
Bu Sita mengelus foto keluarga terakhir di London saat mereka liburan. Wajahnya semakin tirus dan nampak lima tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Kedukaan belum lenyap begitu saja meski tahun-tahun berlalu.
“Ma, Citra berangkat dulu ya,” sapa Citra.
Ia telah usai berbenah untuk berangkat ke studio foto sebuah majalah fashion wanita muda.
Bu Sita mengusap ujung-ujung matanya, kemudian menyembunyikan bingkai foto dibawah bantal dengan cepat.
“Hati-hati ya,” pesan bu Sita lirih dan datar. Citra mengangguk, ia mencium punggung tangan ibunya.
“Maaf ya sayang, gara-gara mama tidak mengambil uang asuransi dari pihak penerbangan kakakmu, kamu harus berhenti kuliah dan malah bekerja.” bu Sita menelan ludah kepahitan.
Asuransi senilai dua milyar rupiah yang masuk ke rekeningnya tak tersentuh selama empat tahun. Citra duduk memegang tangan ibunya.
“Ma...jangan ungkit-ungkit itu lagi. Aku putus kuliah emang keinginanku sendiri. Daripada nantinya kerja kantoran gak jelas, mending aku mengasah bakat jadi model.”
Setelah kematian papanya, keluarga bu Sita mengalami kebangkrutan besar. Sehingga mereka harus membanting tulang mencari uang. Bu Sita hanya bisa duduk di rumah akibat kesedihan yang berkepanjangan. Hingga membuat Citra tak tahan melihat kondisi keluarganya dan ia memutuskan untuk menjadi model. Om dan tante kembali ke Kalimantan tempat mereka berasal. Kini mereka hanya tinggal berdua.
***
Citra naik bis kota menuju studio. Ia memiliki tubuh yang sangat ideal menjadi model dan artis. Tingginya 170 sentimeter dengan berat hanya 47 kilogram. Wajahnya tirus dan lancip di bagian dagu. Alisnya tebal-rapi. Bibir bagian atas melekuk kecil sedangkan bagian bawahnya tipis memanjang. Kulitnya kuning langsat seperti warna kulit kakak dan mama. Citra tidak memiliki lesung pipi seperti Kirana, namun senyumnya menawan bak putri Indonesia.
Kerasnya kehidupan empat tahun lalu membuatnya mandiri dan menjadi sosok yang lebih dewasa sebelum waktunya. Dia juga sangat ramah dan pandai bergaul dengan semua orang, meskipun terkadang Citra harus memendam semua masalahnya seorang diri.
“Hai..” sapa fotografer padanya.
Citra membalas sapaan dengan senyum lebar seperti biasa. Senyum yang selalu dinanti setiap orang. Senyum yang meneduhkan dan membuat suasana di sekitar menjadi lebih ceria. Meski ia tak memiliki banyak teman akrab dan jarang nongkrong, keramahannya membuatnya disukai banyak orang.
“Kamu ada delapan sesi pemotretan dengan saya. Kali ini untuk model iklan sabun mandi,” ujar fotografer itu tersenyum genit pada Citra.
“Beres Om,” sahut Citra.
Ia senang jobnya datang dari berbagai penjuru. Ia berharap bisa pergi ke Prancis dan tembus menjadi model internasional. Citra awalnya iseng mengikuti kontes majalah sampul remaja dan ia belum pernah mengikuti pelatihan atau kursus menjadi model. Meski gagal dalam seleksi tahap dua, seorang pencari bakat yang sekaligus fotografer lokal menawarinya menjadi model alat tulis sekolah. Dari situlah karirnya menjadi model mulai dirintis.
“Citra... ada good news buat kamu!” Seorang wanita berambut pendek dan berkacamata bulat lebar dengan syal panjang melingkar di lehernya menepuk bahu Citra.
”Ada tawaran dua model dari majalah kita untuk hadir dalam acara pesta akhir pekan majalah fashion London. Bu Mayang udah hubungi manajernya Yona, dan tadi beliau tanya sama aku apa ada waktu senggang yang cukup buat kamu hadir disana.” Perjelas wanita yang menjadi manajer Citra.
“Wah bagus banget mbak. Aku pengen bisa ikutan kesana. Tapi, jadwal pemotretanku padat banget sampai akhir tahun mbak. Gimana donk?” keluh Citra.
