K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
25. Hati Yang Tergoyahkan


__ADS_3

Entah kenapa perasaan beberapa bulan ketika ia bertemu dengan Haikal dan digandeng tangan olehnya, kembali bergulir. Mereka membisu sepanjang perjalanan dalam mobil.


Kirana tak berani memulai pembicaraan atau sekedar obrolan ringan apalagi dalam kondisi ia bisu. Akan tetapi, Kirana merasa ada sesuatu yang lain dalam diri pria disampingnya. Ia merasakan suasana dingin bukan karena hawa yang sedang deras oleh hujan, justru sikap Haikal yang tiba-tiba dingin.


Ketika diselamatkan olehnya, ada rasa nyaman serta aman dalam diri Kirana. Kini yang ada sebuah jarak yang cukup jauh dan tak kasat mata. Haikal telah sampai pada parkiran restoran. Ia merogoh payung lipat dibelakang kursinya.


“Ini pakai saja,” katanya singkat memberikan payung itu.


Kirana menerima dan tak lupa berterima kasih. Ia segera turun dari mobil dan menuju pintu samping restoran.


Rambut Kirana kini sepanjang sikunya. Ia mengikat kuncir kuda agar tidak terlalu berantakan dan gerah. Ia tengah bersiap untuk bekerja malam di restoran. Semakin hari, penampilannya nampak membaik.


Ia bukan lagi pekerja kasar yang harus mengangkat barang, membersihkan peralatan dapur, menerima setiap suruhan. Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar, Kirana tetap membersihkan restoran dan menyiapkan bahan-bahan segar yang akan digunakan koki di pagi hari.


Ia tidak terbiasa menganggur ketika masih ada hal yang bisa dilakukan. Untuk itulah, bu manager memberinya bonus untuk pekerjaanya di pagi hari. Selain itu penghasilan yang lumayan bisa ditabung dan membeli beberapa kebutuhan pribadinya, ia bisa mengurus diri lebih baik.


Toh ia tidak perlu membayar untuk biaya tempat tinggal dan makan. Bu Anna mengijinkan pegawainya untuk membawa pulang bahan-bahan yang akan busuk, akan kadaluarsa atau jamuran bahkan jika menu hari itu masih tersisa di dapur.


Daripada restoran harus menumpuk banyak sampah pada sesuatu yang masih bisa dikonsumsi.


Setiap habis subuh, stok bahan-bahan segar dan baru selalu berdatangan. Restoran juga tidak akan mendaur ulang makanan kemarin untuk disajikan ke tamu esoknya.


****


“Kirana itu baik dan cantik, ya?” Neny memulai pembicaraan saat Haikal tengah asyik membaca buku di ruang tamu. “Niko juga sangat sayang dengannya. Hanya saja sayang dia bisu.”


Haikal masih tak menggubris obrolan kakaknya. “Kamu..baik-baik dengan dia ya.”


Haikal kini mengerutkan kening dan mengalihkan pandangan matanya. Kakaknya selalu punya maksud tersembunyi untuknya.


“Apa maksud kakak ?”


“Oh enggak, Cuma selama ini kan kamu selalu bersikap dingin dan cuek dengan gadis-gadis, diakan guru piano Niko jadi kakak harap kamu bisa ramah dan hangat supaya dia gak canggung disini.” Neny sedikit gelagapan.


“Jadi, keberadaanku disini buat dia gak nyaman? ya udah besok aku pindah ke apartemen lagi.” Haikal kembali pada bacaannya.


“Ah jangan. Mama bisa marah. Maksud kakak, selagi dia menjadi guru piano disini, kamu bersikaplah ramah dengannya.”


“Apa juga urusannya denganku?” ketus Haikal bangkit meninggalkan Neny.


“Haikal...” Neny setengah berteriak kesal.


Haikal masuk ke ruang kerjanya di sebelah kamar.


Ruangan itu dulu milik almarhum papanya yang sama-sama arsitek. Ketika wafat, Haikal mewarisi ruangan itu menjadi tempat pribadi untuk bekerja dan berkarya, selain kamarnya.


Ada sebuah patung tak berkepala yang memakai kebaya berpadu gaya eropa di sisi kiri pojok belakang kursi kerja. Ia melipat tangan dan menatapnya untuk waktu lama. Haikal mendekati lalu mengelus lengan pada gaun tersebut.


Berdebu.


Tentu saja, patung itu terpajang untuk waktu yang lama disana, dan sudah lama sekali ia tak melihatnya. Ruang kerjanya bernasib sama dengan gaun pengantin itu. Debu menumpuk.

__ADS_1


Haikal membuka jendela lebar-lebar. Ruangan itu telah terkunci setelah kepergiannya ke Australia. Tak ada seorangpun yang berani masuk bahkan sekedar membersihkannya.


