K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
26. Piknik


__ADS_3

Haikal masih tak mengerti mengapa ia bisa berada di restoran mamanya, terlebih dalam kamar Kirana. Iapun teringat dengan mimpi aneh semalam. Kenapa bisa tiba-tiba terpikirkan guru piano Niko? apa yang membuatnya memimpikan wanita bisu itu? otaknya dipenuhi tanda tanya besar.


Mobil sedan BMW S-Class hitam mengkilat memasuki pekarangan rumah besar bu Anna. Haikal memarkir tepat di sebelah mobil Alphard sang mama.


Haikal menginjak rumput-rumput yang baru dipangkas dan masih tersisa jejak embun sudah lagi tak tercium. Beberapa pot besar dengan tanaman hijau baik yang berbunga maupun tidak, menghiasi sudut-sudut pekarangan depan rumah pemilik Restaurant Familial. Pintu rumah setengah terbuka, dan Haikal langsung masuk tanpa memencet bel.


“Om.....” teriak Niko menyambut Haikal saat melihat omnya melewati ruang tamu. Haikal segera merentangkan tangannya. Sedetik kemudian, Niko sudah berada dalam pelukan Haikal.


“Kita mau ke kebun binatang,” kata Niko.


“Oh ya? Kapan?”


“Hari minggu. Om ikut ya?” Niko penuh semangat. Haikal nampak berpikir lama.


“Ayolah, om temani Niko jalan-jalan.”


“Gimana ya ....”


Niko sudah memberengut mendengar Haikal. Ia melipat tangan kesal.


“Oke. Oke bos. Buat keponakan tersayang, apa sih yang gak om kasih?” Haikal mengecup pipi Niko. Niko mengelap pipinya dengan jijik.


“Lho kok diusap?”


“Niko kan udah gede om, bukan anak kecil lagi. Kenapa masih suka dicium?”


“Hahahah... jagoan om udah dewasa ya.”


“Pokoknya jangan lupa ya om, minggu pagi kita jalan-jalan ke kebun binatang,” teriak Niko saat Haikal melenggang ke kamarnya.


***


Minggu pagi Haikal bersiap menepati janji keponakan satu-satunya. Neny sedang mempersiapkan bekal untuk makan siang. Ia juga memasukkan karpet kecil ke dalam bagasi mobil Haikal.


“Kita ini mau buka warung apa kak?” tanya Haikal heran melihat perbekalan yang serba ribet. Termos nasi berwarna hijau berukuran kecil dengan pegangan, tiga kotak makan yang berisi urak-arik telur dengan ikan teri, cah sawi, ayam goreng krispi. Satu kotak kecil berisi kue brownies keju yang telah dipotong. Satu botol besar berisi air putih. Satu botol kecil berisi jus semangka.


“Dari pada beli makanan disana yang gak sehat, kan lebih enak bawa sendiri dari rumah.”


“Mama gak ikut?”


“Enggak. Mama lagi ada meeting sama chef dari Prancis.” Haikal manggut-manggut mendengarnya.


Berarti mereka akan piknik bertiga, pikir Haikal. Suami Neny sedang kerja di perusahaan pertambangan batu bara di Kalimantan, dan pulang enam bulan sekali. Haikal menjadi sosok pengganti ayah bagi keponakannya.


Setengah jam kemudian mereka berangkat. Niko dengan riang menyanyikan lagu kepompong yang telah diaransemen.


“Kita ke restoran mama dulu ya,” ujar Neny.


“Untuk apa?”


“Kan kita mau jemput kakak cantik,” sahut Niko tersenyum gembira.


“Pantes aja, kamu maksa sekali ke kebun binatang. Ternyata ngajak si kakak guru ya?” goda Haikal melirik keponakannya. Niko tersenyum malu sambil membuang muka.


Neny masuk ke dalam restoran untuk beberapa saat dan kembali bersama Kirana yang memakai baju biru tanpa lengan dengan rok selutut berwarna coklat tua. Rambutnya diikat kuncir kuda sambil membawa tas sewarna dengan flat shoes berwarna pastel. Kirana mengangguk dan tersenyum menyapa Haikal. Ia membuka pintu belakang untuk duduk dengan Niko dan disambut senyum lebar dari Niko.


