
Sabtu sore mobil Alphard Haikal membawa keluarga bu Anna beserta dengan Kirana menuju villa di Bandung. Sebenarnya itu adalah momen yang tepat untuk Kirana mencari keberadaan keluarganya di Bandung.
Tapi, ia tak mau menganggu acara keluarga dengan meminta Haikal mengantarnya berkeliling Bandung.
Sarah memakai sweater dan syal berwarna merah toska. Ia menyambut kedatangan keluarganya dengan tangan terbuka lebar. Bu Anna turun terlebih dahulu dan langsung memeluk Sarah. Ketika yang terakhir kali turun adalah Kirana, raut muka berseri Sarah sekejap meredup.
“Tante ajak Kirana karena Niko memaksa ingin bersama guru les pianonya,” perjelas bu Anna seolah membaca pikiran keponakannya.
Sarah tersenyum sinis dan sorot matanya tajam ketika Kirana berjalan bersama Haikal membawa barang-barang.
“Apa kabar, Nak Adit?” sapa bu Anna.
“Baik tante.”
“Terima kasih ya selama ini kamu menjaga dan merawat Sarah.”
“Itu sudah tugas saya tante,” kata Adit tersenyum manyun.
“Kapan balik ke Jakarta?”
“Selasa depan tante. Miss Cordelia akan sepenuhnya tinggal di Jakarta, karena penjurian selanjutnya di Jakarta.”
“Ah, bagus sekali. Tante khawatir dia kan baru saja di Indonesia, setidaknya harus tinggal dekat dengan keluarga. Tapi karena ada kamu, tante jadi aman.”
“Terima kasih atas kepercayaannya tante. Oh ya dimana barang-barang kalian?” tanya Adit.
“Itu, dibawa Kirana sama Haikal.”
“Saya bantu mereka dulu ya,” pamit Adit dengan sopan.
***
Niko bermain teropong bintang dengan Neny. Haikal dan Adit menyalakan api unggun, sedangkan Kirana, bu Anna dan Sarah menyiapkan makan malam.
“Senang sekali kita sekeluarga bisa berkumpul di vila. Sudah lama kami tidak berlibur ke villa. Terima kasih,” kata bu Anna ditujukan pada Sarah yang sedang menata meja.
Ia tersenyum menang, karena telah mendapat perhatian dari tantenya. Satu-satunya yang menghambat kebahagiaannya adalah kehadiran Kirana yang tidak diharapkan, dan tentu saja ia merasa cemburu ketika melihatnya dengan Haikal yang mesra.
Makan malam terasa hangat dan damai, yang kemudian disusul acara menghangatkan diri didepan api unggun sambil makan jagung bakar dan melihat pesona langit yang bersahabat karena tak hujan. Adit sengaja membawa gitar, dan ia bernyanyi merdu diiringi tepuk-tepuk yang lain.
Haikal mempererat syal Kirana yang terlihat lepas. “Dingin, jangan sampai disini malah sakit,” tegur Haikal.
Kirana mengangguk berterima kasih. Haikal duduk disamping Kirana, ikut mendekatkan diri ke api unggun. Neny ikut menyumbangkan suara diiringi petikan gitar Adit. Gelak tawa ceria terdengar di malam yang dingin itu, akan tetapi keceriaan api unggun tak berlangsung lama akibat hujan yang mendadak turun.
***
Pukul 01.00 pagi Sarah gelisah dalam ranjangnya. Ia merasa tak nyaman harus berbagi kamar dengan orang lain terutama orang tersebut adalah Kirana. Jika Kirana tak datang, maka ia akan sendirian saja. Tentu akan membuat rencana liciknya berjalan lancar.
__ADS_1
Tak tahan tidur dengan Kirana disebelahnya, ia segera keluar.
“Kenapa kamu ada di kamar Haikal?” tanya Sarah pada Adit yang tiba-tiba keluar saat akan masuk ke dalam kamar Haikal.
