K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
4. Bad News


__ADS_3

Haikal mengemudikan mobil berwarna putih dengan kecepatan tinggi sehingga banyak pengguna jalan memaki dan mengutuknya.


Dia begitu emosional.


Keluarganya sekarang mulai meragukan Kezy. Meragukan gadis itu untuk kembali.


Mobil SUV berwarna putih itu tiba di parkiran sebuah butik bergaya Jawa klasik. Masuk ke bagian lobi, mata akan disenangkan dengan berbagai interior khas Jawa. Ukiran-ukiran kayu jati, dan bau harum dari bunga sedap malam dan melati membuat pengunjung semakin betah.


Butik “Kerani Bride” dipilih Haikal untuk mendesain pakaian pengantinnya karena Kezia begitu mencintai budaya dan adat Jawa.


“Oh, Silahkan masuk!” sapa seorang resepsionis yang langsung mengenali Haikal dengan baik.


“Terima kasih.”


“Saya panggilkan bu Kerani ya.”


Haikal mengangguk. Tak lama kemudian, wanita berambut kemerahan dengan sanggul tinggi dan memakai kacamata setengah bulat menghampirinya. Wanita pemilik sekaligus desainer kebaya dan gaun pengantin itu memakai balutan kebaya kutu baru berwarna ungu tua dengan lengan tiga perempat yang menjuntai berbentuk lonceng dan pita kecil tersemat di bagian siku. Rok panjang dari kain songket berbentuk pensil dan beberapa pliskit di bagian depan. Senyumnya merekah indah, meski berusia diatas enam puluh tahun.


“Sudah lama tidak bertemu ya, nak Haikal. Gimana kabar kamu?”


“Baik budhe. Apa..gaun pengantinnya sudah selesai?” Haikal bertanya terbata-bata.


Budhe Kerani tak langsung menjawab namun menatap lekat-lekat wajah Haikal penuh arti. “Hampir. Kamu bisa melihatnya,” jawabnya kemudian.


Haikal diajak menuju ruangan yang sangat luas. Ada banyak manekin tanpa kepala yang memakai berbagai macam gaun pengantin. Budhe Kerani adalah kakak almarhum papanya. Seorang designer gaun pengantin modern dan tradisional. Budhe Kerani menunjukkann sebuah manekin yang berada di salah satu sudut ruangan.


Sebuah gaun pengantin, perpaduan antara kebaya dan rok batik bergaya Eropa. Warna hijau toska pada kebaya dan batik kecoklatan bersemu merah. Taburan payet permata berkilauan dengan bordiran kelopak bunga mawar di beberapa bagian nampak belum selesai ditambah lagi brokat pada ujung-ujung lengan semakin membuat siapapun yang melihat akan terpikat.


Haikal terpana melihat gaun tersebut.


Dia membayangkan betapa cantiknya Kezy jika memakainya nanti. Dia melihat bahwa warna hijau dan coklat adalah warna khas Kezy. Sesuai warna mata dan rambut indo-eropa. Kezia memilih pakaian tradisional Indonesia, yaitu kebaya dan rok batik dengan model Eropa.

__ADS_1


“Cantik sekali,” gumam Haikal. Budhe Kerani tersenyum.


“Nak, ini akan terlihat sempurna kalau sudah selesai dan dikenakan nanti.”


“Dia akan memakainya budhe.” Haikal meyakinkan.


Budhe Kerani tersenyum getir. Berita kecelakan pesawat itu tersebar dimana-mana. Adik iparnya-bu Anna, telah menelpon dan memintanya untuk memberi pengertian kepada Haikal. Ia bahkan diminta untuk tidak menyelesaikan gaun pengantin calon istrinya maupun jas untuk Haikal. Bu Anna sangat ingin membatalkan rencana pernikahan tersebut.


“Kita tak pernah tahu rencana Tuhan seperti apa. Kita juga tak pernah tahu bahwa dibalik musibah ada sebuah hikmah. Manusia hanya bisa berharap, berdo’a dan berusaha. Jika kamu yakin calon pengantinmu akan kembali disisimu, maka tetaplah yakin. Tetaplah yakin bahwa dia baik-baik saja, hingga kita akan tahu hasilnya nanti. Jika tidak, maka Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik untuk kamu kelak,” nasihat budhe Kerani. Meskipun kata-katanya berinti sama dengan orang-orang pada umumnya, setidaknya budhe Kerani menuturkan dengan sangat hangat. Antara memberi dukungan dan menegaskan realita. Haikal berterima kasih atas penghargaan budhe Kerani terhadap perasaannya.


