K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
6. Let You Go?


__ADS_3

Tiga hari berlalu acara tahlil terdengar sayup-sayup dari kediaman rumah pak Bagas. Bu Sita hanya mengurung diri dalam kamar Kirana sambil memeluk bingkai foto anaknya. Air matanya belum kering untuk meratapi nasib sang putri sulung.


Ia bahkan mengeluarkan isi lemari putrinya, semua pakaian dipeluk dan dicium. Aroma khas Fresh Peonies kesukaan Kirana dari parfum Eau de Toilette yang diadihadiahkan pak Bagas pada Kirana saat diterima di Blume Musical School, masih membekas.


“Kenapa harus kamu, Nak. Kenapa harus putriku yang masih berusia sembilan belas tahun? Masa depan kamu masih sangat panjang. Kamu masih punya jalan hidup 50 tahun lebih. Apa benar kamu pergi begitu saja? Kenapa mama tidak mendapat firasat apapun. Dan kenapa kamu tidak pernah hadir dalam mimpi mama memberi kabar bahwa kamu baik-baik saja. Jawab Kirana. Mama mohon jawab. Hadirlah meski sekedar dalam mimpi mama, Nak. Katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu?” Bu Sita mengelus foto Kirana.


Wajah Kirana yang sedikit bulat dan pipinya yang padat kemerahan dengan satu lesung pipi disebelah kanan.


Kulitnya kuning langsat, bibirnya mungil kemerahan dengan lekukan tajam bagian atasnya, matanya lebar, hidungnya mancung sama persis dengan hidung sang papa. Warna matanya coklat terang milik sang mama.


Rambutnya hitam legam lurus. Gadis yang tengah beranjak dewasa itu bahkan belum sempat melakukan banyak hal bersama keluarganya. Bu Sita menyesali keterbatasan waktu yang mereka miliki akibat kesibukan masing-masing. Ia teringat ketika Kirana berusia empat tahun,


“Ma, nama aku Ki-ra-na Ba-dar. Kok gitu?” tanya Kirana kecil dalam pelukan bu Sita saat membaca dongeng sebelum tidur. Disebelah mereka, Citra yang masih dua tahun tengah tertidur pulas lebih dulu.


“Karena nama kamu ada artinya sayang.”


“Apa itu?”


“Kirana adalah cahaya yang benderang, Badar adalah bulan purnama. Jadi, Kirana Badar itu bulan purnama yang bersinar terang,” jelas mama. Kirana kecil manggut-manggut meski tak sepenuhnya paham.


“Artinya, Kirana ini adalah bulan yang bersinar di hati mama, papa dan adek,” lanjut mama. Kirana kecil tersenyum bangga.


“Kirana yang menyinari mama, papa dan adek supaya tetap tersenyum dan main-main bersama ya, Ma?” tanya Kirana.


Bu Sita tersenyum mengangguk.


Kirana memeluk sang mama sampai ia terlelap. Bu Sita mengelus rambut kedua putrinya. Setelah lima tahun lamanya, ia dan suami bisa menjadi orang tua dengan kehadiran Kirana.


Anak perempuan cantik dan pintar. Tak lama setelah itu, dua tahun kemudian Citra lahir. Semakin bahagia memiliki dua bidadari dalam kehidupan mereka.


Bu Sita tersenyum perih saat mengingat masa kecil anak-anaknya, Kirana semenjak kecil sangat pintar dan mandiri. Meskipun punya adik dengan usia yang tak terlalu jauh, ia tak pernah cemburu dan merengek seperti anak lain yang merasa kurang diperhatikan orang tuanya. Saat usia tiga tahun, sang papa memberinya hadiah sebuah kotak musik.


Selama berhari-hari ia mendengarkan lagu fur elise dari kotak musik tersebut, ketika semua orang berkumpul di ruang keluarga saat acara arisan, Kirana memijat tuts-tuts piano hitam di ruang keluarga.


Seolah ia sedang mencari nada.


Kirana duduk dan jemarinya dengan terbata-bata menari bebas diatas piano memainkan lagu tersebut. Lagu pertama yang dimainkan Kirana secara otodidak dalam sekejap.


Seluruh keluarga sangat gembira penuh terharu, karena telah lahir seorang musisi jenius muda.


***


Tok.tok.


Terdengar suara pintu yang diketuk seseorang hingga membuyarkan lamunan bu Sita. Orang diluar pintu langsung membuka pintu tanpa menunggu berlama-lama. Pak Bagas menghampiri istrinya dengan terus memutar kursi roda.


“Bisa minta tolong, Ma?” pinta pak Bagas memegang pundak sang istri yang terlihat lesu. Bu Sita menoleh dan menyeka bekas air mata.


