
Malam pergantian tahun tinggal menunggu hari. Pantai Maroubra semakin banyak pengunjung. Miss Asian, madam Joyce dan Machita semakin sibuk di cafe mengejar uang lembur. Begitu pula dengan Paulo, ia lebih sibuk mengantarkan ganggang laut untuk dikirim ke pabrik-pabrik.
Berbeda dengan dokter Smith dan Mr. Bruce yang lebih banyak bermain di pantai bersama. Sore hari adalah saat yang paling disukai Paulo, karena ia akan mengajak anak-anak kecil bermain bola.
Miss Asian selalu menatap takjub dan bangga dengan adik lelaki angkatnya itu, ia hanya bisa bertumpu pada satu kaki dan tongkat yang menjadi penyanggah tubuhnya. Paulo begitu lincah, ceria dan penuh semangat dan tak pernah sekalipun terdengar suara keluh akibat lelah bekerja.
“Aku selalu senang dan bangga melihatnya,” kata dokter Smith tiba-tiba duduk di dekat miss Asian.
Miss Asian menoleh. Dokter Smith menerawang jauh ke pantai. “Look. Dia adalah anak yang baik. Ketika aku bertemu dengannya, dia masih berjalan dan berlari seperti anak-anak normal lainnya. Tapi, ketika kecelakaan itu terjadi, dia harus berjalan dengan satu kaki. Aku tidak pernah melihatnya menangis, dia tersenyum dan berkata ‘jangan cemas mum, aku bisa melakukan apa saja dengan satu kaki.’ Itu membuatku sadar bahwa cacat bukan akhir dari segalanya,”cerita dokter Smith.
Tak terasa airmata miss Asian luluh menetes perlahan mendengarnya. Sebelum dokter Smith memergokinya sedang menangis, segera ia menghapusnya dengan punggung tangan.
Kalimat terakhir dokter Smith seolah ditujukan untuknya. Memang benar, selama ini dia hidup dalam keputusasaan yang berlebih.
Seolah dunia telah berakhir. Kenapa ia begitu lemah dan pengecut dengan mudahnya menganggap dunia berakhir? sedangkan anak laki-laki yang serumah dengannya lebih tangguh dan menganggap kekurangannya hanyalah kerikil kecil. Ia masih bisa bermain bola dengan tangkas, ia bisa bekerja dengan baik sebagai pengumpul ganggang laut.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menyesakkan tenggorokan miss Asian. Ia tak sanggup menanggapi obrolan dokter Smith tentang Paulo. Miss Asian bangkit dari tempat duduknya, ia meninggalkan dokter Smith yang masih melihat permainan bola Paulo bersama anak-anak kecil.
***
31 desember di malam hari adalah hal yang dinantikan seluruh orang dari berbagai penjuru dunia. Kali ini dokter Smith mengajak keluarga Maroon dan miss Asian melihat kembang api dan merayakan malam tahun baru di jembatan pelabuhan Sydney.
Mobil dokter Smith bisa mengangkut enam orang lebih, karena ia baru saja membeli mobil van bekas berukuran besar. Banyak orang telah menggelar tikar bahkan kemah di dekat pelabuhan untuk sekedar melihat kembang api.
Mereka membawa banyak makanan dan minuman sambil bercanda ria menunggu momen pergantian tahun.
Haikal merasa bosan berlama-lama dengan Marry saat di Opera House. Marry sangat kecentilan dan suka menggembar-gemborkan hal-hal kecil.
“Aku ke toilet sebentar. Kamu tidak mungkin ikut, kan?” ujar Haikal kesal.
Haikal dengan sembunyi-sembunyi berhasil keluar gedung tanpa sepengetahuan Marry. Ia melepaskan jas hitamnya dan dengan gerah melonggarkan kancing bagian leher. Ia berjalan berdesakan dengan ratusan orang di Circular Quay yang berada di sekitar jembatan pelabuhan Sydney.
Mungkin sedikit jahat membiarkan Marry di gedung opera itu sendirian dalam waktu lama. Akan sangat tidak sopan dan Marry bisa memecatnya kapan saja.
