K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
40. Firasat yang Benar


__ADS_3

Bu Sita sedang bermain ponsel yang baru saja dibelikan oleh Citra seharga enam juta rupiah. Mbak Moni dengan sabar dan telaten telah mengajarinya menggunakan smartphone tersebut termasuk bagaimana berselancar di media sosial ketika menunggu Citra selesai pemotretan.


Maklum, semenjak kepergian putri tercinta dan disusul oleh suami serta mertuanya, ia bukanlah ibu-ibu sosialita atau ibu-ibu kekinian yang up to date. Setidaknya setelah mengenal media sosial, dan bisa berkomunikasi dengan teman-teman lama, teman jauh dan teman baru, ia sedikit mendapat hiburan.


Bu Sita aktif mengikuti instagram para pendakwah, motivator dan businessman. Ia ingin bangkit dari keterpurukan setelah sekian lama vakum dari semuanya. Beberapa mengikuti akun instagram gosip, karena bagaimanapun juga ia seorang wanita!


Wanita berusia lima puluh tersebut sedang asyik me-like instagram putrinya, Citra, sebagai endorse. Ia juga memenuhi isi foto, rekaman dan instastory miliknya tentang Citra yang berhasil memenangkan Coseam dan kini menjadi model nasional.


Sebuah cuplikan video dari salah satu akun gosip yang bernama “Bi_Gos” muncul di halaman beranda dengan judul, “Salah Satu Korban Selamat Penumpang Kencana Air RQ30144 yang Sempat Dinyatakan Hilang dan Tewas.” Rasa penasaran membuat bu Sita tanpa berpikir ulang segera menontonnya.


Video yang direkam melalui ponsel tersebut tidak begitu jelas karena banyak goyang. Akan tetapi ketika menyorot objek gosip, wajahnya diperbesar dan membuat bu Sita terpekik. Ia tak yakin dengan yang dilihatnya, tapi kemudian memutar sebanyak tiga kali untuk memastikan gadis tersebut sebagai orang dikenalnya.


“Citra!!! Citraa....!!!” teriak bu Sita dari ruang tamu.


Citra baru saja pulang dari pemotretan pihak Coseam dan ia sedang merebahkan diri di atas tempat tidur.


Bu Sita setengah berlari dan segera menerobos masuk kamar putrinya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Ada apa, Ma?” tanya Citra kaget dengan keributan mamanya.


“Lihat ini! Ini kakak kamu! Kirana. Siapa lagi kalau bukan dia? Mama sangat yakin sekali.”


Citra mengerutkan kening, ia mengucek mata dan segera meraih ponsel sang mama sambil duduk.


Ia melihat siaran dari akun gosip tersebut. Lalu mengecek akun gosip lainnya dan berisi berita yang sama tentang penumpang selamat pesawat Kencana Air.


“I..ini.. ini kakak, kan Ma?” tanya Citra ragu dengan terbata-bata. Mamanya mengangguk sambil terisak.


“Tapi, bagaimana mungkin?”


“Mama sudah bilang. Firasat seorang ibu itu pasti benar dan anak mama pasti belum mati karena jasadnya saja tidak ditemukan. Kita harus mencari tahu dimana keberadaan Kirana saat ini. Ayok cepat.”


“I..iya..baiklah Ma. Tapi kita harus memastikan terlebih dahulu. Aku akan menghubungi rekan wartawan kenalanku untuk mengetahui dimana mereka meliput wanita itu. Nanti kita datangi kesana.” Citra menggenggam kedua tangan mamanya.


Bu Sita mengangguk. Ia sudah tak sabar ingin memeluk dan mencium putri sulungnya. Tidak bisa terbayangkan bagaimana Kirananya kini telah tumbuh menjadi wanita muda yang memesona. Ia tak memperhatikan kondisi Kirana yang saat diliput sedang dalam situasi sedih, yang ia pastikan hanyalah wajah yang sangat dikenalinya.


Citra meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah tempat tidur. Ia menghubungi rekan wartawan gosip untuk memastikan kejelasan liputan yang kini menjadi topik utama para media massa gosip. Setelah berbicara tak lebih dari lima menit ia mengakhiri pembicaraan dan memandang mamanya dengan mata berbinar.


