K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
30. Rasa Yang Tak Tertahankan


__ADS_3

Pukul lima kurang seperempat, Haikal melirik jam tangannya. Sebentar lagi Kirana akan pulang dari mengajar les. Itu berarti ia telah berhasil menjaga jarak dengan Kirana dan menjauhi bertatap muka dengannya.


Tiba-tiba senyum kemenangan mengembang dari sudut-sudut bibirnya. Yes! Batin Haikal. Ia seolah telah memenangkan sebuah permainan petak umpet dengan Kirana.


Haikal memuji bangga dirinya, bahwa ia tak semudah itu jatuh cinta pada orang lain selain mendiang Kezia.


Ada pesan masuk dalam inbox ponselnya tepat saat Haikal berhenti akibat lampu merah. Haikal membuka pesan dari Neny, kakaknya.


“Kemana saja? Ini hari terakhir Kirana mengajar les piano. Sepertinya dia mencari-cari kamu mau pamitan. Cepatlah pulang sebelum menyesal!!!”


Tin!Tin!Tin! klakson kendaraan di belakang mobil Haikal berteriak memaki. Ia gelagapan dan segera melajukan mobil. Hati Haikal membuncah. Pesan singkat dari Neny mengusik pikirannya.


Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Gelisah dan galau. Kenapa jadi seperti ini? Ia merasa khawatir pada dirinya sendiri bagaimana jika tak bisa bertemu Kirana lagi. Melihat senyum mendamaikannya. Kirana pasti tak akan ke rumahnya lagi. Dan ia tak ada alasan untuk bisa melihat gadis bisu itu.


Haikal menghela napas panjang dan memutuskan untuk putar balik menuju rumah. Haikal menyetir dengan kecepatan tinggi berharap ia bisa tepat waktu dan Kirana belum pergi.


Pukul 17.05, Haikal terkena macet. Ia ganti memainkan klakson dengan kesal kepada kendaraan yang menghalangi jalannya. Untung saja, macet tak berlangsung lama, segera Haikal ngebut dan beberapa kali menerobos lampu kuning.


Haikal memarkir mobil di depan gerbang rumah. Ia membuka gerbang dengan ngos-ngosan. Kirana berhenti berjalan.


Setelah mengatur napas dengan baik, Haikal menatap Kirana. Ia segera memeluk Kirana dengan erat. Bu Anna, Neny dan Niko yang berada di ambang pintu serentak kaget. Bu Anna sampai menutup mulutnya menahan shock dengan mata melotot.


Niko mengerutkan kening marah dan akan menegur omnya, tapi keburu ditutup mulutnya oleh Neny. Senyum bahagia mengembang dari bibir Neny.


Setelah puas dan cukup lama Haikal memeluk Kirana untuk melepas rindu, ia melepaskan Kirana yang masih bengong dengan tatapan mata tak percaya.


“Maaf ya, aku tiba-tiba peluk kamu.” Haikal memegang kedua pundak Kirana. Napasnya masih ngos-ngosan. “Aku... gak tahu ini perasaan apa. Tapi aku..gak bisa menahan diri untuk tidak bertemu denganmu, Kirana. Aku tidak bisa berhenti memikirkan dan selalu rindu dengan senyuman manismu.” tatapan mata Haikal nampak serius.


Kirana salah tingkah, ia sendiri bingung harus bersikap seperti apa. Bu Anna dan Niko melihat dengan mata terbelalak, Neny terkikik gembira. Haikal tidak perduli dengan tanggapan dan tatapan keluarganya. Saat ini ia merasa bahwa hanya ada dirinya dan Kirana.


“Aku..Cuma merasa...bahwa sepertinya aku mulai menyayangimu. Bukan karena kamu adalah guru piano Niko, tapi...sebagai seorang wanita.” Haikal menelan ludah.


Akhirnya kata-kata itu meluap juga dari mulutnya setelah perang batin yang berkepanjangan. Haikal menggunakan jemarinya dan mencoba berbahasa isyarat. “ I” jemari kelingking. “Love” empat huruf perlahan dengan jemari yang bergantian. Kemudian, “You” Haikal langsung menunjuk diri Kirana. Terlalu ribet baginya mengeja perhuruf.


Kirana semakin berada diatas awan. Tak menyangka Haikal bahkan menyatakan cinta dengan bahasa Isyarat. Mungkinkah ia sedang bermimpi? pria yang dicintainya menyatakan perasaan padanya? Ia bahkan tidak pernah dan berani untuk berharap mendapatkan balasan cinta dari pria gagah itu.


Kirana menyadari betapa banyak kekurangan dalam dirinya sehingga tak pantas rasanya bersanding di sisi Haikal, pria yang terlalu sempurna dan baik baginya.


Kirana tersenyum memberi jawaban.


Tapi Haikal tak mengerti arti senyumnya kali ini. Karena Kirana tak pernah lepas dari senyum menyejukkan dan menentramkan setiap mata memandang.


“Maukah kita lebih dekat lagi? bolehkah aku selalu berada di dekatmu?” tanya Haikal terbata-bata.


