
Kirana tidak mungkin kembali ke rumah majikan bibik. Itu akan sangat merepotkan dan mengkhawatirkan mantan pembantunya. Kirana menangis sepanjang perjalanan naik TransJakarta. Ia tak tahu harus berhenti dimana.
Yang ia pikirkan saat itu adalah mencari kerja dan tempat tinggal murah. Beberapa penumpang memperhatikan dirinya, namun tak berani mengusik atau lebih tepatnya enggan. Beberapa diantara mereka saling berbisik, namun Kirana sendiri tak menggubris mereka.
Ia nampak linglung dan kebingungan, tapi juga tak ingin mendapat simpati orang lain.
Ia berhenti di halte kelima sejak pemberangkatan pertama.
Hari sangat panas.
Ia berjalan di trotoar menyusuri jalan tanpa tujuan. Ia berhenti tepat disebuah restoran keluarga. “Restaurant Familial ” sebuah restoran Prancis yang cukup berkelas.
Kirana bukan menatap pada menu yang terpampang masih promo spesial, maupun gambar-gambar makanan menggiurkan pada pamflet. Akan tetapi, ada sebuah kertas berukuran A4 bertuliskan “ DICARI FREELANCER UNTUK COOK HELPING USIA MAX 28 TAHUN” yang tertempel tepat dipojokan dinding restoran tersebut. Rupanya restoran itu baru saja dibuka. Dengan segera Kirana masuk kedalam restoran mewah itu.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” sambut pelayan pria berkemeja putih dan berdasi menggunakan.
“Saya ingin bertemu manager anda.” Tulis Kirana. Pria itu mengerutkan kening, tapi ia kemudian mengantarkan Kirana ke ruang managernya. Seorang wanita anggun duduk dibelakang meja besar.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya manager berusia empat puluh tahun tersebut setelah pelayan pria menjelaskan kedatangannya ke ruangan manager.
“Saya butuh pekerjaan bu. Saya bisa menjadi tukang cuci piring, mengepel lantai dan sebagainya. Saya melihat ada lowonga untuk freelancer.” Kirana menyobek selembar notes.
Bu manager mengerutkan kening. Ia nampak terkejut dan sangat tidak menyukai kehadiran Kirana yang tidak diharapkan.
“Bisa masak?”
Kirana mengangguk ragu. Ia tahu sedikit resep masakan Meksiko dari madam Joyce dan menu tradisional sederhana. Tapi ia tidak begitu yakin itu berguna di restoran Prancis.
Sang manajer mendecakkan bibirnya.
__ADS_1
Pandangan matanya menuju ujung rambut hingga ujung kaki Kirana dengan dengan sedikit senyum kecut. “Maaf ya, Mbak. Kami memang mencari freelancer tapi untuk membantu koki. Meskipun begitu tetap harus orang yang mengerti dasar-dasar memasak, terutama masakan Prancis.”
“Saya dirampok pagi tadi. Saya tidak punya apaun selain pakaian dalam koper ini. Tolonglah bu, saya butuh pekerjaan.”tulis Kirana. Bu manager menggeleng pelan.
“Maaf, saya tetap tidak bisa. Silahkan anda keluar sekarang. Anda sudah menyita waktu saya,” kata bu manager dingin.
Tidak semudah itu meminta pekerjaan tanpa skill dan identitas meskipun itu hanya untuk cook helper. Kirana bangkit lalu berlutut dihadapan bu manager.
“Apa-apan ini? saya bukan menteri tenaga kerja yang bisa dengan mudah memberi pekerjaan orang tanpa kualifikasi. Cepat berdiri dan keluar dari ruangan saya atau saya panggil keamanan,” bentak bu manager galak.
Kirana menangis dan memohon.
Ia tidak akan pergi sebelum bu manager itu memberinya pekerjaan. Dengan kesal bu manager berteriak memanggil pegawai dan menyuruh mereka untuk menyeret Kirana keluar dari restoran mereka. Kirana tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia benar-benar membutuhkan pekerjaan. Dengan langkah gontai ia pergi tanpa tujuan jelas.
***
Hari semakin gelap. Dan perutnya tak bisa diajak kompromi untuk diam. Ia memasukkan tangannya yang kedinginan oleh malam dalam saku mantel.
Kirana mengambilnya dengan tatapan takjub bahwa terdapat sepuluh lembar uang lima puluh ribu. Ia berucap syukur. Setidaknya uang itu bisa untuk makan baginya. Meski ia tidak bisa menyewa kamar untuk singgah.
Ia berpikir keras uang darimanakah di sakunya tersebut? mungkinkah bibik atau keluarga Maroon? Ah, siapapun dia, uang itu sangat berguna untuknya. Yang kini dibutuhkan Kirana adalah sebuah tempat tinggal, tak perlu nyaman yang penting bisa buat berteduh dari panas, dingin, hujan dan tentunya aman dari penjahat. Karena bagaimanapun juga kota Megapolitan seperti ini banyak sekali tindak kriminal dari berbagai sudut dan modus.
