K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
33. Impian Citra


__ADS_3

“Bagaimana restoran hari ini?” tanya Haikal berbasa-basi.


“Cukup ramai. Dan aku senang melihat pengunjung yang menikmati permainan pianoku akhir-akhir ini,”


“Er.. Kirana, ketika di Australia, apa yang kamu kerjakan disana? Maksudku kamu disana sepertinya tinggal dengan bule-bule itu, lalu sekarang kembali ke Indonesia tanpa ada keluarga. Kalau kamu mau cerita, kamu bisa menceritakan tentang keadaanmu yang sebenarnya,” Haikal berhati-hati dalam memilih pertanyaan.


Kirana menggigit bibir dan menunduk hingga rambut panjangnya yang terurai menutupi sisi kanan wajahnya. Bisakah ia bercerita masa lalu yang menyakitkan dan dipendamnya dalam-dalam? lalu lahirlah seorang sosok miss Asian dalam beberapa tahun dan kembali untuk menemui keluarganya yang sekarang tak tahu keberadaannya dimana.


Bisakah ia berbagi lembaran menyedihkan itu pada pria yang dicintainya?


Beberapa menit kebisuan berjalan. Haikal mengerti situasi dengan sangat baik.


Ia menggenggam tangan kiri Kirana sambil berkata, “Kalau sulit untuk diceritakan saat ini jangan ceritakan. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap bercerita,” sedangkan tangan kanannya masih menyetir.


***


Bu Sita menyisir rambut Citra di depan meja rias. Malam itu, wajah polos tanpa makeup Citra terlihat jelas. Sebenarnya, tanpa makeup sekalipun wajahnya terlihat lebih cantik alami.


Mungkin sedikit pucat tanpa lipstik dan eyeshadow. Wajah itu mengingatkan bu Sita akan masa mudanya dulu. Persis seperti Citra. Bu Sita berharap, ketika Citra semakin tua, wajahnya tetap cantik dan menawan. Tidak seperti dirinya yang berkeriput, terlihat tua jauh dari usia sebenarnya dan beruban. Semua itu faktor pikiran yang membebaninya selama ini.


“Mama berharap semoga kamu lulus casting ya sayang,” kata bu Sita menyisir rambut Citra perlahan.


“Amiin. Makasih ya ma, udah support aku selama ini,” sahut Citra.


Bu Sita tersenyum getir. Justru selama ini yang mensupport bertahan hidup adalah Citra, bukan dirinya. Ia serasa menjadi benalu yang tidak berguna. Di depan cermin bu Sita melihat wajah Citra yang semakin tumbuh menjadi wanita muda cantik. Nyeri kembali terasa, ketika ia membayangkan jikalau putri sulungnya masih hidup mungkin sama cantiknya dengan sang adik.


Sebelum Citra tahu raut muka sedihnya, bu Sita segera berpaling menunduk melanjutkan menyisir rambut putrinya.


“Mama akan temani kamu casting sampai akhir. Bahkan sampai masa karantina nanti,” kata bu Sita. Citra tersenyum bahagia dan mengiyakan.


***


Sabtu pagi, ballroom hotel mewah di Bandung tengah disibukkan acara casting tahap I COSEAM dan beberapa wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik sudah mulai berdatangan.


Acara tersebut merupakan ajang pemilihan model terbesar di tanah air. Jadi, sangat menjadi topik hangat yang sedang dibicarakan oleh media cetak, khususnya.

__ADS_1


Kedatangan Sarah dengan Adit langsung diserbu wartawan lokal dan asing dari pihak COSEAM di Bangkok dan Singapura.


Promotor dan juri muda itu memesona mata seluruh penghuni ruangan. Cantik, elegan, berkelas dan menjadikannya layak sebagai ratu di ruangan tersebut. Seorang designer terkenal dari Indonesia mendapat kehormatan merancang beberapa kostum yang dikenakan Sarah selama menjadi juri.


Sarah malas menanggapi wartawan, ia hanya melempar senyum sebagai jawaban dan melambaikan tangan. Dan untungnya acara segera dimulai.


Satu persatu peserta mulai casting. Dari kelima juri, hanya Sarah yang punya andil besar dalam menentukan kelolosan model-model lokal tersebut. Hak penilaiannya adalah 40%, yang artinya jika dia dan satu juri menolak seorang kontestan, maka kontestan tersebut akan gagal meskipun ketiga yang lain menerimanya.


Citra mendapat urutan ke-125 dan itu berselang setelah istirahat siang. Mbak Moni dan bu Sita telah berharap-harap cemas saat giliran Citra untuk casting yang hanya berselang tak lebih dari tiga menit.


