
Malam itu juga, ketika Kirana terlelap, madam Joyce menemui paman Thomson dan dokter Smith di bar yg mulai ramai pengunjung. Ia menceritakan kegelisahannya tentang petugas pemerintah yang bertandang ke rumahnya untuk menginvestigasi.
Paman Thomson merupakan pemilik bar kecil dimana Madam Joyce dan Machita bekerja. Ia sangat dekat dengan keluarga Maroon karena suami madam Joyce juga sering membawakan ikan kesukaan paman Thomson.
“Kalau tidak salah, saat itu ada pesawat dari Indonesia meledak dan ada kapal pesiar dari Swiss yang karam. Apa dia korban salah satunya?” tanya paman Thomson.
“Aku tidak tahu Thom. Suamiku hanya bilang ia melihat gadis itu terapung-apung dekat dengan lokasinya mencari ikan. Saat itu malam hari, tidak terlihat apa—apa. Mereka hanya fokus menyelamatkannya,” Madam Joyce meremas kedua tangannya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan Joyce? Polisi itu akan terus datang dan bahkan bisa saja menggeledah paksa rumahmu.”
“Aku tahu. Untuk itu aku meminta saran kalian.”
“Kenapa tidak bilang jika dia adalah keluargamu?” tanya dokter Smith.
“Polisi itu sudah terlanjur tahu kalau gadis tersebut adalah gadis asing. Entah siapa yang melaporkan semua ini,” gumamnya kesal.
Mereka terdiam dan hanya terdengar alunan musik hawai dari radio tua yang berada di pojokan meja barista. Paman Thomson melanjutkan mengelap meja tamu yang dipenuhi puntung rokok, kacang dan ceceran alkohol seraya memerintahkan anak buahnya melayani tamu yang baru datang.
“Baiklah. Bilang saja kalau dia adalah kekasihku yang merupakan penumpang kapal pesiar dari Swiss itu. Dia datang ke Sydney untuk menemuiku dan memang mengalami kecelakaan. Aku telah membawanya lebih awal ketika mereka mengevakuasi korban kapal pesiar itu. Saat ini dia masih sangat trauma dan tidak bisa diajak bicara terlalu banyak.” Celetuk dokter Smith spontanitas.
Madam Joyce mengernyitkan dahi.
“Kita tidak tahu identitasnya. Polisi akan mencocokkan identitasnya dengan korban kapal pesiar...”
“Jangan khawatir Joyce,” sela paman Thomson. “Itulah gunanya kamu datang kepadaku. Salah satu pelanggan setiaku merupakan pegawai asuransi kapal pesiar itu. Aku akan meminta dia membocorkan sedikit identitas korban yang sekiranya bisa kita cocokkan dengan gadis itu. Tapi..,”
“Tapi kenapa Thom?” tanya dokter Smith.
“Akan butuh sedikit..” ibu jari kanan paman Thomson bergesekan dengan telunjuk kanannya.
“Ah.. masih ada yang seperti itu?” madam Joyce memutar mata keatas.
__ADS_1
“Uang adalah bahasa dunia, Joyce. Siapa yang tidak suka dengan uang? Akhir-akhir ini dia suka minum banyak dan mengencani wanita-wanita dari bar sebelah, akan butuh banyak uang untuk itu.” paman Thomson terkekeh.
“Biar aku saja yang bayar, Thom. Sebutkan saja jumlahnya, dan aku berharap ia tidak memeras kita,” dokter Smith meminum seperempat gelas kecil vodka yang disajikan paman Thomson.
Pagi hari, madam Joyce bisa bernapas sedikit lebih lega karena masalahnya telah terpecahkan sekarang. Ia bersyukur memiliki paman Thomson dan dokter Smith yang selalu menolongnya meski mereka bukanlah saudara.
Dokter Smith juga merasa berhutang budi banyak hal pada keluarga Maroon, untuk itulah tak mengherankan jika ia telah menjadi bagian dari keluarga Maroon dan tak segan-segan mengeluarkan segala bentuk bantuan.
***
Siang itu sekitar pukul dua siang, pondok kecil keluarga Maroon kembali diketuk oleh dua pria berseragam polisi. Kali ini mereka membawa anjing. Dokter Smith telah tiba lebih dulu di rumah keluarga Maroon tepat ketika mobil polisi berbelok menuju rumahnya.
“Ah, hai Sir,” sapa dokter Smith melambai ramah ketika membuka pintu.
Ia masih berpakaian rapi, karena buru-buru keluar dari rumah sakit. Jas putih masih tersampir di lengannya. Kedua polisi itu saling mengangkat alis.
“Hello dokter,” sapa polisi berkumis tebal. Mereka berdua mengenali dokter Smith, karena sering bertemu di rumah sakit Randwick.