Haikal mengeluarkan ponsel dari saku, mengirim pesan pada Marry bahwa ia harus pergi lebih dulu dengan alasan sakit kepala. Meski kurang masuk akal dan terkesan tidak gentle, Haikal hanya tidak ingin berlama-lama dengan Marry. Untung saja mereka pergi sendiri-sendiri, jadi Marry bisa pulang dengan sopir yang masih menunggunya, sedangkan mobilnya masih terparkir aman.
Tepat pukul sembilan malam, diluncurkanlah Family Firework-kembang api keluarga yang dikhususkan untuk anak-anak yang tidak bisa menunggu kembang api hingga larut malam.
Semua bersorak riuh, Haikal mencari-cari celah untuk bisa keluar dari kerumunan orang. Semakin malam, semakin tidak ada ruang di sekitaran Circular Quay. Itu artinya ia juga akan kesulitan mengambil mobil. Meski begitu ia juga tidak bisa buru-buru pulang karena jalanan yang macet.
Sayang sekali ia terjebak. Ia meratap ke tepian. Ia harus menikmati kembang api disana. “Huh,what’s a damn firework!” keluh Haikal saat berhasil di tepian jalan.
Family firework dimulai dengan guratan bunga putri malu berwarna oranye saat menggelegar menghiasi langit Sydney. Kemudian kembang api kecil-kecil berwarna putih seperti cipratan air mengikuti di bawahnya. Kembang api keluarga hanya berlangsung selama kurang dari sepuluh menit. Tepuk tangan meriah dari anaka-anak masih terdengar riuh renyah meski sajian kembang api tersebut telah usai.
Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak segera pulang yang sebetulnya diharapkan Haikal untuk bisa pulang juga. Ia enggan melihat kembang api pergantian tahun baru. Tidak ada yang istimewa baginya, untuk itulah kenapa ia tidak begitu suka keluar di malam tahun baru. Seperti yang telah diperkirakan, semakin malam, malah semakin penuh sesak dengan orang-orang dewasa yang kian mabuk.
Tepat ketika tengah malam, pergantian tahun telah dimulai. Puncak pertunjukan kembang api yang paling ditunggu akhirnya tiba juga. Percikan api berwarna-warni mulai menghias malam pergantian tahun muncul dari berbagai tempat. Kapal feri, gedung-gedung pusat pergantian tahun baru. Orang-orang saling bertepuk tangan dan menatap takjub panorama api yang menari-nari di lantai langit.
Berbeda halnya dengan Haikal yang masih berdiri di dekat pagar pembatas air meski jauh dari jembatan. Ia bisa melihat Opera House dengan jelas. Sepuluh langkah darinya, seorang wanita berdiri, melakukan hal sama dengannya, menatap tajam Opera House. Mereka berdua mungkin satu-satunya orang yang tidak tertarik pada kembang api malam itu. Hati dan jiwa mereka tertuju pada Opera House.
***
Kirana tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Ia berpaling dari Opera House. Ia berjalan seorang diri melewati Haikal yang masih terpaku menatap gedung klasikal tersebut.
Sial!
Sepertinya, Kirana kehilangan keluarga Maroon. Karena semakin sesaknya orang-orang merayakan pergantian malam tahun baru. Ia bahkan tidak bisa berjalan bebas akibat padatnya orang. Kirana berjalan seorang diri mencoba menyusuri kembali jalan menuju lokasi piknik keluarga Maroon. Ia mengambil jalan pintas memasuki lorong-lorong atau gang sempit.
Segerombolan pria mabuk dilorong tersebut nampak kacau. Kirana berhenti sejenak. Ia melihat mereka yang berjumlah lima orang. Kirana harus keluar dari gang tersebut. Ia salah jalan dan mengutuki kecerobohannya akibat tersesat.
Kirana mundur beberapa langkah, akan tetapi segerombolan singa yang siap menerkam itu nampak menemukan mangsa. Kirana berusaha menjerit dan berlari sekuat tenaga dari kejaran mereka. Terlambat, bajunya ditarik dengan kasar sehingga bagian pundaknya robek.
“Hey Ladies. You look so beautiful. Happy new year,” kata salah seorang dari mereka meracau sambil mencolek pipi Kirana.
