
Madam Joyce menyiapkan bekal untuk kemping dibantu Machita dan miss Asian, para lelaki memasukkan tenda serta keperluan lainnya. Sabtu sore mereka akan berangkat, jadi siang itu juga harus segera menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
Pukul tiga sore waktu setempat mereka berangkat menuju Poleys Place yang terletak di Barrington NSW, sekitar 3,5 jam perjalanan mobil. Untuk pertama kalinya bagi miss Asian merasakan kemping dengan orang asing yang seperti keluarga di dataran Australia.
Poleys Place merupakan lahan seluas 500 hektar yang terhampar hijau dengan fasilitas lengkap untuk rekreasi berkemah. Lokasinya dekat dengan sungai Barrington, sehingga benar-benar terasa back to nature. Letaknya terpencil dan tenang, kemah-kemah bisa didirikan di dekat sungai yang mengalir bening dan dibawah naungan pohon ek yang teduh serta pohon botol yang tersebar disepanjang tepi sungai.
Fasilitas seperti Barbeque Areas, Animal Park, Pet Friendly, Hot Shower serta Farm begitu memanjakan mata miss Asia karena ia belum pernah melihat dan menikmati perkemahan yang begitu komplit dan menakjubkan.
Selain itu, pengunjung bisa memancing, berenang, bermain Kano dan masih banyak hal yang bisa dilakukan di hamparan seluas itu. Kirana membayangkan Poleys Place seperti lapangan golf Cibubur yang luas, akan tetapi ini adalah tempat yang luar biasa.
Paulo dengan penuh semangat segera menuju sungai Barrington untuk mendinginkan kaki dan sedikit berkecipak dengan air. Dokter Smith dan Mr. Bruce menyiapkan tenda. Seorang pria tua botak dengan ramah menyambut kedatangan mereka, “Welcome to Poleys Place, semoga kemping kalian menyenangkan.”
***
Malam hari keluarga besar Maroon membuat barbeque party dan api unggun. Dihamparan luas rumput yang hijau, terbentang langit malam sebagai pengganti atap. Bintang-bintang bertaburan secara acak.
Beberapa pengunjung membawa teropong bintang. Ada sekelompok pemuda-pemudi yang bernyanyi bersama mengelilingi api unggun.
Miss Asian memandang langit sambil memegang bandul kalung yang dikenakan. Desiran angin padang rumput begitu menggelitik dan harum. Ia segera merapatkan jaket menghindari udara dingin. Tugasnya menyiapkan pesta barbekyu telah usai, dan kini ia ingin menikmati waktu seorang diri.
Langit diatasnya begitu luas tanpa batas. Kegelapan yang tak tertandingi andai saja himpunan bintang yang merupakan bagian dari tata surya tidak turut menghiasi. Kedua sudut matanya mulai meluruhkan bulir-bulir kristal. Tiba-tiba saja ia sangat merindukan kampung halamannya. Ia rindu akan keluarganya. Kerinduan mendalam yang tak bertepi hingga dadanya berasa ingin meledak. Kebersamaan saat ini dengan keluarga Maroon membuatnya semakin sedih karena mengingatkan pada keluarganya.
“Come on my dear, makan malam sudah siap.” Mr. Bruce menepuk bahu miss Asian.
Membuyarkan lamunan yang tersusun rapi. Punggung tangan miss Asia segera mengusap kedua pipinya sebelum keluarga Maroon menyadari apa yang sedang terjadi padanya.
Miss Asian bangkit dan menuju meja kecil yang telah tersaji makanan. Mr. Bruce memimpin do’a sebelum makan, kemudian madam Joyce menyiramkan saus diatas barbeque masing-masing.
Mereka bergelak tawa sambil menikmati makan malam yang sederhana tapi lezat itu. Sedangkan miss Asian dengan malas memotong daging. Hati dan pikirannya sedang tidak di Poleys Place saat ini.
“Anything problem, My dear?”tanya madam Joyce, menyadari putri angkatnya tak berselera makan.
Miss Asian gelagapan, ia menggeleng memberi jawaban. Tapi kemudian ia bangkit dan masuk menuju tenda.
Keluarga Maroon dan dokter Smith menoleh mengawasi miss Asian yang meninggalkan makan malamnya. Miss Asian kembali membawa notes yang selalu dibawanya dan duduk kembali.
Tangannya gemetar gugup.