“Kita ke rumah itu sekarang.”


Citra dan mamanya menaiki taksi yang sedang lewat. Mereka menuju terminal mencari bus ke Jakarta. Biasanya mereka akan menyewa mobil beserta supir, tapi saat itu sudah tidak ada waktu mencari rental mobil dan supir.


Mereka tiba di Jakarta pukul sepuluh malam. Bu Sita sangat ingin segera menuju rumah kediaman bu Anna dimana Kirana diliput.


Tapi, Citra megingatkan tentang etika bertamu. Lagipula, menurut keterangan para wartawan, gadis yang diliput itu segera pergi meninggalkan rumah tersebut. Jadi, Kirana tidak mungkin ada disana. Bu Sita akhirnya setuju dengan saran putrinya untuk menginap dulu di hotel terdekat.


***


Pukul tujuh pagi, ketika matahari baru saja menyingsing di sepenggalah tiang dan daun-daun hijau mulai berfotosintesis. Bu Sita dan Citra telah meninggalkan hotel tanpa sarapan yang telah disediakan di restoran hotel.

__ADS_1


Mereka langsung menuju kediaman bu Anna yang dijaga ketat oleh satpam.


“Ada perlu apa ya, Bu?” tanya satpam.


“Saya perlu bicara dengan pemilik rumah ini,” jawab bu Sita.


“Sudah ada janji? ibu darimana? Pemilik rumah sedang tidak bisa sembarangan menerima tamu.”


Bu Sita dan Citra saling melirik. Citra memahami situasi tersebut, karena pemilik rumah pastilah tidak ingin menerima wartawan atau sorotan media lagi.


“Emm, begini saya dengar kalau pemilik rumah ini, bu Anna, seorang pemilim restoran prancis. Jadi kami kesini mau membicarakan bisnis. Saya ini model, Pak. Bapak mungkin tau kontes model beberapa minggu lalu, Coseam di stasiun GaulTv. Saya ini pemenang pertamanya. Bu Anna ingin dipromosikan restoran Prancisnya...” belum sempat Citra melanjutkan cerita karangannya, satpam bertubuh jangkung itu langsung menyela dengan takjub, “Oh, anda ini mbak Citra Kusuma Bintang ya? Wah saya baru nyadar. Betul-betul cantik. Boleh saya minta foto berdua dan tanda tangan?” satpam tersebut memohon dengan mata berbinar.


Citra dan mamanya sedikit terkejut namun akhirnya menanggapi dengan senang hati. Bu Sita memotret putrinya dan satpam rumah dengan ponsel milik satpam. Setelah beberapa kali pose dan memberi tanda tangan di kaos dalam si satpam, mereka diijinkan masuk ke halaman.


Bu sita dan putrinya tidak perlu memencet bel, karena saat itu sang pemilik rumah, bu Anna, sedang sibuk membaca koran di ruang tamu dengan pintu terbuka lebar.


“Permisi bu, Assalamu’alaikum,” salam bu Sita dengan sopan. Bu Anna mendongakkan.


Wanita berkacamata persegi panjang kecil dengan bingkai berwarna keemasan itu meletakkan koran dengan sedikit kesal. Ia sudah memperingatkan satpam untuk tidak membukakan pintu bagi orang yang tidak punya kepentingan, dan keluarganya sedang tidak ingin menerima tamu.


“Wa’alaikum salam.” Bu Anna tetap menjawab salam dan berjalan menuju pintu.


“Iya?”


“Eh, Maaf, Bu. Sa..ya....,” bu Sita gelagapan dan kebingungan.


“Begini wanita yang semalam diliput oleh media, kami merasa sangat mengenalnya sebagai anggota keluarga kami yang telah hilang dalam kecelakaan pesawat itu. Kami hanya ingin memastikan apakah wanita itu benar-benar keluarga kami atau hanya mirip saja,” sela Citra langsung ke pokok permasalahan sebelum diusir karena ketidaksediaan pemilik rumah memiliki tamu asing.