Haikal tak ingin siapapun menyentuh apapun di dalam ruang kerjanya. Ia melipat ujung lengan dan mulai membersihkan ruangan yang lama tak terpakai.


***


Haikal berjalan disebuah ruangan yang gelap, ada satu cahaya yang tersorot pada sebuah objek. Seorang wanita cantik yang sedang duduk bermain piano. Haikal menyipitkan mata. Ia seperti mengenali sosok wanita tersebut. Haikal berjalan mendekat dengan perasaan yang sangat bahagia.


Semakin dekat, hingga jaraknya tinggal selangkah lagi, wanita yang bermain piano mendongak.


Haikal tersentak kaget. Wajah yang dilihatnya bukanlah sosok sang tunangan. Sosok yang dikenal tapi kenapa harus wanita itu. Yang tak pernah terpikirkan olehnya. Yang tak ada hubungannya dengannya dan Kezia. Sosok itu adalah Kirana. Ia tersenyum hangat dan sangat menawan. Dua lesung pipi di kanan-kiri seolah menunjukkan bahwa masih ada kedamaian dalam hidup ini.


Ketentraman dari orang-orang terkasih dan kebahagiaan yang sedang menanti. Senyum yang mampu menyihir pandangan mata siapa saja yang menatapnya.


Bukannya membalas senyuman itu, Haikal malah menarik langkah mundur. Ia sedikit ketakutan dan merasa shock. Efek sihir senyuman gadis bisu yang tidak dikenalinya dengan akrab membuatnya linglung.


“ Hhh....” Haikal terbangun.


Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam. Haikal mengusap peluh. Ia keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air putih dan meneguknya dengan rakus. Akan tetapi, air itu tak memberikan efek apapun pada tenggorokannya. Seolah hanya mengalir begitu saja. Ia nampak frustasi. Haikal meraih kunci mobil dan segera keluar menuju club.


“Haii bro... lama gak ada kabar. Kemana aja lu?” sapa temannya menepuk pundak Haikal yang sedang duduk disebuah meja Bar dengan setengah gelas minuman keras.


Haikal hanya tersenyum. Ia malas berbincang dengan siapapun juga. “Gue pergi dulu ya,” kata pria tersebut, merasa kehadirannya tidak diinginkan.


Haikal telah menghabiskan segelas minuman keras. Semenjak kepergian Kezia dan terutama ketika ia tinggal di Australia, alkohol adalah teman pelipur lara baginya.


Keluarganya, tidak begitu menyukai segala jenis alkohol. Meski pernah tinggal di Paris cukup lama, mereka berusaha menghindari wine. Meski sesekali menegaknya dengan penuh penyesalan. Almarhum papanya seorang pria yang cukup religius. Restoran yang didirikan mamanya memang menyediakan minuman beralkohol seperti wine karena memang menyesuaikan karakter sebagai restoran Prancis.


Terlihat dari genangan air di beberapa tepi jalan. Dingin menusuk. Belum subuh, tapi sayup-sayup suara tartil bacaan ayat suci terdengar sayup-sayup dari masjid-masjid. Ia berjalan terhuyung menuju depan restoran yang masih tutup.


Pintu kaca langsung menembus dari dalam ruangan tengah-pusat restoran dimana terdapat piano hitam disana. Haikal menunjuk-nunjuk dan bergumam tidak jelas.


Pagi itu Kirana akan membuang sampah dapur, yang selalu dilakukannya setiap sebelum subuh. Ia melihat orang aneh berada di depan restoran. Dengan sedikit gemetar, Kirana membawa balok kayu untuk memukul orang tersebut yang mungkin saja adalah pencuri. Berminggu-minggu menjadi penjaga restoran yang selalu ditakutkannya ialah kehadiran orang jahat.


Saat akan mendekati sosok di depan restoran dalam temaram lampu redup, tiba-tiba orang aneh tersebut ambruk.


Kirana berhenti melangkah.


Balok kayu yang dipegangnya tinggi-tinggi masih belum terlepas dari tangan kanan, namun kini dalam kondisi diturunkan. Kirana mendekati pria tersebut perlahan yang sepertinya pingsan.


Ia menggunakan balok kayu untuk membalikkan badan orang asing tersebut. kedua matanya terbelalak kaget. Menyadari bahwa pria itu adalah Haikal.


Kirana bergegas membuang balok kayu dan berusaha membangunkan Haikal dengan mengguncangkan tubuhnya. Ia sadar bahwa Haikal telah mabuk. Tercium dari bau yang menyengat. Hari masih gelap dan matahari belum muncul, jalanan sepi. Kirana bingung, apa yang harus dilakukan.


