K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
10. Investigasi


__ADS_3

Sore hari Machita, madam Joyce dan Paulo berkumpul di dapur. Karena disana tidak terdapat ruang tamu, jadi meja makan sekaligus tempat duduk tamu. Madam Joyce sedang membuat guacamole sebagai tambahan makan malam.


Machita dan Paulo membuat adonan tortilla sebagai hidangan sehari-hari mereka. Terkadang roti Prancis dan sereal untuk selingan menu. Sebagai orang Meksiko tulen, keluarga itu tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaan makan dan berpakaian ala Meksiko.


Kirana melihat dari balik pintu kamar Machita. Ia merasa sungkan hanya menumpang hidup saja, ia berjalan tertatih-tatih menuju dapur dan menawarkan bantuan.


“Oh no.. no. Beristirahat saja, sayang,” sela madam Joyce.


Kirana memang tidak bisa memasak. Namun, ia bisa membantu mereka mencuci piring atau menata meja sebagai gantinya. Ia duduk, lalu menyandarkan tongkat pada kursi di sebelahnya.


Kirana tersenyum geli melihat Paulo yang usil menaburkan tepung sisa adonan tortilla pada rambut Machita, hingga gadis remaja tersebut menjerit kesal. Madam Joyce mengomel dalam bahasa selain bahasa Inggris yang tidak dimengerti oleh Kirana.


“Maaf, kami hanya punya ini. Aku tidak tahu seperti apa makanan dari negaramu. Jika kau tidak suka ini, kau bisa makan ikan. Kami punya banyak ikan laut,” kata madam Joyce melepas celemek motif bunga karang.


Kirana menggeleng. Dia bukan tipe orang yang suka memilih-milih makanan. Dia cukup tahu diri dan berterima kasih pada keluarga asing itu yang telah memberikan perawatan, pakaian, tempat tinggal dan makanan.


“Sebenarnya, kami dari Meksiko. Jadi, jangan terkejut jika kami banyak memasak makanan meksiko daripada Australia. Aku dan suamiku pindah ke sini tujuh tahun yang lalu. Dan kami belum kembali lagi ke Meksiko sampai sekarang. Terkadang aku merindukan negara kami. Butuh uang banyak untuk membawa keluarga kami pulang kampung halaman. Akhirnya, kami harus bekerja keras untuk menggumpulkan uang agar bisa kembali kesana. Kami terlanjur berganti warga negara. Oh ya, Kau tidak akan bertemu suamiku hari ini. Dia seorang pelaut. Hanya pulang enam bulan sekali. Oh, aku berbicara terlalu banyak. Maaf, nikmati makanan kalian,” Madam Joyce mempersilahkan.

__ADS_1


Kirana sangat menyukai ibu-ibu tersebut. Dia sangat ramah, baik dan lembut. Ia mulai teringat dengan mamanya dan sangat rindu saat-saat makan bersama. Terhidang nasi spanyol dalam mangkuk melamin besar, dan beberapa lembar tortilla serta sepiring kerang yang dimasak berbumbu pedas. Menu yang hampir sama dengan tadi pagi.


Kirana tidak mengambil tortilla. Ia memakan lahap nasi spanyol dengan lauk kerang tersebut. Mereka tersenyum senang ketika melihat Kirana makan penuh semangat. Entah karena gadis itu kelaparan atau memang sangat menyukai masakan madam Joyce.


Madam Joyce menghidangkan menu penutup berupa guacamole. Kirana sedikit ‘eneg’ melihat saus berwarna hijau yang terlihat aneh. Ia mencicip sedikit, ternyata itu adalah buah alpukat yang dihaluskan.


Tok.tok.tok.


Pintu kayu diketuk keras oleh seseorang. Madam Joyce saling menatap ke arah Machita dan Paulo secara bergantian. Ia merasa tidak mengundang tamu untuk makan namun kemudian menyuruh Paulo membuka pintu dengan anggukan kepala.


Paulo berjalan lincah meskipun harus tertatih-tatih dengan satu kaki. Dua orang pria dewasa berseragam berdiri tepat di depan pintu. Sebuah mobil sedan dengan lampu sirine berada diatasnya.


“Aku dengar kalian menampung gadis asing disini dan dia seorang korban yang ditemukan di laut?” tanya polisi tersebut tanpa basa-basi. Wajah Paulo seketika pucat dan gugup.


“Ada apa, sayang?” tanya Madam Joyce menghampirinya sebelum Paulo menjawab.


“Ah, halo nyonya Maroon. Ada laporan jika kalian menyembunyikan gadis korban kecelakaan di laut. Bisakah kami bertemu dengannya?”

__ADS_1


Madam Joyce mendelik dan susah berkata-kata. “Menyembunyikan?? Kalian pikir kami seorang kriminal yang menyandera seseorang? Pergi dari rumahku sekarang juga!” bentak madam Joyce dan membanting pintu tepat dihadapan kedua petugas pemerintah.


“Mum, apa yang kau lakukan?” seru Paulo terkejut.


“Sssttt.. diamlah.” Ia menarik Paulo menjauhi pintu dan segera mengajaknya masuk ke dalam kamar.


“Mereka sedang mencari gadis itu. kenapa tidak kita serahkan saja gadis itu padanya. Mungkin itu bisa membantunya menemukan keluarganya. keluarganya pasti sangat cemas sekarang. Apakah kamu berniat menampungnya selamanya disini?” Paulo memberi ceramah panjang lebar selagi duduk diatas ranjang.


Madam Joyce menarik napas pendek dan setelah mendapatkan ketenangan ia mulai bicara, “Dengar, Nak! Gadis itu diselamatkan ayahmu ketika ia sedang menangkap ikan yang seharusnya tidak dilakukannya. Surat ijin berlayarnya hanya sebagai pengantar barang dan bukan fisherman. Jika dia menginterogasi gadis itu, maka akan berujung pada pertanyaan dan penyelidikan ayahmu tentang pekerjaan yang dilakukan saat itu. Kau ingin dia dipenjara dan kita ditendang dari sini?”


Paulo membelalakkan mata tidak percaya dengan ucapan ibunya. “Itu ilegal, Mum. Kenapa bi..sa?” belum sempat Paulo melanjutkan pertanyaannya, madam Joyce mengangkat tangan dihadapannya.


“Kita butuh banyak uang untuk kembali ke Meksiko. Ayahmu terpaksa melakukan ini. Akan kupastikan kemarin itu pekerjaan terakhirnya, karena Demi Tuhan, tidurku tidak tenang memikirkan ayahmu berbuat hal itu.” madam Joyce kembali membuat tanda salib di dahi dan kedua bahunya.


“Lalu..sampai kapan kita akan menyembunyikan gadis itu dari petugas itu? mereka tidak akan puas sebelum memeriksa rumah ini.”


“Kenapa kalian disini?” tanya Machita menyela mereka berdua yang terlihat asik dalam pembicaraan rahasia.

__ADS_1


“Ah... tidak, ayo kita segera makan. Gadis itu mungkin sedang menunggu kita.”


***


__ADS_2