K&K (Partitur Rasa)

K&K (Partitur Rasa)
36. Penantian Sia-sia


__ADS_3

Sungguh mengejutkan karena pada saat yang sama Haikal ada meeting dengan klien di Bali. Dan mereka tinggal di hotel yang sama yang terletak tepat di depan pantai Kuta.


Sarah dengan setelan blazer putihnya, berada di kelas eksekutif di pesawat bersama kru. Begitu juga para kontestan, mereka berada di ruangan lain.


“Aku belum pernah ke Bali,” ujar Sarah sambil melihat awan pagi dari jendela pesawat.


“Aku juga baru ketiga kalinya, ma'am. Tidak semua orang Indonesia bisa pergi ke Bali setiap waktu,” sahut Adit.


“Oh, please. Just call me Sarah,” Sarah tersenyum simpul.


Ia merasa kaku jika terus dipanggil oleh Adit secara formal. Apalagi, ia menjadi sangat nyaman dan percaya dengan Adit sebagai Liason Officer atau LO sekaligus asistennya.


“Oke. Sarah,” kata Adit ikut tersenyum.


“Kau akan ikut Coseam di Bangkok kan?” tanya Sarah.


“Tidak. Tugasku sudah selesai sampai akhir acara Coseam Indonesia. Dan selanjutnya akan ada EO lain yang menangani segalanya,” perjelas Adit. Bahu Sarah turun dan airmukanya berubah.


“Kau tidak bisa menemaniku lagi kalau begitu?”


“Tugasku sebagai LO sudah berakhir dan itu diluar kewenanganku. Lagipula apa kamu sekarang begitu tergantung denganku?” goda Adit membuat Sarah sedikit tersipu hingga memalingkan muka dan berkata, “Come on, don’t be joke,” Sarah menghembuskan napas panjang, “Aku berharap bisa menghabiskan waktu dengan Haikal di Bali nanti,” lanjutnya. Kini, giliran Adit yang terdiam dengan ekspresi lain.


***


Tepat pukul 09.00 wita mereka tiba di hotel. Menjadi host yang memandu kontestan lebih melelahkan daripada yang dikira Sarah.


Setidaknya, ia sangat senang bisa satu hotel dengan Haikal.


Setelah sejenak beristirahat, ketiga kontestan segera berkumpul di ballroom hotel. Untuk hari pertama mereka akan menemui tiga klien dari produk tenama. Klien pertama adalah manager pemasaran perhiasan.


Berlian Swarovski yang menjadi perhiasan termahal dan sangat digemari para kaum hawa tersebut kini sedang mengalami pasang surut akibat banyak beredarnya berlian palsu. Dan hal itu membuat Diamond Firm merasa perlu mengiklankan berlian mereka untuk menunjukkan bahwa produksi perusahaan tersebut asli, bersertifikat serta memiliki berbagai macam perhiasan bertabur berlian.


Para kontestan harus menunjukkan keanggunan, elegan, mewah dan eksklusif saat memakai perhiasan dari Diamond Firm ketika di depan kamera foto maupun syuting.


Citra memperlihatkan pergelangan tangannya dengan gemulai yang berisi cincin dan gelang berlian.


Ia tersenyum menawan menyibakkan rambutnya untuk menunjukkan dua anting dan kalung berlian yang berkilau. Citra terus memperlihatkan betapa ia dan berlian-berlian itu terlihat menyatu satu sama lain, bahwa berlian yang dikenakan sangat cocok untuk wanita high class.


Ia beberapa kali menegakkan dagu, untuk menampilkan kesan sombong, angkuh dan cantik seperti seorang ratu.


Fotografer serta klien manggut-manggut tersenyum senang melihat gaya Citra.


Sungguh menggambarkan kesan sebuah batu mulia tersebut. tak heran jika klien memilihnya sebagai model mereka dan itu artinya Citra memperoleh satu poin di awal start.


Hari pertama masing-masing kontestan memperoleh satu poin. Dan persaingan mulai memanas.


***


Haikal memenuhi permintaan Sarah untuk datang di bar hotel. Meeting dengan kliennya baru saja usai. Ia harus mencari-cari Sarah diantara banyaknya orang dan lampu yang remang-remang. Seorang wanita berkacamata persegi melambaikan tangan ke arahnya.


“Kacamata?” Haikal tersenyum geli melihat Sarah. Sarah telah menghabiskan setengah gelas kecil vodka.


“Oh, ini penyamaran. Juri terkenal COSEAM yang mengagumkan ini tak boleh terlihat sembarang,” kata Sarah. Ia menawarkan segelas pada Haikal. Akan tetapi, Haikal menolak dengan halus.

__ADS_1


“Kita pergi saja. Aku tidak terlalu suka disini,” Haikal berbisik. Senyum Sarah merekah, ia menggandeng mesra Haikal keluar bar.


“Ajak aku melihat-lihat Bali,” pinta Sarah dengan manja.


“Bukannya pihak Coseam memberimu fasilitas lengkap termasuk tour Bali?”


