K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
5. Pengantin Perak


__ADS_3

Haikal mengendarai mobilnya dengan kecepatan melebihi batas. Ia serasa kerasukan setan. Dia berhenti di parkiran bandara. Kemudian setengah berlari, melewati beberapa orang dengan kasar. Lalu meninju salah satu petugas informasi kecelakaan pesawat Kencana Air RQ30144.


Petugas itu jatuh tersungkur dan menahan rasa sakit di pipinya. Beberapa orang segera menahan Haikal.


“Mana bos kamu? Siapa kalian? Berani-beraninya menghentikan pencarian korban. Kenapa harus dihentikan?” bentak Haikal.


Matanya menyala dipenuhi amarah.


“Tenang pak. Batas pencarian korban sudah melebihi waktu yang ditentukan,” kata salah seorang petugas.


“Lalu? Kalian dengan enaknya bilang mereka udah mati? Padahal kalian belum menemukan jasadnya. Siapa kalian berani-beraninya bertindak seperti Tuhan?” Haikal sudah lepas kontrol.


Dia meninju petugas yang menjawab pertanyaannya tadi. Keributan mulai terjadi di area posko informasi kecelakaan. Amukan Haikal begitu kuat, hingga meski petugas keamanan berusaha menahannya, mereka sedikit kewalahan.


Haikal berhasil dilumpuhkan ketika beberapa petugas keamanan yang lain datang dan dibantu pengunjung. Ia segera diamankan di salah satu ruang keamanan.


Haikal tak perlu lama mendekam di sana. Keluarganya segera datang dengan seorang pengacara terkenal dan memberi jaminan serta membuat surat pernyataan. Pengacara keluarga Haikal juga telah memberi kompensasi kerugian sepuluh juta kepada petugas informasi yang pipi kirinya lebam akibat pukulan tersebut.


Mereka tidak ingin kejadian ini dibawa sampai ke ranah hukum dan diketahui publik. Meski kejadian itu telah terekam di ponsel pengunjung dan menyebar luas seantero dunia maya.


“Sudahlah Haikal. Kita harus menerima kenyataan.” Bu Anna mengingatkan ketika mereka berjalan menuju parkiran mobil.


“Ma, besok itu pernikahan kami. Mungkin aja besok Kezy datang. Haikal sudah mempersiapkan segalanya untuk besok.”


Bu Anna menggelengkan kepala. Anaknya semakin lama tidak waras. Haikal telah menyebarkan dua ratus undangan untuk akad nikah, dan tujuh ratus undangan untuk resepsi. Dia telah mempersiapkan segalanya seolah-olah besok Kezy akan benar-benar hadir dalam acara tersebut.


***


Minggu pagi tepatnya pukul sepuluh. Akad nikah akan dilaksanakan satu jam lagi. Beberapa tamu mulai berdatangan ke kediaman bu Anna.


Haikal telah siap dengan setelan jas berwarna abu-abu tua yang mengkilap. Sebaliknya, sang mama belum berdandan.


“Maaf, Nak. Mama gak bisa.” Bu Anna menunduk, meneteskan airmata sedih.


Ia tak sanggup melihat peristiwa menyedihkan dan memalukan akibat pengantin wanita yang tak kunjung datang karena telah dinyatakan tewas. Bu Anna duduk di meja rias sambil memandangi foto almarhum suaminya.


“Kenapa mama seperti ini? Hari ini hari bahagia Haikal, Ma. Kenapa mama tidak disisi Haikal untuk menemani?” Haikal menatap sang mama dengan kecewa.


“Ini tidak benar. Kita tidak seharusnya melakukan ini.”


“Aku tidak peduli dengan pendapat orang, Ma. Hari ini Kezy akan jadi istriku. Dan Haikal sangat mengharap mama datang.” Haikal keluar pintu dengan kesal.


Acara akad nikah memang digelar di rumahnya. Karena tidak bisa dilakukan di Belanda, rumah keluarga Kezia. Beberapa tamu nampak berwajah prihatin. Mereka datang untuk menghormati Haikal.


Meskipun mereka tahu tentang keadaan calon istri Haikal merupakan salah satu penumpang Kencana Air yang mengalami kecelakaan, sedangkan tim SAR dan pihak maskapai telah menghentikan pencarian korban serta menyatakan kemungkinan tidak ada korban selamat.


Penghulu telah datang sepuluh menit sebelum acara. Haikal dan penghulu duduk berhadapan. Para tamu mulai berbisik-bisik gelisah. Lima belas menit menunggu, pengantin wanita belum datang.


“Mas, calon wanitanya mana? Mana wali nikah dan saksi pihak wanita? Apa rumahnya jauh?” tanya penghulu dengan sopan.


“Eh, iya pak. Tunggu sebentar. Dia pasti datang.”


Kakak perempuan Haikal, Neny, menatap sedih wajah adiknya. Dia duduk disamping suami dan anak laki-lakinya yang berusia empat tahun.


Satu jam terlewat.


