
Niko semakin lama mahir bermain piano. Ia bisa memainkaan hampir semua lagu anak-anak. Kirana bisa memperbaiki penampilannya lebih baik dengan gaji dari mengajar serta bermain piano malam hari di restoran.
Meskipun terkadang jari-jarinya lelah dan nampak tulang dibagian pergelangan tangannya menonjol akibat terlalu seringnya memainkan piano, ia mensyukuri bakat yang masih tersisa saat ini.
Terkadang terlalu menghayatinya ia bermain piano di restoran membuat Kirana membuka mulut dan memejamkan mata ingin bernyanyi. Ia segera sadar bahwa tak ada apapun yang keluar dari tenggorokannya.
“Kak, temeni ke Bandung dong,” pinta Haikal pada Neny saat mengawasi Kirana yang tengah mengajari Niko.
“Ngapain?”
“Ada temen mau nikah.”
“Teman kamu yang nikah kenapa ajak kakak?”
“Yah biar ada teman disana.”
Neny tertawa kecil mendengar penjelasan adiknya.
“Kamu itu lucu ya? masa’ ke acara nikah ngajak kakak sendiri yang udah nikah dan punya anak? biasanya tuh ngajak cewek cantik yang sama-sama single.”
“Ya terus siapa?” Haikal sedikit kesal.
“Tuh...” Neny memberi kode ke arah Kirana berada. Haikal menghela napas sebal dengan sikap kakaknya.
“Kalau gak mau ya udah. Ajak cewek-cewek di pinggir jalan aja. Yang pasti sorry aja, kakak ogah nemani kamu dan selamat menikmati pesta seorang diri.” Neny tersenyum licik pada adiknya, ia beranjak meninggalkan Haikal yang masih kesal.
Haikal ragu dengan tawaran kakaknya. Ia menjadi pengecut untuk tidak hadir ke pesta anak buahnya tersebut karena telah berjanji.
Tapi benar juga kata kakaknya, tak logis jika ia mengajak Neny. Setidaknya ia harus punya pasangan. Haikal sudah lama lost contact dengan teman-temannya di Jakarta semenjak pindah ke Australia. Ia memperhatikan Kirana yang mengajari Niko. Mungkinkah ia mengajak gadis bisu tersebut? kenapa referensinya hanya Kirana?
Jam belajar piano Niko telah usai. Kirana segera membereskan barang-barangnya dan akan segera pulang. Haikal semakin gugup antara mengajaknya atau tidak, sedangkan besok pagi ia harus segera pergi ke Bandung.
Neny mengantar Kirana sampai pintu rumah. Haikal masih gelisah dalam pergolakan batin dengan rasa gengsi. Sebelum Kirana melangkah menjauhi rumahnya, setengah berlari mengejar gadis bisu tersebut.
“Eh, Hei tunggu!” teriak Haikal. Kirana berhenti dan menoleh. “Err... besok kamu ada acara?” tanya Haikal canggung seolah akan mengajaknya ngedate ala anak muda.
Kirana menggeleng. Hari minggu ia selalu libur di restoran. Semenjak menjadi guru privat, bu manager mendapatkan orang lain sebagai office girl pengganti dirinya.
“Gini, besok pagi aku mau ke Bandung menghadiri pernikahan teman. Karna sendirian, bisa tidak kamu temani?” tanya Haikal dengan keringat mengucur tiba-tiba di peluhnya.
__ADS_1
Bandung ? itukan tempat tinggal mama dan adiknya saat ini. Ia bisa punya kesempatan mencari keluarganya disana. Pikir Kirana. Tanpa berpikir panjang Kirana mengangguk tanda setuju. Haikal bernapas lega. Ia menyalami Kirana dengan rasa terima kasih. Sebaliknya Kirana juga berterima kasih bisa kesana untuk mencari keluarganya.
***
Minggu pagi, Kirana tengah bersiap untuk ke Bandung dengan mematut diri untuk waktu yang lumayan lama. Semakin hari ia semakin pintar berdandan, karena terpengaruh dengan style bu manager yang sangat memperhatikan penampilan.
Haikal sudah berhenti di depan restoran yang belum buka. Dan ia memarkir mobilnya lalu membunyikan klakson dua kali.
