
Lebih dari dua pekan Kirana tinggal bersama keluarga Maroon, ia merasa sangat nyaman dan senang. Meski rumah itu sederhana untuk ukuran rumah-rumah di sekitarnya.
Ia meminjam beberapa potong baju hangat berlengan panjang untuk musim semi milik Machita yang selalu kebesaran.
Selama itu Kirana masih belum berbicara sepatah katapun. Ia lebih memilih terdiam, menunjuk-nunjuk, mengangguk, menggeleng dan tersenyum.
Ia cukup mahir berbahasa Inggris, tapi entah kenapa ia begitu malas untuk bicara. Ada sesuatu dalam dirinya yang menahannya untuk tidak berbicara.
“Apakah dia bisu?” bisik Paulo pada Machita ketika makan malam.
Machita menginjak kaki Paulo. “Auch!!” jerit Paulo. Machita melotot.
“Ada apa?” tanya madam Joyce, tidak suka keributan saat makan.
“Nothing,”sahut Machita.
“Aku tahu selama ini dia tidak pernah bicara, tapi dia tidak tuli. Setahuku orang yang tuli akan bisu,” bisik Machita yang terlalu keras tanpa sadar madam Joyce dan Kirana mampu mendengarnya.
“Apa yang kalian bicarakan? siapa yang bisu?” tanya madam Joyce kesal melihat kedua anaknya berbisik-bisik tidak sopan saat makan. Machita dan Paulo terdiam. Kirana merasa dirinya sedang menjadi perhatian Machita dan Paulo yang saling melirik.
“Dia tidak pernah bicara, Mum. Aku Cuma berpikir, mungkin dia....bisu.” kata Paulo.
Madam Joyce mengerutkan kening. Mereka melihat Kirana curiga. Kirana gelagapan.
“Kau tidak tuli, tapi kau bisu bukan?” tanya Machita blak-blakan.
Madam Joyce menggebrak meja memarahi Machita yang bertanya kurang sopan.
Kirana menggelengkan kepala dan mendengus panjang.
Mungkin sudah saatnya ia tak bungkam. Kirana mulai membuka mulut ingin bersuara membuktikan bahwa mereka salah paham.
Ia bukan gadis bisu.
Ketika akan mengeluarkan suara tiba-tiba saja pita suaranya terasa sakit dan ia tak sanggup bersuara. Kirana tak mengerti mengapa ia kesulitan bicara, bahkan ketika semakin berusaha mengeluarkan sepatah katapun ia justru tidak bisa bernapas. Ia memegang lehernya kesakitan.
“Are you okay?” tanya madam Joyce cemas. Ia berdiri menghampiri Kirana. “Minumlah, jika kau tidak bisa bicara jangan dipaksa. Jangan menuruti omong kosong mereka,” lanjut madam Joyce sambil melirik ke arah Machita dan Paulo.
Kirana menggeleng. Ia bisa bicara. Ia normal.
Tapi kenapa tidak bisa bicara sekarang? Kenapa tiba-tiba pita suaranya terasa sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa suaranya menghilang?
“Aku panggilkan dokter Smith. Mungkin dia bisa memeriksa tenggorokannya,” kata Machita dengan semangat langsung berlari keluar.
***
“Buka mulutmu,” perintah dokter Smith. ia memeriksa tenggorokan Kirana.
“Pita suaramu memang terluka, menurutku tidak terlalu parah. Tapi, sebaiknya besok kita ke rumah sakit,” ujar dokter Smith.
__ADS_1
“Kenapa dia tidak bisa bicara? dan terlihat kesakitan.” madam Joyce cemas. Dokter Smith berpikir sejenak.
“Aku rasa ini trauma,” jawab dokter Smith.
Kirana tak mengerti mengapa tiba-tiba tidak bisa bicara.
Tiba-tiba kehilangan suara.
Ia bahkan tidak bermaksud terdiam untuk selamanya. Hanya saja beberapa hari setelah ia sadar dari pingsan lama, dan terbangun di tempat bersama orang-orang asing membuatnya merasa enggan untuk bicara.
