
Jakarta, April 2017. Hari ke sepuluh pada musim penghujan di bulan itu.
Sesuai dengan perkataan bu manager dua minggu lalu, pemilik Restaurant Familial kini tiba di depan pintu dengan anak dan cucunya.
“Silahkan bu. Saya sudah menanti anda dari kemarin. Sudah lama ibu tidak mengunjungi restoran pusat,” sambut bu manager saat mengantar rombongan keluarga bosnya menuju meja spesial yang telah dipesan.
“Untuk apa saya sering-sering menjenguk toh saya sudah berikan semua kepercayaan mengelola restoran pusat kepada kamu,” kata pemilik restoran.
Selain memiliki restoran pusat, Restoran Prancis tersebut punya beberapa cabang di luar kota, luar Jawa dan bahkan di Singapura. Pemiliknya adalah pribumi asli Indonesia, hanya saja dulunya mantan chef yang belajar di Prancis. Hingga ketika pensiun dini sebagai koki, ia membuka restoran sendiri di tanah air.
“Wah ini cucu ibu ya?” bu manager mengusap kepala Niko yang berusia delapan tahun.
“Iya, ini anak saya. Ayo cium tangan dulu,” kata Neny, anak pemilik restoran.
Bu manager mengelus pipi Niko yang bulat. Niko memakai kacamata kotak berwarna hitam, dengan dasi kupu-kupu dan jas hitam.
Tubuhnya kurus tapi wajahnya bulat menggemaskan. Ia nampak malu-malu dan sedikit risih saat wajahnya dipegang. Bu manager mempersilakan mereka untuk duduk dan memanggil pelayan.
Saat mereka mengobrol, Kirana telah duduk di depan piano dan siap untuk bermain. Ia mulai memainkan piano. Tanpa disadari Niko sangat tertarik dengan wanita muda yang bermain piano tersebut. Ia berjalan mendekati Kirana yang masih asyik bermain. Neny bingung melihat anaknya yang tiba-tiba menghilang dari kursi.
“Niko..” panggil Neny. Niko masih terpaku mendengar alunan piano dan pianis tersebut.
Bu manager dan pemilik restoran menghampiri Neny.
“Ada apa?” tanya bu Anna. Neny menunjuk Niko. Sejenak mereka juga terdiam mendengar alunan lagu serta memandangi paras cantik yang bermain piano.
“Ah, itu Kirana. Saya lupa mengenalkan pada ibu. Dia itu gadis bisu yang ibu minta bekerja disini. Awalnya ia hanya menjadi pesuruh atau pegawai kasar, tapi ternyata ia punya bakat bermain piano. Maka saya memperkerjakannya sebagai pianis disini. Kan konsep desain restoran kita klasik, jadi setelah ibu menyuruh saya membeli piano, sayapun harus mencari pianis yang mau bekerja disini. Ternyata dia bisa melakukannya,” cerita bu manager. Bu Anna dan Neny manggut-manggut tersenyum.
“Niko.. ayo kita makan malam dulu,” tegur Neny membuyarkan lamunan anaknya. Niko menurut menuju mejanya. Tetapi ia masih tak berhenti menatap takjub Kirana.
“Kenapa Haikal tidak jadi kesini, Ma?” Neny celingukan sambil menyantap apetizer-nya.
“Sepertinya dia sibuk. Mama juga tidak tahu semenjak pulang dari Sydney, ia jadi begitu pendiam.”
“Neny harap bukan kesedihan berkepanjangan akibat kehilangan Kezy.”
Bu Anna mengangguk setuju. Ia sudah lelah melihat anaknya yang hidup terpuruk akibat kematian tunangannya.
“Eyang... Niko mau belajar piano boleh gak?” kata Niko tiba-tiba hingga membuat mamanya tersedak dan si eyang mengangkat kepala tak percaya.
“Sejak kapan Niko suka dengan musik?” tanya Neny tertawa geli mendengar permintaan anaknya.
“Barusan,” jawab Niko singkat sambil menoleh Kirana. Kedua orang dewasa itu ikut menoleh.
“Memangnya Niko mau serius belajar piano? Trus game, komik, dan Taekwondonya gimana?” ganti sang eyang bertanya.
