K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
9.Lelaki Baik Hati


__ADS_3

Dokter Smith datang dengan Machita. “Kamu tidak sarapan dulu, Dok?” tanya Machita penuh semangat.


“Thank you. Aku akan memeriksa gadis itu terlebih dahulu.” Dokter Smith segera mengeluarkan stetoskopnya dan menuju kamar Machita.


Kirana masih meringkuk di pojok ruangan. Dokter Smith berjongkok memegang pundaknya.


“Bolehkah aku membantumu?” bisik dokter Smith. Kirana hanya menatap ragu.


“Kemarilah. Ikut denganku, kita harus merawat kakimu,” kata dokter Smith.


Kirana melihat kakinya. Ia pun melunak. Perlahan dokter Smith membantu Kirana berdiri dan memapahnya keluar.


“Kami akan ke rumah sakit, kakinya harus digips dengan segera.” dokter Smith memberi tahu madam Joyce.


“Kenapa kalian tidak sarapan terlebih dahulu?” ujar madam Joyce.


“Kamu ingin makan sesuatu? percayalah, masakan madam Joyce sangat lezat,” kata dokter Smith pada Kirana. Namun Kirana tak berselera makan. Ia menggeleng pelan.


“Maaf, madam. Aku sangat ingin sarapan disini. Tapi lebih cepat kami ke rumah sakit, lebih baik,” dokter Smith melambaikan tangan lalu memapah Kirana keluar rumah.


Machita mendengus kesal dan Paulo hanya terkikik. Dokter Smith membawa Kirana dalam mobil sedan tua miliknya. Mereka menuju Randwick yang berjarak sekitar empat kilometer dari Maroubra.


***


“Musim semi. Aku selalu suka dengan musim di negara ini,” gumam dokter Smith dibalik kemudi.


“Kau tahu bahwa musim di Australia berbeda dengan Amerika? ketika natal, kau tidak akan mendapatkan salju disini,” lanjut dokter Smith sambil tersenyum.


Kirana hanya mendengarkan. Entah mengapa diantara orang-orang asing yang ditemuinya dua hari terakhir, ia hanya merasa nyaman dan percaya pada dokter Smith lalu madam Joyce. Dokter Smith memarkir mobilnya. Sebelum keluar mobil ia memakai jas putihnya terlebih dahulu.


“Pacar barumu, Dokter?” goda pergawai administrasi. Dokter Smith tersenyum kecil tak menghiraukan.“Siapa nama anda, Nona?” tanya suster.


Kirana tak menjawab. Dokter Smith juga kebingungan bahkan sampai saat ini ia belum tahu nama pasiennya. “Nona?” tanya suster itu sekali lagi.


“Err.... Asia. Namanya nona Asia,” jawab dokter Smith secara asal. Pegawai tersebut mengerutkan kening curiga. Tapi ia tak berkomentar dan mengetikkan nama pada komputer.

__ADS_1


“Usia anda?”


“Tujuh belas mungkin,” sahut dokter Smith. Kirana mengerutkan kening, Yah, wajar saja bahwa orang Indonesia secara fisik terlihat jauh lebih muda dari orang barat.


Dokter Smith mengantar Kirana menuju ruang pemeriksaan ortophedi. Dokter yang memeriksa Kirana adalah senior dokter Smith.


“Bagaimana kondisinya?” tanya dokter Smith setelah dokter seniornya menggips kaki Kirana.


“Tidak terlalu parah. Dia akan sembuh dalam sebulan. Dia harus memakai tongkat untuk sementara waktu tentu saja,” jawab dokter senior. Dokter Smith dan Kirana bernapas lega.


“Gadis yang cantik, Dokter,” bisik dokter senior tersebut sambil mengedipkan mata pada dokter Smith.


“Oke. Terima kasih, Dok. Aku antar dia pulang dulu,” kata dokter Smith mengacuhkan gurauan dokter senior yang telah beruban itu.


***


Dokter Smith kembali memapah Kirana. Ia membawa Kirana membeli tongkat untuk berjalan di sebuah toko perlengkapan medis.


“Kau suka yang ini?” tanya dokter Smith menawarkan sebuah tongkat berjalan dengan harga yang cukup mahal dan terlihat mengkilap.


