K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
21. Terlambat


__ADS_3

Kirana naik taksi menuju kompleks perumahan elit di daerah Jakarta Pusat. Kedua matanya tak pernah beralih dari melihat pemandangan di balik jendela taksi. Seolah ini adalah kali pertama baginya melihat kemegahan kota Jakarta.


“Masih banjir, Pak?” tanya Kirana melalui secarik kertas, memecah kebisuan diantara dirinya dan sopir.


“Iyah mbak. Tapi sudah agak mendingan daripada dulu,” jawab sopir.


Kirana tersenyum tipis. Ah, ia sedang pulang kampung sekarang. Yah bisa dianggap demikian. Setelah sekian lama merantau di negeri orang dengan tidak sengaja. Ia mulai membayangkan bagaimana reaksi keluarganya ketika ia datang dalam keadaan masih hidup!


Seorang Kirana Badar kembali dengan selamat. Tubuhnya utuh meski ia tak sepenuhnya utuh. Tetangganya mungkin akan langsung berdatangan. Semua media sosial akan banyak meliput keberadaannya yang sempat hilang. Ia akan jadi viral dan terkenal!


Terlebih lagi kini ia menjadi wanita muda yang semakin cantik tanpa perawatan orang tuanya selama hampir lima tahun.


Taksi berhenti tepat di depan rumah mewahnya. Tak sabar ingin memasuki rumah tercinta, ia membayar lebih ongkos taksi tanpa kembalian. Buru-buru membuka pintu, Kirana tak menyadari ada sesuatu yang berbeda di depan rumahnya.


Kirana mendekati pagar setinggi dua meter yang melindungi rumah dengan tipe paling besar dan mewah.


Akan tetapi, suatu pemandangan yang tak bisa ia bayangkan, bahwa di pagar srumahnya terdapat tulisan “ DISITA OLEH BANK”.


Lututnya gemetar dan kepalanya terasa pusing, nyaris saja ia terjatuh namun sempat berpegangan pada pagar rumah.


Halaman rumahnya nampak kotor oleh dedaunan yang lama tak disapu. Rumahnya terlihat sepi meskipun Kirana mencoba berulang kali memencet bel. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana.


Lalu dimana keluarganya sekarang? bagaimana keadaan keluarganya? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa bisa seperti ini? tanda tanya besar dalam benak Kirana. Ia mulai kebingungan.


Ia sudah jauh-jauh datang ke Jakarta lewat jalur laut yang menghabiskan waktu hampir sebulan menahan mabuk laut. Hanya tuk sekedar berkumpul kembali dengan keluarga dan tinggal di rumah nyaman itu, tapi kenapa sekarang malah mereka semua pergi dengan meninggalkan rumah yang tersita oleh Bank.


Kedua pipinya mulai basah. Kirana celingukan mencari petunjuk, atau lebih tepatnya tetangga yang bisa dimintai informasi tentang keberadaan dan hal yang terjadi pada keluarga pak Bagas. Kompleks perumahan sepi. Terutama blok tipe elit tempatnya berada. Gerbang-gerbang saling terkunci rapat. Siang hari ialah sibuknya orang-orang bekerja. Ia harus menemui satpam yang posnya berada di pintu gerbang utama perumahan.


“Mbak Kirana...” tegur seorang wanita tua yang membawa tas keranjang berisi sayuran dan belanjaan dari pasar.


Kirana menoleh. Wanita tua itu adalah bibik pembantu rumahnya dulu.


“Masya Allah benar ini mbak Kirana?” ia menjatuhkan keranjang sayurnya dan memeluk anak mantan majikannya. Kirana menyambut pelukan sang bibik.


“Mbak...ya Allah, kami kira mbak sudah meninggal akibat kecelakaan itu. Ini benar mbak Kirana kami kan?” sang bibik menatap dengan urai airmata.


Antara ketakutan dan bahagia. Takut salah orang, takut jika itu jelmaan atau takut hantu yang bergentanyangan di siang bolong.


Namun, ada juga bahagia, bahagia karna jika benar sosok di depannya adalah Kirana, ia bersyukur anak mantan majikannya selamat. Bahagia karna keluarga mantan majikannya itu akan kembali melihat sinar mentari yang hangat nan cerah.


Kirana mengangguk. Ia membalas pelukan bibik penuh erat sekedar melepas rindu.


“Lalu selama ini mbak Kirana ada dimana? seluruh keluarga sangat khawatir sekali. Semua keluarga mengira mbak sudah meninggal.”


Kirana mengambil notesnya dan menuliskan sesuatu “ Lalu bagaimana dengan mama dan papa, Bik? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa rumah disita bank?” bibik membaca dengan mata sedikit menyipitkan mata dan mengeja perlahan agar lebih jelas.


“Tragis mbak. Kenapa mbak nulis ? kok gak ngomong sama bibik?” tanya bibik melihatnya dari ujung rambut ke ujung kaki.


Khawatir ada yang salah dengan gadis tersebut. Kirana menghapus sisa airmata dipipinya.

__ADS_1


“Saya gak bisa ngomong lagi seperti dulu bik. Suara saya hilang karena kecelakaan itu.” tulis Kirana.


