K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
3. A Hope


__ADS_3

“Sebanyak tiga belas jasad korban kecelakaan pesawat Kencana Air RQ301443 perjalanan Jakarta-Sydney Australia telah ditemukan meski dalam keadaan tidak utuh.”


Bib.


Haikal mematikan televisi.


Empat hari telah terlewat semenjak kecelakaan yang menggemparkan seantero negeri terjadi, belum diketahui keberadaan tunangannya. Dia menatap foto pre-wedding dalam bingkai.


“Apa kamu baik-baik aja Kezy? Kamu harus baik-baik saja. Kamu sudah berjanji untuk segera kembali setelah pentas musim semi itu. Kita akan menikah Kezy. Tinggal tiga bulan lagi.” Haikal berbicara pada foto tunangannya.


Bibir Haikal memang kini telah terdiam. Namun, hatinya terus bercerita.


Kamu pasti ada di suatu tempat dengan selamat. Iya kan? Kezy, aku mohon lekaslah pulang. Aku akan menunggu sampai kamu kembali. Tidak ingatkah janjimu padaku dulu? Janji bahwa setelah kita bertunangan, kita tak akan saling berjauhan, apalagi di waktu yang lama. Karena kita ditakdirkan untuk selalu ada.


Selalu mengisi satu sama lain.


Selalu ..., dan selalu sampai menua menikmati masa.


Haikal mencium foto Kezia dan memeluknya erat. Ia bukan lelaki cengeng. Bahkan ketika berada di Paris, ia pernah menjadi korban bullying teman-temannya hingga babak belur ketika masih sepuluh tahun.


Sejak kecil ia tak pernah meneteskan airmata bahkan ketika papanya sekarat berpesan agar ia janji untuk tidak menangis, ia benar-benar tidak menangis. Di usianya yang baru delapan tahun!


Akan tetapi, kali ini berbeda. Gadis yang dicintainya pergi entah kemana disaat mereka akan merayakan momen sakral nan suci. Gadis yang akan menjadi miliknya, seutuhnya, yang akan menjadi bagian lembaran hidup dalam setiap episode masa depannya.


Gadis yang akan melahirkan kloning antara mereka, dua atau tiga anak-anak dan merawatnya bersama. Gadis yang akan menemaninya duduk menikmati secangkir kopi di pagi hari dengan tangan keriput dan mata rabunnya beberapa puluh tahun mendatang.


***


“Ya Allah ya Tuhan...Semoga Kirana selamat ya pa. Mama yakin dia selamat. Mama yakin dia baik-baik saja,” bu Sita merapal doa berkali-kali untuk putri yang dicintainya, sama halnya dengan Haikal pada kekasih yang dirindukannya.


Mereka menonton siaran televisi di waktu yang sama, di tempat berbeda.


“Iya, Ma. Sebelum ada nama Kirana Badar dalam daftar korban meninggal, kita harus yakin Kirana selamat,” jawab pak Bagas tersenyum tipis, lagi-lagi berusaha menguatkan istrinya meski hati kecilnya memberontak.


Dia memeluk istrinya dan berusaha menenangkan. Dia mengelus dadanya yang terasa sesak. Dia berharap disaat seperti ini penyakit jantungnya tidak kumat. Sang ibu tiap hari mengadakan pengajian demi keselamatan cucunya.


Banyak tamu berdatangan memberi ucapan bela sungkawa dan turut prihatin. Tapi, istrinya malah mengusir tamu-tamu tersebut. Bahkan karangan bunga dari rekan kerja dan relasi mereka diobrak-abrik oleh ibu dua gadis tersebut.

__ADS_1


“Anak saya belum mati. Kalian tidak perlu datang kesini seolah-olah ingin berduka cita ke rumah saya. Bunga-bunga ini penghinaan besar bagi kami. Apa kalian benar-benar mengharapkan kematian Kirana??” teriaknya marah saat itu.


Pak Bagas hanyalah seorang musisi terkenal era-70an yang sedang pensiun akibat sakit jantung. Dia tak bisa berbuat banyak. Demi menghibur diri, dia bermain piano dengan lagu kesukaan Kirana selagi istrinya mulai tak terkendali. Tak terasa air mata pak Bagas luruh membasahi kedua pipinya.


Dadanya terasa sesak. Jantungnya seperti ditusuk seribu pisau panas menjalar di kedua bahunya. Tangan kirinya mencengkram sofa, dia menggigit bibir mencoba menahan rasa sakit.


Dia tak mau keluarganya yang sedang berduka makin terbebani dengan kondisinya. Keringat dingin mengucur dari tubuh gagahnya. Dia masih memeluk sang istri yang sedang menangis. Pak Bagas menutup mata berusaha mengatur napas. Sang istri merasa degup jantung sang suami tak beraturan dengan napas yang tersenggal-senggal.


Suaminya juga terlihat gelisah.


“Pa...” panggil bu Sita. Dia melepaskan pelukan suaminya. Sang suami memegang dada dengan tangan kiri.


“Papa gak pa-pa?” bu Sita bertanya khawatir. Suaminya tak menjawab, dan hanya memejamkan mata menahan rasa sakit.


“Pa.. jantung papa kumat lagi?” bu Sita mulai panik. Suaminya tak sadarkan diri.


***


“Bagaimana hasilnya, Dok? Suami saya baik-baik saja, Kan?”


“Ini serangan jantung kedua. Kalau sampai ada yang ketiga kalinya, saya khawatir itu akan sangat berbahaya. Untuk sementara biarkan pasien rawat inap dulu. Dan tolong jangan sampai pasien mendengar berita tidak menyenangkan serta membuat stress,” ujar dokter.