“Ya Niko tetap main itu semua. Niko mau belajar yang lain gak pa-pa kan? apa eyang gak suka lihat Niko bisa bermain piano sama Taekwondo?” Niko mengerucutkan bibir, sok.
“Hahaha... iya tentu aja eyang bangga. Baiklah, besok eyang antar Niko ke istana musik ya,” kata bu Anna menyendok supnya. Istana musik adalah sekolah informal bermain musik. Lebih tepatnya sebuah tempat kursus.
“Gak mau,” Niko mengerutkan kening tak setuju.
“Trus mau kamu apa?” tanya Neny.
“Niko mau diajarin piano sama kakak itu.” Niko menunjuk Kirana.
“Kakaknya sibuk bermain disini, sayang. Mana bisa jadi guru privat kamu,” kata Neny.
“Pokoknya Niko mau diajarin kakak itu. Titik. Kalau gak Niko gak mau pulang dari sini. Niko mau belajar piano sama kakak cantik itu disini.” Niko sudah melipat tangan, pura-pura ngambek.
“Ya sudah..ya sudah. Nanti eyang bilang sama kakaknya supaya jadi guru les piano kamu nanti. Sekarang cepat dihabiskan makan malamnya.”
“Mama...!!!”Neny mengerutkan kening tak setuju. Niko sudah sangat senang sekarang.
“Apa?”
“Kenapa semua keinginan Niko itu dipenuhi, Ma? Dan jangan kasih janji yang belum pasti.”
“Lho memangnya kenapa? Niko kan cucu mama. Mama berhak memberikan yang terbaik untuknya.”
“Neny tahu, Ma. Tapi bukan gini caranya, mama jadi manjain Niko berlebihan dan dia...” Neny belum sempat menyelesaikan kalimatnya, bu Anna segera memotong dengan mengangkat tangan menyuruhnya berhenti bicara.
***
Sabtu pukul 3 sore Kirana tengah bersiap menuju rumah pemilik Restaurant Familial. Jam setengah empat ia harus berada disana.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ragu untuk menerima tawaran pekerjaan baru itu atau lebih tepatnya sedikit terpaksa menjalankan perintah dari pemilik restoran.
Kirana memang pandai bermain piano, namun ia tidak pernah mengajari seseorang. Ia cemas tidak bisa menjadi guru yang baik nantinya, terlebih dirinya yang tidak bisa bicara saat ini.
Rumah besar dan mewah berdiri megah dihadapan Kirana. Setelah memencet bel sekali, Neny datang membuka pintu dan mempersilahkan dengan ramah.
“Wah kakak cantik datang,” teriak Niko setengah berlari menyambut guru les pianonya.
“Niko..” tegur sang mama. Niko dengan malu-malu bersembunyi di balik mamanya.
“Ayo cium tangan dulu sama kakaknya.”
“Niko.” Niko mengulurkan tangannya. Kirana menyambut uluran tangan tersebut. Ia pelan-pelan menggunakan bahasa isyarat untuk mengatakan “Nama saya Kirana. Niko anak yang manis sekali.” Niko sedikit terkejut manyadari bahwa guru lesnya menggerak-gerakkan jemari. Ia mundur satu langkah merasa aneh. Kirana menuliskan hal yang sama dinotesnya.
“Niko, yang sopan sama kakaknya. Kakak Kirana memang tidak bisa bicara. Nanti kalau kakak Kirana mau bicara dia akan menuliskan dinotesnya atau mulai sekarang kamu harus belajar sedikit tentang bahasa isyarat ya,” kata Neny.
__ADS_1
Kepala Niko dipenuhi pertanyaan kenapa kakak cantik itu tidak bisa bicara? Dan bagaimana dia bisa bermain dan bercanda dengan guru lesnya jika ternyata gurunya tidak bisa bicara. Niko sempat ragu, namun karena melihat senyum teduh yang nyaman di wajah Kirana, iapun mengangguk paham.
Kirana dan Neny tersenyum lega. Niko lalu mengajak Kirana menuju piano yang berada di ruang keluarga.
Satu setengah jam, Kirana mengajari Niko bermain piano dari dasar. Menghafal bagian-bagian do rendah dan tinggi yang selanjutnya mencoba memainkan lagu balonku ada lima. Niko dengan cepat menguasainya.