Ia berharap ketika besok pergi ke rumah sakit Prince of Wales mendapatkan hasil yang baik.
***
Dokter Smith memapah Kirana yang seketika lemas lunglai setelah menerima hasil check up. Kirana melepaskan tangan dokter Smith dari lengannya. Ia ingin berjalan sendiri dengan tongkat tanpa dikasihani.
Hidupnya sudah hancur sekarang.
Syaraf pada pita suaranya tidak berfungsi. Selain itu dokter menyebutkan terjadinya trauma otogen-trauma akibat pemakaian suara berlebihan (vocal abuse), yang membuat kondisi pita suaranya semakin melemah.
Ia tidak bisa bicara untuk waktu yang sangat lama dan harus mengikuti terapi untuk memulihkan kondisi pita suaranya.
Ketika ditanya kapan bisa sembuh, dokter yang menanganinya terdiam cukup lama dan akhirnya menjawab dengan pesimis, “Mungkin sepuluh atau lima belas tahun lagi,” jawaban yang tidak menyenangkan. Serasa langit saat itu juga runtuh.
Lutut Kirana gemetar, hatinya mencelos kecewa.
Ia adalah seorang penyanyi, penyanyi seriosa. Bagaimana mungkin penyanyi tidak bisa bicara? bagaimana mungkin seorang penyanyi menjadi bisu? batin Kirana bergejolak dalam diam.
Impiannya sekejap saja telah sirna. Bahkan untuk pertama kalinya saja, ia belum sempat berada di atas panggung besar.
Menjadi satu-satunya yang selamat bukan hal yang bisa diterima juga baginya. Ia merasa tak adil pada korban kecelakaan pesawat itu. Namun, sekarang ia tahu, bahwa keadaan yang tak adil baginya. Karena ia tak hanya kehilangan orang-orang yang disayanginya saja, sekarang ia harus kehilangan satu-satunya harapan hidupnya. Kalau begini, lebih baik kematian melandanya juga.
Dokter Smith mengikuti dari belakang. Ia prihatin dengan pasiennya. Dalam perjalanan pulang, Kirana hanya sanggup menunduk. Dokter Smith tahu bahwa tetesan air mata terus bergulir ke pipinya. Membuat jejak basah yang sebetulnya belum kering.
Mereka sampai di parkiran pantai Maroubra lebih cepat dari biasanya. Dokter Smith membuka pintu untuk Kirana. Setengah berjalan Kirana dengan kesal membanting tongkat pemberian dokter Smith hingga ia terjatuh.
Airmatanya mulai luruh.
Tak ada keluarga dan siapapun di sisinya ketika ia terbangun, dan hanya mendapati orang-orang asing dengan belas kasihan mereka, kaki kanannya yang patah, kini ia kehilangan suara, modal utama impiannya sebagai seorang penyanyi seriosa kelas Internasional.
Kenapa di usia semuda ini ia harus menderita banyak hal? Kenapa hal mengerikan tersebut terjadi padanya? Dan kenapa disaat ia akan meraih impian-impiannya semua takdir buruk menimpanya? Kirana terisak marah.
Dadanya bergemuruh, seolah ada magma dalam gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
Dokter Smith memegang pundaknya. Ia berjongkok menghadapi Kirana. Dokter Smith menarik tubuh Kirana ke dalam pelukannya.
Hangat.
Kirana tersentak sesaat dengan sikap dokter Smith yang tiba-tiba. Tapi kemudian rasa nyaman dan sangat membutuhkan menyeruak dalam benaknya. Ia semakin mencurahkan sesak di dada dalam pelukan dokter Smith, hingga membuat basah kemeja garis-garis vertikal ungu muda. Dokter Smith menarik napas panjang dan mengelus rambut hitam Kirana.
***
__ADS_1
Rumah sepi ketika mereka kembali. Machita dan madam Joyce telah berangkat kerja, dan Paulo pasti sedang mencari ganggang laut atau pergi ke pabrik. Hanya ada mereka berdua disana. Dokter Smith membuatkan teh panas untuk Kirana.