Para undangan mulai gerah. Satu persatu dari mereka mengundurkan diri untuk pulang. Akhirnya, tinggal beberapa orang saja.


“Mas, coba dihubungi mungkin terjadi sesuatu atau kena macet,” tegur penghulu. Haikal hanya diam saja. Dua jam berlalu. Penghulu mulai tak sabar.


“Maaf. Saya harus menikahkan orang lain sekarang. Saya pergi dulu. Kalau pengantin wanitanya sudah datang baru saya kemari lagi.”

__ADS_1


“Tapi, Pak.” Haikal mencoba menahan sang penghulu.


“Haikal sudahlah. Terima kenyataan. Dia tidak akan datang,” kata Neny.


“Tidak, Kak. Dia pasti datang. Aku yakin.”


Tiba-tiba, bu Anna keluar kamar dan menuju ruang tamu dengan langkah gontai. “Haikal...kamu benar dia telah kembali. Kezy sudah ditemukan,” ujar mama disertai mata berkaca-kaca.


Haikal dan keluarganya nyaris tak percaya dengan omongan sang mama. Haikal berdiri dengan penuh semangat.


“Benar, Ma?” Haikal takjub. Penuh syukur, penuh haru. Ia berada bak diatas awan melihat bintanh begitu indah, langit begitu tak berbatas.


“Iya...tapi..dia sudah tak bernyawa.” Bu Anna masih menggenggam handphone sambil terisak.


Beberapa orang menahan napas terkejut. Bahu Haikal merosot. Wajahnya seperti orang linglung. Sudut-sudut matanya mulai terbit buliran bening dan dia nyaris terjatuh.


Benar-Benar terjatuh dari awan yang membawanya terbang tinggi. Syukur berubah jadi keluh, haru berganti pilu.


***


Banyak wartawan yang mengerubungi rumah sakit. Mereka melaporkan jasad korban pesawat Kencana Air RQ30144 yang baru saja ditemukan nelayan Indonesia. Haikal dan keluarganya menerobos masuk ke ruang otopsi.


Seonggok mayat berada diatas brankar sedang ditutup kain. Bau busuk mulai menyerbak bercampur formalin yang membalut jasad-jasad lain dalam ruangan tersebut.


“Apa ini...jasad korban pesawat Kencana Air?” tanya Neny saat mereka mendekati salah satu Petugas yang mengerumuni mayat di dekat pintu. Petugas itu mengangguk.


“Siapa dia?” bu Anna penasaran, mungkin saja itu korban yang lain dan bukan Kezia.


“Menurut ciri-ciri fisik dan berdasarkan tes DNA dia adalah Kezia Jaqcluin Suhendra. Berusia 22 tahun, Warga Negara Indonesia. Seorang pengajar di sekolah musik Blume di Jakarta. Dia orang ke lima yang terjun dari pesawat sebelum meledak. Sayangnya saat ia terjun dari pesawat sedetik kemudian pesawat meledak hingga membuatnya terkena api ledakan dan juga serpihan barang. Terlihat dari banyak bekas terbakar di sekujur tubuhnya. Tangan dan kakinya tak utuh. Korban selama ini terbawa arus laut dan kemarin baru ditemukan nelayan,” terang petugas.


Tangan Haikal terasa gemetar. Air matanya menetes satu persatu secara deras. Dia membuka perlahan kain penutup pada jasad Kezia.


“Maaf, tubuh korban mudah hancur. Terlalu lama dalam air laut. Jadi, mohon jangan menyentuhnya sedikitpun.”


“Ini...apa benar dia Kezy? Mungkin anda salah orang.” Haikal berusaha menghibur diri. Petugas menggeleng.


“Hasil DNA dari orangtua nona Kezia sama dengan jasad ini. Mungkin juga anda masih mengenali barang yang dipakai korban.”


Petugas lalu menyingkap kain penutup. Terlihat cincin emas putih melingkar di jari manis sebelah kiri, dimana jemari tersebut telah memucat dan terlihat lunak. Cincin pertunangan mereka dan kalung perak berbentuk kunci nada G.


Ribuan pedang seolah sedang mengoyak hatinya.


“Itu..cincin pertunangan kami,” ucapnya lirih. Haikal mengambil kalung dan cincin pertunangan dengan jemari gemetar.


Dia sudah tak sanggup melihat terlalu lama jasad Kezia. Terlalu mengerikan. Haikal merasa mual. Kepalanya pusing. Dia berlari keluar rumah sakit dengan tubuh lunglai.


***


Haikal semakin tak mengenal aturan ketika mengendarai mobil dengan menerobos lampu merah sembarangan.


Dia nyaris menabrak seorang penyebrang dan kendaraan lain yang ada di depannya. Makian para pengguna jalan tak sedikitpun dihiraukan. Haikal memarkir mobilnya, dia berlari seperti orang kesurupan menuju pantai.


“Argghhhhh....!!” Haikal berteriak marah. Dia menendang pasir dan ombak kecil yang menjilat kakinya.