Mobil Haikal baru berjalan lima menit saja, namun Neny berteriak setengah histeris.


“Ada apa, Kak?” Haikal menghentikan mobilnya ikut terkejut.


“Hari ini ada arisan sama teman-teman. Niko maaf ya, mama gak bisa ikut.” Neny menengok ke belakang. Niko tak menggubris mamanya, ia sibuk menunjukkan permainan dalam I-pad pada Kirana.


“Kirain apaan. Bikin kaget aja.” Haikal mengelus dadanya. Lega.


“Niko mama gak bisa ikut gak pa-pa ya?”


“Ah, iya terserah mama,” jawab Niko tanpa menatap sang mama.


Ia masih asyik unjuk kebolehan didepan Kirana tentang mahirnya ia bermain game. Neny keluar mobil. Ia membuka pintu belakang dimana Kirana berada.


“Kirana bisa pindah ke depan?” pinta Neny.


“Lho mama, kan Niko mau duduk sama kakak cantik. Gimana sih?” Niko memprotes, Neny sudah melotot tajam padanya.


“Niko, om Haikal gak ada temannya didepan. Jadi, kakak Kirana harus menemani dia menyetir.”


“Ya biarin aja om sendirian.”


“Niko...” Neny melotot lebih tajam. “Maaf ya. Tapi kan gak mungkin Haikal jadi sopir dan sendirian di depan, entar dikirain supir mobil online lagi hehehe. Tolong jaga Niko ya. Haikal, baik-baik sama Kirana.” Kirana segera keluar dan duduk disebelah Haikal.


Neny kini telah melototi adiknya. Haikal acuh.


Neny memandang mobil yang melaju meninggalkannya dengan senyum penuh harap.


***

__ADS_1


Sepanjang berkeliling kebun binatang, Niko tak pernah melepas gandengan tangannya dengan Kirana sambil terus menariknya dan menuju ke tempat hewan-hewan buas berada.


Haikal harus ikut berlarian mengikuti mereka, dan ia merasa yang menjadi teracuhkan sekarang. Ia seperti obat nyamuk bagi kencan asyik antara guru dan murid.


“Om fotoin,” pinta Niko disetiap sudut tempat.


Ia akan berpose manja dengan Kirana. Haikal tersenyum geli dan sedikit jengkel melihat polah keponakannya karena ia harus menjadi fotografer mereka.


“Masa’ om terus yang fotoin, gantian donk,” protes Haikal.


“Lha gimana aku kan gak bisa foto,” kata Niko sambil berkacak pinggang.


Kirana meminta camera pada Haikal. Ia menawarkan diri untuk memfoto Haikal dengan Niko. Setelah beberapa kali jepretan Niko berkata, “Kita belum punya foto bertiga nih.” Haikal mengangguk. Ia meminta bantuan sepasang suami istri yang berusia paruh baya tepat berada didekat mereka.


“Adik kecilnya depan tengah, iya trus kalian berdua disitu. Yah, mas tolong istrinya dipeluk,” instruksi bapak paruh baya.


Serentak mereka kaget dengan ucapan sang bapak. Tapi mereka tak berkomentar dan terus berpose untuk mendapat jepretan.


“Nah sekarang, adiknya digendong sama papanya ya. Trus tangan mas yang satunya peluk istrinya,” ujar si ibu paruh baya ikut mengatur mereka dengan penuh semangat.


Haikal ingin meluruskan kesalah pahaman tersebut, tapi ia sendiri tak tahu bagaimana harus menjelaskan hal sepele ini. Muka Kirana sedari tadi sudah memerah, ditambah kini Haikal memeluknya dengan sangat dekat.


Hatinya makin berdegup kencang tak berirama. Sesi pemotretan itu hanya berlangsung tak lebih dari semenit, tapi Kirana merasa berjam-jam lamanya.