“Dia memintaku. Kamarku jendelanya rusak, dan Haikal memaksaku sekamar dengannya,” jelas Adit.
“Get out!” perintah Sarah galak.
“What are you doing?”
“It’s my own bussiness,” jawab Sarah.
Ia mendorong Adit dengan kasar dan masuk ke kamar Haikal. Adit ingin mencegah tapi ia mengurungkan niat. Ia tak mau ikut campur urusan pribadi kliennya.
Dalam kamar, Haikal tengah tertidur pulas berbalut selimut tebal. Sarah melepaskan rompi pada baju tidurnya. Perlahan, ia naik ke ranjang dan mendekat pada Haikal. Sarah memeluk Haikal dan sambil berpura-pura tidur ia memotret dirinya dengan Haikal.
“Kenapa gak tidur, Dit?” tanya Neny melihat Adit yang mondar-mandir di depan pintu kamar Haikal dengan gelisah.
“Ah..eh.. iya mau ke dapur kok,” jawab Adit gelagapan. Neny mengerutkan kening heran.
***
Keesokan pagi, bu Anna sekeluarga jogging di sekitar villa. Bu Anna, Neny dan Niko telah berada di depan terlebih dahulu, hingga yang dibelakang adalah Haikal, Kirana, Sarah dan Adit.
“Auch...” jerit Sarah tiba-tiba terjatuh.
“Kamu baik-baik saja?” Adit langsung berbalik dan menuju ke arahnya diikuti Haikal dan Kirana.
“Oh kakiku,” Sarah mengadu. Kakinya sedikit berdarah.
“Kakiku terkilir. Mungkin aku tidak bisa jalan,” kata Sarah memijit kakinya.
“Let me help you. Aku akan menggendong belakang anda sampai menuju vila,” tawar Adit. Sarah memalingkan muka, dan ia menatap Haikal penuh harap.
“Haikal....will you?” Sarah memasang mimik kesakitan. Haikal menghirup napas panjang dan menghembuskan pendek.
“Baiklah, baiklah,” jawab Haikal. Ia berjongkok membelakangi Sarah, dan Kirana membantu Sarah naik ke punggungnya.
Haikal berjalan menggendong Sarah hingga meninggalkan Kirana dan Adit. Sarah begitu bahagia sehingga ia memeluk erat leher sepupunya.
“Haikal... kamu ingat tidak, kamu sering menggendongku seperti ini ketika di Paris,” bisik Sarah tersenyum.
“Ya. Kamu adalah gadis paling manja, cengeng, sangat bergantung dengan orang lain dan sekarang lihatlah, Sarah kecil kami telah menjadi model Internasional. Siapa sangka?” kata Haikal ikut tersenyum.
“Hhh... I’m so glad, kamu masih mengingat semua tentangku. Dan kamu selalu jadi penjaga untukku. Bisakah kita terus bersama seperti ini?” tanya Sarah perlahan. Haikal berhenti berjalan sejenak.
“Kita akan terus bersama Sarah. Karena kamu adalah sepupuku. Dan ikatan saudara kita tak akan pernah lepas,” jawab Haikal melanjutkan melangkah.
Sarah mengigit bibir. Itu bukanlah jawaban yang diinginkannya. Ia meminta lebih dari sekedar hubungan persaudaraan.
***
__ADS_1
“Berapa lama kamu dan Haikal saling mengenal?” tanya Sarah saat ia dan Kirana berkemas dalam kamar mereka.
“Empat bulan.” Kirana menuliskan pada notes kecilnya.
Sarah tersenyum sinis.
Bagaimana bisa wanita yang hanya mengenal sepupunya dalam empat bulan bisa dengan mudah mendapatkan cinta Haikal? Padahal ia sudah belasan tahun bahkan sejak kecil mengenal dan mencintai pria arsitek tersebut, namun yang ada hanyalah kesia-siaan.