Dia memang bukan pria yang pandai mengungkapkan perasaan dan merangkai kata-kata. Bisa dibilang terlalu kolot ucapan seperti itu di jaman sekarang. Kirana mengangguk dan memberikan senyum terbaik yang dimilikinya. Senyum senang dan haru muncul dari sudut bibir Haikal.

__ADS_1


Ia kembali memeluk Kirana.


Lalu tepuk tangan datang dari Neny. Akan tetapi, bu Anna memandang dingin. Ia masuk ke dalam rumah tanpa berkomentar. Haikal melepas pelukannya dan menoleh ke arah Neny dan Niko.


“Itu artinya om pacaran dengan kakak cantik donk?” muka Niko masih memberengut. Semua orang tertawa.


“Kenapa memangnya kalau om Haikal pacaran dengan kak Kirana?” tanya Neny pada anaknya.


“Niko gak bisa deket-deket dan manja lagi dengan kak Kirana.”


“Lho kenapa gak bisa?”


“Ya kan sekarang kak Kirana bukan jomblo lagi, ada pacarnya. Masa’ Niko mau godain pacar orang,” jawaban Niko membuat gelak tawa panjang dari orang-orang dewasa.


“Niko tetap boleh kok deket-deket dan manja sama kakak.” Tulis Kirana pada notesnya.


“Benar kak? boleh? nanti om cemburu dan marah lagi.”


“Yah om gak bakal marah kalau kamu gak cium kak Kirana sembarangan kayak dulu,” sahut Haikal, tangannya merangkul bahu Kirana. Sikap melindungi dan memiliki


“Niko berani cium kak Kirana?” Neny tak percaya. Niko segera masuk ke dalam dengan menutup muka yang memerah sebelum mendapat marah dari sang mama.


***


Haikal mengantar pulang Kirana. Mereka berdua masih diiringi gelora asmara tiada henti. Bunga-bunga bermekaran dalam hati masing-masing. Ibarat kelopak bunga warna-warni yang merekah di musim semi dengan sekumpulan kumbang, kupu-kupu dan lebah saling berpesta meriah.


Dengan berani Haikal meraih tangan Kirana dan menggenggam dengan tangan kiri yang ia gunakan untuk mengatur gigi roda.


“Bisa kita jalan-jalan sebentar?” pinta Haikal. Kirana menurut.


Haikal mengajaknya di sebuah danau buatan. Mereka duduk di tepian danau sambil melihat penjual jajanan malam disekitaran danau. Gemerlap lampu penutup senja menyala terang, menggantikan surya dan menemani bulan.


“ Aku...ingin kamu membantuku melepas seseorang,” kata Haikal terbata-bata.


Kirana tak terkejut.


Ia paham, karena pernah mendengar sedikit kisah tragis gagalnya pernikahan Haikal dan tunangannya dari Neny.


“Dia adalah wanita yang selama ini aku cintai dan tidak bisa aku lupakan. Dia adalah tunanganku yang meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan. tinggal tiga bulan kami akan menikah, dan musibah itu datang. Aku tidak pernah bisa melupakannya. Aku bahkan tidak punya ketertarikan dengan wanita lain selain dia atau lebih tepatnya tidak bisa mencintai wanita lain lagi. Padahal ia telah berada di dunia lain. Bayang-bayangnya tidak pernah hilang dari ingatanku. Begitu aku mencintainya dan tidak bisa melupakannya semakin hidupku kacau. Aku juga menderita dengan keterpurukan itu.” Haikal menunduk sedih.


Kirana mengelus bahunya. Haikal kembali mengangkat kepala dan menatap lurus kedepan.


“Tapi, entah kenapa semenjak ada kamu, Kirana, semuanya berubah. Ada sesuatu yang lain dalam hatiku sehingga memberikan secercah kebahagiaan lain dari kamu. Aku mencoba untuk membuang perasaan itu, tapi tidak bisa. Aku sudah menyayangimu dan tanpa sadar aku sangat rindu serta gelisah jika tak melihat senyuman itu sehari saja. Aku mencoba untuk tidak mengkhianati tunanganku, dan mempertahankan pendirian tidak akan menikah sampai kapanpun. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku yang mulai mencintaimu. Dan aku rasa, dia juga tidak akan suka aku hidup dalam keterpurukan tanpa ada seseorang berada disisiku. Ada bayang-bayang dan kemiripan dia dalam dirimu. Bukan wajah tentu saja. Hanya, aku merasa melihat sosoknya dalam dirimu. Entah itu apa.” Haikal sudah menatap lekat-lekat Kirana.


“Tapi aku tidak ingin membuatmu sebagai bayang-bayangnya. Bantu aku untuk merelakan kepergiaannya dan melihatmu seutuhnya. Melihatmu sebagai Kirana, sosok sederhana yang luar biasa. Bukan lagi dia.”

