K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
37. The Winner


__ADS_3

“Maaf sepertinya miss Cordelia tidak begitu sehat hari ini. Kalian bisa mulai acaranya tanpa dia.” Adit memberi tahu kru dan para juri COSEAM.


“Apa dia baik-baik saja? Sudah dipanggilkan dokter?” tanya kru.


“Iya, aku sudah menghubungi dokter.”


“Tapi siapa yang akan menjadi host?” tanya Juri.


“Kita off air dulu saja.” Adit menyarankan.


“Apa sih yang sebenarnya terjadi? Kemarin aku lihat dia baik-baik saja. Kalau hanya flu saja kenapa harus membuat jadwal kita berantakan,” gerutu seorang juri yang tidak menyetujui off air COSEAM. Bisik-bisik juga terdengar diantara kru dan juri yang lain.adit tersenyum kecut.


“Kita tetap on air.” Sarah tiba-tiba masuk ke ruang panitia. Semua menoleh ke arahnya yang kemudian ke arah Adit.


“Dia bilang kamu sakit,” kata kru.


“Seperti yang kalian bilang, aku hanya flu dan tidak perlu libur hari ini.” Sarah melirik ke arah juri yang tadi mengeluhkannya.


“Apa kamu baik-baik saja?” Adit cemas.


“Aku harus profesional. Lagi pula aku baik-baik saja,” jawab Sarah tersenyum.

__ADS_1


Sarah menuju ke meja dan memeriksa profil kontestan. Pagi ini make upnya terasa begitu tebal dan ia menggunakan sunglasses, rupanya hal itu untuk menyamarkan mata bengkak akibat menangis semalaman dan pipi yang merah bekas tamparan itu. Beberapa kru berbisik melihat perban pada tangan kanan Sarah.


Hari kedua final contest, para kontestan model akan mengunjungi beberapa tempat di Bali dan melakukan pemotretan disana. Apa yang bisa diharapkan dari hari ini adalah para kontestan mengenalkan lokasi wisata yang ada disana. Setelah on air sikap sinis Sarah terhadap Citra semakin nampak jelas. Sarah merasa melihat sosok Kirana dalam diri Citra dengan postur tubuh lain.


Setelah lebih dari sebulan di Bali, tiba juga penyerahan progress report kepada para kontestan. Sebelumnya, terjadi perdebatan sengit antara Sarah dengan para juri mengenai pemenang utama. Yang pada akhirnya, Sarah menyerah dengan kenyataan bahwa ia harus bersikap profesional.


***


“Pada akhirnya, kita semua telah menantikan hari ini. Today, is a special day. Dan setelah melalui perjalanan panjang kalian sebagai model lokal, hari ini kalian akan menjadi seorang top model internasional.” Sarah menyapu pandangan pada kontestan.


“Juara tiga akan memperoleh uang senilai tiga ratus juta rupiah, kontrak setahun dengan majalah Perempuan, mobil senilai 150 juta, kontrak satu tahun dengan produk kecantikan, produk minuman serta liburan ke Jepang dan Korea selama sebulan. Sedangkan untuk juara dua, akan mendapatkan uang sebesar lima ratus juta rupiah, kontrak satu tahun dengan majalah Vogue, produk kecantikan, produk Unilever, mobil senilai 150 juta rupiah serta liburan ke China, Filiphina, Thailand. Juara Pertama, akan mendapatkan uang tunai senilai enam ratus juta rupiah, kontrak enam bulan majalah Bazaar, apartemen di New York, pendidikan modelling di Paris selama enam bulan, mobil senilai 250 juta rupiah, kontrak produk kecantikan SK II dan produk perhiasan dari Diamond firm serta liburan keliling Eropa selama sebulan. Selain itu, pemenang utama akan mewakili Indonesia untuk Coseam di Bangkok,” Papar Sarah tersenyum tipis.


Para kontestan dihadapannya saling menutup mulut dan bergumam bahagia tak percaya dengan yang di umumkan.


“Now, let me see, siapa yang berada diurutan ketiga.” Sarah membuka map progress report. Ketiga kontestan saling berpegangan tangan.


“She is.....Anggun from Kalimantan,” kata Sarah.


Gadis berambut ikal dan berkulit putih serta jakung maju dengan senyum gembira luar biasa. Setelah berpelukan dengan kedua kontestan lain ia menuju ke arah Sarah.


“Selamat. Teruslah berkarya menjadi profesional,” Sarah menyalami dan memberikan progress report tersebut. Lalu seorang juri memberikan sebuah plakat penghargaan juara ke tiga dan bunga.

__ADS_1


“Kita akan semakin gugup saja mengumumkan pemenang kedua, karena itu artinya salah satu diantara kalian tentu saja akan menjadi pemenang. Are you ready, Girls?” Sarah bertanya. Kedua kontestan berpegangan tangan dan mengangguk. Mereka menutup mata.


“Hmm.... the second place of COSEAM is.... from... Bali... Made Ayu.That’s mean Citra from Bandung become the winner of COSEAM 2017.”


Citra nyaris pingsan mendengarnya. Teriakan tepuk tangan meriah terdengar menggema di seluruh ballroom yang terdiri dari penonton. Temannya, Made Ayu memeluk dan mencium pipinya memberi selamat. Citra menangis terharu. Acara tersebut disiarkan secara on air melalui televisi swasta. Semua impiannya terwujud.


Ia sangat bahagia dan terharu ketika menerima progress report, selempang dan bunga. Setelah kondisi kembali tenang, Sarah berbicara kembali sebagai host.


“Perjalananmu sebagai model internasional masih panjang, dan aku harap kamu tidak sekedar berpuas diri disini saja. Sekali lagi, selamat. Welcome to the real world,” Sarah memberi pelukan hangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia bersikap sinis dengan satu kontestan tersebut.


Ratusan kilometer dari ballroom hotel tempat final contest COSEAM berada, bu Sita gemetar dan menangis bahagia. Meskipun selama ini ia jarang menemani perjalanan karir Citra sebagai model, ia merasa bangga menjadi ibunya. Akan tetapi, ia kemudian teringat bahwa putrinya, Kirana, mengalami kecelakaan pesawat ketika pergi ke luar negeri. Bisakah ia merelakan putrinya lagi, Citra, meninggalkan bumi pertiwi?


***


Seluruh kru Coseam kembali ke Jakarta dan menyiapkan persiapan selanjutnya bagi Citra menuju ajang Coseam Bangkok. Haikal berpapasan dengan Sarah ketika di bandara, dan mereka berdua sama-sama menunjukkan wajah dingin.


“Sampai disini kerjasama kita, Sarah. Aku minta maaf jika banyak kesalahan dan tidak memuaskan pelayanan di Indonesia. Dan... untuk kejadian di hotel,” Sarah segera menganggkat tangannya menyetop Adit.


“Jangan diungkit lagi. Thanks a lot. Maaf telah banyak menyusahkan. Senang bekerjasama denganmu.” Sarah menyalami Adit.


Mereka berdua tersenyum getir. Diantara mereka berdua terselip rasa kehilangan, ada kata-kata yang segan terucap namun sangat ingin diucapkan. Mereka berjalan saling menjauh berlainan arah meninggalkan bandara Soekarno-Hatta.

__ADS_1


Untuk sejenak, Adit sempat menoleh ke belakang, melihat punggung Sarah yang mungkin untuk terakhir kalinya. Dan ketika Adit kembali melihat ke muka, Sarah tiba-tiba berhenti. Ia merasa seolah ada sesuatu. Tapi Sarah tak menengok ke belakang layaknya Adit. Ia berjalan kembali.


__ADS_2