
Kirana sedang menunggu Haikal berganti baju di rumah. Mereka akan pergi nonton. Rumah besar bu Anna terlihat sepi. Neny sedang menyiram bunga-bunga di taman depan. Kirana menghampiri ibu muda tersebut.
“Kamu suka dengan bunga juga?” tanya Neny setelah mereka saling menyapa. Kirana mengangguk.
“Tapi Haikal tidak begitu suka bunga. Jangan berharap mendapat bunga darinya. Dia alergi serbuk bunga,” cerita Neny, Kirana tertawa geli mendengarnya.
“Oh ya besok kami akan menjemput sepupu Haikal di bandara. Kamu mau ikut?” tawar Neny.
Kirana menelan ludah.
Bandara.
Pesawat.
Adalah tempat dan benda yang menjadi phobia baginya setelah kecelakaan tersebut.
“Bagaimana?” desak Neny. Kirana ragu, ia sungkan untuk menolak dan akan terlalu berbelit-belit untuk bercerita karena pasti Neny akan menginterogasinya lebih jauh jika ia bilang sejujurnya tentang phobia tersebut.
Tapi ia sendiri benar-benar takut melewati sudut-sudut tempat itu, menyakitkan karena mengingatkannya detik-detik sebelum kecelakaan. Iapun mengangguk. Dan berusaha menenangkan diri bahwa ia akan baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
***
Minggu pagi, Haikal sekeluarga dan Kirana pergi menuju bandara untuk menjemput sepupunya yang datang dari Paris. Dulu, keluarga bu Anna tinggal cukup lama di Paris sewaktu Haikal kecil.
Setelah kematian suaminya, ia pindah dan membuka restoran Prancis. Sarah adalah sepupu jauh Haikal yang dulu bersebelahan rumah dengannya.
Haikal memarkir mobilnya, dan semua penumpang turun menuju International Arrival, Kirana berjalan melambat. Tubuh dan bibirnya gemetar. Wajahnya memucat bak mayat dan dadanya terasa sesak.
Ingatan beberapa tahun lalu berputar kembali, lalu lalang orang serta suara-suara pemberitahuan ditambah dengan suara pesawat yang baru tiba membuat Kirana berjongkok ketakutan sambil menutup kedua telinganya. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Haikal yang baru saja menyusul dari parkiran, berlari-lari kecil menuju Kirana.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Haikal cemas. Ia memegang jemari Kirana yang basah. “Kamu sakit?” Ia memapah Kirana berjalan menepi agar tidak tertabrak, tapi langkahnya terhenti.
“Aku..pulang saja.” Tangan Kirana berisyarat gemetar. Ia tak sanggup lagi berlama-lama di Bandara.
“Kamu baik-baik saja?” Haikal mengulang pertanyaannya.
Kirana mengangguk dan tersenyum meyakinkan. Dari kejauhan bu Anna sudah meneriaki Haikal agar segera menyusul.
“Maaf ya tidak bisa antar kamu pulang. Kalau sudah sampai restoran hubungi aku. Setelah mengantar Sarah ke rumah, aku segera menyusulmu.” Haikal tak tega membiarkan Kirana pulang sendirian.
Iapun terpaksa memanggil taksi. Haikal memberi tahu supir taksi dimana harus menurunkan Kirana, setelah itu taksi melesat kencang.
“Lho Kirana pulang?” tanya Neny.
“Iya. Dia sakit. Tiba-tiba wajahnya pucat dan badannya berkeringat dingin. Mungkin demam,” jawab Haikal. Neny dan bu Anna prihatin. mereka berharap Kirana baik-baik saja.
__ADS_1
Sarah Cordelia Dominique Hamas, dengan sebutan Cordelia, ia adalah promotor sekaligus salah satu juri dalam ajang “Competition of South East Asian Model” untuk Indonesia. Bibit-bibit model unggul akan lewat seleksi antar kota dari berbagai majalah se-Indonesia yang kemudian akan difinalkan di Bangkok.
Beberapa wartawan dari berbagai majalah fashion, termasuk tabloid sedang menunggu kedatangannya juga.
“Kalau dikerubung banyak wartawan gini gimana kita jemputnya, Ma? Dia pasti udah ada yang jemput dari agency,” keluh Neny merasa risih. Ternyata benar, pihak EO juga tengah bersiap menjemputnya.
“Sarah sendiri yang minta. Lagi pula mama juga kangen sekali dengannya.”
Selang beberapa menit, muncullah wanita supermodis yang sangat cantik dan memesona. Wajahnya Indo-Eropa seperti Kezia, hanya saja ia lebih tinggi dari Kezia dan Haikal dengan tinggi 175cm dan bobot 47kg membuatnya sempurna menjadi top model kelas Eropa. Rambut pirangnya dicat coklat bata seperti warna rambut Kezia.
Ia mengenakan brown laser cut dress diatas lutut, dilapisi layer blazer berwarna magenta. Warna pastel nail polishnya terlihat feminim dan playful, menunjukkan usianya yang masih sangat muda.
Sarah melepas kacamata sicilian baroque dari D&G yang terdapat ukiran rose berwarna coklat emas dan tersenyum anggun pada para wartawan, sekejap bak artis Hollywood atau pejabat tinggi ia dikerubuti orang-orang yang berdesakan mewawancarainya. Setelah sedikit berbicara ia melihat keluarganya yang sedang menunggu. Sarah melambaikan tangan dan langsung menerobos menuju Haikal dan keluarganya. Para wartawan mengikuti Sarah.
“Bonjour ma tante. Halo tanteku.” Sarah memeluk dan mengecup pipi bu Anna.
“Apa kabar? kamu terlihat sangat cantik,” seru bu Anna kagum.