“Ah kalian pasangan muda yang harmonis ya. Pasti kalian menikah muda sekali sampai punya anak sebesar ini,” ujar ibu paruh baya. Kali ini serentak Haikal dan Kirana dengan gelagapan menggelengkan kepala.


“Eyang. Mereka bukan papa-mamaku. Dia omku dan ini guru Niko.” terang Niko menjelaskan secara spontan karena tak terima dianggap anak dari om dan gurunya.


Ada sedikit rasa cemburu melihat omnya dan Kirana berfoto mesra tadi.


“Oh kalian bukan suami-istri ya?” giliran si bapak paruh baya yang syok malu.


“Maaf ya.” Si ibu memohon. Suami-istri paruh baya tersebut nampak salah tingkah. Haikal dan Kirana sama-sama tersenyum menerima permintaan maaf mereka. Haikal berterima kasih telah difotokan.


“Laper nih.” Niko memegangi perutnya yang mulai berbunyi.


“Tadi mama kamu udah bawain bekal untuk makan siang. Ayo ambil dulu semua barang dalam bagasi nanti kita cari tempat teduh untuk makan,” ujar Haikal.


Haikal menggelar karpet kecil di rerumputan dibawah sebuah pohon, dimana banyak juga pengunjung yang bersantai disana. Kirana membuka kotak bekal makanan yang telah disiapkan Neny. Niko dengan sangat manja minta disuapin. Haikal semakin geli melihatnya. Kirana sangat telaten mengurus Niko layaknya seorang ‘Nany’.


***


Sore hari mereka pulang dari kebun binatang. Kirana harus kembali ke restoran sebelum jam tujuh malam. Tepat saat matahari tergelincir menuruni tangga cakrawala langit, mobil Haikal berhenti di depan restoran. Kirana menganggukkan kepala berterima kasih pada Haikal.


Kirana tersenyum, ia mengusap kepala Niko. Tiba-tiba dalam hitungan detik Niko sudah mengecup pipi Kirana, hingga membuat Haikal terpekik kaget setengah marah secara refleks. Kirana sama kagetnya, tapi ia tak marah.


“Hei..hei.. gak sopan itu,” kata Haikal mencubit pipi keponakannya. Kirana mengelus pipinya. Iapun keluar mobil diiringi lambaian tangan Niko.


Niko sudah duduk disebelah Haikal sambil bermain i-padnya dengan asyik.


“Kamu itu, kecil-kecil sudah berani cium cewek.” Haikal melirik keponakannya.


“Kenapa? om cemburu ya ?” ledek Niko.


“Apa? cemburu? ngapain juga cemburu?” Haikal tertawa geli tuk kesekian kalinya.


“Ah, bilang aja kalau om juga mau cium kakak cantik, kan? Buktinya tadi marah.”


“Hei.. om bukan marah karena cemburu, tapi kamu itu gak sopan. Untungnya si Kirana gak marah.”


“Karena Niko yang cium jadi dia gak marah. Coba kalau om yang cium, pasti udah dipukul sama si kakak cantik.” Niko terkikik nakal.


Haikal tersenyum acuh mendengarnya.


Ia tak mau berdebat lebih panjang dengan keponakannya. Baginya saat ini Kirana sebatas bintang kecil dalam hidup keluarga besarnya.


“Tapi kalau om yang cium kenapa kamu gak mau?”


“Ih om, Niko kan cowok masa’ mau dicium sesama cowok. Jeruk kok makan jeruk,” Niko bergidik ngeri.


***


“Gimana main di kebun binatangnya sayang?” Neny menyambut saat Haikal dan Niko telah tiba.


“Seru, Ma. Kita banyak foto-foto. Ada buaya, singa, kadal gede, ular sebesar tangannya om Haikal, banyak deh. Mama sih gak ikut.” Niko sudah melipat tangan dan memasang wajah jutek yang artinya ia harus diberi ‘sogokan’ agar tidak ngambek.


“Iya sayang, maaf. Tapi yang penting kamu senang kan? tuh di kulkas sudah mama bikinkan puding ice cream.”


Tanpa dikomando Niko langsung berlari menuju ruang makan dan membuka kulkas.