Bu Sita segera mengeluarkan foto keluarga yang diambil satu tahun sebelum kepergian Kirana dan menyerahkan kepada wanita yang lebih tua lima tahun darinya.


Bu Anna membenarkan kacamata dan memperhatikan lebih jelas gadis berambut hitam legam panjang dan kedua lesung pipinya. Gadis itu terlihat lebih berisi dan muda. Kirana saat itu masih berusia delapan belas tahun dan wajah remajanya banyak berbeda dengan saat ini.


Gadis remaja dalam foto selain dari tubuh dan wajahnya yang lebih berisi, nampak terlihat ceria dan bahagia. Ia mendapati dan mengenali Kirana yang tulang wajahnya semakin kentara dengan tubuh menyusut serta suatu kesedihan yang seolah menemani sepanjang hidupnya.


“Silahkan masuk,” kata bu Anna dengan nada suara lebih hangat. “Apa yang kalian ingin tanyakan tentang wanita semalam? Wanita itu sudah tidak ada di rumah ini dan memang tidak tinggal di sini. Dia datang ke acara pesta keluarga kami,” ujar bu Anna ketika ia beserta tamunya telah duduk di sofa. Citra dan mamanya saling memandang.


“Apa dia bernama Kirana Badar?” tanya bu Sita penuh harap.


“Saya hanya tahu namanya memang Kirana. Tidak pernah tahu nama lengkapnya.”


Citra dan bu Sita bernapas lega dan tersenyum bahagia. Secercah harapan kembali mucul di ujung-ujung hati mereka yang telalu lama didera keputus asaan.


“Bagaimana ibu bisa mengenal Kirana?”


“Dia tidak memiliki tempat tinggal dan tujuan. Ia membutuhkan pekerjaan. Jadi dia bekerja di restoran saya sambil tinggal disana. Setelah manager kami tahu bahwa ia bisa bermain piano dengan baik, ia direkrut menjadi pianis di restoran kami. Saat ini da tinggal di sebuah apartemen milik anak saya.


Keluarga kami tidak tahu asal-usulnya bagaimana dan dimana, kami hanya tahu bahwa dia orang yang baik, pekerja keras, dan bertalenta meski sayang dia tidak bisa bicara..”


“Maaf.., anda bilang di..a tidak bisa bicara?” tanya bu Sita mengulang kata-kata terakhir bu Anna.

__ADS_1


Bu Anna mengangguk. “Iyah. Dia bisu, harusnya kalian sudah tahu, Kan?”tanya bu Anna balik.


Jantung bu Sita seolah hampir anjlok dari tempatnya. Itu tidak benar.


Tidak mungkin bagi bu Sita. Putri kesayangannya adalah seorang penyanyi seriosa, mana mungkin wanita bisu.


“Kakak saya, Kirana Badar, tidak bisu. Dia seorang penyanyi seriosa dan musisi. Dia pernah belajar di Blume Musical School, kak Kirana memang mahir bermain beberapa alat musik termasuk piano. Tapi dia penyanyi seriosa..,” kedua ujung mata Citra berkaca-kaca.


Bu Anna hanya bisa terdiam. Ada sedikit keterkejutan dan rasa bangga mendengar kekasih putranya itu dulunya seorang penyanyi seriosa. “Itu adalah Kirana kalian,” ujarnya lirih.


Kedua tamunya sedikit syok dan menatap ke arah bu Anna. Kacamata bu Anna sudah berembun. Ia menerawang ke langit-langit rumah.


“Wanita semalam adalah Kirana kalian. Sayangnya, setelah kecelakaan itu sepertinya dia menjadi bisu. Dia sendiri cerita bahwa dialah murid kesayangan Kezia, calon menantu di keluarga kami, murid Blume Musical School dan hendak mengikuti pentas musi semi di Sydney. Kecelakaan pesawat Kencana Air merenggut semuanya, termasuk calon menantu kami dan hanya menyisakan Kirana bisu yang dirudung rasa bersalah dengan kesedihan sepanjang sisa hidupnya.”


Bu Sita mengangguk-angguk. Benar.