Haikal melonggarkan dasi dan kemeja. Ia duduk bersendekap sambil menggenggam erat dua benda terakhir yang sangat berharga bagi Kezia sambil menatap sudut laut yang tak berujung dengan penuh amarah.


“Kenapa kamu harus kembali dalam kondisi yang mengenaskan Kezy? Bukan ini yang aku inginkan. Bukan seperti ini,” Haikal tersedu sedan.


Ia tak sanggup menerima kenyataan kondisi Kezia saat ini. Lebih baik Kezia tak pernah ditemukan saja. Tunangannya yang cantik memesona dan penuh senyum ramah kini menjadi seonggok mayat yang tak berbentuk wujudnya.


Sungguh tragis.

__ADS_1


Ia tak kuasa membendung ombak di kedua sudut matanya. Haikal menenggelamkan wajah.


Ia terisak.


Terpuruk.


Haikal masih meratapi kenyataan pahit itu dengan tak bergeming dari tempatnya, meski senja memandangnya penuh rasa kasihan.


***


Bu Sita mendengar keramaian dalam rumah. Kedua bola matanya berkedut. Ia membuka perlahan, terlihat samar langit-langit kamar. Disampingnya sang suami duduk di kursi roda sambil merenung.


“Mama udah baikan?” tanya sang suami ketika menyadari istrinya siuman.


Bu Sita tidak menggubris pertanyaan sang suami. Dia bangkit dari ranjang dan bergegas keluar.


Di ruang tamu, terdengar jelas suara banyak orang membaca tahlil. Dia kebingungan.


“Bik, siapa yang meninggal ?” tanya bu Sita pada pembantunya dengan wajah linglung. Si pembantu ikut merasa bingung. Ia hanya terbata-bata menjawab pertanyaan sang majikan.


“Mama..” panggil Citra dari ruang tamu. Citra bangkit dari kelompok pembaca yasin dan tahlil sambil membenahi sehelai kerudung yang sempat merosot.


“Kirana anakku...” seru bu Sita merentangkan tangan dengan senyum semu. Semua orang menoleh ke mereka, bahkan perlahan alunan tahlil mulai mereda. Bu Sita memeluk Citra penuh semangat.


“Kirana..kamu baik-baik saja, Nak? Mama kira kita akan kehilangan kamu. Kirana mama semakin kurus yah setelah lama berpisah.” Bu Sita mengelus rambut Citra.


Citra dan semua orang disana nampak kebingungan dengan sikap bu Sita. Mereka saling berbisik dan menyadari ada yang tidak beres dengan nyonya rumah tersebut.


“Ma..” Citra memanggil lirih. Matanya berkaca-kaca.


“Iya, Nak?”


“Aku...bukan kakak, Ma. Aku bukan kak Kirana. Aku Citra, anak bungsu mama.” Citra tak sanggup menahan air matanya.


Bu Sita terheran dengan wajah polosnya.


“Ah, kamu ini Kirana,” ujarnya tertawa kecil sambil mengelua kedua lengan gadis tersebut.


Citra menggeleng pelan.


“Bukan, Ma. Aku bukan kak Kirana, aku Citra. Adiknya kak Kirana. Aku anak mama juga. Kenapa mama lupa? Wajah kami memang mirip. Tapi.. aku bukan kak Kirana.” Citra merasakan nyeri luar biasa dalam hatinya, ia begitu sedih sang mama sedikit kehilangan akal sehat atau trauma yang membuatnya amnesia ringan.


Tenggorokannya tercekat, hingga tak sanggup berkata-kata lagi.


“Ka..lau kamu bukan Kirana, lalu dimana Kirana mama?” tanya bu Sita terbata-bata, ia melihat ke sekeliling mencoba mencari-cari sejauh matanya memandang.


Kebingungan.


Semua membisu, bahkan orang-orang yang membaca doa tahlil terdiam menghentikan bacaannya, menunduk.


Tak ada yang berani menjawab, terlalu menyakitkan untuk dikatakan. Terlalu naif untuk diam saja. Beberapa diantara tamu mengusap ujung-ujung mata mereka.


“Kak Kiran...dia..u-dah pergi. Jauh sekali.” Citra menggenggam tangan sang mama, berusaha kuat. Bu Sita menangkis Citra dengan kasar secara mendadak. Kedua matanya melotot.


“Pergi..pergi kemana?” air matanya mulai merembes. Takut akan kenyataan pahit yang akan didengarnya. Ia lebih suka dibohongi untuk saat ini.


“Dia udah meninggal, Ma. Pergi dari dunia ini. Citra mohon mama mengerti.” Tubuh Citra merosot di depan kaki bu Sita. Tangan dan bibir bu Sita gemetar.


“Pergi? Meninggal?” bu Sita tak sanggup berdiri. Lututnya ikut gemetar. Tubuhnya ikut merosot. Ia menangis tersedu-sedu dihadapan putri bungsunya. Citra memeluk sang mama yang menangis.


“Kirana...putriku...kenapa harus pergi, Nak.” Bu Sita meratap dalam pelukan Citra.

__ADS_1


__ADS_2