Kirana duduk di halte TransJakarta. Beristirahat sejenak, sambil menunggu sesuatu yang ia sendiri tak tahu harus menunggu apa dan siapa atau hendak kemana. Tak terasa ia tertidur di halte hingga seorang petugas membangunkannya.
Kirana melangkahkan kaki sambil menahan kantuk luar biasa, lalu terhenti disebuah emperan pertokoan, dimana beberapa orang gelandangan yang tertidur pulas disana beralaskan koran atau kardus lipat.
Nekat, iapun ikut bergabung dsana. Setidaknya ia bisa istirahat untuk malam ini.
***
__ADS_1
Kirana telah diusir tiga kali, dan terakhir kalinya giliran oleh pemilik toko yang akan membuka toko dimana emperannya ia gunakan tidur bersama gelandangan lainnya. Perjalanan panjang mencari kerja dan tempat tinggal harus ia selesaikan hari ini juga.
Untungnya sang bibik membawakan makanan dan beberapa kue untuk mengganjal perut kosongnya. Kirana sarapan dengan roti di dekat halte bis.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepannya. Kaca penumpang bagian depan diturunkan.
“Mbak....”sapa wanita dalam mobil yang menyetir. Kirana menoleh. Bu manager restoran Prancis kemarin.
“Silahkan masuk mobil saya,” Ajak bu manager dengan nada lebih ramah dan hangat. Kirana ragu, namun karena tidak punya pilihan lain, iapun bergegas masuk kedalam mobilnya. Mereka bersalaman.
“Maaf ya atas ketidaksopanan saya kemarin. Saya berusaha mencari kembali keberadaan mbak, untungnya bertemu disini,” kata bu manager sambil terus menyetir. Kirana heran, ada angin apakah yang membuat sikap bu manager Restoran Prancis ini melunak.
“Pasti anda terkejut dengan sikap saya saat ini? ketika saya menyuruh pegawai untuk mengusir mbak, pemilik restoran Prancis itu datang dan melihat. Dia bertanya kepada saya yang terjadi, ia meminta saya untuk menerima anda bekerja disana,” cerita bu manager. “Mungkin anda bertanya-tanya kenapa pemilik restoran itu baik sekali dengan orang yang dia tidak kenal. Karena pemilik restoran itu mempunyai sebuah yayasan untuk orang-orang cacat, yah..seperti anda,” lanjut bu manager sambil melirik ke arah Kirana. Masih dengan tatapan dan nada meremehkan.
“Beliau sangat baik dan peduli terhadap orang-orang tunanetra, tunarungu, tunawicara serta tunadaksa. Malah jika mbak mau, nantinya beliau akan menjadikan mbak dalam daftar bantuan dalam yayasannya,” Perjelas bu manager.
Sebenarnya jauh dalam hati Kirana ia merasa sakit ketika dianggap cacat. Ia bukan cacat sesungguhnya. Ia hanya cedera karena kecelakaan. Ia mungkin saja bisa sembuh esok hari atau suatu ketima. Tapi, setidaknya ia berterima kasih ada orang yang peduli.
Bu manager memarkir mobil. Ia mengajak Kirana lewat pintu samping restoran.
“Karena kami sendiri memang butuh karyawan yang serabutan dan bisa melakukan apa saja. Bagian cook helper sudah diisi orang lain. Tapi kamu bisa belajar juga nantinya. Jadi nanti kamu...” Kirana segera menuliskan namanya dan menyobek lembaran notes.
“Oke. Jadi, Kirana pekerjaan kamu tiap jam 6 pagi harus mencuci semua sayur dan dikemas dalam plastik supaya tetap segar serta higienis, lalu dimasukkan kedalam kulkas. Setelah itu, kamu membersihkan ruangan saya, toilet, ruangan karyawan dan dapur. Jika orang-orang di dapur butuh bantuan kamu, kamu harus membantu mereka. Restoran kita buka dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Kamu baru bisa bebas tugas setelah kami tutup. Oh ya, karena pekerjaan kamu banyak sekali dan harus tepat waktu kami berikan tempat tinggal di bagian belakang, dekat dengan gudang. Tempatnya kecil, tapi bersih. Tenang saja, itu memang diperuntukkan untuk kamar pegawai seperti kamu,” kata bu manager.
Intinya adalah Kirana sebagai pembantu di restoran itu. Kirana menganguk-angguk dan mencatat semua tugas yang diberikan bu manager. Ia bersyukur mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal secara gratis sekaligus.
“Oh ya satu hal lagi, meskipun pemilik restoran berbaik hati kepada kamu, saya tidak ingin kamu mengecewakannya. Kalau kamu tidak kompeten serta malas maka saya tak segan-segan memecat kamu tanpa persetujuan pemilik Restoran. Saya bekerja profesional disini dan saya punya wewenang untuk itu. Saya harap kamu mengerti dan gunakan kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya.” Bu manager mengangkat alisnya dan menegaskan ucapannya.
Kirana nampak kikuk, tapi ia berjanji akan bekerja dengan baik. Setidaknya selama di Maroubra, pekerjaan bersih-bersih dan mencuci sayuran adalah hal biasa. Dan mulailah saat itu Kirana menaruh koper serta barang bawaan lainnya ke kamar dekat gudang.
__ADS_1
***