“Terima kasih ya, sudah mengajar Niko dengan sabar.” Neny mengantarkan sampai depan pintu rumah.
Kirana mengangguk. Setelah ini ia harus kembali ke restoran dan mempersiapkan kerja malamnya.
Kirana duduk melamun dalam taksi menuju restoran. Melihat sorenya kota Jakarta yang basah oleh hujan beberapa jam lalu.
Kapankah ia bisa bertemu keluarganya kembali? dia sudah kembali ke Indonesia, telah tinggal di Jakarta, bagaimana mungkin tidak bisa menemui keluarganya.
Haruskah ia pergi ke Blume Musical School? bertemu dengan guru-guru dan teman-temannya? bisakah mereka membantunya mencari keberadaan mama dan Citra? bagaimana reaksi mereka bertemu dengannya? mungkin saja mereka takut bahkan lari karena mengira telah melihat hantu.
Tidak. Tidak boleh. Ia harus menemui keluarganya terlebih dahulu sebelum orang-orang lain yang dikenalnya bertemu dengannya. Bisik Kirana dalam hati. Tak terasa taksi telah berhenti tepat di depan Restaurant Familial.
***
Bu Sita dan Citra telah sampai di depan pemakaman yang berada di Jakarta pusat. Ia membawa sekeranjang bunga dan air mawar dalam botol kaca.
“Ada yang baru saja kemari ya, Ma?” Citra heran karena makam papa dan eyangnya terdapat bunga yang masih segar. Bu Sita mengiyakan.
“Siapa ya ma yang datang kesini?” tanya Citra ikut jongkok dengan mama.
“Mungkin bibik atau teman papa,” jawab bu Sita menyiram tanah bergunduk suaminya dengan air mawar.
Ia mengelus nisan sang suami. Lewat beberapa bulan ia dan Citra tak berkunjung ke makam. Rasanya sudah berabad-abad lamanya ia tak mengirim do’a di depan nisan suami dan mertua yang sangat dicintainya. Baru lewat empat tahun sepeninggal mereka, bu Sita merasa telah ribuan tahun lamanya.
“Mama udah janji kan gak akan nangis di depan makam papa,” tegur Citra.
Bu Sita mengangguk, ia mengusap ujung-ujung mata yang mulai basah. Mereka menambahkan bunga segar diatas makam dan berdo’a.
Sore itu setelah pemotretan di Jakarta, Citra yang ditemani sang mama mampir ke makam papa dan eyangnya. Sebenarnya mereka sangat ingin tinggal lebih lama di Jakarta untuk beberapa hari misalnya, akan tetapi jadwal pemotretan di Bandung sedang menunggu Citra.
“Bisa gak ya ma kita jenguk bibik di rumah pak Anwar majikan barunya? Kita udah kehilangan kontak dengan bibik. Citra juga kangen sekali dengan bibik.”
“Ya kita coba nanti setelah makan ya. Bibik pasti senang sekali. Untung saja dia bekerja di perumahan yang sama dengan kita.”
Mereka menuju hotel dan segera berkemas kemudian pergi makan malam. Malam itu gerimis membasahi gemerlap malam ibukota. Lampu-lampu tetap berkelap-kelip genit menyapa petang, membuat bintang cemburu hingga nampak pudar di langit Jakarta.
Meski banjir masih sering melanda Jakarta dan sekitarnya, tak membuat mobilitas masyarakat setempat untuk berdiam diri saja bahkan pasif. Ponsel Citra berbunyi saat taksi sedang menembus hujan malam. Telpon dari managernya.
“Apa mbak? besok pagi? iya-iya aku segera pulang sama mama,” katanya sebelum memutus pembicaraan.
“Ada apa?”
“Ya sudah kita segera ke terminal ya, Pak.” ujar bu Sita pada sopir taksi.
“Yah..kita gak jadi ketemu bibik.”
“Gak pa-pa, lain kali kan bisa kesini lagi. Pekerjaan kamu lebih penting.”
***
Hari ini adalah sabtu ketiga bagi Kirana, menjadi guru privat piano anak pemilik restoran, dengan enam kali tatap muka. Tanpa disadari Kirana menjadi dekat dengan keluaga bu Anna. Apalagi Niko yang begitu menyayangi Kirana.