“Papa ingin menghirup udara luar. Bisakah mama temani papa jalan-jalan?” tanya pak Bagas.

__ADS_1


Sang istri tak mengerti, disaat seperti ini suaminya meminta hal yang sangat sepele. Akan tetapi bu Sita tak banyak berkomentar, ia menuruti permintaan sang suami.


Bu Sita membawa pak Bagas ke taman perumahan.


Mereka berteduh dibawah pohon besar. Merasakan semilir angin sore yang begitu lembut. Bu Sita duduk di bangku taman menghadap suaminya. Ia melihat sekeliling, sudah lama ia tak berada disini.


Taman perumahan yang berfungsi sebagai taman keluarga. Dulu, sering sekali ketika anak-anaknya masih kecil, mengajak mereka bermain disini. Bercengkrama dengan tetangga yang sambil menggendong dan menyuapi anak mereka masing-masing.


Sekarang, taman itu terlihat sepi.


Entah kenapa, sangat mendukung suasana hati. Mereka membisu untuk waktu yang cukup lama.


Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing, hingga yang terdengar hanyalah suara bisikan dedaunan dan gemertak ranting patah yang berpindah terbawa angin.


“Sudah lama sekali ya kita gak kesini, semenjak anak-anak beranjak besar.” Pak Bagas memecah kebisuan.


Bu Sita tersenyum getir. Seorang pemuda loper koran mengayuh sepeda tua. Ia menyapa sambil melambaikan tangan kearah pak Bagas dan bu Sita saat melewati mereka.


Pak Bagas teringat kalau pemuda itu dulunya juga teman bermain Kirana. Yah, meskipun anak miskin dari kampung sebelah, Kirana tak pernah membedakan status temannya.


“Kita tidak pernah menyadari, bahwa semakin bertambahnya usia, semakin kita tua, seolah waktu terasa semakin singkat, dan kebersamaan diantara kita semakin berkurang.”


Bu Sita menerawang jauh dan samar-samar mendengarkan obrolan sang suami.


“Anehnya, itu bagian dari takdir kehidupan manusia. Kenapa kita tak bisa mempertahankan waktu kebersamaan selagi kita punya kesempatan, agar kita tidak menyesal dengan keadaan yang terlanjur terjadi. Hh..” pak Bagas mendesah panjang, mengatur pernapasannya.


“Saat ini putri kita, anak remaja itu, Citra, adalah kesempatan yang diberikan Allah agar kita mau menggunakan waktu sebaik mungkin untuk bersama dengannya. Mama...” pak Bagas menggenggam tangan istrinya.


“Papa tidak akan pernah minta apapun lagi sebagai kepala keluarga dan pendamping hidup kamu, kecuali dua hal. Pertama tolong, maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik dengan kondisiku seperti ini dan tidak bisa menjadi ayah yang baik membiarkan putri sulungnya dalam bahaya. Papa minta maaf menjadi tidak berguna kepada kalian.” Air mata pak Bagas luruh perlahan.


Sang istri terkejut dengan perkataan suaminya. Tenggorokannya tertahan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia menggigit bibir bawah. Takut mendengar kalimat yang akan memilukan hatinya.


“Yang kedua.., papa mohon dengan sangat. Mama mau mengikhlaskan kepergian Kirana. Merelakan putri sulung kita. Papa mohon dengan sangat. Hanya ini yang bisa papa minta dari mama.” Pak Bagas menunduk tak kuasa menahan isak.


Air mata bu Sita bukan air mata kesedihan akibat kepergian anaknya. Tapi mendengar permintaan seorang suami yang tak mampu ia penuhi. Ia merasa berdosa dan bersalah menjadi seorang istri. Ia tak menyangka suaminya begitu menahan beban berat yang tak dibagi dengannya. Bu Sita hanya terdiam tak menjawab. Ia sesenggukan.


“Citra..masih butuh mama. Citra butuh kasih sayang dan perhatian mama. Mama harus menggunakan kesempatan kebersamaan dengannya agar ia tidak kesepian. Bagaimanapun juga ia anak kita. Bagaimanapun juga mama tidak bisa berlarut-larut seperti ini dan mengabaikan putri kita yang lain. Papa mohon, kabulkan permintaan sederhana papa ini, Ma.” Pak Bagas meratap kepada sang istri.


Mengapa semua orang dengan mudah melepas kamu Kirana? mengapa semua orang tidak ada yang memahami isi hatinya sebagai seorang ibu? kenapa suaminya dengan mudah meminta permohonan yang sangat sulit dan berat baginya? bahkan lebih berat dari membelah lautan dan meledakkan gunung.