“Ada sesuatu yag ingin kau katakan?” tanya dokter Smith.
__ADS_1
Miss Asia mengangguk. Semua orang saling berpandangan. Tanpa komando, seketika mereka meletakkan garpu dan pisau. Menunda menghabiskan setengah daging sapi yang empuk dan mulai memperhatikannya.
“Aku ingin kembali ke negaraku.” Tulis miss Asia.
Karena Mr. Bruce tidak begitu paham dengan bahasa isyarat. Madam Joyce menahan napas terkejut. Begitu pula dokter Smith.
“But... apakah kau tahu darimana asalmu?” tanya madam Joyce dengan hati-hati. Miss Asia mengangguk.
“Aku minta maaf telah membohongi kalian selama ini. Aku tidak pernah hilang ingatan. Aku hanya trauma dan takut untuk kembali pulang dengan kondisiku seperti ini. Aku begitu malu dengan keluargaku dan teman-teman disana. Aku tidak punya keberanian untuk pulang saat itu,” miss Asia berhenti menulis dan memberikannya pada keluarga Maroon.
Ia menunduk sedih merasa bersalah. Butiran airmata menetes perlahan membasahi pipinya. Machita terpekik kaget membacanya, sampai ia harus menutup mulut.
“Tapi sekarang, aku harus kembali pulang karena aku merindukan mereka. Tolong, maafkan aku.” miss Asian melanjutkan kini mulai terdengar isak tangisnya.
Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap melanjutkan apa yang harus diselesaikan malam ini. Setelah sobekan kertas diberikan pada madam Joyce, ia bangkit dari duduknya dan berlutut dihadapan keluarga Maroon.
Giliran Paulo yang terpekik melihat sikap miss Asia. Bahkan kumpulan pemuda-pemudi yang bernyanyi yang berjarak tujuh langkah dari mereka berhenti dan menoleh kearah miss Asia. Mereka berbisik-bisik dan menyaksikan miss Asia yang tengah berlutut sambil menunduk dengan terisak seolah sedang melakukan pengakuan dosa.
Madam Joyce berjalan menuju miss Asia, ia memapah miss Asia sambil berkata, “Oh, sayangku. Kau tidak perlu melakukan ini. Bangkitlah!” Madam Joyce mengelus pipi miss Asia dengan lembut.
Ia memeluk putri angkatnya dengan erat. Isakan tangis mulai terdengar lebih keras dari kedua wanita tersebut.
“Kau sudah menjadi bagian dari keluarga Maroon, siapapun dirimu dan apapun yang telah kau lakukan serta semua masa lalumu, kau tetap anakku. Kau tetap keluarga Maroon di pesisir Maroubra ini.” Madam Joyce diam sejenak. Ia menarik napas panjang menahan isakan kemudian melanjutkan, “Sekarang, katakan pada kami, siapa namamu, dan
Miss Asian tersenyum senang, meskipun sedikit ragu iapun berkata,“Namaku Kirana, dan aku berasal dari Indonesia. Tepatnya Jakarta,” miss Asia menjawab dengan bahasa isyarat. Mr. Bruce menyenggol Paulo menanyakan artinya.
“Hebat sekali. Indonesia? Dekat dengan Bali?”tanya Paulo yang suka belajar peta dan berangan-angan keliling dunia. Miss Asia menggeleng.
“Jakarta. Ibukota Indonesia. Bali adalah nama pulau salah satu negara kami,” jawabnya.
“Err.... bisakah kau menuliskan namamu dan mengejanya?”tanya Mr. Bruce. Miss Asia lalu menuliskan namanya dan menyerahkan pada Mr. Bruce. Paulo, Machita dan dokter Smith juga membaca.
“Beautiful name miss Asia..Umm I mean Kirana. Begitu Indonesia,” kata Mr. Bruce mengguratkan senyum diantara kumis tebalnya.
.”Aku akan kehilangan saudara sekamar,” ujar Machita dengan nada sedih. Ia menuju gadis bernama Kirana dan madam Joyce, kemudian memeluk erat bersama-sama.
“Yeah. Kita akan kehilangan satu anggota keluarga Maroon,” sahut Paulo.
“Aku tidak pernah lupa bagaimana kebaikan kalian semua. Kalian masih keluargaku dan selalu menjadi keluargaku di Maroubra. Tapi, biarkan aku pergi dan bertemu keluargaku,” ujar Kirana.