Kirana keluar dengan anggun memakai long dress berwarna hijau marun dengan pita putih dibagian lingkar pinggangnya. Dengan high heels berukuran dua belas sentimeter dan tali temali yang senada putih. Tergantung di lengannya tas kecil berwarna biru muda.
Rambut hitam Kirana digelung tinggi dan itu membuat Haikal nyaris tak mengenali saking terpesona dengannya. Haikal berusaha mengusai diri dengan menyapanya terlebih dahulu.
Kirana tersenyum dan semakin membuat Haikal menelan ludah saat menyadari bahwa Kirana memiliki lesung pipi yang amat menawan di sebelah kanan ketika tersenyum.
Sepanjang perjalanan mereka hanya membisu. Entah kenapa Haikal merasa dirinya semakin gugup dan terkadang ia mencuri pandang ke arah Kirana. Ia sudah terbiasa melihat gadis cantik.
Bahkan sekelas Marry yang terkenal nyaris sempurna secara fisik, bak bidadari bule, ia biasa saja.
Agar tak terlihat kikuk dan sunyi, Haikal menyalakan musik. Kirana sendiri sedikit canggung dengan tingkah Haikal yang gugup. Sosok yang selalu cuek dan dingin padanya saat ini nampak berbeda sikap.
Kirana merasa ada yang salah pada dirinya. Mereka saling berkutat dengan pikiran masing-masing hingga tak terasa sekitar 3 jam kemudian mereka telah memasuki kota Bandung.
***
Memang acaranya tidak diselenggarakan di gedung ataupun ballroom hotel akan tetapi, segala dekorasi dan makanan yang tersajikan lumayan masuk kelas menengah. Kirana melihat dengan senang dan nampak takjub, karena sudah lama sekali ia tak menghadiri pesta pernikahan ala Indonesia.
Saat akan masuk ke dalam, dengan sigap Haikal menggandeng tangan Kirana. Kirana sedikit kaget, ia digandeng berjalan menuju area para pagar ayu-penyambut tamu. Dengan senyum senang diam-diam yang terselip dimukanya, ia mengikuti langkah Haikal.
Mereka duduk di tempat paling depan dimana Haikal mendapat tempat kehormatan bersama dengan beberapa mandor lainnya.
Anak buah serta orang-orang yang mengenal Haikal di proyek juga hadir. Mereka nampak saling berbisik.
“Baru datang pak?” sapa seorang mandor lain menghampiri tempat duduknya lalu menyalami Haikal dan Kirana. Ia datang dengan istrinya.
“Itu siapa cantiknya luar biasa, Pak? gak dikenalkan ke kita pak ?” goda si mandor menanyakan hal yang sangat ingin diketahui beberapa temannya yang berbisik-bisik.
“Ah... ini..” Haikal nampak gelagapan. “Ya, ini teman saya,” jawab Haikal asal. Beberapa yang mendengarnya manggut-manggut.
“Ya.. dari teman bisa jadi pasangan kan, Pak.” Kelakar si mandor disambut gumam setuju teman-temannya yang lain.
__ADS_1
Selama proyek di Bandung yang memakan waktu berbulan-bulan, anak buahnya tak pernah mendengar Haikal berbicara tentang wanita sedikitpun. Apalagi bercerita tentang pacar maupun calon istri idaman. Sempat tersiar rumor tidak enak bahwa dia menyukai sesama jenis.
Kini tampaknya anak buah Haikal merasa lega dan ikut bahagia jika boss proyek mereka yang sangat dikagumi dan disegani punya pasangan, apalagi Kirana memang begitu cantik hari ini.
Selanjutnya adalah sesi sambutan, Haikal diberi kesempatan memberikan sepatah dua patah untuk para hadirin dan pengantin. Ia bingung harus berbicara apa di depan, kalau untuk memimpin rapat maupun presentasi sudah biasa, tapi ini hal lain. Haikal nampak gusar sebelum gilirannya maju.
Kirana memegang punggung tangan Haikal berusaha menenangkan. Haikal menoleh, dan tampak senyum indah terpancar hangat dari sudut-sudut bibir Kirana.