“Kakak ikut makan malam disini saja,” rayu Niko. Kirana hanya tersenyum.
“Ayolah. Boleh kan eyang, kakak cantik makan malam dengan kita?” Niko setengah berteriak dari ruang tamu ke arah eyang dan pembantunya yang sedang menata piring.
“Iya. Kenapa kamu tidak makan malam disini sekalian bareng dengan kita? Kebetulan hari ini kami masak banyak untuk menyambut omnya Niko yang lama gak ketemu,” sahut Neny menuju ruang tamu. Kirana merasa tidak enak hati untuk menolak, akan tetapi ia sendiri merasa sungkan diajak makan malam bersama.
“Sudahlah, temani kami makan malam. Supaya Niko gak terus-terusan merengek.” Bu Sita datang memberikan minuman pada Kirana.
“Ayolah kakak. Setelah makan malam kita belajar piano lagi,” Niko mulai merengek. Ia menggelayuti lengan Kirana. Kiranapun pasrah menerima tawaran makan malam keluarga tersebut.
Selagi menunggu semua makanan siap, Kirana mengajarkan beberapa lagu untuk Niko. Bu Sita dan Neny tampak mulai mempersiapkan makanan dari dapur menuju ruang makan.
“Kakak bantu mama dan eyang sebentar ya.” Kirana menulis pada notesnya. Niko mengangguk.
“Ada yang bisa saya bantu?” tawarnya.
“Ah, semua sudah beres kok. Kamu gak perlu repot-repot,” jawab bu Anna meletakkan semangkuk besar sup.
“Neny lupa belum buat sambal tomat.”
“Biar saya yang buat.”
“Ka..mu bisa?” Neny ragu. Kirana mengangguk penuh semangat.
Ia menuju dapur dan mencari-cari cobek, tomat segar, cabe dan garam.
Saat Kirana sedang mengulek sambal, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dekapan besar yang hangat dari arah belakang dan membuat jantungnya berhenti berdetak dalam sekejap saking kagetnya.
“Kakakku sayang. Masih ingat rupanya dengan sambal kesukaanku?”goda suara pria yang tengah memeluk Kirana.
Kirana ingin bergerak dan berbalik, tapi si pria semakin erat memeluknya. Jantung Kirana berdegup kencang tanpa arah, suara yang pernah dikenalnya. Sebuah dekapan yang hangat dan nyaman namun membuatnya gelisah.
“Om Haikal!!” teriak Niko setengah marah dan setengah senang melihat kehadirannya.
__ADS_1
“Kenapa peluk-peluk kakak Kirana?” Niko sudah berkacak pinggang sambil melotot tajam.
Haikal bingung dengan ucapan keponakannya. Dibelakang Niko, Neny datang buru-buru menyusul. Haikalpun dengan terkejut segera melepaskan pelukannya. Kirana juga menunduk. Mereka berdua salah tingkah. Wajah Kirana dan Haikal bersemu merah akibat malu.
“Ah... kamu salah orang ya?” Neny setengah tertawa geli. Haikal mengangkat dagu, dan bersikap biasa. Ia segera keluar dapur tanpa meminta maaf maupun melihat wajah orang yang telah salah dipeluknya.
“Maaf ya. Itu omnya Niko. Memang suka jahil dengan saya dan Niko. Tapi orangnya baik kok.”
Kirana mengangguk. Tidak mempermasalahkan insiden itu. Meski jantungnya masih berdegup kencang dan urat-urat senyum di wajahnya masih tegang.
***
“Om... om sini donk. Kok gak gendong Niko sih ?” Niko berlari mengejar Haikal yang masuk kamar.
“Oh, ada jagoan kecil. Sini-sini. Wah, kamu kan udah gede, om gak kuat gendong kamu.” Haikal mengangkat Niko lalu menggelitikinya.
“Mana oleh-olehnya?” Niko mengulurkan tangan setelah berhasil lepas dari cengkraman gelitikan Haikal.
“Oleh-oleh apa?”
“Kan om habis keluar kota.”
