
“Mungkin balita.” Isyarat Kirana pelan-pelan.
Haikal mengangkat alis seolah tak percaya.
“Bisa ajari aku sedikit?” pinta Haikal. Kirana tersenyum ia meletakkan coklat panasnya di atas piano.
Haikal menggeser duduknya memberi tempat untuk Kirana. Kirana memijit nada-nada dasar dan meminta Haikal mengulanginya.
“Ini namanya tuts ebony,” Kirana menunjuk tuts putih. “Dan ini ivory,” ia memijit tuts hitam. Haikal manggut-manggut.
“Tuts-tuts dalam piano menunjukkan kehidupan cinta manusia. Dimana ketika seseorang mengalami kisah cinta buruk sekali, maka ia akan mendapatkan dua kali lebih baik dari kisah cinta sebelumnya. Untuk itulah tuts hitam disela dua tuts putih. Artinya, tidak ada kehidupan cinta yang selamanya menjadi buruk. Karena di masa yang akan datang akan hadir masa suci, masa kembalinya cinta sejati.” Tulis Kirana.
Haikal membaca penuh kekaguman dengan filosofi yang diungkapkan Kirana tentang piano.
Kemudian Kirana memijit beberapa nada yang menghasilkan sebuah lagu lalu diikuti Haikal dengan satu tangan. Mereka tertawa bersama mendengar lagu Haikal yang acak-acakan. Kirana mengajarkan lagu twinkle-twinkle little star.
Lalu, tiba-tiba Haikal melihat wajah Kirana terdapat bayang-bayang sosok Kezia kemudian berubah kembali dengan senyum Kirana dimana suasana dan apa yang dirasakan Haikal sama seperti saat ia bermimpi beberapa waktu lalu.
Tangan kiri Haikal gemetar, hingga cangkir yang berisi coklat panas tersebut jatuh hingga pecah. Kirana menghentikan permainannya. Haikal bangkit, sadar bahwa ia dalam kondisi nyata. Ia sedikit berkeringat dan nampak gugup.
“Ada apa?” tanya Kirana heran, ia segera membersihkan pecahan cangkir di dekat kaki Haikal.
“Ah, maaf. Aku harus kembali. Mungkin mobil dereknya udah datang. Aku pergi dulu ya.” Haikal pergi dengan langkah terburu-buru.
Kirana memandangnya heran.
Ternyata benar mobil derek sudah datang dan sedari tadi celingukan mencari Haikal.
Haikal harus pulang dengan taksi, karena mobilnya baru bisa diperbaiki besok pagi.
Sesampainya di rumah ia merebahkan diri merasa sangat lelah. Ia masih memikirkan tentang penglihatannya tadi, kenapa bayangan dalam mimpi itu tiba-tiba hadir disana?
***
Kirana merasa benar-benar jatuh hati pada Haikal, meskipun ia tak berani mengungkapkan hal tersebut. Ia terlalu malu melihat dirinya bukanlah siapa-siapa sedangkan pria itu anak bos restoran tempatnya bekerja. Pikirnya, dia hanya sanggup menyimpan perasaan itu dalam-dalam dengan diam. Ia terlalu tahu diri untuk tidak berkhayal layaknya Cinderella.
Kirana senang mempunyai kesempatan berdua tadi dengan Haikal meski hanya sesaat.
Haikal semakin tak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Kenapa ia bisa teringat bayang-bayang Kezia pada diri Kirana? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? mungkin itu pertanda dari Kezia bahwa ia tak boleh melupakannya, bahwa ia harus tetap mencintai Kezia dan tidak boleh melihat gadis lain, pikir Haikal.
Haikalpun mulai mengingat kenangan indah bersama almarhumah tunangannya tersebut, tapi tiba-tiba yang terlihat adalah senyum Kirana. Senyum yang selalu dinanti Haikal.
Ia membuka mata lalu bercermin. Sepertinya ia mulai tak waras, batin Haikal. Ia harus menjauhi Kirana sebisa mungkin dan mengurangi bersitatap muka dengannya.
***
Esok sore, jadwal les piano Niko seperti biasanya. Kirana datang tepat waktu dan selesai dijam yang sama. Sedari tadi, Haikal mengurung diri dalam kamar. Ia sedang berusaha menghindari Kirana. Ia mondar-mandir dalam kamar, gelisah. Berungkali mengintip ruang keluarga dari balik pintu kamarnya, mencuri pandang Kirana dari kejauhan. Dukk!!
“Auch!!” teriak Haikal kesakitan. Ia memegang jidat. “Ketuk pintu dulu donk!” omelnya kesal.
“Tadi kakak lihat udah kebuka kok pintunya. Lagian ngapain kamu celingukan dibalik pintu kayak gini? Ngintip apaan sih?” ujar Neny masuk membawa secangkir teh dan pisang goreng. Gilirannya yang menggerutu karena disuruh membawakan teh dan cemilan ke kamar adiknya.
“Siapa juga yang ngintip-ngintip. Lagi benerin engsel pintu kok,” Haikal beralasan. Namun, Neny tak menggubris. Ia meletakkan nampan di meja.
“Kamu dari tadi ngapain aja sih gak keluar kamar? Kayak raja aja cemilan dianterin ke kamar.”
Haikal tak menjawab. Ia segera mengusir sang kakak untuk segera keluar kamar. Neny menjejak kaki kesal dengan sikap adiknya. Haikal mengelus dada, lega.
Ia berharap Kirana yang berada di ruang keluarga mendengar keributan kecil tadi. Akan terasa aneh jika dia di dalam rumah tapi tak sekedar menyapa guru les piano Niko.
***
Selang beberapa hari Haikal tidak bertemu Kirana, ketika jadwal les piano tiba, ia memilih pergi keluar rumah dengan berbagai alasan kepada bu Anna dan Neny. Saat itu, Haikal akan menuju apartemen pribadi, berkunjung ke butik bude Kerani atau ke kantor meski tak lembur.
Ia berusaha mencari kesibukan sebanyak mungkin, demi menghabiskan waktu agar dirinya tak melamun dan terus kepikiran sosok Kirana.
Akan tetapi, hatinya semakin gelisah. Ia merasa ada yang hilang dalam dirinya setelah seminggu lebih tidak melihat Kirana.
Mungkinkah ia mulai jatuh cinta pada gadis bisu itu? mungkinkah ia rindu akan sosok guru Niko? perang batin terus bergejolak dalam benak Haikal. Ia mengacak-acak rambutnya semakin frustasi. Bahkan diam-diam rupanya Haikal telah belajar bahasa isyarat lewat internet agar memahami obrolan Kirana.
__ADS_1
Menggunakan jemarinya untuk mengartikan kata-kata yang sering diucapkan gadis tersebut. Selama ini Haikal merasa sangat nyaman dan dekat dengan Kirana, padahal semenjak kejadian empat tahun lalu, ia selalu risih dengan wanita-wanita yang selalu mengejar-ngejarnya. Seolah Haikal menolak kehadiran sosok lain setelah kematian Kezia.