Kehangatan senyuman Kirana ternyata mampu masuk ke dalam dirinya, sehingga Haikal menjadi sedikit lebih tenang. Ia menarik napas panjang dan menghemuskan perlahan. Iapun maju dengan gagahnya. Sebuah spirit singkat dari Kirana memberikan energi positif luar biasa dalam dirinya.
“Hadirin sekalian. Saya bukan ustadz maupun penceramah agama. Saya bukanlah orang yang pandai berbicara tentang pernikahan. Saya sendiri seperti anda lihat belum menikah dan saya....” kalimat Haikal terputus, ia melihat sekeliling. Para hadirin menunggu lanjutan kalimatnya. Iapun menelan ludah.
“Dan saya belum begitu berpengalaman. Sebagai seorang pria, Harmawan yang dulu dan sekarang tidaklah berbeda. Dia pekerja keras untuk keluarganya. Dan sekarang ia punya keluarga baru yang harus membuatnya lebih bekerja keras. Sebagai atasan, saya sangat menghargai kerja kerasnya dalam menghidupi keluarga, dan ia harus tetap bekerja keras. Karena kesuksesan seorang pria hanya dengan kerja keras. Sebagai seorang teman, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru dan semoga kalian diberi kebahagiaan yang selalu menyertai. Terima kasih.” Haikal disambut tepuk tangan meriah dari hadirin dan juga pengantin.
Ia kembali duduk dan sempat membisikkan “terima kasih” kepada Kirana akan dukungan sepintas tadi.
***
Semenjak acara pernikahan tersebut, sepanjang perjalanan pulang Haikal kini banyak berbicara. Kekakuan dan sikap sok cueknyakini luluh. Ia menceritakan banyak hal tentang Harmawan dan para pekerja lainnya. Kirana merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang dialami Haikal.
Sampai ia lupa bahwa tujuan lainnya ke Bandung adalah untuk mencari keluarganya. Berulang kali Haikal berterima kasih kepada Kirana yang bersedia menemaninya dan memberikan support saat memberi sambutan tadi.
Meskipun Kirana bisu, ia tidak memalukan Haikal di depan anak buahnya.
Haikal pulang menuju rumahnya dengan perasaan puas bercampur bahagia. Sudah lama ia tak segembira ini hanya dengan menghadiri pesta pernikahan.
Ternyata tak seburuk yang dipikirkan selama ini. Ia begitu trauma dengan pernikahannya sendiri hingga ia membenci pernikahan orang lain.
“Ma, lihat deh. Akhir-akhir ini Haikal terlihat beda gak sih?” Neny mulai bergosip di teras halaman menemani sang mama yang merangkai bunga.
“Beda apanya?”
“Dia semakin ceria dan seolah ada semangat baru dalam dirinya. Neny ingat semenjak dia pulang dari pesta pernikahan di Bandung dengan Kirana, senyumnya menebar dimana-mana. Dan ia semakin akrab dengan Kirana, tak sedingin dulu sama perempuan,” cerita Neny.
Bu Anna terdiam, tapi ia masih melanjutkan merangkai bunga.
“Apa.. jangan-jangan Haikal udah mulai menyukai Kirana?” Neny menebak-nebak.
“Jangan ngawur kamu. Mana mungkin Haikal mau dengan gadis bisu seperti dia. Apalagi asal-usulnya gak jelas.” Ulang bu Anna seperti pernyataan sebelumnya.
__ADS_1
“Ma, kenapa sih mama selalu menganggap remeh Kirana hanya sebagai gadis bisu? dan apa maksudnya menyebut asal-usul gak jelas? mama ini kan pendiri yayasan orang-orang cacat kenapa tidak punya rasa kemanusiaan dan menganggap Kirana juga sebagai gadis baik yang mungkin saja bisa menggantikan Kezia. Apa mama mau Haikal selamanya terpuruk atas perginya Kezia? kenapa mama yang jadi begitu pilih-pilih sedangkan Haikal mungkin saja menerima Kirana apa adanya dengan ketulusan hatinya? yang terpenting adalah Kirana orang yang baik, bisa membuat Haikal bahagia seperti dulu, dia juga gadis yang cantik serta punya bakat. Hanya karena dia tidak bisa bicara bukan berarti ia buruk total.” Dengan kesal Neny meninggalkan sang mama.
Bu Anna meletakkan guntingnya. Ia menghembuskan napas dan merenung jauh.