“Cuci tangan dulu!” teriak Neny dari kejauhan. Ia berlalu menuju kamar adiknya.


“Ya ampun kakak! Bikin kaget aja. Ketuk pintu dulu, aku lagi ganti baju.” Haikal histeris setengah marah dan kaget.


Ia telah memakai kaosnya. Neny tak menggubris omelan sang adik. Ia duduk di ranjang dan meraih kamera Haikal.

__ADS_1


“Kakak mau lihat foto-foto tadi,” katanya sambil terus memencet tombol. Neny tersenyum melihat foto-foto Niko yang sangat banyak dalam beraneka pose.


“Keponakan kamu ini emang cocok jadi model ya. Lihat tuh, masih kecil gayanya udah keren.” Neny menunjukkan pada Haikal dengan bangga.


“Bakat narsisme dari kakak,” ledek Haikal.


Neny akhirnya melihat foto-foto terakhir sebelum makan siang, yaitu foto Haikal, Kirana dan Niko. Ia tampak takjub sekaligus senang.


“Wah..kalian ini serasi sekali ya. Aduh, jadi seperti keluarga kecil yang bahagia,” celetuk Neny.


“Apaan sih kak?” Haikal heran dan ia ikut melihat.


Ia mengerutkan kening dan wajahnya memerah. Haikal berusaha merebut kamera, tapi Neny terlanjur berdiri. Ia tersenyum menang.


“Foto ini bagus. Kakak copy dulu yah trus mau dicetak yang gede banget tuh. Jarang-jarang kamu bisa foto seperti ini.” Neny tersenyum menggoda.


Sebelum adiknya meraih kamera tersebut, ia segera berjalan keluar dan menutup pintu. Haikal mendengus kesal.


Neny cekikikan melihat foto-foto Kirana dan Haikal saat berjalan menuju ruang keluarga. Ia berpapasan dengan mamanya.


“Ada apa kok ribut-ribut?” tanya bu Anna.


“Lihat deh ma, Kirana sama Haikal sangat cocok ya?” Neny menunjukkan pada mamanya. Bu Anna melihat sebentar.


“Ah jangan ngawur kamu. mana mungkin Haikal mau dengan Kirana.” Bu Anna menekankan kemustahilan.


“Kenapa enggak, Ma? mama gak lihat perubahan kecil Haikal saat Kirana ada dalam keluarga kita. Setidaknya saat mengajari Niko bermain piano, Haikal sangat ramah dengan Kirana.”


“Itu karena dia menghormati Kirana sebagai guru piano keponakannya.”


“Emm.. selain itu, disini terlihat di foto wajah Haikal berbeda sekali. Seolah dia malu. Jarang sekali kan, Haikal yang setelah empat tahun lalu bisa menjadi lebih hangat dengan seorang gadis.”


“Jangan mengada-ada dan terlalu berharap. Mana mungkin seorang Haikal mau dengan gadis bisu yang Cuma guru les piano dan bekerja di restoran kita? berapa banyak gadis yang sudah kita kenalkan dari bibit,bobot, bebet terbaik? Mereka juga tak kalah cantiknya. Kirana terlalu biasa untuk Haikal. Kamu kira dia bisa merubah hati dingin Haikal?”


Neny terdiam. Tapi ia yakin sekali jika kehadiran Kirana bisa merubah hati dingin Haikal. Mungkin sekarang yang terlihat, Kirana hanya gadis bisu biasa yang mahir berpiano.


Kelak gadis itu akan menjadi luar biasa dimata adiknya. Dan akan mematahkan teori sang mama tentang gadis idaman Haikal tentang kecantikan, jabatan, garis turunan serta kekayaan. Entah, pikiran positif itu tiba-tiba saja terbersit dalam benak Neny.


***


Beberapa hari berselang setelah piknik ke kebun binatang usai, Neny masuk kamar Haikal dengan mengendap-endap perlahan. Pagi itu sudah pukul sepuluh, dan adiknya masih bergelut dengan selimut. Neny menempel foto berukuran 4R di cermin. Lalu ia keluar dengan tetap mengendap-endap.