Wanita bisu itu pasti Kirana. Karena bu Sita juga mengenal baik dengan Kezia, bahkan Kezialah yang memintakan ijin secara langsung ke orangtua Kirana dengan datang bertamu ke rumah mereka. Bu Sita terisak. Ia tak menyangka jika putrinya yang masih sangat muda harus menanggung beban sedemikian berat.


“Tolong, Bu. Saya ingin tahu dimana Kirana tinggal? Wanita yang melahirkan dan merawatnya ini sudah lima tahun terpisah darinya. Kami kira dia sudah meninggal,” bu Sita menggenggam erat kedua tangan bu Anna.


“Saya tidak yakin dia masih tinggal disana. Petugas keamanan bilang semalam ia tidak pulang ke apartemen.” Bu Anna merasa bersalah tidak bisa memberi jawaban memuaskan. “Ah, semalam ia bersama dengan manager kami. Mungkin manager itu yang mengantarnya ke suatu tempat. Sebentar ya,” bu Anna melepas genggaman tangan tamunya. Ia berjalan ke kamar untuk mengambil ponsel.


Citra dan mamanya berpelukan. Mereka tidak bisa menahan lebih lama untuk tidak bertemu Kirana.


“Kalian bisa ke hotel Leben di kamar 307. Dia disana dan semoga dia belum pergi kemana-mana. Manager restoran membawanya disana untuk menghindari wartawan,” kata bu Anna penuh semangat usai menelpon seseorang.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih.” Bu Sita menggenggam tangan bu Anna. Mereka pamit dan bergegas menuju hotel yang dimaksud.


“Tunggu..,” teriak bu Anna ketika tamunya sudah berada di ambang pintu. “Tolong.., bawa Kirana kalian kembali kesini sebentar, ada yang harus diselesaikan dan dijelaskan,” ujarnya tersenyum samar-samar.


***


Bu Sita dan Citra tidak mempercayai dengan yang dilihat mereka. Mata Kirana telah lebih dulu basah. Ia sendiri nyaris pingsan begitu terkejutnya dengan kehadiran dua sosok yang begitu dirindukan.


Mereka berdiri di ambang pintu kamar 307. Kirana memakai kaos lengan pendek dengan celana jins, sisa pakaian miliknya di restoran yang dibawakan bu manager.


“A..pa..apa ini...Ki...rana? aapa ini... putriku?” bu Sita mendekat dan memegang pipi Kirana.


“Kakak?” Citra sama syoknya. Kirana mengangguk pelan.


“Citra.. cubit mama, Nak. Apakah ini mimpi atau bukan? Atau memang ada orang yang sangat mirip dengan Kirana?” suara bu Sita terbata-bata dan ia masih memegang wajah Kirana dengan kedua tangannya-tak percaya.


Kirana terisak, ia ingin berseru menyebut nama mama dan adiknya dan menjelaskan bahwa dia memang Kirana, putrinya. Kirana kembali mengangguk. Ia tak kuasa menahan diri dan langsung memeluk wanita yang sangat dicintainya. Untuk waktu lima tahun, dan sekian lamanya ia menahan rindu yang luar biasa.


Intuisi seorang ibu langsung menyergap diri bu Sita. Ia ikut memeluk erat putrinya yang telah menghilang selama lima tahun.


Ia beryukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikannya. Selama ini feelingnya benar bahwa putrinya belum meninggal. Ia menyesali kematian suami dan mertuanya yang terburu-buru, sedangkan kini Kirana mereka telah berdiri di depannya dalam keadaan sehat, cantik dan telah dewasa.


Bu Sita tidak perduli jika Kirana yang saat ini ditemui lebih kurus dan tirus serta bisu, tidak bisa menyanyi seriosa lagi. yang terpenting baginya bahwa putrinya selamat, masih hidup dan utuh. Meskipun ia harus memendam rasa sakit mendalam mengetahui kondisi putrinya yang tidak bisa bicara, ia lebih bahagia ketika putrinya kembali di sisinya.

__ADS_1


Bu Sita mencium kening dan pipi putrinya berkali-kali. Setelah berpuas diri, bu Sita memberikan kesempatan pada Citra untuk memeluk kakaknya.


__ADS_2