“Tentu saja, aku harus menjenguk dan memperhatikan kekasihku,” jawab dokter Smith membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan masuk kedua polisi.
Madam Joyce, Machita dan Paulo berada di ruang makan.
“Oh, kau ada kekasih disini?” tanya polisi berkumis tebal berbasa-basi sambil melihat-lihat seisi ruangan dengan kedua tangannya berada di saku celana.
“Kekasih dokter Smith?” bisik Machita pada ibunya heran. Madam Joyce mendesis dan menyikut lengan putrinya, menyuruh diam.
“Tentu saja. aku menitipkan kekasihku disini. Keluarga Maroon sudah seperti keluargaku sendiri, jadi aku lebih nyaman dan aman meninggalkannya bersama keluarga Maroon.”
Pandangan polisi berkumis tebal tertuju ke salah satu kamar yang pintunya tertutup. Ia berjalan mendekat. “Dan.. apakah, kekasihmu itu...,”
Jeglek.
__ADS_1
Polisi berkumis tebal terdiam dan mengurungkan niat membuka pintu. Semua orang terpaku. Bunyi decit pintu kamar Machita terdengar nyaring. Keluarga Maroon dan dokter Smith menahan napas. Takut sesuatu yang lain akan terjadi. Gadis yang sedang dicari-cari kedua polisi itu berdiri ragu-ragu di ambang pintu yang setengah terbuka. Ia memakai dress motif polkadot tanpa lengan selutut milik Machita yang mencapai hampir mata kakinya, karena Machita lebih tinggi darinya.
“Hai darling. Kau masih lelah, bukan? Kau harusnya berbaring saja ditempat tidur,” seloroh dokter Smith segera mengecup kening lalu memeluk erat Kirana. Kedua mata Kirana terbelalak. Kaget dengan sikap pria itu.
“Mereka polisi. Berpura-puralah agar kita semua aman,” bisik dokter Smith di telinga kiri Kirana.
“Hai nona, apa kabarmu?” sapa polisi berkumis tebal mengulurkan tangan saat dokter Smith melepaskan pelukan.
Kirana hanya tersenyum dan ia begitu ragu dengan keberadaan dua pria asing berseraagam itu.
“Aku mendengar bahwa di rumah ini sedang merawat korban kecelakaan atau sejenisnya yang ditemukan di laut. Aku hanya ingin memastikan saja kalau..,”
“Ah tentu saja, Sir. Dia mungkin yang kau maksud,” tukas dokter Smith sambil tetap merangkul bahu Kirana. “Dia adalah kekasihku yang merupakan penumpang kapal pesiar Swiss. Dia datang ingin menemuiku, dan aku segera menjemputnya dari rumah sakit ketika tahu dia mengalami kecelakaan. Dia kehilangan banyak barang, termasuk paspor dan lain-lain. Tapi aku bisa mengurusnya nanti dan bisa kupastikan bahwa dia baik-baik saja bersamaku.”
Kedua polisi itu saling menatap. “Dan namanya?”
“Er... Asian Pongthananikorn. Dia dari Thailand, kami bertemu dengannya lima tahun lalu saat aku penelitian di rumah sakit pemerintah di sana,” jawab dokter Smith jelas-jelas berbohong.
Ia bukan hanya mengarang nama gadis tersebut tapi juga negara asalnya. Dokter Smith lebih suka jika hanya menyebut Preechaya Pongthananikorn. Karena nama itu benar-benar ada di Thailand. Tentu saja, itu nama salah satu artis cantik yang bermain di komedi romantis atm errak error. Dokter Smith memang penyuka gadis-gadis Asia daripada sesama bule. Ia terlanjur memberi nama depan Asian, karena ia sendiri yang mendaftarkan Kirana dengan nama tersebut saat di rumah sakit.
Kedua polisi itu tak curiga dengan nama dan asal palsu itu. karena wajah Kirana jelas ras Mongoloid. Mereka manggut-manggut tapi tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan si dokter.
“Dia sedang trauma dan tidak bisa diajak bicara. Percayalah, aku saja belum bisa mengajak bicara dengannya secara jelas,” sahut madam Joyce.
Ia benar-benar ingin kedua polisi itu segera pergi dari rumahnya. Polisi berkumis tebal menoleh dan kembali menatap dokter Smith yang dijawab anggukan. Polisi berkumis tebal nampak berpikir dan melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki Kirana.
Memang, gadis itu terlihat sedikit “berantakan”.
“Baiklah. Akan aku pastikan kebenarannya,” ujar polisi berkumis tebal sambil mengacung-acungkan telunjuknya sebelum ia keluar pondok madam Joyce.
Semua orang bernapas lega, kecuali Machita. Sedari tadi wajahnya tampak memberengut sebal.
__ADS_1
***