Alarm Haikal berbunyi tepat pukul 11 siang. Ia akan pergi ke Bandung untuk melakukan survei lokasi proyek hotel bintang lima. Haikal sedikit menggeliat lalu menuju kamar mandi.


Haikal mengancingkan kemeja biru muda di depan cermin.


Beberapa saat ia menyadari bahwa sebuah foto menempel di cermin besarnya. Itu adalah fotonya setengah mendekap Kirana saat di kebun binatang. Haikal mengerutkan kening heran, kenapa ada foto disini? pikirnya.


Sejak kapan ia hanya berfoto berdua dengan Kirana? Haikal mengingat-ingat. Kemudian ia sadar bahwa foto itu telah diedit, seharusnya Niko berdiri di tengah mereka.


Pantas saja yang terlihat hanya setengah badan. Haikal tersenyum geli melihat hasil perbuatan kakaknya yang tega sekali mengcrop foto anaknya sendiri demi lelucon ini. Iapun melepas foto tersebut dan menyimpan dalam saku sebelah dadanya.


***


Ini kesekian kalinya Kirana memergoki Haikal melamun menatap langit. Pandangan pria itu menjangkau luas diangkasa, melewati atmosfir bumi bahkan menembus lapisan-lapisan langit menuju galaksi bima sakti.


Kirana terheran, mengapa Haikal begitu betah menatap langit. Dan kebiasaan itu tanpa sadar ditiru olehnya. Ia merasa, ketika seorang diri di malam hari, melihat langit sama halnya dengan kehadiran sosok tersebut menemaninya.


Tepat berada disisinya. Karena langit yang mereka pandang sama. Ada kisah nan pesan yang tersampaikan dalam diam, namun langit cukup paham. Langit menangkap gelisah,keluh dan rintihan mereka berdua sambil sesekali menghibur lewat kerlip bintang atau mengusir jauh-jauh mendung dan menggantinya dengan awan ceria.


Kirana mendekati Haikal, meski awalnya ia ragu. Namun, karena saat ini mereka cukup akrab, ia memberanikan diri berdiri di sebelah Haikal yang tatapannnya masih berkelana jauh di balik awan-awan.


Biasanya Kirana hanya mampu melihat punggung Haikal yang tengah memandang langit. Kini, ia bisa dengan jelas melihat tatapan seperti apa yang sedang dilakukan pria tersebut pada langit.


Tatapan penuh misteri.


Ada ekspresi yang Kirana tak pahami. Tatapan itu sendu, namun ada kekosongan dan sepercik luapan yang Kirana rasa aneh. Biasanya, orang yang hobi memandang langit, mereka sedang menikmati semesta dengan penuh cinta.


“Sepertinya kamu sangat menyukai langit,” Kirana menyodorkan notes kecilnya. Haikal tersadar ada seseorang di sisinya sekarang. Meski agak terkejut karena tiba-tiba Kirana ada di sebelahnya, iapun membaca notes yang disodorkan gadis itu. Haikal tertawa kecil sekaligus sinis membaca tulisan tersebut. ia kembali menatap langit selama beberapa detik sebelum berkata, “langit mengambil orang yang kucintai. Aku membencinya.”


Deg.


Jawaban yang sangat tidak pernah diperkirakan oleh Kirana.


Itu artinya, selama ini prasangkanya terhadap Haikal bahwa pria itu menyukai langit ialah salah. Ia merasa sangat bodoh dan konyol seketika. Tatapan Haikal yakni kesedihan nan amarah. Tapi, ia tidak melihat kesedihan dan amarah saja yang ada disana. Ada sesuatu yang lain dalam tatapan Haikal.


“Kalau kau membencinya, lantas mengapa kau sering menatapnya?” tulis Kirana.


Haikal tersenyum usai membaca pertanyaan tersebut. ia kembali memandang langit.


“Entahlah..,” ujarnya sambil menoleh pada Kirana.


Rindu.


Ya. Itulah sesuatu lain yang ditemukan Kirana dalam tatapan Haikal pada langit. Ia tak menyangka jika Haikal begitu merindukan sosok yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2