Kirana menggeleng pelan. Ia menunjuk sebuah tongkat paling sederhana dan ringan digunakan. Dengan harga murah tentu saja, karena ia toh hanya akan menggunakannya sementara saja. Ia mencoba latihan berjalan perlahan. Meski sedikit kesulitan setidaknya membantunya berjalan lebih baik sementara menunggu kaki kanannya sembuh.


Dokter Smith membayar ke kasir, Kirana melihat pria tersebut mengeluarkan kartu yang kemudian digesek oleh kasir. Meski mirah daripada yang ditawarkan, tetap saja Kirana merasa tak enak hati membuat dokter Smith mengeluarkan uang cukup banyak untuk dirinya pribadi.


Padahal, mereka tidak memiliki hubungan apapun dan baru saja kenal. Ia merasa sangat berhutang budi banyak pada dokter Smith.


“Jangan khawatir, ini uang amal dari donatur untuk pasien yang membutuhkan,” celetuk dokter Smith seolah bisa membaca pikiran Kirana lewat kegelisahan hatinya melihat uang yang telah dikeluarkan dokter Smith.


Kirana tersenyum berterima kasih, meskipun itu uang amal, ia akan tetap menggantinya suatu saat nanti.


Kruyukkk....bunyi suara perut keroncongan berasal dari perut Kirana. Ia menunduk malu sambil memegang perutnya. Sejak sadar dari pingsan, ia belum makan sesuatupun.


“Ayo, kita cari sesuatu untuk sarapan yang telat ini,” ujar dokter Smith menahan senyum.


***

__ADS_1


Mobil sedan tua Dokter Smith mengajak Kirana ke KFC Cnr Milperra Rd & Henry Lawson Dr sekitar tiga puluh menit dari rumah sakit Prince of Wales. KFC yang buka 24 jam tersebut cukup ramai dengan orang-orang yang sarapan di sana.


“Ini makanan umum, di setiap negara ada. Praktis dan semua orang suka. Mungkin kamu tidak suka dengan masakan di restauran Australia, jadi aku membawamu kesini. Aku yakin kau mengenal KFC, bukan?” dokter Smith melepas sabuk pengamannya.


Dokter Smith membuka pintu penumpang. Akan tetapi, Kirana enggan turun dari mobil. Ia tak bergeming dari tempat duduknya.


“Kau tidak suka?” tanya dokter Smith. Kirana menggeleng. Dia menunjuk menu yang terpampang di papan besar kemudian mengarahkan pada dirinya dan mobil.


“Kau tidak ingin makan di dalam dan hanya di mobil saja?” tebak dokter Smith mengartikan isyaratnya. Kirana mengangguk.


Meski dokter Smith tak mengerti dengan alasan Kirana yang tak ingin makan di tempat, ia pun segera menuju KFC untuk membeli makanan.


Kirana tak ingin mempermalukan dokter Smith dengan kondisinya yang berantakan. Ia belum sempat mandi, menyisir rambut bahkan berdandan. Ia malu ketika masuk rumah sakit yang sangat besar dan megah. Sebagai seorang perempuan ia cukup punya harga diri meskipun berada di negara orang dan dalam keadaan sakit.


***


“Bagaimana harimu hari ini nona?” sapa Paulo sambil memasukkan ganggang laut ke dalam karung yang siap dikirim ke pabrik kosmetik. Kirana tersenyum.


“Selamat siang, Paulo,” sapa dokter Smith.


“Kamu punya tongkat kaki yang bagus.” Paulo bergumam kagum. Ia meraba tongkat Kirana dan membandingkan dengan miliknya yang nampak usang.


“Kamu ingin aku belikan yang baru?” tanya dokter Smith.


Paulo menggeleng dan berkata, “No, thanks. Ini bagian dari hidupku.” Paulo memeluk tongkatnya.


“Kau ingin secangkir teh atau kopi, Dok?” tawar Paulo.


“Maaf, aku harus kembali ke rumah sakit. Rawat dia untukku Paulo.” dokter Smith segera keluar dengan tergesa-gesa.


“Kau ingin secangkir teh?” Paulo ganti menawari Kirana. Kirana mengangguk. Meskipun sudah jam sebelas, tapi hawa dingin musim semi masih terasa.


“Machita menyuruhku untuk memberikan handuk, bajunya dan kau bisa menggunakan make up miliknya. Tapi, jangan terlalu banyak. Terkadang ia sangat pelit,” bisik Paulo tersenyum. Ia memberikan barang-barang Machita pada Kirana.


***

__ADS_1


__ADS_2