“Tapi aku ingin dengan kamu Haikal. I’m alone. No one I know. Bagaimana kalau ada orang jahat merampokku? atau kamu ingin aku hilang di Bali atau diculik?” Sarah memasang mimik muka memelas sekaligus manja.


“Hahaha... dasar. Meski model internasional, tetap saja kamu selalu manja denganku.”


Haikal berjalan di pesisir pantai Kuta. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana dengan ujung lengan terlipat. Sedangkan Sarah masih menggandeng lengannya manja.


“Haikal... kamu sudah melupakan Kezy?” Sarah bertanya perlahan. Haikal terdiam. “Oh, maaf jika membuatmu sedih," tukas Sarah tak ingin merusak suasana hati Haikal.


“Tidak masalah. Ini sudah berlalu lima tahun lalu. Aku mencintainya, ia adalah cinta pertamaku. Tapi kini, ada masa depan yang harus aku jalani dengan mencintai penggantinya.”


“Itu artinya kamu bisa jatuh cinta lagi, Kan?” mata Sarah berbinar.


Haikal tersenyum seraya mengangguk. Padahal jawaban tersebut sama artinya memberi kesempatan untuk membuat sepupunya jatuh cinta kepadanya. Bisik Sarah dalam hati.


“Ada seseorang yang saat ini bisa dibilang berarti untukku. Entahlah, aku tidak ingin berkhianat pada Kezy tapi aku terlanjur jatuh cinta pada orang lain juga, ingin selalu berada di dekatnya, menjaganya, tak ingin jauh darinya dan tak mau kehilangan orang yang berarti lagi. Bahkan mugkin aku rela melakukan apapun untuknya,” curhat Haikal.


Sarah mengerutkan kening.


“Maksudmu.... dia....,” Sarah menerka dengan muka masam.


“Ya. Dia adalah Kirana. Ternyata kamu adalah sepupu yang sangat memahamiku. Bahkan kamu tahu bahwa aku sangat jatuh hati dengan gadis bisu itu,” Haikal berkata sungguh-sungguh.


“Apa maksud kamu?”


“Haikal... Wanita seperti itu kamu cintai? Apa yang ada dalam pikiran kamu? dia bisu, tidak punya tempat tinggal, bahkan kita tidak tahu asal-usulnya, dia hanya pembantu di restoran tante, bisa saja dia hanyalah poor girl yang ingin mengincar harta kamu.”


“Kenapa kamu berpikir buruk sekali tentang Kirana? Kamu baru mengenalnya dan sudah bicara macam-macam.” Haikal kesal.


“Justru aku yang harusnya bertanya, kamu belum lama juga mengenalnya? Bagaimana kamu bisa mempercayai bahkan mencintai orang seperti dia?”


“Cukup Sarah!” Haikal berteriak. “Aku tidak menyangka bahwa adik sepupu yang selama ini aku percaya dan menjadi pendengar setiaku bisa berbicara seperti itu. Kamu tidak punya hak menilai seseorang dengan begitu rendah hanya karena luarnya saja. Don’t judge people by the cover.” Haikal tak mau melanjutkan obrolan panas tersebut.


Ia berbalik arah dan berjalan meninggalkan sepupunya.


“It’s because of you. Because, I love you Haikal. I love you...so much,” Sarah berteriak disela deburan ombak.


Langkah Haikal terhenti. Pernyataan Sarah membuat hatinya mencelos. Ia berbalik lagi dan menuju ke arah Sarah yang tengah menunduk. Sarah terisak.


“You lie to me. Bohong. Katakan bahwa apa yang aku dengar itu salah.” Haikal memegang kedua bahu Sarah. Sarah mendongak dengan wajah memerah basah. Ia menggeleng.


“Tidakkah kamu sadar bahwa selama ini aku sangat mencintaimu? Sejak usia tujuh tahun Haikal. Bahkan ketika kalian pindah aku tetap mencintaimu.”


“Ta..pi Sarah.. kita bersaudara. Kita adalah sepupu,” bibir Haikal bergetar.


“Apa yang salah dengan sepupu? Kita bukan saudara kandung Haikal. Bahkan kita adalah sepupu yang jauh, tidak ada hubungan darah mungkin saja. Selama ini kamu adalah orang yang selalu membuatku bergantung padamu. Aku pernah sangat membenci Kezia karena dia telah merebut orang yang kucintai. Setelah kematiannya, harapanku melambung lagi dan aku telah berusaha mengambil hatimu,” Sarah berhenti sejenak mengatur napas. “Dan orang lain datang mengambil hatimu lagi, sedangkan dia hanya sebentar dekat denganmu. Bagaimana dengan aku? Belasan tahun mengenalmu Haikal, belasan tahun mencintaimu, tidak bisakah kamu memahaminya? Kamu begitu polosnya tak menyadari semua perhatian, perasaan dan hanya menganggapku sebagai saudara.”


Sarah menatap penuh harap. Ia tak peduli dengan orang-orang yang berbisik-bisik saat melewati mereka berdua.

__ADS_1


Bahu Haikal menurun lali melepaskan kedua cengkramannya dari bahu Sarah. Ia menggeleng perlahan.