__ADS_1
“Ya sayangku. Pergilah ke negaramu. Kau harus bertemu mereka karena mereka pasti khawatir denganmu untuk waktu yang lama. Jangan lupa untuk mengunjungi Maroubra. Rumah kami selalu terbuka untukmu,” kata Madam Joyce. Kirana langsung memeluk dan mengecup pipi ibu angkatnya.
“Bisakah kau ceritakan bagaimana kau berada di laut Tasman?” tanya Mr. Bruce penasaran sebagai orang yang telah menemukan dan membawanya ke Maroubra.
Kirana kembali duduk. Ia mengatur napas perlahan, kemudian mulai menceritakan sedikit demi sedikit secara rinci dari mulai perjalanannya menuju Sydney untuk melakukan pentas musim semi di Sydney Opera House bersama rombongan Blume Musical School.
***
“Mungkin ini akan menjadi kemping terakhir kita dan liburan musim panas terakhir untukmu. Kau tidak berpikir pergi karena aku menciummu?” ujar dokter Smith saat membereskan peralatan memanggang.
Kirana tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Dokter Smith menghadapi Kirana dan ia memegang kedua tangannya.
“Kau yakin ingin segera pergi dari sini? tidakkah menunggu beberapa waktu lagi? aku tidak bermaksud mencegahmu kembali ke Indonesia, akan tetapi aku akan kehilanganmu karena aku sangat mencintaimu.”
Dokter Smith mengucapkan dengan sungguh-sungguh. Kirana melepas genggaman tangan dokter Smith. Ia tersenyum. Senyum yang sangat disukai dokter Smith. Kedua lesung pipi yang begitu dalam dan aura menentramkan bagi siapa saja yang menerima senyumannya.
“Aku butuh keluargaku sekarang, dan aku harus bertemu mereka secepat mungkin setelah empat tahun berlalu. Maaf dokter, aku senang dekat denganmu. Tapi aku tidak mencintaimu. Kita...lebih baik berteman. Kau akan menemukan wanita yang lebih baik daripada aku dan lihatlah sekelilingmu, ada gadis yang tanpa kau ketahui dia jatuh cinta padamu untuk waktu yang lama,” jemari Kirana bergerak dengan cepat, namun cukup dipahami oleh dokter Smith.
Pria dewasa dihadapannya mendengus napas pasrah. Kirana menepuk bahu dokter Smith.
***
“Kamu sudah menyiapkan visa untuk terbang ke Indonesia?” tanya Mr. Bruce saat Kirana memberikan secangkir kopi.
Mr. Bruce duduk di kursi rotan yang berada di teras kecil mereka. Asap rokok mengepul dari bibir tebal yang tertutup kumis itu.
“Aku tidak bisa pergi dengan pesawat,”ujar Kirana menggunakan bahasa isyarat secara perlahan agar Mr. Bruce mengerti. Lagipula ia tak memiliki paspor.
“Kenapa?” Mr. Bruce heran.
“Aku begitu trauma dengan kecelakaan itu sampai aku tak punya keberanian.”
“Jadi, kamu akan pergi ke Indonesia tanpa pesawat?” tanya Mr. Bruce menghentikan kopi yang akan diminum.
“Dia bisa ikut denganmu, tentu saja,” sahut madam Joyce. “Ingat ketika dia menjemput seorang teman Amerika dokter Smith dua tahun lalu? Dia langsung demam ketika berada di bandara. Dia sangat takut melihat pesawat. Wajar saja, trauma yang sangat mengerikan. Kau bisa membawanyya bersama kapalmu. Bukankah kapalmu akan menuju perairan Asia Tenggara?”
“Tapi.. kapalku bukan untuk penumpang. Meski mengangkut barang-barang tapi juga banyak ikan disana. Kamu tidak akan suka naik kapal ikan. Begitu bau,” kata Mr. Bruce.
“Tidak masalah. Aku bisa mengatasinya. Yang terpenting bagiku bisa pulang dengan selamat,”ujar Kirana.
__ADS_1
Mr. Bruce manggut-manggut. Kebetulan kapalnya akan menuju ke Singapura jadi Kirana bisa berhenti di Batam. Mr. Bruce adalah nahkoda dalam kapal perusahan pengalengan ikan, ia bisa berlayar sampai berbulan-bulan dan berkeliling dunia mendistribusikan ikan.
***