“Kau benar-benar bisu atau Cuma pura-pura agar dapat belas kasihannya?” tanya Sarah begitu pedas sehingga membuat Kirana mengernyitkan kening tak mengerti dengan maksud pertanyaan tersebut.
“Ah, wanita bisa mana bisa mengerti,” kata Sarah menyindir.
Kirana semakin tersinggung dan tidak paham maksud Sarah yang menghinanya. Sarah keburu keluar kamar sebelum Kirana sempat menanyakan maksud ucapannya.
***
Semua orang telah berkemas dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Sarah dan Adit kembali ke tempat panitia, karena mereka baru ke Jakarta dua hari kemudian.
Sepanjang perjalanan, Kirana nampak terdiam saja. Ia masih memikirkan perkataan kasar Sarah, tapi ia mencoba berbaik sangka, bahwa mungkin Sarah adalah gadis yang memang suka berkata kasar pada semua orang karena lingkungannya di Paris. Tak lama bunyi ponsel Haikal menandakan ada sms masuk.
“Tolong dibuka, sayang,” pinta Haikal pada Kirana dengan mesra membuat penumpang lain dibelakang terkikik.
Dengan malu-malu Kirana mengambil ponsel Haikal dan membukanya. Akan tetapi ketika akan membukanya, ternyata ada gambar foto Haikal dan Sarah yang sedang tidur selimut semalam. Tangan Kirana bergetar, ia menelan ludah saking terkejutnya. Mungkinkah Haikal tidur dengan Sarah semalam? Karena memang tengah malam ia sempat terbangun untuk mengecek jam diponselnya dan tidak melihat Sarah disampingnya.
“Sms dari siapa?” tanya Haikal.
Kirana segera menunjukkan sms dari rekan kerjanya di perusahaan. Selanjutnya Kirana terdiam dan bersikap dingin terhadap Haikal. Ia memendam sedikit amarah karena kecemburuan melihat foto tersebut.
Mungkin kedekatan sebagai sepupu sudah kelewat batas bagi Kirana, karena bisa saja mereka punya hubungan khusus. Dan sah-sah saja karena mereka tidak memiliki ikatan darah secara langsung. Ia kini paham maksud sindiran Sarah tadi.
Setelah mengantar keluarganya ke rumah, Haikal mengantar Kirana kembali ke restauran.
“Dari tadi kamu diam saja. Ada apa?” tanya Haikal heran.
Sebenarnya itu adalah pertanyaan bodoh, karena Kirana bisu, mana mungkin ia bisa berceloteh seperti orang pada umumnya. Dan antara ia diam atau tidak takkan ada bedanya jika itu gadis bisu. Tapi pertanyaan Haikal lebih mengacu pada sikap Kirana yang terlihat dingin.
“Kamu dan Sarah terlihat sangat dekat sekali,” ujar Kirana mengeja dengan isyarat pada tanganya.
“Ya, memang kami dekat. Kami kan sepupu dan lagi sewaktu kecil kita tinggal bersebelahan,” jawab Haikal.
Kirana tahu tentang itu dan jawaban Haikal terlalu umum. Dia menghembuskan napas panjang.
“Baiklah. Semoga benar-benar sebatas sepupu,” kata Kirana. Haikal mengerutkan kening curiga.
“Apa kamu cemburu dengan Sarah?” tanya Haikal dengan nada menggoda.
Kirana menggelengkan kepala cepat. Haikal tersenyum geli. Ia memegang tangan Kirana.
“Dengar sayang, Sarah adalah sepupu terdekat yang pernah aku miliki. Aku dan dia hanya sebatas kakak-adik. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai gadis lain. Dan lagipula, percayalah, saat ini hanya ada satu gadis dimataku, yaitu kamu,” kata Haikal menggenggam erat dan penuh keyakinan menatap ke dalam mata Kirana.
Kirana menahan napas ketika mendengar pernyataan kekasihnya. Sebuah akhir kata yang sangat indah yang pernah ia dengar.
__ADS_1
“Aku percaya,” Kirana mengangguk pelan.
***