__ADS_1
“Apa gunanya aku jadi manajer kamu. Udah gampanglah, aku udah cari sela-sela jadwal pemotretan kamu. Supaya kamu gak ninggalin job dan tetap bisa menghadiri acara tersebut. Yang penting sekarang ngurus perlengkapan buat ke sana. Kamu udah punya paspor kan?” tanya manajer.
“Aduuh. Paspor aku udah expired. Tiga tahun lalu. Mbak Moni bisa urus paspor baruku kan?” Citra meminta dengan nada manja pada manajernya.
Manajer yang kerap dipanggil mbak Moni, memutar mata dan menghela napas seolah sedang jual mahal dan enggan memenuhi permintaan Citra. Tapi sejurus kemudian mengangguk.
“Oh ya aku harus ganti baju dulu mbak. Ditungguin om Sony pemotretan iklan sabun.”
“Ah iya, cepetan sana!”
***
“Citra mau nebeng pulang gak?” tanya mbak Moni menurunkan kaca mobil.
Serangkaian pemotretan dari berbagai iklan dan majalah telah usai. Citra saat itu sedang menunggu angkutan setianya, bis kota. Ia tersenyum kemudian masuk mobil.
“Emang mbak Moni mau kemana?” tanya Citra heran karena rumah mereka berlawanan arah.
“Ngajakin kamu jalan-jalan. Kan hari ini dapat bonus dari bu Mayang. Kamu lupa ya? gak di cek dulu atm nya?”
“Bonus apaan mbak?”
“Oh itu.”
“Eh, tabungan kamu kan udah banyak, kenapa gak dibelikan mobil aja? dari pada harus naik bis kota terus. Apa kata orang-orang nanti? Model yang lagi naik daun gak punya mobil. Sekarang kredit mobil kan makin gampang. Lagian banyak mobil bekas murah tapi masih mulus-mulus.”
“Emm... enggak dulu deh, Mbak. Lagi pula, aku mau pindah ke apartemen yang lebih nyaman dengan mama. Sisanya aku mau beli lagi rumah lamaku di Jakarta yang udah disita bank.” Nada suara Citra berubah sedih. Mbak Moni mengelus rambutnya.
“Sabar ya Ra. Kamu emang anak berbakti banget. Moga aja rumah lama kamu gak terlalu mahal dari tahun ke tahun. Em..kita ke mall yuk, yah makan-makan atau kamu mau belikan sesuatu buat mama kamu? Senggaknya bonus itu bisa jadi kado spesial buat mama kamu.”
Citra merenung sejenak memikirkan barang spesial untuk sang mama. “Ah, ada. Ayo kita kesana!” ujarnya.
***
Bu Sita melihat kalender. Bulan Oktober. Dimana putrinya pergi dan tak pernah kembali. Disusul bulan-bulan berikutnya sang suami dan ibu mertuanya meninggal. Seolah menjemput putri mereka.
Curang sekali! pikir bu Sita.
Suami dan ibu mertuanya bisa pergi dari dunia yang keras ini dan meninggalkannya seorang diri. Kejam sekali mereka bisa hidup damai dalam tidur panjang, sedangkan ia hanya sanggup melihat foto anak sembilan belas tahunnya.
__ADS_1
Tepat empat tahun kepergian Kirana. Dan akan memasuki tahun 2016 dimana semakin membuat Kirana menghilang lebih lama.
Meski telah terlewat empat tahun lamanya, bu Sita tidak bisa menyembunyikan kesedihan terdalamnya sejak kecelakaan pesawat Kencana Air.
“Mama... Citra punya hadiah buat mama,” sapa Citra tiba-tiba memeluk sang mama dari belakang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membawa kotak beludru biru tua persegi panjang seukuran buku tulis A5.
Bu Sita menoleh. Citra membuka kotak persegi beludru berwarna biru tua. Nampak sebuah kalung mutiara putih berkilat-kilat seukuran setengah bola kelereng. Mutiara produksi Diamond Firm, perusahaan berlian dan mutiara yang tersohor. Bukannya tersenyum senang, bu Sita malah meneteskan airmata sedih.
“Ma..” tegur Citra.