Ia tidak mungkin membiarkan anak bosnya terkapar di depan restoran. Karena akan memalukan keluarga bu Anna sebagai pemilik restoran jika banyak pegawainya yang tahu esok hari. Iapun membopong Haikal masuk ke belakang dengan susah payah. Dalam keadaan terpaksa, Haikal ditidurkan diatas kasur busa di gudang yang telah menjadi kamarnya.


“Grr...Ke...z...” Haikal menggumam tidak jelas.


Kirana mengelap wajahnya yang penuh keringat. Ia menatap lama sosok pria mabuk tersebut. Entah darimana datangnya angin, tiba-tiba tubuhnya gemetar dingin.


Jantungnya berdegup aneh.

__ADS_1


Kirana berdiri tak mau larut menatap sosok Haikal. Yang kini Kirana tahu pasti adalah, hatinya begitu aneh setiap kali melihat Haikal.


***


Haikal merasa pusing dan kepalanya berat. Ia duduk dan melihat sekeliling. Sebuah ruangan kecil yang lebih cocok sebagai gudang telah menjadi kamar sederhana atau memang kamar itu sebenarnya adalah gudang. Pikir Haikal.


Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Ia tak ingat kejadian apapun yang akhirnya membawanya sampai di kamar tersebut.


Haikal berjalan menuju cermin. Ia melihat wajahnya yang acak-acakan. Ada sebuah foto tertempel di cermin. Itu adalah foto liburan musim panas terakhir Kirana dengan keluarga Maroon dan dokter Smith sebagai fotografernya.


Haikal mengernyitkan kening, melihat lagi wajah Kirana yang seolah dikenalnya. Ia mengucek kedua mata, memastikan yang dilihatnya itu tidak salah.


“Hah?? Itukan guru lesnya Niko. Kenapa aku bisa di kamarnya?” Haikal mulai gelisah dan bingung dengan situasi yang menimpanya.


Ia segera keluar kamar dan yang ditemukan adalah halaman belakang tempat bertumpuk-tumpuk kotak penyimpan sayur dan buah segar. Banyak orang lalu-lalang berkemeja biru muda, bawahan hitam dan slayer putih yang dikenakan wanita sedangkan pria memakai celemek putih.


Logo RF dengan desain khas terpampang di saku kanan. Haikal mulai menyadari jika ia sedang berada di bagian belakang restoran mamanya.


“Akh... ada orang jahat!!” teriak salah satu pelayan yang mengambil sekeranjang buah manisan.


Haikal kebingungan dan ia berusaha menenangkan wanita tersebut. berbondong-bondong pegawai restoran menuju belakang. Mereka siap untuk mengeroyok.


Kirana menerobos masuk diantara kerumunan, ia merentangkan tangan meminta perhatian. Perlahan-lahan dengan bahasa isyarat ia menjelaskan,


“Saya kenal dengannya. Dia adalah teman saya. Tolong semua tenang. Tadi dia ada di ruangan saya karena sakit.”


“Jadi kamu memasukkan pria ke dalam kamar kamu Kirana? Kamu berani berbuat mesum disini?” tanya pegawai yang lain.


Mereka mulai kasak-kusuk curiga. Kirana menggeleng dan akan menjelaskan lagi, tapi bu manager sudah terlanjur datang melerai keributan.


“Ada apa ini ? Lho... Haikal. Kenapa bisa disini?” bu manager setengah terkejut dengan kehadiran Haikal dan tampangnya yang awut-awutan.


“Ibu.. kenal dengan pria itu?” tanya salah seorang pegawai.


“Ssstt... itu anak pemilik restoran ini. Sudah semua kembali bekerja.” Bu manager membubarkan kerumunan.


“Ada yang bisa saya bantu ? kenapa disini dan dalam kondisi seperti ini?” bu manager heran. Haikal terdiam, ia malu dan bingung menjelaskan.


“Dia tadi ketumpahan semangkuk mayonaise dan saya menyuruhnya mengeringkan rambut di kamar saya.” Kirana mengambil alih untuk menjelaskan.


Haikal tidak mengerti dengan isi notes yang telah ditulis Kirana. Tapi bu manager curiga.


“Kok bisa?”


“Iya, dia tadi ingin mencicipi masakan langsung dari dapur. Sebelum sampai dapur saya menumpahkan mayonaise dan mengenainya,” jelas Kirana sebelum bu manager bertanya tentang kejadiannya yang lebih rinci.


“Oh... Sekarang apa sudah kering rambutnya? apa butuh bantuan saya?” bu manager bertanya.


“A..apa ?oh ya. Saya pulang dulu saja.” Haikal tidak paham dengan yang dimaksud bu maanger. Ia berjalan meninggalkan restoran secepat mungkin.


“Eh tunggu...” bu manager berusaha mengejar, tapi Haikal telah menyebrang dan masuk mobil.

__ADS_1


__ADS_2