“Astaghfirullah. Kok bisa mbak ? mbak ikut bibik saja dulu. Kita ngobrol lebih lanjut lagi. Disini semakin panas.”


***


Bibik mengajak ke sebuah rumah yang berbeda lima blok dari rumahnya. Bibik telah bekerja di sebuah rumah tipe yang dua tingkat dibawah rumah tipe keluarga pak Bagas.


Rumah itu jarang dihuni pemiliknya. Ia harus membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya saja. Pemiliknya memiliki apartemen dan rumah mewah di kawasan lain. Sesekali bersama istri ketiganya ia menginap disana selama beberapa hari.


Jadi, bibik hanya bertugas menjaga dan membersihkan rumah seluas 80 meter persegi tersebut.


Bibik membuatkan es jeruk yang sangat segar disiang terik itu.


“Diminum dulu mbak. Mbak lapar ? saya buatkan makanan dulu ya,” ujar bibik saat berada di dapur dan diikuti oleh Kirana. “Ini sebuah keajaiban. Disaat semua orang menganggap bahwa mbak telah tiada, kini mbak Kirana datang dalam keadaan sehat.” bibik mengulum senyum bahagia diiringi isak tangis.


Bibik sibuk menyiapkan sayur sop dan ayam goreng krispi kesukaan Kirana.


“Tolong ceritakan semua yang terjadi setelah kecelakaan saya bik!”ujar Kirana selagi bibik memasak.


Bibik mulai bercerita panjang lebar tanpa terlewat sedikitpun, bagaimana pertama kali keluarga Bagas menerima kabar kecelakaan itu dan sampai meninggalnya sang papa yang disusul oleh eyang.


“Seolah kedukaan tidak berhenti disitu saja, nyonya semakin kehilangan arah. Beliau hanya meratapi nasib hingga harus dipecat dari kantor karena terlalu lama tidak masuk kerja. Hutang yang menumpuk tidak terlunasi akhirnya rumah itu disita bank. Om dan tante kembali ke Kalimantan, sekarang hanya ada mbak Citra dan nyonya saja.” Bibik berhenti sejenak mengatur napas dan menelan ludah.


Ia mengambil tisu lalu membuang ingus. Kirana membiarkan airmata mengalir deras dipipinya dan tak menghapus sedikitpun sepanjang bibik bercerita.


“Saya ingin mendampingi nyonya meskipun tidak dibayar. Akan tetapi, nyonya tidak mengijinkan. Mereka pergi ke Bandung. Tapi saya tidak tahu alamat mereka tinggal sekarang. Dan sudah dua tahun ini saya kehilangan kontak,” kata bibik sedih.


Bahu Kirana merosot. Lalu bagaimana ia bisa menemukan sisa keluarganya jika bibik yang masih tinggal di Jakarta saja tak pernah lagi mendapat kabar bahkan tidak tahu alamat mereka di Bandung? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kirana semakin tak mengerti dengan situasi sulit yang menimpanya.


“Bibik bisa antar saya ke makam papa?”pinta Kirana. Bibik mengangguk, tapi ia akan melakukan itu jika Kirana menghabiskan makanan yang sedang disiapkan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, bibik dan Kirana menuju makam Ismail Marzuki yang berada di Jakarta Pusat.


***


Makam sang papa bersebelahan dengan makam eyangnya. Kelopak bunga mawar yang masih segar ditabur diatas makam keduanya.


“Kematian papa dan eyang adalah kesalahan Kirana. Kenapa semua bisa seperti ini? Kirana kira papa dan mama serta yang lain bisa hidup normal dan baik-baik saja setelah kepergian Kirana. Andaikan Kirana tidak pergi ke Sydney mungkinkah papa masih berada disisi Kirana sekarang? andaikan setelah kecelakaan itu, Kirana segera pulang kerumah, mungkinkah kita sekeluarga masih utuh sampai saat ini? Papa...eyang.. maafkan Kirana. Ini semua kesalahan dan keegoisan Kirana yang membuat keluarga kita jadi seperti ini. Kenapa papa pergi lebih dulu tanpa sempat melihat Kirana kembali? kenapa papa tidak mau bertahan sebentar saja untuk Kirana. Kirana telah kembali, Pa. Sekarang papa dan eyang telah tiada, mama dan Citra juga pergi dari Jakarta tanpa tahu tempat tinggal mereka. Kirana benar-benar sendirian sekarang. Apa yang harus Kirana lakukan setelah keluarga kita jadi hancur seperti ini akibat kebodohan Kirana sendiri, Pa?” Kirana menjerit dalam hati sambil mengusap nisan papanya.


Ia merasa sangat bersalah lebih dari siapapun.


Karena dirinyalah sang papa jatuh sakit dan meninggal. Karena dirinyalah perekonomian keluarga memburuk hingga keluarganya bangkrut dan rumah disita oleh bank akibat hutang yang menumpuk.


Karena dirinyalah sang mama menjadi putus asa dan hanya meratapi dirinya. Karena dirinyalah sang eyang tak tahan melihat kondisi menantu yang nyaris gila dan keluarga berantakan hingga ikut menjemput sang papa.


