
Bulan Oktober 2016, pergantian musim yang kentara terlihat jelas.
Di belahan benua Australia, Sydney lebih tepatnya, adalah musim semi dengan suhu cukup dingin.
Sebaliknya, belahan negara yang berada di garis khatulistiwa, yang pernah menyandang macan Asia sedang terik-teriknya musim kemarau. Akan tetapi, suhu udara di musim kemarau hampir sama dinginnya dengan musim semi di Sydney.
Bandung, esok pagi, bu Sita tengah menyiapkan sarapan nasi goreng cumi kesukaan Citra dengan jus jeruk segar. Tak seperti biasanya yang hanya menyajikan roti dan susu.
Citra banyak diam dan tak seceria biasanya, meski ia berusaha tersenyum mengangguk ketika mama menyapa lalu mempersilahkannya duduk untuk sarapan.
Matanya terlihat sembab. Sebenarnya ia tak berselera makan, akan tetapi ia bukan tipe orang yang ngambek kemudian mengurung diri berlama-lama. Ia tetap menjaga perasaan sang mama yang telah bersusah payah memasak untuknya di pagi hari. Semarah apapun ia, Citra tidak akan mengabaikan atau mengacuhkan orangtuanya.
Bu Sita telah berdandan rapi dengan blus lengan pendek berwarna merah marun sepanjang lutut. Tergantung kalung mutiara putih mengkilat menghiasi leher angsanya. Rambutnya tersisir rapi dan digelung tinggi. Rupanya Citra tak menyadari penampilan mamanya pagi ini yang sangat berbeda.
Mereka sarapan dalam diam.
Bu Sita bingung harus memecah kebisuan.
“Emm.. Ra...mama..boleh temeni kamu ke studio?” tanya bu Sita terbata-bata.
Seolah mendapat undian berhadiah air muka Citra berubah seketika. Ia mendongak menatap mamanya ketika hendak menyendokkan nasi ke dalam mulut.
“A..apa? mama mau ikut Citra ke studio?” tanya Citra seolah tak percaya dan mungkin saja ia telah salah dengar.
Bu Sita mengangguk. Citra semakin tak mengerti meskipun ia sangat senang.
“Tapi..disana mama akan bosen nunggu Citra pemotretan.”
“Gak pa-pa sayang. Mama akan lebih bosan di rumah sendirian dan gak ngapa-ngapain. Lebih baik nemani kamu kerja.” ujar bu Sita mantap.
Citra tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya, sang mama memperhatikan dan minat dengan pekerjaannya. Dan pada akhirnya mereka naik bis kota bersama-sama.
***
Haikal mempresentasikan rancangannya kepada dewan direksi perusahaan NEWT, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan dan listrik serta perabotan rumah tangga. Ia bertanggung jawab pada proyek pariwisata dari pemerintah Sydney.
“He’s handsome guy and perfect,” bisik seorang wanita pada pria tua disebelahnya. Pria tua itu hanya tersenyum.
“Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” bisik pria tua tersebut.
“Aku pikir ayah suka dengan menantu sempurna sepertinya,” kata wanita muda yang merupakan direktur pemasaran dan anak dari pria tua di sebelahnya-presiden direktur NEWT.
“Yeah, dan aku pikir dia tidak begitu tertarik dengan wanita Sydney. Jangan buang-buang waktumu untuk mendapatkannya,” gumam sang ayah sambil membenahi posisi duduknya.
“Kita lihat saja. Siapa yang bisa menolak putrimu,” kata wanita cantik berambut pirang tersebut.
Meeting hari itu berjalan lancar, dan Haikal sedang menuju Lobi untuk mengambil paket.
“Mr. Haikal, excuse me!”teriak Marry, direktur pemasaran Newt.
“Anything problem, ma’am?” tanya Haikal dengan sopan. Ia baru pindah di perusahaan Newt tiga bulan yang lalu.
“Panggil saja Marry. Err.. maukah kamu pergi ke pameran seni denganku malam tahun baru?” Marry memperlihatkan dua undangan. Haikal mengernyitkan kening ragu bercampur heran.
“Oh, aku sangat senang sekali. Tapi sayangnya aku harus menyelesaikan proyek sampai awal tahun, jadi sepertinya tidak punya waktu untuk...,”
“Oh, please. Aku memohon padamu,” Marry mengusap bahu Haikal dengan manja.
__ADS_1
Membuat Haikal risih, terlebih banyak karyawan yang lalu-lalang memperhatikan mereka.
“Aku tidak bisa janji, akan kuhubungi nanti,” kata Haikal. Marry tersenyum riang.
“Ok. I’ll wait.” Diapun segera pergi dengan lenggak-lenggoknya yang anggun.