__ADS_1


“Aku tidak akan memaksamu. Dan aku akan dengan sabar menunggu sampai kamu benar-benar merelakannya. Aku tidak akan membuatmu melupakan dia seutuhnya, karena bagaimanapun juga ia adalah bagian dari kehidupanmu, masa lalu. Hari kemarin itu murni milikmu. Aku tidak bisa ikut campur. Hanya saja, kamu harus tetap melihat ke depan. Melihat hidupmu sendiri. Biarlah semua berlalu seiring dengan banyaknya masa depan baik yang akan kita hadapi. Aku akan membantu menjalani kehidupan lebih baik dengan berada disisimu.” Kirana menulisnya, karena dengan bahasa isyarat sepanjang itu Haikal akan sulit mengerti.


Haikal terharu, ia kembali memeluk hangat Kirana. Gadis yang akan menjadi masa depannya.


Bagi Kirana, tak masalah jika saat ini ia menjadi pelarian Haikal. Toh wanita didalam hatinya cuma ada dua, wanita yang telah meninggal dan dirinya. Hanya menunggu waktu agar ia sepenuhnya berada di dalam hati Haikal.


Setidaknya, ia menjadi pelipur lara dan mata air kebahagiaan bagi Haikal, pria yang dicintainya. Setidaknya, ia masih memiliki seseorang untuk dikasihi, disayang dan menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan di dunia ini.


***


Setiap siang Haikal akan menjemput Kirana dan mengajaknya makan dari restoran satu ke restoran lain. Terkadang Niko ikut dengan mereka. Hari-hari berlalu dengan indah pasangan muda itu.


Siang itu Citra sedang melakukan beberapa pemotretan di Jakarta. Kali ini ia tak ditemani sang mama, karena sedang flu. Citra dan mbak Moni menginap dua hari di hotel dekat dengan Restaurant Familial.


Malam harinya seusai lelah pemotretan dan menandatangani beberapa kontrak iklan di majalah lokal, Citra mampir seorang diri di restoran Prancis milik bu Anna. Ia telah menyewa mobil sedan selama di Jakarta.


Sampai saat ini ketika gajinya besar dengan banyak job, ia tak berminat membeli mobil. Citra ingin membayar hutang bank agar mendapatkan kembali rumahnya yang disita.


Ia melepas kacamata coklat berbentuk setengah oval keatas rambutnya.


Dandanannya sangat modis akhir-akhir ini, mengingat ia model yang sedang naik daun. Tas Hermes asli hadiah dari seorang designer pria tergantung mewah di lengan kurusnya. Kaki panjang meruncing berjalan melenggak-lenggok dengan anggun.


“Bienvenue,” sapa seorang pelayan.


Citra langsung menunjuk sebuah meja dekat etalase jendela yang diinginkan, letak startegis untuk melihat lalu-lalang diluar. Pelayan tersebut mengangguk dengan senyum ramah.


Citra sedang melihat menu saat Kirana telah berhenti bermain pada jam 8 malam. Ia telah mendapatkan ijin dari bu manager, karena Haikal yang meminta tentu saja. Haikal sudah menunggu dan berdiri memberi sambutan tepuk tangan. Ia menyambut Kirana dari mejanya, kemudian merangkul bahunyna dan berjalan menuju keluar.


Posisi duduk Citra kala itu membelakangi arah mereka berdua berjalan. Jika Citra tahu dan melihat bahwa kakak kandungnya yang masih hidup baru saja lewat, pasti akan ada keharuan malam ini.


Haikal membukakan pintu untuk Kirana. Saat Kirana sudah berada di dalam Mobil, Citra baru saja menoleh ke arah jalan dan melihat ada pria yang dikenalnya.


Citra menyipitkan mata, jantungnya serasa berdegup keras. Pria yang beberapa waktu lalu tak sengaja bertabrakan dengannya. Citra berdiri ingin mengejar pria tersebut, akan tetapi niatnya diurungkan. Ia melihat ada gadis lain dalam mobil itu dan mobil tersebut terlanjur melesat pergi.


Citra menghela napas panjang. Mungkin ini bukan hari keberuntungannya. Ia kembali duduk. Entah sekedar mengagumi atau ia benar-benar menyukai pria tersebut, Citra tak tahu pasti. Hanya saja dua kali melihat wajah pria itu, jantungnya berdegup keras. Ia tak berselera makan lagi.


Dalam benaknya, sebuah keberuntungan jika ia adalah gadis dalam mobil hitam mengkilat itu. Dan keberuntungan bagi si gadis mendapatkan tempat disisi sang pria idaman.


***


Haikal mengajak Kirana ke sebuah restoran Jepang. Tak akan menarik jika makan malam di restoran sendiri, sedangkan tiap hari Kirana sudah bekerja disana.


Makan malam romantis itu terlewat indah. Kali ini Kirana tak perlu membawa notes, karena Haikal telah berhari-hari belajar bahasa isyarat dan sekarang dengan sempurna dan bangga dipraktekkannya untuk menunjukkan keseriusan pada Kirana.


Rona semangat hidup kedepan terpancar dari wajah Haikal yang selama ini dingin akan keterpurukan. Seakan ia telah bangun dari mimpi buruk yang berkepanjangan. Ia lebih ramah kepada semua orang, padahal dulu sangat introvet, kaku, cenderung pemilih dan sedikit otoriter.

__ADS_1


Kirana telah mengembalikan sosok Haikal yang lama, sosok ramah, hangat, terbuka, dan romantis.


__ADS_2