__ADS_1
Kirana terisak. Ia sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi padanya. Tak berselang lama pemuda yang menenteng jas hitam lewat dihadapan mereka.
“Hei... Apa yang kalian lakukan? Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik daripada menggoda wanita? Dasar tikus-tikus got!” kata pemuda tersebut sambil membanting jasnya.
Gerombolan pemabuk itu sangat marah dengan perkataan kasarnya. Tapi dengan secepat kilat pemuda itu menarik tangan Kirana dan meraih jasnya sehingga mereka berlari bergandengan tangan.
Kirana sedikit terkejut dengan gerakan refleks tiba-tiba pemuda yang menolongnya. Ia mengira pemuda tersebut akan menghajar babak belur gerombolan pemabuk tersebut seperti dalam drama-drama atau film action. Setelah berlari cukup jauh dan merasa aman, Haikal berhenti karena ngos-ngosan. Begitu juga dengan Kirana. Tanpa sadar tangan mereka telah lepas.
“Are you okay?” tanya Haikal setelah mengatur napasnya.
Kirana mengangguk. Ia mengisyaratkan ucapan terima kasih. Haikal mengerutkan kening, seketika dia menyadari bahwa gadis yang ditolongnya adalah gadis bisu. Haikal balas mengangguk paham.
“Kemana kamu akan pergi? Apa kau tersesat?” tanya Haikal.
Kirana menjelaskan dengan tangannya. Haikal tak mengerti bahasa isyarat tersebut.
Kirana mengambil notes dan pena kemudian menuliskan sesuatu, “Thanks for your help. My family in Balmain Point.” Haikal membacanya ia manggut-manggut.
“Aku akan mengantarmu kesana,” tawar Haikal. Kirana sangat berterima kasih. Itu artinya ia tidak akan tersesat dan merasa aman.“Err..missus, take it,” kata Haikal sebelum mereka berjalan, Haikal melirik bahu Kirana yang robek.
Dengan sungkan Kirana menerima jas hitam itu dan memakainya. Jalanan semakin sesak. Dengan berdesakan mereka berusaha untuk melawan arus.
“Excuse me,” kata Haikal pada Kirana, kemudian ia menggandeng Kirana dengan erat memastikan gadis bisu tersebut aman di dekatnya dan mereka tidak terpisah.
Sepanjang perjalanan menuju Balmain Point, Haikal menggenggam erat tangan kiri Kirana seolah-olah jemari gadis itu sangatlah berharga.
Entah dari mana datangnya tiba-tiba hati Kirana berdesir pelan. Entah mengapa ia begitu percaya dan merasa sangat aman sekaligus nyaman di dekat pria asing tersebut. Padahal, Kirana sendiri tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang lebih tinggi sepuluh senti darinya.
Mereka menepi ke trotoar dan jalanan yang agak senggang, handphone Haikal berbunyi. Ia merogoh saku celana dengan tangan kirinya dan tetap menggandeng Kirana dengan tangan kanan. Ia kembali berjalan sambil menerima telepon.
“Iya, Ma?” sapa Haikal. “Selamat tahun baru juga, Ma. Iya, aku akan segera pulang dan kembali ke rumah setelah proyek ini selesai.”
Kirana menyimak baik-baik pembicaraan Haikal. Ternyata pria itu adalah orang Indonesia. Setelah sekian lama menumpang di negeri orang, akhirnya ia bertemu dengan sesama warga Indonesia. Perasaan Kirana semakin bercampur aduk. Hatinya meluap-luap ingin menyampaikan bahwa dirinya juga WNI.
“Aku juga gak mungkin selamanya disini, mama tidak perlu khawatir. Aku pasti pulang. Aku juga merindukan kampung halaman dan keluarga. Iya. Pasti secepatnya aku akan pulang,” ujar Haikal lalu mengakhiri pembicaraannya tepat ketika tiba di Balmain Point.
“Aku mencarimu kemana-mana. Kau baik-baik saja? Jas milik siapa ini?” tanya dokter Smith tiba-tiba sambil menepuk bahu Kirana dari arah belakang.