Marry, secara fisik sepurna, cantik, pewaris NEWT Corp, cerdas, salah satu direktur. Hanya saja penuh skandal. Haikal menggelengkan kepala heran dengan polah genit bule yang merupakan atasannya itu.
***
Haikal melepas penat dengan melempar jas hitamnya di ranjang. Dia duduk di tepian ranjang, mengambil i-Pad. Ia melihat tanggal 31 desember 2016 yang akan berlangsung dua minggu lagi. Ia teringat tujuh tahun lalu, pada malam tahun baru untuk pertama kalinya ia bertemu Kezia di Sydney Opera House.
Kala itu, Haikal mendapat undangan untuk menonton orkestran yang kebetulan Kezia sebagai lulusan terbaik sedang memainkan cello. Haikal langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Wanita indo-eropa itu sangat mengagumkan. Tidak hanya kecantikan fisik saja yang rata-rata dimiliki para blesteran, namun kelembutan hati, sikap yang sopan, sifat yang ramah, baik, penuh passion, cerdas dan berbakat. Siapapun tidak akan bisa berkedip memandangnya. Apalagi yang telah mengenalnya, semua orang begitu mencintainya.
Kehadirannya menginspirasi, ketidakhadirannya sangat dirindukan.
Jajaran pria tampan, kaya, pintar dan baik hati lainnya mengantri untuk sekedar berada di samping wanita muda itu. Terlebih mendapatkan hatinya.
Siapa sangka jika Haikal-lah pemenangnya. Haikal memang mencintai Kezia pada pandangan pertama, tapi bukan berarti lantas ia mengejar-ngejar dan bermodus ria mendekati Kezia seperti pria pada umumnya.
Haikal cenderung cuek dan apatis. Tapi ia diam-diam cukup perhatian. Sikap sedikit misterius itulah yang membuat Kezia jatuh ke pelukannya.
Haikal mengusap ujung-ujung matanya.
Bisakah dia kembali menginjak gedung tersebut? Mungkinkah acara tahunan yang selalu diadakan di Sydney Opera House itu akan menghadirkan Kezia?Atau hanya kenangan tentang Kezia sajakah yang tersisa? Bisakah ia memulai hidup baru dengan wanita selain Kezia? Tidak hanya sekedar betapa cinta tulus dan sejatinya bagi gadis blesteran Belanda itu. Namun, ia juga tidak siap, takut kehilangan atau kecewa lagi.
Selama empat tahun semenjak kepergian Kezia, hanya sekali saja ia bermimpi bertemu dengannya. Padahal Haikal sangat berharap bisa setiap malam bermimpi tentang tunangannya tersebut. Mimpi itu terasa aneh. Kezia tak bicara sepatah katapun, Kezia hanya tersenyum dan melihatkan kalung perak berbentuk kunci nada G yang berkilau menggantung di lehernya.
Haikal sedikit kebingungan, apa makna dari kedatangan Kezia dan kalung tersebut. Ia mengingat-ingat, saat mereka foto prewed di Belanda, Kezia sempat membeli kalung kembar tersebut untuk buah tangan yang akan diberikan pada salah satu orang spesial lainnya.
***
“Mama pulang aja kalau bosen,” ujar Citra saat mereka sampai di studio.
“Gak pa-pa. Mama kan udah bilang lebih bosen di rumah. Mama ingin lihat tempat kerja kamu.”
Citra tersenyum, iapun menggandeng lengan sang mama. Setelah beberapa kali pemotretan, Citra langsung berganti baju. Mbak Moni datang menyapa bu Sita.
“Siang tante,” sapa mbak Moni. Bu Sita menyalaminya. Tak berlangsung lama Citra menghampiri mereka.
“Lama ya nunggunya tante?” tanya mbak Moni.
“Enggak saya senang bisa nemani Citra,” jawab bu Sita.
“Oh ya mbak rencana untuk acara majalah London gimana?” sahut Citra.
“Beres. Kamu tinggal pergi aja.”
“Pe..pergi kemana?” tanya bu Sita kebingungan. Raut muka Citra berubah. Ia duduk disebelah mamanya. Ia menyesal belum bicara sekaligus meminta ijin pada mama.
“Gini tante, Citra dapat tawaran untuk hadir di acara akhir pekan majalah fashion London. Saya sudah urus semuanya, jadi Citra tinggal berangkat aja,” perjelas mbak Moni.
“Artinya... Citra..akan ke London? luar negeri? na..ik pesawat?” tanya bu Sita terbata-bata.
Kedua matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Mbak Moni tertawa kecil mendengar pertanyaan polos bu Sita.
__ADS_1
“Ya jelas ke London tante. Naik pesawat tentunya, masa’ naik taksi,” gurau mbak Moni.