Citra berjalan dengan sedikit gugup, tapi ia berusaha konsentrasi agar terlihat maksimal. Keempat juri sedang membaca profilnya, sedangkan Sarah sibuk bermain dengan gadget.


Ketika salah satu juri mempersilahkan Citra untuk berjalan di catwalk, Sarah mengerutkan kening terkejut. Ia lalu melihat resume peserta 125. Gadis itu sangat mirip sekali dengan wanita pernah dilihatnya. seseorang yang sedang tidak disukainya.


Hidung, rambut, dan warna kulit serta bentuk muka yang sangat sama, membuat Sarah tiba-tiba tidak menyukai peserta 125. Tapi, gadis bernama Citra mempunyai bakat menjadi model besar, dari segi fisik yang sangat memenuhi syarat serta sangat photogenic. Ada darah model berkelas mengalir pada kontestan itu.


Keempat juri memberi nilai sempurna untuk Citra, dan mereka melihat Sarah yang belum menekan tombol juri antara merah berarti menolak atau hijau berarti menerima. Dengan sedikit tanggung, Sarah menekan tombol hijau ikut memberi nilai sempurna.


Citra histeris kegirangan. Ia menjabat tangan kelima juri dengan penuh terima kasih. Ia keluar penuh haru sampai menangis yang lalu disambut manajer serta mamanya.


“Bagaimana?” tanya mereka.


“Tentu aja aku lolos, Ma!” seru Citra bersorak sambil memeluk mama dan manajernya.


Mereka bertiga berteriak kegirangan dan bu Sita mengucap syukur berkali-kali.


“Itu artinya Citra harus ninggalin mama sendirian,” Citra berubah sedih.


Tentu saja ia dan tiga puluh peserta lain harus meninggalkan Bandung untuk dikarantina selama berminggu-minggu dan terus diseleksi hingga menyisakan satu model terbaik untuk mewakilli Indonesia.


“Tidak apa-apa sayang. Ini semua demi masa depan kamu juga,” bu Sita tersenyum memberi semangat.


“Tenang aja, nanti tante Sita biar aku yang jagain,” tawar mbak Moni.


“Makasih yah mbak,” Citra memegang tangan mbak Moni sangat erat. Mereka seperti saudara sekarang.

__ADS_1


“Sudah, sudah. Ayo kita pulang, tante akan masak yang enak buat makan malam untuk merayakan keberhasilan Citra,” bu Sita menyela mereka berdua.


***


“Akhirnya selesai juga seleksi tahap awal ini. Ugh leherku sakit sekali,” keluh pria berkacamata dan berkumis tipis salah satu juri COSEAM.


Ia memijat lehernya pelan. Sarah tak banyak bicara dengan para juri lainnya, ia terlalu angkuh dan enggan berbicara dengan juri lokal selama beberapa hari seleksi tahap awal karena merasa dirinya istimewa.


“How was your day in Bandung?” tanya pria berkacamata bertanya ramah pada Sarah.


“Not bad,” jawab singkat Sarah.


Ia merasa kalau juri bernama Anton itu sok kenal dan sok dekat dengannya. Ia segera membereskan barang-barangnya.


“I'll go first,” kata Sarah berpamitan pada keempat juri lain. Adit sudah siap menunggu Sarah.


“Sombong banget sih tuh orang,” celetuk ibu-ibu mantan model era 80-an yang juga merupakan juri.


“Yah, karena dia juri tamu yang mendapat hak 40% penilaian, merasa dirinya terlalu penting sehingga tidak penting menanggapi kita,” sahut juri yang lain.


“Aku baca resumenya, menurutku dia terlalu sombong karena gimanapun juga dia lebih junior secara usia dan pengalaman. Memang dia kelas internasional, tapi terlalu berlebihan sikapnya.”


“Hmm... andai saja Nadia Hutagalung jadi juri disini, pasti menyenangkan,” ujar Anton.


“Tentu aja, karena kamu ngefans berat dengannya,” sahut juri ibu-ibu. Dan disambut juri yang lain dengan tawa.


****


“Allo my darl cousin. Ehm.. Haikal, bisa tidak kau ke Bandung. Ini kan weekend dan sudah beberapa hari aku disini sendirian,” Sarah mengadu manja lewat telepon. Adit melirik dari kaca spion sesaat, tersenyum kecut.


“Come on, kamu gak kasihan sama gadis beautiful yang dari Prancis ini? Lonely and strange,” Sarah semakin manja.


“Kamu bisa liburan disini, aku baru saja sewa villa buat kita liburan se family. Pokoknya kamu harus datang, I’ll call auntie,” klik. Sarah mematikan telepon. Ia tersenyum puas dan licik.


“Everything is ready?” tanya Sarah pada Adit.

__ADS_1


“Yes,” jawab Adit singkat dengan nada dingin.


***


__ADS_2