“Tidak. Aku tidak bisa memahaminya. Aku tidak bisa memahamimu Sarah. Kamulah yang terlalu polos, menganggap kita bisa saling mencintai. Kenapa kamu salah mengartikan kasih sayangku sebagai saudara dan itu membuatmu jatuh cinta? Aku tak menyalahkan seseorang yang jatuh cinta. Tapi, aku kecewa. Kamu baru saja merusak hubungan persaudaraan kita. Dan aku hanya akan tetap menjadi kakak sepupumu, tidak lebih dari itu. Aku minta maaf, Sarah. Sampai kapanpun cinta itu tidak bisa diubah dengan paksa.” Kali ini Haikal benar-benar meninggalkan Sarah yang kemudian langsung jatuh berlutut.


Gadis itu terisak tiada henti, tak memperdulikan orang-orang yang lalu lalang dan memperhatikannya. Kakinya penuh dengan pasir.


Seseorang berlari-lari kecil menuju kearah Sarah. Ia memapah Sarah membantu berdiri.


“Sarah... are you ok?Lets go inside. Tidak baim kamu berlama-lama disini. Banyak orang melihat.” Adit membersihkan sisa pasir yang menempel pada tubuh model tersebut. Sarah menatap Adit dengan rapuh dan pada akhirnya ia melanjutkan tangisnya dalam pelukan Adit.


***


Adit mengantarkan Sarah kembali ke kamarnya. Di dalam kamar Sarah, terdapat sebotol wine dan kamarnya telah dihias dengan romantis. Sepertinya, ia telah menyiapkan semua itu untuk Haikal. Sarah duduk di kursi, menuangkan wine tersebut ke gelas berkaki kurus. Ia meneguk sekali, dua kali, tiga kali dan sampai setengah botol wine bersisa iapun mabuk.


“Kau ingin minum?” tawar Sarah kepada Adit. Adit menggeleng. Ia harus tetap sadar dan waspada selagi juri Coseam serta tamu spesial acara tersebut dalam pengawasannya.


“Cukup Sarah, hentikan. Besok kamu akan jadi host. Jangan sampai pihak COSEAM bahkan paparazi melihat kamu seperti ini.” Adit merebut paksa botol dan gelas di tangan Sarah lalu melemparnya hingga pecah.


Sarah tersentak. Ia bangkit dengan terhuyung dan dengan setengah sadar mengumpat dalam bahasa Perancis yang begitu cepat.


“Who are you? You’re nothing. Kamu tahu berapa lama aku mencintainya? selama empat belas tahun. Empat belas tahun. Selama itulah aku menunggu dan berharap. Dan kini dimatanya aku bukanlah apa-apa. Hanya sepupu kecil.” Sarah menelan ludah.


Jalannya mulai sempoyongan. Ia terjatuh dan hak disepatunya patah. Sarah jatuh tersungkur dekat dengan pecahan botol wine. Ia mengeram kesakitan karna kakinya terkilir oleh heels setinggi sembilan senti.


Sarah tertawa pahit, meratapi kesia-siaan cintanya pada Haikal. Bahkan dalam mitos dunia model, heels yang patah merupakan nasib sial.


Sarah mengerling pada pecahan botol yang berserakan. Ia meraba-raba dan mengambil salah satu pecahan tersebut, tanpa ragu ia mengarahkan pecahan yang ada di tangannya ke urat nadi.


“Apa kamu gila?” Adit berusaha merebut pecahan botol di tangan Sarah.


“Go away! Let me do!” Sarah menggenggam erat benda tajam itu hingga tangannya berdarah.


Mereka berdua masih berkutat saling berebut hingga Adit mulai kehilangan kesabaran yang kemudian, PLAK.


Sarah terdiam. Tangannya gemetar dan pecahan tersebut jatuh ke lantai. Sebuah tamparan keras yang baru pertama kali dilakukan terhadapnya begitu mengejutkan.


Ia terpaku.


Membeku dengan sendirinya.


Tapi kemudian ia menjadi tersadar akan sesuatu. Bulir-bulir airmata merembes kembali. Tangan kanan Adit yang menamparnya juga ikut gemetar. Ia menggigit bibir terselip rasa berdosa.


“Sarah....?” Adit berkata lirih. Khawatir sekaligus takut jika gadis itu akan marah. Ia menyesali perbuatannya sekarang.


Seharusnya bisa sedikit lembut dan sabar pada gadis yang patah hati itu. Sedikit ragu-ragu, ia memegang bahu Sarah.


Sekejap Sarah langsung menghambur dalam pelukannya, hingga membuat Adit terkejut.


Sarah membenamkam wajahnya pada dada Adit. Menumpahkan segala kecewa dan rasa putus asa. Ia benar-benar tidak bisa bicara dan hanya sanggup terisak untuk waktu cukup lama. Adit bernapas lega.


“Tidak apa-apa. Menangis saja. Maafkan aku,” bisiknya seraya membelai rambut model cantik itu.


***

__ADS_1


__ADS_2