Citra langsung melotot pada mbak Moni dan menendang kakinya. Bu Sita nampak gelisah dan tidak senang mendengar kabar baik itu.
“Permisi. Saya ke toilet dulu,” kata bu Sita kemudian beranjak meninggalkan mereka berdua.
“Mama...” teriak Citra. Citra menyusul mamanya ke toilet. Mbak Moni malah kebingungan.
Bu Sita menatap cermin di wastafel. Kedua tangannya gemetar. Ia mengusap ujung-ujung matanya.
“Ma...” tegur Citra.
“Haruskah mama kehilangan putri mama lagi?” bu Sita terisak.
Citra memegang pundak mamanya. Citra menelan ludah. Ia menunduk, mencoba memahami isi hati orang tuanya.
“Kalau mama gak mengijinkan Citra pergi, Citra gak akan pergi, Ma.” Citra tersenyum lembut. Bu Sita nampak terheran.
“Ta..pi. ini menyangkut pekerjaan kamu,” kata bu Sita terbata-bata.
“Gak pa-pa. Citra kerja juga untuk mama. Gak akan ada artinya Citra kerja tanpa mama.”
Bu Sita langsung memeluk putri sulungnya.
“Maaf ya sayang. Mama masih trauma dengan kehilangan kakak kamu. mama takut sekali mendengar pesawat dan mama khawatir dengan perjalanan luar negeri. Mama takut hal yang sama terulang pada kamu,” gumam bu Sita seraya sesenggukan.
“Iya, Ma. Citra ngerti kok. Citra gak akan pergi kemanapun sebelum mama siap ngelepas Citra dan mama melupakan masa lalu itu.”
Bu Sita menatap lekat-lekat wajah anaknya. Ia mengusap wajah Citra yang beranjak dewasa. Ia mencium kening dan kedua pipi putrinya lalu memeluk lagi dengan erat.
“Bahkan kamu harus bersikap dewasa sebelum waktunya. Bahkan mama yang egois ini tidak memperhatikan perkembangan kamu yang telah menginjak usia 21 tahun. Mama berhutang banyak sama kamu, Nak. Maafkan mama ya. Mama janji mulai saat ini akan selalu ada disisi kamu,” bisik bu Sita.
Sepasang ibu dan anak itu keluar toilet dengan bergandengan tangan dan wajah sumringah. Mbak Moni yang sedari tadi menunggu ikutan sumringah, mengharap mendapat kabar baik.
“Jadi, gimana tante? Apa tante mengijinkan Citra pergi ke London?”tanya mbak Moni semangat.
Citra dan bu Sita saling menatap. Citra tersenyum dan menggeleng seraya berkata, “Maaf mbak. Aku gak bisa pergi. Bisa minta tolong digantikan dengan model lainnya?”
“Lho..?kok gak jadi pergi? kenapa?” nada suara mbak Moni nampak kecewa bercampur heran.
Citra melepaskan gandengan mamanya dan meraih pergelangan tangan mbak Moni menjauh dari ibunya. Setelah jaraknya cukup jauh, ia menggenggam tangan sang manajer seolah sedang memohon.
“Maaf ya mbak. Maaf banget. Mama masih trauma dengan kecelakaan kak Kirana. Aku gak mau bikin mama sedih.”
“Gimana sih kamu? kita bakalan dimarahin sama si bos. Semua biaya persiapannya gimana? trus modelnya siapa yang bakal gantikan kamu?” mbak Moni menaikkan nada suaranya.
Alisnya terangkat. Dan keningnya berkerut. Menunjukkan ia sangat kesal dan ingin marah.
“Maaf ya mbak. Aku gak bisa ninggalin mama. Untuk masalah ganti rugi potong aja dari gajiku. Kalau kurang mbak bisa ambil dari bonusku. Modelnya mungkin si Kely bisa. Kemarin dia bilang lagi longgar gak banyak pemotretan.”
“Ini kesempatan bagus untuk karir kamu juga. Entar kalau yang naik daun jadinya si Kely gimana?”
“Gak pa-pa mbak. Mungkin itu bukan rejeki aku aja kali. Tolong ya mbak, diurus pembatalanku. Aku biar langsung hubungi Kely.”
Mbak Moni memberenggut sebal. Tapi akhirnya dia menyerah. Ia tahu betul kondisi keluarga Citra.
“Iya,iya aku ngerti.” Mbak Moni melipat lengan. Masih gondok.
__ADS_1
“Makasih ya mbak. Jangan cemberut gitu donk, apalagi didepan mamaku,” pinta Citra sambil merangkul manja lengan mbak Moni. Mbak Moni tersenyum kecut. Tapi kemudian sikapnya kembali ramah. Mereka berdua menemui bu Sita.