“Je vais bien. Aku baik- baik saja. Hey, ini anak kamu? sangat tampan. Siapa namamu?” Sarah membungkukkan badan sambil memegang pipi bulat Niko.
Muka Niko memerah malu, ia mendongak melihat mamanya. Tidak mengerti dengan yang diucapkan wanita cantik itu.
“Na..manya si..apa sayang?” ulang Sarah dengan logat Perancis yang masih kental dan terbata-bata.
“Niko tante,” Jawab Niko senang.
“Biasanya dipanggil Sarah aja udah senang, sekarang sok minta dipanggil Cordelia segala. Mentang-mentang jadi model ngetrend,” gumam Neny sambil memutar bola matanya. Bu Anna menyikut putrinya.
“Pardon? maaf?” Sarah mengerutkan kening heran, merasa dirinya dibicarakan dan ada yang salah.
“Oh rien. Oh tidak ada apa-apa.” Jawab Neny gelagapan.
“Ma che’rie, Haikal. Sayangku Haikal. Aku sangat rindu denganmu.” Langsung saja Sarah memeluk Haikal dan mengecup pipinya, hingga wartawan memotret mereka dan semakin ricuh.
“Hei.. apa-apan ini. Lepasin Sarah, dibelakangmu banyak wartawan memotret kita.” Haikal mendorong Sarah.
“Cordelia, siapa pria itu? Apakah dia pacar Indonesiamu?” tanya wartawan dari sebuah majalah gosip.
Haikal dan Neny saling melirik dan mulai mencium berita yang tidak menyenangkan.
“Oh they are my family. And he is my lovely cousin,” jawab Sarah dengan bahasa inggris yang sangat fasih ketimbang bahasa Indonesianya.
Ia kini merangkul lengan Haikal dengan erat dan menempelkan kepalanya di bahu Haikal seolah tidak mau lepas.
Para wartawan semakin membanjiri pertanyaan yang diluar konteks kedatangannya sebagai promotor dan juri lomba model se-Asia Tenggara. Untungnya bodyguard dari EO segera menghadang para wartawan dan menyelematkan mereka dari kerubutan pertanyaan seperti nyamuk berdesing di telinga.
__ADS_1
Seorang pria gagah datang menyalami mereka, ia memperkenalkan diri sebagai manajer pelaksana dari EO COSEAM-Competition of South East Asian Model.
“Welcome to Indonesia miss Cordelia, my name is Adit. Aku yang akan mengantar anda ke apartemen.”
“Tidak sekarang. Terima kasih. Aku ingin ke rumah keluargaku dulu,” ujar Sarah.
“Tapi...”
“Jangan khawatir, ayahku orang Jakarta. Setidaknya aku pernah beberapa kali ke Indonesia,” Sarahpun menggandeng Haikal dan mengajak mereka pergi menuju mobil.
Di dalam mobil Sarah membagi-bagikan oleh-oleh. Niko mendapatkan miniatur menara Eiffel dari kayu ek yang mengkilat. Neny menerima sepaket sabun cair mandi dari saripati bunga Lavender. Ia histeris senang ketika melihat bahwa itu produk asli tanpa tambahan air dan alkohol.
Bu Anna berterima kasih karena Sarah membelikan bumbu dapur masakan Perancis yang sudah kuno dan jarang ditemukan selain mahal harganya. Sedangkan Haikal mendapatkan dasi berwarna biru tua dari sutra.
“Kamu perhatian sekali Sarah. Aku senang sekali.”
Sarah manggut-manggut. Dan ia puas karena oleh-olehnya disukai.
“Kamu sekarang pakai softlens ya ?” tanya Neny heran, padahal ia sudah cukup iri dengan mata hitam pekat milik sepupunya itu.
Warna softlens yang dikenakan adalah hijau.
“Ya.. inilah seorang model, harus menjadi pusat perhatian. Lama se..kali tidak bertemu ka..lian. Senangnya.. di Indonesia,” kata Sarah. Ia melihat-lihat dari kaca mobil.
“Dan kamu semakin cantik saja,” celetuk Haikal sambil menyetir.
“Really ? Aku terlihat cantik dimatamu?” Sarah sangat senang mendengarnya.
“Of course. Dari dulu kamu kan memang cantik. Kalau tidak cantik mana mungkin jadi famous model.” Haikal nyengir.
Sarah menghembuskan napas berat. Ia mengira pemikiran Haikal sudah berubah tentangnya. Sarah menyadari kalau dirinya memang cantik dan berbakat. Sebagai youngest model yang menjadi promotor dan juri di Indonesia adalah sebuah prestasi luar biasa.
Ia tak heran dan sudah terbiasa dengan pandangan para lelaki yang takjub serta terpesona bahkan mungkin tergila-gila padanya.Tapi kecantikannya itu tak menggetarkan hati Haikal. Ia ingin terlihat cantik yang menggetarkan pria tersebut.
“Kamu sudah makan sayang? mau makan apa ?” tanya bu Anna.
“I don’t know tante. I had no appetite anymore,” jawab Sarah sedih.
“But, I’m starving grandma,” sahut Niko tiba-tiba yang sedari tadi diam.
Ia merasa kesal dengan orang-orang dewasa yang menggunakan bahasa asing tanpa menerjemahkan. Sarah menoleh takjub. Bu Anna dan Neny juga.
“Kamu bisa.. ba.hasa inggris,my dear?” tanya Sarah.
“Yes. But little-little,” jawab Niko penuh percaya diri. Semua orang tergelak mendengarnya. Pada akhirnya Haikal mengajak di sebuah restoran Padang di pinggir jalan untuk makan.
__ADS_1
***