
Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, cahaya matahari semakin naik beberapa derajat namun panas teriknya seolah menunjukkan posisi matahari sudah pada derajat ke sembilan puluh.
Tepat di tengah. Para turis berbikini bak ikan telah memadati sepanjang tepi pantai Maroubra. Mereka berjemur sejak pukul delapan atau sembilan dan membiarkan kulitnya terpanggang selama berjam-jam.
Anak-anak kecil berlarian dikejar ombak, sebagian asyik bermain dengan keong atau kepiting. Sedangkan sebagian anak perempuan yang lain, sibuk membangun istana pasir bersama ayah mereka. Jejak perayaan pergantian tahun semalam masih terlihat bekasnya.
Dibalik jendela rumah keluarga Maroon, semilir angin kering menerpa wajah oval miss Asian. Sedari pagi ia tak begitu banyak bicara meskipun memang bisu, namun lebih tepatnya pendiam dan tak seceria biasanya.
Machita belum keluar dari kamarnya. Itu semakin membuatnya sedih. Miss Asian merenungi kejadian malam tahun baru dan sampai pagi tadi. Tiba-tiba terbersit ingatan bahwa jas hitam pemuda yang menolongnya masih tertinggal.
Miss Asian bangkit dari kursi di sebelah jendela, meraih jas hitam yag tergeletak di kursi makan sambil merogoh saku barangkali menemukan petunjuk.
Ada sebuah undangan pameran seni di gedung Opera House atas nama Mr. Haikal- Architect of NEWT Corp. Miss Asian mengambil dompet dan beranjak keluar.
***
Gadis berusia dua puluh tiga tahun dengan rambut hitam legam sebahu melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi yang berada di depannya dari jarak sepuluh meter dan kecepatan tiga puluh kilometer perjam.
Ia menunjukkan kartu nama dimana perusahaan NEWT Corp yang berada di Parramatta, New South Wales. Sopir berkumis tipis itu mengangguk, kemudian melajukan taksinya dengan lebih cepat.
Sekitar 45 menit dari Maroubra, tibalah mereka di kota dengan distrik bisnis pusat terbesar ke enam di Australia. NEWT Corp, Perusahaan konstruksi raksasa, yang kerap memonopoli proyek besar di Australia.
Miss Asia masuk ke dalam dan menuju Lobi dengan langkah ragu.
“Ada yang bisa kubantu, Nona?” tanya wanita muda di bagian resepsionis.
Miss Asian mengeluarkan notes kesayangannya, dan ia mulai menulis.
“Bisakah aku bertemu Mr. Haikal? Architect Division of Newt Company?” wanita resepsionis mengerutkan kening saat membacanya.
“Anda sudah punya janji dengannya?” tanya resepsionis. Miss Asia menggeleng.
“Maaf, Nona. Anda harus buat janji terlebih dahulu.”
Miss Asia sedikit kecewa. “Tolong berikan jas ini kepada Mr. Haikal. Ini miliknya, dan sampaikan rasa terima kasihku padanya.” Lalu miss Asia memberikan jas tersebut pada resepsionis yang dijawab dengan anggukan saat menerima titipan dari miss Asia.
“Err...excuse me missus. What’s your name?”tanyanya sebelum miss Asia pergi meninggalkan lobi. Dengan ragu-ragu miss Asian menuliskan nama aslinya setelah sekian lama. Kirana.
***
Miss Asian berjalan menuju halte bis. Ia kembali merenung tentang beraninya ia menyebut identitas aslinya. Kenapa ia percaya dan yakin pada sosok yang menolongnya itu.
__ADS_1
Kenapa selama bertahun-tahun, ia bahkan ragu mengungkapkan siapa dirinya dan membohongi keluarga Maroon dan dokter Smith tentang namanya.
Kenapa saat ini begitu mudah baginya untuk mengungkapkan siapakah dirinya sebenarnya. Apa karena Haikal juga orang Indonesia, ia berani menuliskan namanya?
Miss Asian semakin tak mengerti dengan kegundahan hatinya. Ah, apalah arti sebuah nama. Pikir Miss Asian. Ia malah semakin bingung dengan kondisi di rumah keluarga Maroon karena Machita yang ngambek dan salah paham mengenai ciuman tersebut.
Apakah ini pertengkaran teman sekamar atau saudara perempuan? Bukan. Bukan ini yang diinginkannya. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi dokter Smith yang sedari tadi berusaha menelpon dan mengirimi pesan singkat berulang kali. Ia memang nyaman dan senang berada didekat dokter Smith, akan tetapi tidak ada perasaan lebih bahkan mencintai pria Amerika tersebut.
Dokter Smith tetaplah dokter bagi Miss Asian, tidak lebih. Cinta rumit segitiga ini membuat Miss Asian malas pulang menuju pantai Maroubra.
Miss Asian menuju Westfield Parramatta, sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal dan besar. Sudah lama ia tak berjalan-jalan di mall seorang diri. Ia tak mempunyai cukup uang untuk banyak berbelanja disana.
Akan tetapi, bagi seorang perempuan yang sedang dilanda kejenuhan, kemurungan dan kekosongan, cukup sekedar melihat-lihat dan berjalan-jalan sejenak di sebuah pusat perbelanjaan merupakan salah satu pengembali mood yang mujarab.
