K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
27. First Sight


__ADS_3

Citra menerima tawaran iklan produk kecantikan lokal yang terdistribusi diseluruh pulau Jawa. Ia melakukan pemotretan tak jauh dari lokasi proyek Haikal.


Bu Sita dengan setia mengantar dan menemani putrinya. Ia juga bercengkrama baik dengan beberapa kru fotografer, make up artist serta mbak Moni. Setelah bertahun-tahun mengisolasi diri dari masyarakat sekarang ia punya kehidupan normal yang lebih baik sebagai makhluk sosial.


Terkadang ia bisa menggantikan mbak Moni sebagai manajer yang mengingatkan jadwal dan kebutuhan lain Citra.


“Sebentar lagi Citra akan menjadi model nasional. Saya janji tante, secepatnya saya akan memindahkan Citra ke majalah pusat di Jakarta,” janji Mbak Moni sambil memandangi sesi pemotretan.


“Saya berterima kasih sekali dengan semua bantuan kamu untuk Citra. Selama ini kamu adalah orang yang sangat berjasa dalam keluarga kami.”


“Ah, bukan apa-apa, Tan. Saya sayang dengan Citra dan salut atas kerja kerasnya selama ini demi membahagiakan mamanya. Saya sendiri sebelum bisa sesukses ini mama saya sudah meninggal duluan. Jadi yah, saya sebatang kara. Citra seperti keluarga sendiri karena dia sangat baik.” Tanpa sadar mata mbak Moni berkaca-kaca. Bu Sita terhenyak, ia menatap haru manajer anaknya.


“Nak, kalau kamu mau, tante bersedia menjadi ibu buat kamu. kamu bisa menyayangi saya seperti ibu kandung kamu. Saya juga sayang dengan kamu.” bu Sita tiba-tiba memegang tangan mbak Moni.


Wanita yang dipegangnya sedikit takjub, namun tampak sinar kebahagiaan rasa terima kasih dari wajahnya.


“Terima kasih ya tante.” Mereka berpelukan hangat. Citra melirik dari kejauhan, ia tersenyum senang.


***


Usai pemotretan mereka menuju restoran terdekat untuk makan. Haikal dan relasinya juga berada direstoran yang sama. Tak berapa lama setelah makan siang, Haikal menuju toilet untuk cuci tangan dan sedikit membasuh muka.


Ia melihat bidang dahinya yang lebar dan rambut hitam acak-acaknya kini nampak agak gondrong. Bulir-bulir air menetes dari pipinya. Haikal menarik tissu dan mengeringkan muka. Tak puas dengan tissu iapun mengambil sapu tangan yang terletak di saku. Tak ada sapu tangan.


Hanya sebuah foto yang tadi pagi disimpannya.

__ADS_1


Haikal tersenyum malas, mengingat peristiwa foto tersebut, dimana ia dan Kirana dianggap pasangan muda. Dan sikap Neny yang berkeras seolah ingin menjodohkan mereka berdua.


Anehnya, ia sama sekali tak ingin membuang foto tersebut. Ada rasa simpati dalam diri Haikal kepada Kirana. Simpati yang ia sendiri tak bisa mengungkapkan seperti apa itu.


Haikal kembali menyimpan foto tersebut dan keluar toilet. Ia menabrak seorang gadis yang juga keluar dari toilet wanita.


“Ah, maaf,” ujar si gadis menanggukkan kepala merasa ia memang bersalah.


“Gak pa-pa. Sama-sama,” sahut Haikal. Gadis itu mendongak melihat Haikal. Ada desir dalam hatinya yang tiba-tiba muncul. Haikal sendiri terpaku melihat gadis itu. Mereka saling terdiam satu sama lain untuk beberapa detik.


“Boss, udah ditunggu,” tegur anak buah Haikal.


Mereka berdua tersentak kaget. Haikalpun mengikuti anak buahnya beranjak dari sana. Citra memandang jauh punggung pria yang menabraknya. Pria tersebut telah menghilang dari pandangannya, akan tetapi ia meninggalkan desiran yang masih membekas pada hati Citra.


“Ada apa boss?” tanya anak buah Haikal ketika mereka melenggang keluar.


***


Citra kembali ke meja dimana kru dan mamanya berada. Ia masih memegang dada dan tersenyum kemerahan.


“Ada apa?” tanya mbak Moni. Citra menggeleng masih tetap tersenyum.


Siapakah pria jangkung itu? kenapa hatinya merasa berlonjak-lonjak pada pria yang tak dikenalnya? Dalam mobil menuju pulang, Citra masih melamun dan mengingat kembali sosok asing tersebut.


“Oh ya boss, minggu depan saya akan menikah,” info anak buah Haikal sambil memberikan undangan.

__ADS_1


Haikal menerima dan membuka undangan selebar buku tulis.


“Wah selamat ya,” ujarnya getir.


Setiap kali mendapat undangan pernikahan serasa menusuk hatinya. Ia sendiri sudah tak berselera untuk menikah. Meskipun Haikal sering mendapat undangan pernikahan, yang ia datangi sangatlah sedikit bahkan kalau bisa ia hanya akan mengirimkan ‘amplop’ atau karangan bunga kepada pasangan pengantin tanpa dirinya.


Jika bukan orang yang benar-benar terdekatnya, ia takkan hadir.


“Datang ya boss. Yah pesta pernikahannya Cuma sederhana, pesta orang kampung. Tapi, saya bakal sangat merasa terhormat kalau si boss mau hadir. Karena saya ingin boss nanti juga memberikan sedikit ceramah.”


“Ha,,ha.ha. ada-ada saja kamu ini. Sayakan bukan ustadz maupun kiai, kenapa harus ceramah?”


“Justru karena boss atasan saya, yang memberi pekerjaan dan selalu membantu perekonomian keluarga saya. Saya ingin boss berpidato sebagai orang yang telah sukses dan memotivasi saya untuk bekerja lebih keras lagi,” ungkap mandor proyek itu.


Haikal terdiam. Ia tidak bisa janji akan hadir, tapi melihat permohonan tulus anak buahnya, egonya luluh juga.


“Iya saya akan datang,” jawab Haikal. Anak buah tersebut tersenyum senang.


“Bawa juga ceweknya ya boss.”


“Cewek apaan?”


“Yah masa’ si boss mau datang sendirian? bawa teman cewek biar ada pasangannya di pesta saya nanti.”


“Kalau saya gak punya cewek gimana?”

__ADS_1


“Ah, boss kan orang kaya dan cakep pasti ada aja cewek yang mau sama boss. Atau.. saya carikan gadis cantik di kampung saya?” goda si mandor. Mereka tergelak bersama.


***


__ADS_2