Ia tak bisa mengerti bagaimana mungkin hanya dalam kurun waktu empat tahun keluarganya bisa berantakan seperti ini. Ia menyesali dan mengutuki dirinya tidak segera kembali ke Jakarta setelah sadar dari pingsan. Malah kabur dari kenyataan dan malu mengakui sebagai Kirana Badar korban kecelakaan itu? Kenapa malah bermain-main dan merasakan zona nyaman dan aman di keluarga Maroon?


***


“Lalu sekarang mbak Kirana mau kemana?” tanya bibik prihatin. Kirana menggeleng.

__ADS_1


“Tinggal disini saja untuk sementara mbak. Nanti kalau nyonya dan mbak Citra datang untuk ke makam tuan, kalian bisa bertemu.”


Kirana melihat sekeliling. Tipe rumah majikan bibik memang terdapat empat kamar dan hanya satu kamar utama saja yang sering dipakai majikannya. Akan tetapi, Kirana tidak bisa menggantungkan nasib pada orang lain lagi setelah ia bergantung pada keluarga Maroon. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia harus bertindak dan bergerak cepat.


“Terima kasih bik, saya akan ke Bandung untuk mencari mereka. Lebih cepat saya mencari lebih baik. Saya tidak mau membuang banyak waktu sebelum akhirnya terlambat seperti ini.” Tulis Kirana.


“Tapi ini sudah terlalu sore, Mbak. Mbak bisa menginap semalam saja disini dan besok pergi lagi,” saran bibik. Kirana menganguk setuju. Ia juga butuh tempat istrahat sejenak.


***


Keesokan pagi, sebelum jam tujuh Kirana telah bersiap menuju terminal. Bibik telah memanggilkan taksi untuknya.


“Hati-hati ya mbak,” pesan bibik.


Kirana memeluk bibik untuk waktu yang lama. Pembantu yang mengabdi selama lima belas tahun dikeluarganya itu juga merupakan bagian dari keluarga. Bibik membawakan makanan dan tanpa disadari menyelipkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kedalam saku mantel Kirana.


Yang tak berubah dari empat tahun lalu adalah kota Jakarta masih tetap padat dan macet terutama dipagi hari dan jam makan siang. Terminal yang menjadi salah satu lokasi mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya sama sibuknya dengan pusat keramaian lain.


“Ayo..Bekasi....Bekasi...”


“Ayo... Tangerang mbak...mau kemana?” seorang calo bertanya pada Kirana.


Kirana menggeleng. Ia sedikit bingung karena kondisi fisik terminal yang berubah. Ia harus mencari bis jurusan Bandung.


“Mbak mau kemana? Bandung? Bogor?” tanya calo lain dengan nada memaksa. Kirana mengeluarkan notesnya. Dan menuliskan Bandung. “Oh sini saya antar. Sini barangnya saya bawakan, Mbak,” kata calo tersebut.


Kirana mengikuti calo bertubuh jangkung dan berkulit hitam menuju parkiran bis ke arah Bandung dan sekitarnya.


Saat akan naik bis, tiba-tiba seorang penjambret dengan berani meraih tas tangannya yang berisi dompet, handphone serta alamat teman-temannya di Bandung. Suasana saat itu sangat ramai dan penuh sesak.


Kirana menjerit sebisanya. Tapi ia nampak seperti orang gila yang merajuk-rajuk namun tak bersuara. Calo jangkung itu turun setelah menaikkan barang bawaan Kirana.


“Lho ada apa mbak?” tanya calo heran.


Kirana menjelaskan dengan bahasa isyarat akan tetapi si calo tak mengerti.


Ia menangis karena tas tangannya adalah separuh hidupnya. Semua uang yang selama ini dikumpulkan di Maroubra dengan bekerja membantu madam Joyce di bar dan uang saku yang masih berupa dolar Australia dari Mr. Bruce serta dokter Smith sekitar lima juta rupiah juga ada disana, lalu paspornya.


Bagaimanapun juga ia membutuhkan kartu identitas. Meski namanya masih Asian P.


Si calo masih bertanya heran dan berusaha menenangkan Kirana. Kirana mengambil notesnya dan dengan gemetar ia menulis bahwa tasnya telah dicopet. Calo tersebut nampak prihatin, ia mengambil kembali koper dan ranga bawaan Kirana turun dari bis sebelum berangkat.


“Saya antar ke kantor polisi, Mbak.” tawar si calo.


Kirana menuju kantor polisi atau lebih tepatnya pos penjaga karena tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi. Petugas disana hanya mencatat, kemudian menanyakan asal Kirana dan akan menuju mana. Pada akhirnya petugas itu hanya berucap prihatin dan berpesan agar Kirana lebih hati-hati serta menyuruhnya kembali pulang.


Bagaimana ia bisa pulang sedangkan rumahnya sedang disita bank dan tidak ada keluarga lain di Jakarta. Karena kasihan, petugas itu memberikan uang dua ratus ribu rupiah kepada Kirana. “ Untuk ongkos pulang mbak.”kata si petugas berbaik hati. Kirana tersenyum berterima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2