“Kenapa harus seperti ini? Kirana mengalami kecelakaan. Papa sakit. Kenapa musibah terus-menerus menimpa keluarga kita?” bu Sita meratapi suaminya. Mengerutuki nasib buruk yang tak adil baginya.


“Sudahlah, Nak. Kita harus bersabar. Istighfar. Semua ada hikmahnya,” nasihat sang ibu mertua. Isakan tangis keluarga pak Bagas menghiasi lorong rumah sakit.


***


Setiap hari Haikal pergi ke posko informasi kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144, dia pulang dengan wajah suram.


NIHIL.


Tak ada info, berita maupun tanda-tanda keberadaan Kezia. Meski sampel rambut ibu dari Kezia telah diserahkan, tidak ada DNA yang cocok dengan potongan tubuh korban yang telah ditemukan.


Tiga minggu berlalu, tak ada nama Kezia maupun Kirana. Dua keluarga mereka dipenuhi perasaan antara sedih dan berharap-harap cemas. Orang tua Kezia tidak bisa berlama-lama tinggal di Indonesia, mereka telah berganti warga negara asing. Mereka mengharapkan berita dari Haikal.


Haikal semakin frustasi, ia melihat kalender yang semakin membuatnya sakit hati. Sebulan lagi dia akan menikah. Seharusnya saat ini, mereka fitting pakaian pengantin mereka. Seharusnya saat ini mereka sedang sibuk-sibuknya menyeleksi nama-nama tamu undangan, membicarakan kematangan konsep dekorasi, membayar pelunasan gedung, menemani Kezy trial make up dengan MUA, melakukan tester makanan yang akan disajikan di atas buffet dan meeting dengan Wedding Organizer.

__ADS_1


Seharusnya dan seharusnya itulah yang ada dalam benak Haikal.


Kegelisahannya semakin tak terbendung. Hampir tiap malam ia terbangun dengan napas terengah-engah. Kemudian ia tak bisa tidur sama sekali hingga fajar menaiki cakrawala.


Tok, tok, tok.


Pintu kamar Haikal diketuk seseorang dengan nyaring. Haikal tak menyauti.


Dia duduk dan memandang jauh dibalik jendela kamarnya. Kursi kerja dari kayu jati yang sedang diduduki Haikal menghadap ke arah jendela dan membelakangi meja kerja yang berseberangan dengan pintu ruang kerjanya.


Haikal tak bergeming meski ketukan pintu terdengar lebih kencang.


Si pengetuk pintu membuka perlahan. Wanita yang berusia lebih tua dari bu Sita datang membawa nampan berisi teh rasa daun mint. Sengaja kali ini menghidangkan teh alih-alih kopi. Dia mendekat, dan meletakkan teh tersebut di meja.


“Sudah dua bulan. Apa yang akan kita lakukan?” tanya sang wanita setengah berbisik dengan nada hati-hati. Ia berdiri disebelah putranya dan menepuk pelan pundak Haikal.


Haikal terdiam.


“Para ahli telah mengatakan kronologi kecelakaan itu. Pesawat itu meledak di udara dan hancur berkeping-keping. Dan...mungkin.. Semua orang bilang...kalau kemungkinan...,” sang wanita belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Haikal bangkit dari duduknya.


“Mama juga berpikiran sama dengan mereka bahwa tak ada yang selamat? Apa mama mau bilang kalau Kezy udah mati? Itukah yang mama mau bilang?” Haikal mengepalkan tangannya setengah marah. Otot-otot di pelipisnya menegang. Ia menatap mamanya begitu tajam seolah ada bara api yang sedang menyala-nyala diujung anak panah yang siap melesat, menusuk dan membakar siapapun juga.


“Bukan begitu nak..mama cuma ingin agar kamu mulai menerima kenyataan.” Bu Anna tampak salah tingkah, perlahan melepaskan tangannya di bahu Haikal.


“Ma..aku yakin Kezy baik-baik saja. Calon menantu mama pasti selamat. Selama belum ada jasad Kezy, Haikal anggap Kezy masih hidup. Dan selama itu, pernikahan akan tetap berlangsung. Apapun yang terjadi Haikal akan tetap melanjutkan rencana pernikahan tersebut.”


Haikal berjalan menjauhi sang mama menuju pintu.


“Kamu mau kemana?” tanya bu Anna cemas.


“Melihat gaun pengantin Kezy,” Jawab Haikal datar selagi masih di ambang pintu.


Bu Anna menggeleng pasrah.


Dia cemas anak bungsunya menjadi tidak waras. Dia sangat terpukul ketika mengetahui calon menantunya tersebut mengalami kecelakaan. Baginya Kezia adalah sosok yang sempurna. Gadis baik hati nan cantik yang ideal bersanding dengan putranya. Ia juga mencintai gadis itu seperti anaknya sendiri.


Bu Anna memang hanya mengenal Kezia selama satu setengah tahun, tapi ia tahu banyak dan tahu betul sifat dan sikap Kezia. Bu Anna menghembuskan napas dengan berat. Ia hanya sedang mencoba menerima kenyataan. Selama ini kecelakaan pesawat jarang ada yang selamat. Terlebih jika meledak di udara.

__ADS_1


Ia juga tidak ingin putranya menghabiskan sisa hidup sia-sia pada gadis yang bahkan tidak diketahui antara hidup atau mati.


__ADS_2