“Saya akan tetap menyelenggarakan pernikahan itu budhe. Tolong selesaikan dengan baik,” pinta Haikal. Budhe Kerani mengangguk seraya mengulum senyum.


#Dua bulan kemudian


“Papa gimana kabarnya?” tanya Citra saat memasuki kamar orang tuanya. Sang papa sedang duduk di kursi roda sambil menerawang jauh. Citra berjalan mendekat membawa nampan berisi air putih hangat dan potongan buah melon diatas piring keramik putih.


“Pa..” panggilnya lirih sambil meletakkan nampan di meja sebelah tempat tidur. Papa menoleh dan mengusap sesuatu di ujung-ujung matanya.


“Baik. Papa mau cemilan? Mau Citra temeni jalan-jalan bentar diluar?” Citra mencium punggung tangan papanya. Papa menatap Citra lekat-lekat dibalik mata sayunya sebelum kemudian mengangguk setuju. Citra mendorong kursi roda papa keluar kamar. Suasana sedang cerah dan sangat bagus untuk menikmati hari.


Pak Bagas melihat istrinya yang sedang mempersiapkan makan malam dibantu oleh pembantu dan ibunya ketika melewati ruang keluarga. Dia melihat betapa kurusnya tubuh sang istri. Lingkaran hitam nampak jelas dibawah matanya. Pandangannya teralih dengan mendongak ke arah putri keduanya, Citra, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, kini juga semakin kurusan. Seharusnya masa-masa SMA dan remaja yang bisa dilakukannya dengan penuh ceria. Sayangnya, kini mungkin bagi Citra serasa hambar dan penuh kedukaan. Semenjak kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144, Citra tak pernah keluar rumah selain sekolah. Dia membantu sang mama untuk merawat papanya. Dia harus menekan keinginan hang out dengan teman-teman sebaya. Hari-hari kesenangan Citra terasa lenyap dalam tiga bulan terakhir.


Citra mengajak papa duduk di bangku taman. Mega mulai menuruni cakrawala langit, sehingga senja nampak semakin memerah. Citra belum sempat berganti pakaian. Seragam putih abu-abu terlihat semakin kusam.


“Hari ini suasananya sejuk ya, Pa. Om dan tante Sasha bentar lagi datang. Mereka mau weekend disini,” kata Citra sambil membenahi rambutnya yang tergerai dan disapa angin hingga sedikit berantakan. “Pasti ramai sekali,” lanjutnya tersenyum senang.


Setiap akhir pekan keluarga adik istrinya itu selalu menginap di rumah mereka. Setidaknya, keponakan-keponakan pak Bagas yang masih SD bisa membuat suasana ramai dan menyenangkan. Rumah yang sepi itu, seolah dipaksakan untuk serasa hidup kembali. Papa menatap lama anak gadis bungsunya, ia memegang pipi Citra dengan lembut.


“Papa minta maaf ya, Nak.” Pak Bagas menggigit bibir, menahan getir dalam dada. Citra mengerutkan kening tak mengerti.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Papa Cuma ingin kamu maafin papa.” Ia menelan ludah dan membuang muka dihadapan putrinya agar tidak terlihat matanya yang berkaca-kaca.


***


Setelah makan malam bersama keluarga besar, pak Bagas kembali ke kamar. Penyakit Jantung koroner yang diderita membuatnya harus banyak beristirahat. Di ruang keluarga, Citra bermain dengan sepupunya. Televisi menyala dengan keras. Sehingga terasa ramai sekali. Bu Sita dan tante Sasha sedang duduk-duduk melihat berita sambil memakan cemilan.