“Dasar. Setiap om pergi selalu minta oleh-oleh.” Haikal mengucek kepala Niko hingga rambutnya berantakan.
“Ah, dasar om pelit.” Niko cemberut samil melipat tangan.
“Eh, tadi itu siapa kok ada orang asing?” tanya Haikal mulai teringat kembali.
“Oh, itu guru privat piano Niko. Cantik ya?” lipatan tangan Niko mulai terlepas dan ia dengan bangga menceritakan Kirana.
“Sejak kapan jagoan om suka main musik? emang kamu bisa main piano?” goda Haikal.
“Bisa donk. Kan Niko udah belajar berkali-kali.”
“Ayo..makan malamnya udah siap.” Bu Anna masuk ke dalam kamar menyela obrolan asik antar pria tersebut.
***
Haikal memanggul keponakan kesayangannya yang kurus. Neny, bu Anna dan Kirana telah duduk lebih dulu. Haikal duduk tepat didepan Kirana.
“Oh ya sebelum kita mulai makan malamnya, mama perkenalkan ini Kirana guru piano Niko. Nah Kirana ini putra saya Haikal.” Bu Anna memperkenalkan secara resmi.
Haikal menatap wajah Kirana dalam rentang waktu yang lumayan lama, dan Kirana dengan malu-malu ikut menatapnya. Mereka sama-sama menyipitkan mata dan saling menunjuk.
“Lho.. kamu kan yang di Balmain Point? gadis itu...” Haikal seolah tak percaya dengan penglihatannya.
Kirana membenarkan perasaannya yang sudah lebih dulu menduga-duga. Ia mengangguk memberi jawaban Haikal.
“Oh jadi kamu orang Indonesia? Kupikir orang Malaysia.”
“Kalian sudah saling kenal?” tanya bu Anna heran. Haikal dan Kirana kompak ingin menjelaskan sehingga bu Anna, Neny dan Niko kebingungan.
“Well, biar saya saja yang ceritakan. Kami bertemu secara tidak sengaja sewaktu melihat kembang api tahun baru di Sydney.”
“Dan dia menolong saya waktu itu dari para pemabuk.” Kirana melanjutkan dengan menulis pada sobekan notes secara cepat.
“Oh. Kebetulan sekali ya? Wah senangnya kalian sudah kenal.” Neny menyahut gembira.
“Kapan kita makannya kalau masih ngobrol terus ?” Niko mulai merajuk. Orang-orang dewasa menoleh dan tertawa mendengarnya. Merekapun mulai makan malam yang penuh kehangatan.
***
“Terima kasih atas makan malamnya.” Kirana menyalami Bu Anna, Neny dan Niko mengantar di depan pintu.
“Iya. Sama-sama.” Bu Anna mengelus pundaknya.
“Kamu pulang naik apa?” Neny celingukan melihat taksi yang belum datang dan gerimis yang tiba-tiba turun perlahan.
“Taksinya masih dalam perjalanan, mungkin macet. Saya akan tunggu, mbak gak perlu khawatir,” jawab Kirana.
“Tapi kan kasihan kamu harus segera ke restoran. Emm...gini aja gimana kalau Haikal yang antar?” tawar Neny bertepatan dengan Haikal yang baru saja datang. Kirana menggelengkan kepala menolak secara halus.
“Ada apa, Kak?”
“Kamu mau keluar, Kan? Bisa tolong antarkan Kirana ke restoran? dia harus kerja, kasihan kalau telat.”
“ Ya kan itu restoran mama, nanti biar mama yang telpon mengijinkan Kirana untuk datang telat,” sahut bu Anna, seketika Neny menyikut mamanya.
“Saya naik ojek online aja.” Kirana mulai tak enak hati. Ia tak mau banyak merepotkan orang lain.
“ Eh, jangan. Nanti kamu kehujanan trus sakit. Udahlah, Haikal tolong antar Kirana ya?” Neny merayu dengan nada memaksa.
“ Iya..iya.. ayo masuk,” kata Haikal sedikit kesal dengan suara berisik kakaknya.
“ Om, jagain kakak cantik ya!” teriak Niko saat mereka masuk mobil.
“Tapi taksinya..,”
“’Biar aku yang bayar nanti,” sahut Neny.
***
__ADS_1