“Ini bukan saatnya menerima hadiah mewah dan bersenang-senang.” bu Sita terisak.
Enggan menerima hadiah dari putrinya.
“Maksud mama?” tanya Citra tak mengerti dan kecewa.
“Kamu tidak mengerti. Empat tahun sudah kita kehilangan Kirana. Empat tahun sudah mama kehilangan anak sulung mama. Empat tahun sudah Kirana menghilang dan pergi begitu saja.” bu Sita membuang ingus.
Citra mengepalkan tangan kesal. Ia menelan ludah.
“Mama pikir Citra gak ngerti gimana perasaan mama sekarang? mama pikir Citra gak sedih?” Citra mulai menaikkan nada suaranya.
“Ma.. selama ini Citra diam bukan berarti Citra gak sedih dan gak peduli dengan kepergian kakak. Citra juga sedih ma! Citra harus kehilangan saudara kandung Citra. Tapi orang hidup harus tetap melanjutkan hidupnya. Kita gak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan. Mama pikir kakak, papa dan eyang senang lihat kita yang terpuruk? enggak kan, Ma! Citra juga harus kehilangan banyak masa remaja Citra ketika papa sakit. Citra harus seorang diri menghadiri acara purnawiyata sekolah disaat eyang sakit dan mama gak tahu kalau Citra menjadi juara umum? Citra harus melupakan impian untuk kuliah di luar negri seperti teman-teman karena kita bangkrut. Mama pikir Citra gak sedih dengan kondisi keluarga kita? Citra nyaris saja bunuh diri saat rumah kita disita bank dan mama yang hanya meratap sedih. Mama juga gak tahu kan gimana susahnya Citra yang mencari kerja kesana kemari dan akhirnya memutuskan jadi model? mama kira jadi model itu gampang ma? Citra nyaris diperkosa oleh fotografer brengsek Citra sendiri,” Citra menelan ludah lagi dan berhenti sejenak untuk bernapas.
Air matanya mulai leleh perlahan tak sanggup lagi dibendung. Sungguh menyakitkan jika ia mengingat kejadian mengerikan tersebut. Ketika ia baru jadi model dan mendapat pemotretan pakaian remaja di malam hari. Ketika itu ia belum mempunyai manajer, dan ia seorang diri disana bersama beberapa kru mayoritas pria.
Ketika usai pemotretan, di kamar ganti, sang fotografer langsung mendobrak masuk dan nyaris menodainya. Untungnya kru yang lain belum pulang dan segera datang menolong ketika mendengar teriakannya.
Bu Sita tidak percaya dengan semua yang dikatakan putri bungsunya.
“Tapi Citra diam, Ma.” Nada suara gadis itu mulai menurun. “Citra gak mau menambah beban kesedihan dan pikiran mama. Yang Citra punya saat ini hanya mama. Dan mama masih punya Citra. Sebelum kepergian papa, beliau berpesan pada Citra untuk menjaga mama. Dan wasiat papa agar kita hidup lebih baik.” Citra tak sanggup menahan semua isi hatinya setelah sekian lama.
Iapun menunduk dan semakin terdengar isak tangisnya. Kedua pipi Bu Sita kembali basah, ia membelai rambut putrinya.
“Citra sedih, Ma. Sangat sedih, dan Citra kecewa kenapa mama berpikir seolah Citra tidak peduli dengan kepergian kakak. Citra kecewa kenapa mama tidak menganggap kehadiran Citra yang juga anak kandung mama.”
Bu Sita ingin memeluk putrinya, tapi Citra segera bangkit dan berjalan menuju kamar.
Kalung mutiara putih terjatuh dari kotak beludru berlogo berlian. Masih terdengar isakan Citra di ruang tamu, bu Sita memungut kalung mutiara beserta kotaknya. Citra tahu bahwa ia sangat menyukai kalung mutiara dan mengoleksinya sebelum mereka bangkrut.
__ADS_1
Bu Sita merasa sangat berdosa telah menyia-nyiakan anak keduanya. Ia seolah menjadi ibu kandung yang jahat dan lebih jahat dari ibu tiri dalam dongeng anak-anak. Ia tak menyangka bahwa putrinya mengalami kehidupan pahit bahkan ia yang setiap hari disampingnya tak tahu menahu mengenai prestasi putrinya.