***
Sore semakin menampakkan diri. Miss Asian belum juga kembali ke Maroubra. Madam Joyce begitu cemas, karena jarang sekali miss Asia pergi seorang diri untuk waktu relatif lama. Ia menggedor-gedor pintu kamar Machita yang sedari tadi mengurung diri.
“Ada apa? kenapa kau dan saudara angkatmu bertengkar? dengarkan aku!buka pintunya sekarang Machita!miss Asian belum kembali. Apa yang kalian ributkan?” madam Joyce berteriak dari balik pintu.
Ia mondar-mandir sambil meremas angin dalam tangannya yang berbuku-buku.
“Jangan coba-coba mengunci kamar seperti ini. Cepat siapkan makan malam,”ujar madam Joyce setelah bernapas lega melihat kehadiran putri angkatnya.
Kirana segera membantu menyiapkan meja untuk makan malam. Dokter Smith datang sambil menyapa seperti biasa seolah tak pernah terjadi apapun. Dia segera mengambil tempat duduk disebelah miss Asian, Machita nampak memberengut- jealous. Suasana kaku terasa pada Machita, dokter Smith dan miss Asian.
“Bagaimana kalau musim panas kali ini kita berkemah?” ujar Paulo memecah kebisuan.
“Wow, that’s a great idea boy!”seru Mr. Bruce bangga. “Sudah lama aku tidak pergi kemah.” lanjut Mr. Bruce.
“Yeah. Aku juga ingin berkemah,” sahut madam Joyce mengangguk setuju. Ia menengok kearah Machita dan miss Asia. Kedua gadis itu gelagapan. Dengan kompak mereka mengiyakan.
“Kamu akan ikut dengan kami kan, Dokter?” tanya Paulo.
“Oh, sure. Aku akan selalu menemani liburan keluarga Maroon,” jawab dokter Smith nampak senang. Karena itu artinya ia akan punya banyak waktu meyakinkan miss Asia akan cintanya.
“Poley’s place is the best I think,” usul Paulo.
" Kapan berangkat?” tanya madam Joyce.
“Minggu ini,” sahut dokter Smith.
__ADS_1
***
“Kau tahu aku menyukainya. Tapi kenapa teganya kau mengkhianatiku?” bisik Machita disebelah miss Asia yang sedang mencuci piring.
Ia tidak ingin suaranya terdengar oleh keluarganya yang lain. Akan sangat memalukan bagi dirinya.
“Aku tidak pernah berpikir mengkhianatimu. Aku tidak menyukainya sepertimu.”
“Tapi, kalian berciuman!” bentak Machita dengan nada sedikit keras dan hampir saja ia menarik perhatian mum dan dad yang asyik menonton televisi.
Miss Asia mulai kesal, iapun memegang kedua pundak Machita dan menghadapkan padanya.
“Dengar, aku tidak punya perasaan cinta padanya. Tentang ciuman itu, dia memaksaku. Satu hal lagi, pria Amerika bukan tipeku.” miss Asian menggunakan bahasa isyaratnya sambil menyelipkan sedikit lelucon tentang pria Amerika.
Machita tergelak mendengarnya. Iapun bisa akur dengan miss Asian dalam sekejap.
“Jadi, dia yang menyukaimu?” tanya Machita dengan nada sedih dan murung. Miss Asia mengangkat bahu. Ia senang Machita tak lagi ngambek kepadanya.
***
“Kirana...kapan kamu akan jadi musisi internasional ?” tanya Kezia dalam obrolan ringan saat makan siang di sebuah cafe dekat Blume Musical School.
“Saat usiaku nanti 24 tahun, Kak.”
“Oh ya? kalau gitu kamu harus latihan jadi musisi terkenal mulai dari sekarang.”
“Kok bisa, Kak?” tanya Kirana heran. Ia menyruput banana smoothies.
“Yah itu artinya kamu harus siap untuk tujuh tahun kedepan. Berarti aku minta tanda tangan kamu hari ini aja, kalau kamu terkenal nanti aku udah punya koleksi tanda tangan kamu,” ujar Kezia. Mereka berdua tergelak tertawa lebar.
Itu adalah mimpi terindah yang pernah dialami miss Asia setelah empat tahun trauma akibat kecelakaan dan hampir tiap malam selalu dihantui mimpi-mimpi buruk.
Kirana tersenyum dalam tidurnya. Ia terbangun. Melihat dirinya dalam cermin. Siapakah dirinya? Untuk apa ia dilahirkan? Mungkinkah Kirana telah benar-benar mati? tanya Kirana dalam hati. Kirana mengambil kalung berbentuk nada kunci G dan memakainya.
Tiba-tiba terlihat disampingnya sosok Kezia blus selutut berwarna putih dan kalung yang sama persis tergantung dilehernya, ia tersenyum kearah Kirana. Tangan Kirana gemetar memegang bagian kunci G tersebut.
Mungkinkah kalung yang diberikannya memiliki kembaran? Segitu pedulinya Kezia, hingga memberikan kalung kembar dari Belanda untuknya.
Apa mungkin kalung itu sebuah pertanda, bahwa dia bisa kembali menjadi dirinya bahkan mewujudkan impian seperti guru musiknya tersebut? Ia menangis terisak. Sedetik kemudian sosok Kezia dalam cermin menghilang.
***
__ADS_1