Miss Asian tersadar bahwa jas milik pria Indonesia itu belum dikembalikan. Miss Asian bahkan belum sempat menanyakan nama dan alamat pemuda itu tinggal. Miss Asian berjalan menuju lokasi keluarga Maroon berada dan meninggalkan dokter Smith tanpa berkomentar.
***
Keluarga Maroon saling berfoto dan Mr. Bruce nampak benar-benar mabuk sekarang. Madam Joyce sedikit mengomel kewalahan memapah tubuh besar suaminya.
Pukul 02.00 pagi mereka telah meninggalkan Balmain Point.
Mr. Bruce telah terlelap tidur, begitu juga kedua anak dan istrinya dalam mobil. Kirana masih terjaga menemani dokter Smith menyetir. Setelah sampai di pantai Maroubra, keluarga Maroon ambruk ke kamar mereka masing-masing.
“Aku ingin bicara sesuatu denganmu. Bisakah kamu ikut denganku ke pantai sebentar?” pinta dokter Smith saat miss Asia mengantarnya ke ambang pintu rumah.
Miss Asia melihat bibir pantai lumayan ramai meski pagi buta, banyak pengunjung pantai yang menghabiskan malam tahun baru mereka sambil membuat api unggun, bernyanyi dengan iringan gitar, menari-berdansa tidak jelas akibat mabuk.
Ia mengangguk mengiyakan, lagipula kedua matanya masih belum mengantuk benar. Akhir-akhir ini ia mengalami insomnia berat dan baru bisa tidur diatas jam tiga pagi.
“Aku sangat suka bau pantai dipagi hari buta seperti ini,” kata dokter Smith sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Angin berhembus kencang dan dingin menusuk. Miss Asian merapatkan lipatan kedua lengannya. Miss Asian telah bertelanjang kaki sejak dari rumah keluarga Maroon. Jemari kakinya terjilat ombak. Dokter Smith berhenti disudut pantai. Ia berhadapan dengan miss Asian.
“Dan, aku sangat mencintaimu miss A, oh No. I mean miss K,” kata dokter Smith menatap lekat-lekat wajah Kirana yang tertegun.
Miss Asian tergagap. Kedua matanya terbelalak kaget lalu ia menelan ludah. Bagaimana bisa dokter Smith menyebutnya miss K?
“Kamu mungkin heran mengapa aku menyebutmu miss K. karena aku tahu nama depanmu pasti diawali huruf K dan bukan A, hal itu terlihat saat aku melihatmu sering menulis huruf K,” lanjut dokter Smith.
__ADS_1
Tapi itu tidak menghilangkan kegelisahan miss Asia karena identitasnya mulai terkuak.
“Will you marry me?” tanya dokter Smith. “Aku bicara dari lubuk hatiku. Aku benar-benar mencintaimu pada pandangan pertama.” dokter Smith menjelaskan sekaligus menegaskan.
Belum selesai keterkejutan miss Asian, kini ia semakin syok dengan pernytaan dokter Smith dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini sangat mendadak! Ia tak tahu bahwa dokter Smith memang bersikap berlebihan untuknya sejak mereka kenal. Tapi bagi miss Asia mungkin itu hanya sekedar perhatian dokter pada pasiennya.
“Aku menyayangi semua keluarga Maroon dan begitupula dirimu. Sejujurnya, aku senang ketika berada dekat denganmu, Dokter. Tapi, kau adalah dokterku. Kau pahlawanku. Aku rasa, aku minta maaf. Karena aku tidak bisa,” ujar Kirana dengan bahasa isyarat.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku sebagai seorang pria?” teriak dokter Smith yang nampak frustasi. Rupanya ia juga terbawa alkohol.
“Kita berteman. Aku pasienmu dan kamu dokternya. Aku rasa itu sudah cukup,” jawab miss Asia.
Ia kebingungan, kenapa semua menjadi kacau seperti ini. Apalagi dia tahu bahwa Machita menyukai dokter Smith. apa yang akan terjadi jika Machita mendengar semua itu. Miss Asia tak mau berlama-lama di pantai. Ia segera beranjak pergi dan berlari kecil menuju pondok keluarga Maroon. Ia ingin mengakhiri pembicaraan tidak menyenangkan itu.