Permintaan yang terlalu menyakitkan. Bukan, itu adalah permintaan yang sederhana. Sangat sederhana. Hanya merelakan hatinya untuk melepas kepergian sang anak? mengikhlaskan lalu melupakan. Semua orang pasti bisa melakukan hal tersebut. Itu sangat mudah.


Tapi kenapa dirinya begitu berat melakukan itu?


Dalam hati seorang ibu, terisi air kehidupan anak-anaknya, dan ketika relung hati itu kosong ia menjadi hampa. Ia bak tempayan kering yang merindukan air untuk diisi. Relung hatinya telah kosong, bagaimana mungkin semudah itu mengisi dengan hal lain selain memikirkan darah dagingnya? Sebagian darah, daging, tulang, dan susunan DNA serta ikatan batin yang berada pada diri Kirana melekat pada dirinya!


Itu berarti dialah istri yang tidak berguna.


Dialah yang patut meminta maaf pada sang suami. Karena ia harus berkhianat kepada suaminya, berkhianat pada keluarganya bahwa tak sedikitpun ia mengikhlaskan kepergian Kirana, tak sedikitpun ia percaya akan kematian anaknya yang begitu mendadak, tak sedikitpun ia berhenti berharap bahwa putrinya masih hidup dan keajaiban akan datang kelak.

__ADS_1


“Ma..,” pak Bagas meminta jawaban sang istri.


Bu Sita mengangguk pelan memberi jawaban. Raut mukanya diliputi kesedihan luar biasa. Pipinya masih tetap basah oleh air mata.


***


Haikal pulang ke rumah dengan aroma bau yang menyengat. Bau minuman keras dan air laut dari tubuhnya menebar keseluruh ruangan.


“Haikal..,” panggil bu Anna.


Ia sangat prihatin dengan kondisi anak lelakinya. Rambut Haikal acak-acakan. Bajunya sangat lusuh. Dalam tiga hari saja ia nyaris sama persis seperti orang gila.


“Mama sedih sekali! Kamu belum pernah setetespun meneguk alkohol bahkan ketika kita tinggal di Prancis, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?” tegur Bu Anna.


Haikal tak menghiraukan bu Anna yang mencoba membersihkan pasir di tubuhnya. Ia langsung menuju kamar mandi. Berjam-jam Haikal diguyur air dingin dari shower, hingga kulit tangannya pucat kisut. Kedukaan belum bisa sirna begitu saja oleh ombak laut. Dia masih tidak bisa menerima mimpi buruk itu. Ia ingin segera terjaga dalam tidur melelahkan ini.


***


“Besok Haikal akan ke Australia,” ujarnya saat makan malam.


Denting sendok-garpu terdengar tak berirama.


“Untuk apa?” tanya bu Anna.


“Haikal ingin disana untuk beberapa waktu. Mama gak perlu khawatir.”


“Lalu pekerjaan kamu bagaimana?”


“Resign tentu aja. Aku akan mencari pekerjaan baru.”


“Kenapa mendadak begini?” bu Anna semakin cemas.


“Bukan mendadak. Ini sudah lama direncanakan. Bulan ma..du kami besok ke Australia. Mama gak usah khawatir. Aku kesana cuma ingin mengunjungi tempat yang seharusnya kami kunjungi. Setelahnya, mungkin akan tinggal agak lama.”


“Apa perlu mama ikut?” Haikal tersenyum menatap sang mama.


“Siapa yang akan mengurus restoran kalau mama ikut pergi? aku bukan anak kecil lagi, Ma. Tolong percaya. Aku baik-baik saja. Kalau aku semakin lama disini, ini akan membuat aku jadi gila.”


Bu Anna nampak ragu. Ia masih mencemaskan putranya. “Lalu pesawat kamu berangkat jam berapa ?” tanyanya. Haikal terdiam.


“Bukan pesawat. Mulai saat ini aku tidak akan mempercayakan hidupku diatas kendaraan terkutuk itu.” Haikal menjawab dengan nada penuh kebencian.


“Lalu, kamu mau naik apa ?”


“Berlayar.” Haikal tersenyum.


“Maksud kamu dengan kapal pesiar?”


“Iya. Mama lupa kalau kita punya banyak kenalan pelayar? Akan butuh waktu lebih lama. Tapi rasanya aku ingin menikmati udara laut.”

__ADS_1


Yah. Angin laut, ombak, ikan-ikan bahkan badai ialah jelmaan dari Kezia sekarang. Aku tidak akan melewatkan waktu kemesraan kami sepanjang mengarungi samudra pasifik. Sapalah aku, Kezy.


Entah dengan desir angin lembut, gemuruh ombak bahkan ikan-ikan kecil yang melompat-lompat. Sapalah aku bahwa kau bahagia dan tenang disana. Aku hanya ingin merasakan kehadiranmu semata.


__ADS_2