“Tenanglah. Kau bisa tinggal disini sampai lebih baik selanjutnya kau bisa kembali ke negara asalmu. Kau bisa bertemu dengan keluargamu dan err... aku ingin tahu namamu.” Dokter Smith tersenyum ragu dengan ucapannya.
Nama?
Keluarga?
Tempat tinggal?
Kirana Badar dari Indonesia, tinggal di Jakarta, anak seorang musisi terkenal dan memiliki keluarga bahagia. Ia bersekolah di Blume Musical School. Calon musisi dan seorang seriosa yang akan mendapatkan beasiswa ke Juilliard school.
Tapi kini?
Ia hanya seorang korban ledakan pesawat yang kemudian terdampar di sebuah tempat yang tak ia ketahui, dalam keadaan terluka dan kemudian bisu.
Haruskah ia bangga mengakui dirinya sebagai Kirana Badar?
Bulan purnama yang bercahaya?
Haruskah ia mengakui sebagai wakil dari grup Indonesia untuk pentas musim semi di Opera house?
Haruskah ia mengakui sebagai wakil termuda dan penyanyi seriosa?
Haruskah Kirana yang dulu hidup dengan penuh impian bisa menegakkan kepala? air mata Kirana meleleh. Ia tidak bisa melakukan semua itu. Ia terlanjur malu pada dirinya sendiri dan pada dunia.
“Heii... jangan menangis. Aku cuma ingin tahu darimana kau berasal?” kata dokter Smith menenangkan. Ia salah tingkah. “ Singapur? Malaysia? Brunei ? err..Indonesia maybe? or Thailand?” tanya dokter Smith.
Kirana menggeleng. Ia tidak mau tahu darimana ia berasal. Ia tak sanggup mengungkapkan identitas aslinya.
“Jangan bilang kamu tidak tahu siapa dirimu? Kau tidak ingat siapa dirimu dan darimana kau berasal? keluarga? kau hilang ingatan?” dokter Smith menebak-nebak.
Hilang ingatan ? kalau perlu ia hilang saat itu juga dari dunia ini! Ditelan bumi atau lebih tepatnya laut, tak pernah ditemukan dalam Samudera Pasifik.
Kirana merenung sejenak. Ya, Kirana telah hilang.
Kirana seorang seriosa dan calon musisi telah mati. Ia tak sanggup menemui orang-orang yang dikenalnya yaitu keluarga, teman, kerabat dan melihat kondisinya yang mengerikan. Ia akan hidup sebagai orang lain. Orang baru, gadis bisu yang hilang ingatan dan terdampar di negara persemakmuran Inggris.
“Apakah kau tidak ingat tentang sesuatu beberapa minggu terakhir? Sebelum kau pingsan,” tanya dokter Smith. Kirana menggeleng.
“Masa kecil, orang tua, tempat tinggal atau sebuah kenangan.” dokter Smith berusaha meyakinkan Kirana. Tetapi Kirana hanya terus menggeleng.
Dokter Smith semakin kebingungan. Ia dan keluarga Maroon tidak bisa menampungnya lebih lama karena status Kirana yang ilegal. Ia sudah terlanjur berbohong ke polisi akan mengurus identitas gadis itu.
Padahal ia hanya mencoba mencari alasan logis saja. Jika kemudian polisi itu mengeceknya kembali karena gadis asing itu ternyata tinggal lama disana, maka semua akan terbongkar dan habislah ia beserta keluarga Maroon.
Tak ada identitas dan petunjuk apapun mengenai dirinya. Kecuali satu hal, bahwa Kirana adalah korban kecelakaan. Ia dan keluarga Maroon sepakat akan hal itu.
Akan tetapi, saat itu terjadi dua kecelakaan sekaligus, kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144 dari Indonesia menuju Sydney dan tabrakan kapal pesiar dari Swiss dengan batu karang dari Australia bagian barat.
Selain itu korban hanyut tak hanya sekali dua kali terjadi, hampir tiap bulan ada saja wisatawan yang terbawa ombak dan menghilang.
__ADS_1
Dokter Smith merasa kasihan melihat kondisi Kirana. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia akan mendiskusikannya dengan keluarga Maroon.
***