Dokter Smith mengejarnya. Ia menarik lengan miss Asia, dan sedetik kemudian tubuh gadis mungil itu telah berada dalam dekapannya. Lebih tepatnya kini, bibirnya dengan lancang menyentuh bibir miss Asia dengan rakus.
Miss Asia yang awalnya tidak sanggup menolak sikap dokter Smith yang begitu mendadak, ketika ia menyadari bahwa dirinya diintimidasi dan perlakuan tidak menyenangkan menghampirinya, secara refleks ia langsung mendorong kemudian menampar pipi dokter Smith yang terlalu agresif serta kasar. Dengan setengah terisak ia melanjutkan berlari dalam rumah.
Pagi-pagi keluarga Maroon nampak bangun kesiangan akibat pesta tahun baru semalam. Akan tetapi, tidak bagi miss Asian.
Pagi-pagi benar ia sudah mencuci piring dan memasak serta membereskan rumah. Kejadian semalam membuatnya tak tenang hanya berdiam diri. Ia bahkan tidak tidur sama sekali!
“Wow, kamu bangun pagi sekali dan mempersiapkan semua ini?” tanya Machita yang baru bangun dan melihat sarapan telah tersajikan.
Tok,tok,tok.
Machita akan membuka pintu, tapi miss Asia telah mendahuluinya. Ia melihat dokter Smith yang berdiri dihadapannya. Dengan sedikit kesal, miss Asia menutup kembali pintu, namun dokter Smith telah menahannya.
“Tunggu, akan aku jelaskan tentang kejadian semalam,” dokter Smith memohon.
Miss Asia menghela napas.
Ia keluar pintu dan berdiri didepan. Ia tak ingin dokter Smith menjelaskan di dalam rumah keluarga Maroon.
“Aku minta maaf tentang ciuman itu,” kata dokter Smith. “Aku tidak ingin membahas tentang itu lagi,” sahut miss Asia.
“Dengarkan aku. Itu spontanitas. Karena aku mencintaimu untuk waktu yang lama. Dan aku tidak dapat menahannya.”
“Aku telah katakan padamu. Aku tidak bisa, aku menyukaimu seperti keluarga Maroon tapi aku tidak mencintaimu. Kau membuat hubungan kita berantakan,” ujar miss Asia.
Ia segera masuk dengan setengah membanting pintu. Machita berdiri dengan mata berkaca-kaca dan kedua tangannya mengepal erat.
“Kau telah berciuman dengan dokter Smith?”tanya Machita terbata-bata. Miss Asia kebingungan harus menjawab.
“Ini..tidak seperti yang kau pikirkan...”
“Cukup... padahal kau tahu aku menyukainya,” ujar Machita setengah berteriak.
Airmatanya mulai luruh membasahi pipi. Miss Asian mencoba mendekati Machita. Machita melangkah mundur.
“Aku pikir kita adalah teman, kita adalah saudara. Tapi kenapa kau mengkhinatiku?” Machita sudah terisak.
Miss Asia juga ikut terisak. Terdapat kesalahpahaman disini. Dan dengan kebisuannya ia tak bisa menjelaskan secara leluasa kepada Machita.
“Aku bersumpah....”
“Jangan katakan apapun. Kau menyakitiku. Kau tidak tahu siapa dirimu. Kau hanya menumpang di keluargaku!” Kata-kata yang sangat mencekat akhirnya keluar juga dari mulut Machita dengan penuh kesal, sehingga miss Asia terpaku.
“Machita!! What a damn you talking about? Kenapa kalian bertengkar pagi-pagi?” madam Joyce melengking tinggi sehingga membuat mereka berdua menoleh.
Mr. Bruce dan Paulo juga terbangun oleh kegaduhan mereka. Machita memandang ibunya dengan kesal. Ia masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan sangat kasar. Lutut miss Asia gemetar. Ia terduduk dan terisak.
“Ada apa?” tanya madam Joyce. Miss Asia menggeleng.
__ADS_1
Ia begitu kecewa dengan pernyataan Machita. Mungkin benar ia telah menumpang hidup di rumah keluarga Maroon lalu diangkat sebagai keluarga, tapi sungguh menyakitkan jika Machita mengungkitnya.
***