“Tim SAR gabungan beserta jajaran pihak maskapai Kencana Air mengadakan konferensi pers dan sepakat menyatakan bahwa semua korban penumpang pesawat Kencana Air RQ30144 tewas. Meskipun terdapat beberapa penumpang belum ditemukan jasadnya, akan tetapi sejumlah pihak evakuasi meragukan keselamatan hidup mereka. Pencarian para korban kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144 dihentikan mulai esok. Presiden dan Kementerian Penerhubungan menyampaikan bela sungkawa mendalam. Kepala direksi penerbangan meminta maaf dan bersiap mengundurkan diri. Pihak Kencana Air akan memberikan uang asuransi senilai dua Milyar kepada keluarga korban. Bla...bla..bla...”


Citra dan sepupunya berhenti bermain. Serasa kilat yang menyambar. Semua terpaku. Seolah bumi berhenti bergerak dan jarum jam tak lagi terdengar detakannya. Berita yang muncul bukanlah kabar baik dan itu membuat hati keluarga pak Bagas mencelos.


“Ini tidak benar. Kenapa mereka menghentikan pencarian Kirana? Tinggal enam belas korban lagi. Kenapa mereka tidak mau mencarinya?” bu Sita bangkit dan menuding televisi tersebut dengan nada tinggi meledak-ledak. Semua orang terdiam tak berani mengomentari atau bahkan sekedar menasehati bu Sita. Kenyataan tersebut begitu pahit bagi mereka hingga tak ada satupun kata yang terlontarkan.


“Pa! Kita kesana sekarang. Atau kita bayar tim SAR untuk tetap melanjutkan pencarian Kirana. A..atau..kita bayar penyelam dan nelayan-nelayan sekitar untuk mencarinya.” Bu Sita mengguncang kedua lengan suaminya yang menunduk.


“Tenanglah mbak. Ini sudah tiga bulan. Mereka pasti bisa menyimpulkan dengan penuh perhitungan.” Tante Sasha mencoba menenangkan dalam isakan tangis.


“Kenapa mereka secepat itu memutuskan? Mereka bukan Tuhan. Bukan Allah. Beraninya mereka bilang kalau anakku sudah mati. Tidak. Kirana belum mati. Sebelum aku melihat sendiri jasadnya, dia masih hidup.” Bu Sita melempar remote control kearah televisi tapi malah mengenai vas bunga didekat televisi tersebut, hingga vas bunga itu pecah. Potongan bunga Krisan kuning segar yang belum lama mengisi vas tersebut, turut tercecer di lantai. Sang adik ipar terpekik. Beberapa detik hening kembali menyelimuti ruang keluarga. Hanya irama nafas naik turun secara cepat yang terdengar dari tubuh bu Sita.


“Sudahlah, Nak.” Ibu mertuanya menyauti memecah kebisuan.


“Kenapa semua orang ingin anakku mati? Kenapa kalian tidak ada yang percaya bahwa Kirana mungkin masih hidup. Kenapa...?” bu Sita nyaris berteriak dan ia sudah tak sanggup menahan hingga airmatanya tumpah lalu disusul terjatuh tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya.


***


Dalam kamar, pak Bagas menonton seorang diri berita tersebut. Dia tak peduli sebagai pria. Ia tak kuasa menahan air kesedihan dalam kantung matanya. Tenggorokan pak Bagas serasa tercekat. Pria itu terisak. Apalagi mendengar suara keributan dari luar. Putrinya telah dinyatakan tewas. Ayah manapun pasti takkan sanggup menerima pukulan tersebut, merasa dirinya tak berguna sebagai ayah yang tak bisa melindungi keselamatan anaknya. Dia bahkan pernah bermimpi, Kirana tenggelam di laut memanggil namanya, sedangkan ia hanya duduk diam saja tak bisa bergerak dan menolong. Mimpi yang terasa nyata. Mimpi itu tak pernah dikatakan pada siapapun juga.


Begitu menyesakkan tiap kali mengingatnya.


Bukankah hukum alam mengatakan yang tua yang mati terlebih dahulu? Pikir pak Bagas. Dia sudah sakit-sakitan, kenapa bukan dia saja yang mati? Kenapa harus putrinya yang masih sangat muda dan memiliki masa depan panjang? Andaikan dia bisa menawar malaikat maut untuk mengganti nyawa anaknya dengan nyawanya, dia pasti lakukan itu. Pak Bagas menyadari bahwa sesuatu pasti terjadi dengan istrinya sekarang. Dia bangkit untuk menuju ruang keluarga.


***

__ADS_1


__ADS_2